
Satu koper berukuran besar Farah seret keluar dari dalam kamarnya.
Keadaan gadis itu kini terlihat sudah siap. Pakaian serba rapi, dengan raut berbinar menunjukan jika dirinya sangat merasa bahagia karena kontes memasak yang dia ikuti akan benar-benar dimulai.
Nyatanya mengikuti kontes memasak yang selama ini Farah inginkan, tidak se menakutkan yang dua pikirkan. Dia hanya perlu mengikuti arahan sesuai keinginan juri, setelah itu dirinya aman.
"Aku berangkat yah!" Farah berpamitan kepada sahabatnya, yang memang tinggal bersama hampir 2 tahun lamanya.
Devi mengulum senyum, mengangguk, lalu menyerahkan sebuah tas kecil, berisikan beberapa obat dan skincare kebutuhan Farah.
"Obat sama skincare kamu udah di dalam. Kalo sakit jangan manja, … disana nggak ada aku yang bisa kamu andelin lho, ya!?" Devi memperingati.
Gadis itu memang berusia beberapa tahun lebih muda dari Farah. Namu sikapnya jelas membuat Devi terlihat sebagai kakak perempuan dari Farah.
Farah tersenyum bahagia, dia maju satu langkah, kemudian memeluk sahabat yang sudah dia anggap sebagai saudara kandungnya sendiri dengan sangat erat.
"Aaaaaa cuyung kamuuuu!" Suara Farah terdengar melengking seperti anak kecil.
Devi menghembuskan nafasnya kencang, seraya memutar kedua bola mata. Sikap Farah terkadang seperti anak kecil, sampai Devi merasa malas sendiri dengan tingkah laku yang selalu sahabatnya perlihatkan.
"Farah, stop!" Katanya sambil mendorong wajah Farah, ketika gadis itu mengerucutkan bibir yang hendak mencium dirinya.
Namun, Farah tetap tidak mendengar, dia terus mendekatkan bibir yang mengerucut pada wajah Devi, sehingga membuatnya terus menghindar, sampai terjerembab ke arah belakang.
Brughh!!
"Astaga Farah!" Suara Devi memekik kencang.
Cup!!
Dengan leluasa Farah mencium pipi Devi yang saat ini berada di bawah tubuhnya, tersenyum penuh kemenangan lalu bangkit.
"Ah punggung aku!" Katanya sambil bangkit, dengan bibir yang meringis. "Sana gih berangkat, tingkah kamu semakin konyol! Awas saja kalau readers sampai menyangka kita itu lesbian yah! Udah tau mereka sensitif, … jaga tingkah kalau di depan mereka, harus kelem pokoknya!" Dia memberi peringatan.
Devi bangkit.
Farah mengangguk, dia meraih gagang koper besar miliknya, kemudian menarik benda itu perlahan-lahan ke arah pintu rumah yang tertutup rapat.
"Jaga rumah baik-baik ya cuyung! Jangan berantakan, jangan keluyuran, pokoknya habis kerja pulang kesini, oke?" Farah melambaikan tangan.
Handle pintu segera di raihnya, menekan benda itu perlahan-lahan, kemudian membukanya.
"Berasa lagi di kasih tau sama Kakak aku. Vibes bawelnya dapet banget, Far!" Matanya mendelik.
"Kamu yang kaya Kakak aku! Aku mah masih terlalu gemoy buat di sebut Kakak."
"Idih!" Devi menaikan satu sudut bibirnya, kemudian mendelikam mata.
Farah tersenyum lebar, lalu menutup pintu rumahnya setelah melambaikan tangan terlebih dulu. Namun, dengan segera Devi menyusul, dia berdiri di ambang pintu, menatap Farah yang memasukan barang bawaannya pada bagasi mobil.
__ADS_1
"Bye, jaga diri baik-baik. Jangan ngambekan, jangan overthink terus! Pokoknya jaga diri baik-baik." Farah berpesan.
"Iya iya, … astaga!" Devi menggelengkan kepala.
"Aku berangkat ya bestot, bye!" Gadis itu melambaikan tangannya ke arah sang sahabat.
Dan setelah itu Farah benar-benar masuk ke dalam mobil miliknya.
Suara mesin mobil terdengar, kemudian kendaraan itu mundur perlahan-lahan dari garasi kecil rumah bergaya minimalis itu, lalu beranjak pergi setelah memasuki jalan utama komplek perumahan.
"Woi!! Hati-hati lu bawa mobilnya. Jangan kaya pembalap dadakan!" Devi berteriak.
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu. Akhirnya sampai di salah satu tempat yang sangat Farah idam-idamkan sejak dari dulu.
Bangunan yang sangat besar. Dimana di dalam sana terdapat studio yang di khususkan untuk memasak, juga asrama bagi para kontestan yang mengikuti acara populer tersebut.
Klek!!
"Satu kamar diisi tiga sampai empat orang yah. Dan keadaan akan semakin berbeda jika peserta pulang satu-persatu." Seorang crew menjelaskan.
Farah yang ada di barisan beberapa orang di hadapannya hanya mengangguk.
"Terserah kalian mau tidur dimanapun. Hanya saja! Untuk laki-laki tidak disini, oke?"
"Baik, kontestan cowok, mari ikut saya!"
Mendengar itu para pria mulai memisahkan diri, mereka pergi mengikuti kemana crew pembimbing membawa mereka.
Semua orang tampak semangat mencari tempat tidur yang akan mereka tempati. Namun, tidak dengan Farah, gadis itu terlihat sangat santai, bahkan dia berjalan gontai bersama beberapa kontestan lainnya.
"Eh, kayaknya semua orang udah dapet tempat mereka deh. Kamar ini masih kosong, mungkin udah jatah kita." Seorang perempuan bertubuh gempal berbicara.
Membuat Farah segera maju, melihat ke arah dalam dimana ruangan tersebut masih kosong, lalu menatap tiga orang yang masih ada bersamanya.
"Sudah jelas. Pihak penyelenggara sepertinya sudah mempunyai hitungan mereka sendiri. Dan kita mendapatkan ruangan paling sudut, … sisa-sisa dari kontestan lain." Farah terkekeh.
"Tunggu apa lagi? Ayo masuk, ini bagian kita!" Salah satu dari mereka menerobos masuk lebih dulu.
"Gue di tengah-tengah, ah!"
"Gue di sudut!"
"Kamu mau dimana?" Salah seorang dari mereka yang belum memilih tempat tidur bertanya kepada Farah.
Orang yang di maksud menoleh, lalu menggelengkan kepala.
"Aku sih bebas. Mau diujung, mau di tengah, mau di atas atau di bawah juga hayu aja!" Balas Farah.
__ADS_1
"Kamu di deket jendela gimana? Aku di sebelah kamu?" Katanya lagi.
Farah mengendikan kedua bahunya.
"Aku ikut aja."
"Yaudah, kamu di deket jendela. Aku disamping kamu, oke?"
Farah mengangguk pelan. Lalu tanpa aba-aba gadis yang terlihat lebih tua darinya menarik tangan Farah cukup kencang. Membuat Farah tertawa kencang, karena belum apa-apa mereka sudah seperti teman lama, dan itu cukup membuat Farah bahagia.
***
Keesokan harinya.
Semua kontestan diminta untuk berkumpul di studio memasak. Dimana tempat itu sudah siap dengan beberapa meja memanjang, dengan segala peralatan yang dibutuhkan tentunya juga berada disana. Kamera-kamera sudah terlihat siap, dengan crew dan kameramen yang juga memenuhi tempat itu.
"Three, two, one, … and action!"
Seorang crew berteriak, dan kamera segera menyorot ke arah para juri.
"Halo, kembali lagi di galeri memasak, … selamat kalian terpilih sebagai kontestan di season lima ini. Dari ribuan orang yang mendaftar, kalian orang beruntung yang terpilih. Namun, tentunya ini bukan akhir dari semua perjuangan kalian, tapi justru perjuangan kalian akan segera dimulai. Setelah ini kalian harus memasak dengan maksimal, … tidak hanya tentang rasa, tapi kemampuan untuk mengatur waktu dan strategi."
Seperti biasa, Loka berbicara dengan pembawaannya yang terlihat sangat serius. Tidak pernah ada senyuman hangat seperti kedua rekannya yang juga berdiri disina untuk memulai acara yang sangat bergengsi itu.
Seluruh peserta mengangguk.
"Kalian mengerti?"
"Mengerti, Chef!!" Suara seluruh kontestan menggema.
"Baik, persiapkan diri kalian. Karena setelah ini akan ada challenge, … dimana kalian akan mempertaruhkan afron kalian." Alia maju beberapa langkah, seraya menatap semua orang yang berkumpul disana.
Alia tampak tersenyum, begitu juga Andrew. Namun, tidak dengan Loka, dia selalu memperlihatkan wajah masamnya kepada siapapun, tapi tentu saja tidak sedikitpun mengurangi karisma dari pria itu sendiri.
"Oke, silahkan berdiri di bench masing-masing." Andrew mengarahkan.
Semua peserta segera berlarian, mencari meja yang akan mereka tempati.
"Disana ada beberapa jenis bawang. Diantaranya bawang merah, garlic atau bawang putih jika kalian tidak tahu, … dan juga bawang bombay." Jelas Andrew.
"Dengar dan ingat! Kalian baru bisa mengerjakannya sesuai perintah dari kami. Jika kami bilang mulai, maka mulai, jika kami bilang stop, maka berhentilah. Dan siapapun yang dapat menyelesaikan tantangan dengan waktu yang lebih cepat, maka kalian akan kami nyatakan lolos, … tapi tentunya setelah melewati penilaian dari kami juga." Ujar Loka.
"Kalian mengerti?" Tanya Alia.
"Siap mengerti, Chef!!"
......................
Guys, kalo ada typo boleh kasih tau yah, nanti Othor benerin 🥰😘
__ADS_1