My Annoying Chef

My Annoying Chef
Chapter 07


__ADS_3

Setelah melalui proses yang cukup panjang. Akhirnya audisi selesai, beberapa kontestan berhasil membawa pulang apron yang menjadi sebuah tanda keberhasilan mereka dalam kompetisi tahap awal. Sementara sebagian dari mereka harus berbesar hati, karena pulang dengan tangan kosong, dan tentunya harus menghapus impian mereka masuk ke galeri memasak yang saat ini sudah memasuki season ke 8.


Dengan langkah cepat Loka meninggalkan studio, tanpa menunggu beberapa rekannya yang masih berbicara pada awak media.


Rasa lelah sudah jelas dia rasakan, namun bukan itu yang membuatnya enggan diwawancarai. Melainkan rasa kesalnya yang masih tersisa pada sosok kontestan perempuan.


"Ah kau main pergi saja!" Andrew segera menyusul.


Membuat Loka segera menoleh, dan menatap Andrew yang saat ini berjalan cepat untuk mengimbangi langkah kakinya.


"Tidak ada yang penting lagi. Urusanku sudah selesai, puluhan kontestan juga sudah pulang dengan perasaan mereka masing-masing." Sahut Loka.


Dia segera duduk di salah satu sofa besar yang memang tersedia di ruang tunggu pada juri.


"Sejauh ini bagus bukan? Ajang memasang tahun ini pasti seru dan berbeda dari sebelum-sebelumnya. Akan ada drama-drama yang membuat penonton gregetan, … dan bisa saja kamu menjadi pusat perhatian lagi." Andrew tertawa.


"Ya, setelah tayangan ini tampil. Sudah aku pastikan notifikasi semua sosial mediaku ramai." Ujar Loka. "Mereka mengetik apapun yang mereka mau tanpa berpikir terlebih dulu." Lanjut pria itu dengan nada sedikit ketus.


Dia merebahkan punggungnya pada sandaran sofa, menatap langit-langit ruangan itu, memejamkan mata perlahan-lahan, lalu memijat pelipisnya yang sedikit terasa pening.


"Kenapa? Gadis yang tadi yah!" Tanya Andrew.


Loka kembali mengubah posisinya menjadi tegak.


"Oh iya, … aku bisa meminta tim editor untuk memotong bagian tadi." Loka dengan idenya.


Namun, ucapan itu membuat Andrew tertawa kencang. Sampai membuat Alia yang baru saja memasuki ruangan itu terheran-heran.


"Apa yang kalian bahas? Sepertinya seru sekali!" Alia menatap keduanya bergantian.


"Apanya yang seru. Aku sedang memikirkan seramai apa media sosialku setelah season ini tayang."


"Hemmm, … mungkin akan tayang dua atau tiga hari lagi." Kata Alia tanpa dengan raut wajah datarnya seperti biasa. "Memangnya kenapa?" Wanita itu menatap Loka dan Andrew bergantian.


Loka menghela nafasnya. Dia bangkit, berniat untuk pergi, tapi panggilan Alia jelas menghentikan langkah kakinya.


"Kemana? Tadi di wawancara nggak mau!"


"Hhheuh! Dia mulai." Gumam Andrew.


"Mau menemui tim editor. Aku mau part yang ada gadis songongnya tadi di skip saja, … cukup bagian tertentu, bukan semua. Hanya ketika dia bilang jika harus menjadi anak orang kaya yang baik dan benar." Jalas Loka.


Alia tertawa.

__ADS_1


"Lah, kenapa mau dipotong? Part itu lucu, bisa bikin orang-orang ketawa tahu!"


"Tidak mungkin, yang ada mereka akan melayangkan komentar-komentar cercaan. Dan aku lelah dengan netizen yang selalu benar atas apa yang ada di dalam pikirkan mereka."


Alia menggelengkan kepalanya, lalu dia berjalan mendekat, dan menggiring Loka kembali. Membuat Andrew yang sudah duduk santai di atas sofa tertawa.


Karena nyatanya Alia akan bertindak seperti seorang Kakak perempuan yang sedang mengurus adik laki-lakinya.


"Ayolah kita pulang saja. Untuk apa kamu meminta kreatif atau tim editor memotong bagian itu? Sudah jelas mereka tidak akan melakukannya karena itu salah satu part paling lucu. Kamu tahu Loka? Hanya dia yang berani terus menyangkal setiap ucapanmu. Siapa tadi namanya? Fa, … Fatimah, eh … siapa yah!?"


"Farah!" Loka menjawab dengan perasaan malas.


Dan ucapannya membuat Andrew juga Alia bersorak kencang.


"Cieeeee!!" Katanya.


Loka memutar kedua bola matanya.


"Ah sudahlah, aku mau pulang saja. Istirahat yang cukup karena setelah ini pekerjaan kita semakin padat! Menjadi juri, kadang di undang ke berbagai acara, atau menjadi bintang iklan, … karena memang selalu seperti itu, bukan!?" 


Loka berjalan mendekati sebuah tas yang tergeletak di atas sofa di dekat Andrew, meraihnya, lalu pergi.


"Kamu butuh pinjaman mobil?" Tanya Andrew, dia bahkan berteriak keras agar suaranya mampu didengar baik oleh Loka.


***


Klek!!


Loka segera menutup pintu apartemennya kembali, lalu kemudian melangkahkan kaki ke arah sofa besar yang terletak di tengah-tengah ruangan itu.


Suasana terlihat sedikit redup, bahkan hampir gelap ketika matahari sudah hampir terbenam sepenuhnya di ufuk barat. Namun, siluet kuning kemerahan masih jelas terlihat, membuat hamparan langit yang membentang luas terlihat mempesona.


Pria itu menatap lurus kedepan. Dimana sebuah kaca besar membentang disana, dan memperlihatkan keindahan kota Jakarta pada hampir petang, pada hari ini.


Dia menoleh, menatap tas berukuran besar miliknya. Meraih benda itu, membuka dan membawa handphone yang sedari tadi dia letakan di dalam sana. Loka segera menghubungi salah satu nomor.


Siapa lagi jika buka sang ibu. Wanita yang saat ini sangat dia cintai, selain kedua adik kembarnya.


Tuuuuttttt ….


Suara itu terdengar sangat jelas.


Tidak harus menunggu lama. Akhirnya panggilan video yang Loka sambungkan segera terhubung. Membuat wajah Linda segera mendominasi layar ponselnya.

__ADS_1


"Hey, Mam!?" Loka menyapa, lalu tersenyum bahagia ketika dia melihat Linda dalam keadaan baik.


"Kamu tidak shooting?" Linda segera bertanya.


"Ini baru pulang, … hari ini cukup melelahkan!" Loka tersenyum samar. "Oh bukan melelahkan lagi, tapi aku bertemu dengan gadis menyebalkan yang sangat sombong. Aku hanya menanyakan dia memiliki kesibukan apa, dan Mama tahu apa yang dia jawab?" Ucap Loka bersungut-sungut.


Linda diam, menatap putranya dengan dahi yang mengkerut.


"Apa?" Wanita itu segera bertanya.


"Katanya! Jadilah anak orang kaya yang baik dan benar. Kalau dia tidak menghambur-hamburkan uang orang tuanya akan merasa sedih. Ih aneh sekali, kok ada gadis seperti itu padahal aku hanya bertanya dia memiliki kesibukan apa, atau apa saja yang dia kerjakan." Dia terlihat sangat kesal.


Namun, kekesalan Loka jelas membuat Linda merasa gemas sendiri. Mata memicing, dengan bibir yang mengerucut.


"Dih, Mama malah tertawa!"


"Kamu ini!" Linda menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hanya masalah seperti itu saja di bikin emosi. Ingat! Disana kamu hanya sedang berakting menjadi Chef juri yang galak, jangan di bawa ke dunia nyata!" Wanita itu memperingati putranya.


Loka memutar kedua bola matanya, dengan helaan nafas yang terdengar pelan.


"Jangan begitu terus Loka! Mama sudah mau mempunyai menantu, lalu cucu. Kalau kamu galak terus seperti itu, wanita mana yang berani mendekat?" Sergah Lindah.


Dia sedikit menaikan suaranya.


"Haih. Ujung-ujungnya pasti membahas masalah itu! Nanti dulu lah, aku sedang menikmati masa-masa lajangku, aku tidak mau terikat status dan waktu dengan siapapun. Aku masih mau bebas!"


"Kamu sudah tiga empat! Masih mau santai?" Mata Linda membelalak.


"Laki-laki masih bisa membuahi bahkan sampai usianya enam puluh tahun. Jadi jangan khawatir!" Loka tersenyum, lalu menggerak-gerakkan alisnya naik turun, dengan senyuman khas yang pria itu perlihatkan untuk menggoda sang ibunda tercinta.


"Jadi maksudmu, … kamu mau menikah di usia yang sudah setua itu!?" Suara Linda terdengar memekik kencang.


Membuat Loka meringis dan menutupi satu daun telinganya.


"Mama!" Loka memanggil dengan suara yang begitu lembut.


Dan itu benar-benar mampu membuat Linda berhenti berbicara.


"Ah padahal aku mau tanya Mama sedang apa, sudah makan atau belum, bagaimana Mama hari ini, senang atau merasa kesal. Eh malah berdebar seperti ini!" Ujar Loka.


"Oh, Mama baik-baik saja. Kamu jangan khawatir, si kembar mengurus Mama dengan baik sebelum mereka pergi ke kedai." Jelas Linda.


Loka tersenyum, kemudian menganggukan kepala. Yang seketika membuat obrolan itu terus berlanjut, penuh canda dan tawa, sehingga keheningan di dalam apartemen sana segera pergi.

__ADS_1


__ADS_2