My Annoying Chef

My Annoying Chef
Chapter 06


__ADS_3

Puluhan peserta sudah masuk dengan membawa masakan andalan mereka yang akan dihidangkan kepada juri. Dan kini hanya tersisa beberapa orang, salah satu di antaranya adalah Farah, sosok gadis cantik yang berjalan mondar-mandir karena merasa sangat gugup.


"Kamu membuat kita juga gelisah tahu!" Peserta lain berbicara, dengan sedikit tawa yang terdengar.


Farah berhenti sebentar, lalu tersenyum dan membungkukan tubuh, membuat kedua tangannya bertumpu pada lutut yang kali ini terasa begitu lemas.


"Hhhhheuh!" Gadis itu kembali menegakkan tubuhnya, memejamkan mata, dan mengatur nafasnya beberapa kali sampai benar-benar merasa sedikit lebih tenang.


"Yakin bisa, Mbak. Pokoknya gimana hasilnya nanti, lolos atau tidak, se enggak nya udah usaha ngasih yang terbaik." Peserta wanita yang tampak se usianya kembali menyemangati.


Gadis yang di maksud mengangguk.


"Aku nggak siap nanti sama komennya juri. Takut bikin mental aku down. Soalnya aku cuma siap buat masak, nggak siap buat dengerin mereka ngoceh, apalagi Chef Loka, … duh bayanginnya aja udah serem duluan." Ujar Farah.


Yang seketika membuat peserta lain tertawa kencang.


"Harus berani, jangan kelihatan lemah!" Kontestan lain ikut menyemangati.


"Baiklah." Farah tersenyum.


"Oke, Nex!" Seseorang terdengar berteriak, kemudian membuka pintu ruang tunggu lebar-lebar.


"Nomor peserta, Satu kosong, kosong lima!" Crew perempuan menatap Farah dan rekan yang lainnya bergantian.


"Oh, saya Ka." Farah mengangkat tangan kanannya. Lalu memperlihatkan sebuah pin, dimana nomor pesertanya tertera.


Perempuan berseragam serba hitam dengan earphone dan mic kecil di hadapan mulutnya mengangguk, kemudian menggerak-gerakan tangan, meminta Farah untuk segera mendekat.


"Sudah siap?"


"Hanya sedikit gugup, Ka!" Jawab Farah kepada Crew tersebut.


"Itu normal. Yang penting apa yang mau kamu perlihatkan di hadapan juri sudah benar-benar siap."


Farah mengangguk.


"Kalau itu sudah."


"Baik, kalau begitu mari masuk." Katanya, seraya mengatakan tangan ke arah luar ruangan itu.


Farha mengangguk lagi, dia meraih troli dimana bahan masakan yang sudah siap berada di sana, mendorongnya kemudian berjalan melewati pintu kaca itu dengan perasaan tidak menentu. Crew berhenti tepat di ambang pintu, dimana satu sudut yang tidak tersorot oleh kamera sama sekali, membiarkan Farah mendorong masuk troli itu sendirian ke arah bench yang sudah tersedia.


Dan disanalah ketiga juri, duduk seraya mengarahkan pandangan ke arah seorang gadis yang baru saja masuk membawa troli dengan segala macam bahan untuk dia jadikan sebagai hidangan yang mungkin saja dapat menggoyang lidah para juri.


"Halo?" Loka langsung menyapa.


Namun, raut wajahnya terlihat datar seperti biasa, dengan ekspresi dingin, juga kedua tangan yang terus di lipat di atas dada.


"Halo Chef, selamat sore?" Farah menyapa dengan senyuman yang paling manis dia perlihatkan kepada tiga juri di hadapannya.


"Perkenalkan diri kamu. Siapa dan dari mana, lalu mau masak apa?" Kata Andrew.


"Halo Chef. Saya Farah Arsena dari Jakarta, umur saya dua puluh lima tahun." Dia memperkenalkan diri.


Alia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Lalu apa yang mau kamu masak?" Juri perempuan itu bertanya dengan ekspresi wajah berbinar seketika senyuman samar menghiasi bibir.


"Eeeee, … nasi gurih sama ayam kukus jahe, Chef." Ujar Farah.


"Kenapa kamu mau membawa hidangan ini, untuk dipresentasikan di hadapan kami?"


Andrew bertanya lagi, sementara Alia hanya memperhatikan sambil tersenyum dan Loka hanya dia dengan sorot mata tajam seperti biasa. Entah sedang mengintimidasi, atau mencoba mengerti konsep makanan yang akan Farah sajikan.


"Nasi gurih itu bagaimana?" Loka bertanya.


"Di masaknya pakai santan, Chef. Sama diberikan sedikit seasoning." Jelas Farah, dia terus tersenyum, berusaha membuat semuanya terasa lebih baik, meski sesungguhnya dia merasa gugup bukan main.

__ADS_1


Loka memutar kedua bola matanya, lalu mencebikan bibir, seperti sedang menertawakan Farah.


"Nasi uduk itu! Kenapa harus kamu ubah-ubah namanya!?" Celetuk Loka.


Farah hanya diam sambil terus tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya.


"Nasi uduk di kasih taburan bawang goreng Chef, ini nggak." Akhirnya Farah kembali mempunyai keberanian untuk menjawab.


"Ck!!" Loka mendelik.


"Baiklah, waktu kamu menyiapkannya hanya lima menit, … dimulai dari sekarang!" Kata Alia.


Wanita itu berusaha menghentikan Loka yang mulai mendalami perannya sebagai juri yang selalu terlihat ketus. Namun, nampaknya Loka terlalu mendalaminya sampai beberapa kontestan selalu merasa panik jika Loka sudah berbicara banyak hal.


Farah mulai membawa dua buah kukusan berukuran kecil, meletakkan di atas kompor, lalu menyalakannya.Tak lupa memasukan nasi untuk dihangatkan, juga daging ayam yang sudah Farah masak dengan kondimen jahe yang cukup banyak.


"Kamu kerja dimana?" Alia bertanya.


"Eeee, … nggak kerja Chef!" Jawab Farah tanpa menghentikan aktivitasnya sama sekali.


"Lalu, kesibukan apa yang kamu miliki?" Juri perempuan itu kembali bertanya.


"Nggak ada Chef."


Dan jawaban itu membuat Loka tertawa kencang. Namun terdengar sedikit mengejek.


"Beban orang tua dong!" Celetuknya.


Farah melirik sekilas, kemudian dia berusaha tersenyum meski sedikit tersinggung.


"Sebenarnya nggak beban juga, Chef." Gadis itu menyangkal.


"Ya terus apa namanya? Kamu tidak bekerja? Lalu bagaimana kamu menjalani hidup kamu sehari-hari?"


"Ya di kasih Bunda sama Ayah, Chef!"


"Ya apalagi kalau bukan beban orang tua? Sudah dua puluh lima tahun, tapi tidak bekerja dan masih mengandalkan uang orang tua?" Loka tertawa, seraya memutar kedua bola matanya.


"Ya pokoknya selama masih bisa memanfaatkan kekayaan orang tua, kenapa harus capek-capek kerja, Chef? Jadilah anak orang kaya yang baik dan benar, dengan cara menghambur-hamburkan uangnya. Mereka capek kerja kalau aku nggak foya-foya, nanti mereka sedih!" Jawab Farah lagi.


Membuat Alia dan Andrew tertawa kencang, sampai membuat Loka berdecih kesal, dan menganggap remeh apa yang Farah ucapkan.


"Sombong sekali!" Loka berkelakar. "Lalu apa tujuan kamu mengikuti ajang memasak seperti sekarang?" Raut wajah Loka tiba-tiba terlihat semakin serius.


"Cari pengalaman Chef."


"Tapi sepertinya kamu salah tempat. Galeri bukan tempat orang mencari pengalaman!"


Gadis itu tidak langsung menjawab, dia membungkuk untuk meraih piring, dan mulai mematikan kedua kompor yang sedang menghangatkan ayam juga nasi di dalam alat pengukus sana, hendak membuka mulut, tapi Loka lebih dulu memotong.


"Jawab saja terus. Saya tandai kamu! Baru kali ini saya bertemu dengan seorang gadis yang tidak sopan seperti kamu!" Ucapnya dengan ketus.


Mendengar itu Farah menjadi bungkam. Dia menekan egonya agar dapat selamat, karena yang terpenting saat ini adalah dirinya lolos pada seleksi selanjutnya.


"Coba jelaskan kondimen-kondimen apa yang ada di dalam ayam kukus itu?" Tanya Alia.


"Untuk ayamnya aku pilih sayap Chef biar lebih umami. Lalu aku marinasi pakai saus tiram, lada, garam, sama minyak wijen. Setelah itu di diamkan selama tiga puluh menit, dan di kukus sampai matang dengan irisan jahe yang banyak." Jelas Farah.


Alia merespon ucapan Farah dengan anggukan kepala.


"Baiklah, sisa waktu kamu tinggal lima belas detik lagi!" Tegas Loka.


Andrew terlihat menahan senyum.


"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu, … angkat tangan!" Tegas Alia.


Dan Farah mengangkat kedua tangannya setelah dapat menyelesaikan apa yang akan dia hidangkan dengan baik.

__ADS_1


Satu piring berukuran besar, disini nasi gurih yang di bentuk mengerucut, juga terdapat beberapa tumpukan sayap ayam, dimana di atasnya di beri hiasan jahe juga daun bawang. Tak lupa dengan irisan tomat, dan mangkuk berukuran sangat kecil, berisikan sambal berwarna hijau, membuatnya terlihat begitu cantik.


Seperti biasa. Juri-juri akan maju satu-persatu, menilai tampilan juga mencicipi masakan yang kontestan suguhkan.


Dan Loka menjadi orang terakhir yang mencicipi. Dia berdiri berhadapan dengan Farah, menatap gadis itu tajam, kemudian mencicipi hidangan yang dia berikan.


"Selain kemampuan memasak, saya juga menilai tata krama setiap peserta. Jadi kalau mau lolos, jangan pernah songong sama saya!" Suaranya terdengar begitu rendah, dengan ekspresi wajah datar dan terlihat dingin.


Farah tidak menjawab.


Setelah itu Loka kembali, duduk di tempat semula, dan mengarahkan pandangan ke arah gadis yang berdiri di balik bench.


"It feels good. Nasinya pulen, ayam nya lembut, dengan jahe yang terasa sangat pekat. Sesuai namanya, ayam kukus jahe! Penambahan irisan tomat dan sambal juga membuat tampilannya menjadi ciamik. Nasi putih, ayam juga putih, tapi kamu pintar dapat membuat hidangan kamu tidak pucat seperti mayat. Ada warna hijau dan merah di dalam sana, dan saya suka. Saya kasih kamu yes!!" Alie tersenyum lebar.


"Thank you, Chef."


Farah merapatkan kedua telapak tangannya, lalu sedikit membungkukan tubuh.


"Betul kata Chef, Alia. Kamu cukup pintar memadukan setiap bahan, … ini hanya nasi ayam yang kamu berikan irisan tomat dan sambal. Tapi akan lebih bagus, kamu menambahkan irisan daun selada juga. Tapi sejauh ini good, rasa dan tampilan oke, jadi saya juga yes." Andrew berseru.


Membuat harapan Farah semakin tinggi.


"Terimakasih banyak, Chef Andrew!"


Loka diam, menatap Farah lekat-lekat, dengan tatapan tidak suka, membuat gadis itu bungkam seribu bahasa dengan rasa jengah yang mulai memenuhi diri.


"Apa yang kalian tunggu? Suara saya sudah tidak dibutuhkan lagi, jadi berikan apronnya!" Loka menatap Andrew. "Saya berkata tidak pun, tidak ada gunanya!" Ucap Loka lagi.


Pria yang di maksud mengangguk, dia membawa satu apron berwarna putih, lalu memberikannya kepada Farah, dengan bibir yang terus tersenyum-senyum.


"Selamat, kamu bisa berjuang di kompetisi memasak selanjutnya. Ingat! Selalu berikan yang terbaik, jadilah juara di setiap tantangan, oke?" Andrew meraih tangan Farah untuk bersalaman.


Gadis di hadapannya tersenyum.


"Sekali lagi terimakasih banyak, Chef." Ucap Farah.


Kemudian dia beralih menjabat tangan Alia.


"Ingat, selalu berikan yang terbaik oke? Di galeri sana saya mau merasakan masakan yang paling spesial, tidak hanya nasi dan ayam saja, oke?"


"Iya Chef."


Loka menatap setiap interaksi gadis yang memiliki postur tubuh imut di sampingnya dengan raut wajah datar seperti biasa. Kemudian menerima uluran tangannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Thank you, Chef. Maaf jika sudah lancang hari ini!" Kata Farah.


Loka mencebikan bibir, lalu kemudian tersenyum miring.


"Hemmmm." Loka menanggapi Farah dengan bergumam dan ekspresi malas.


Farah melepaskan genggaman tangannya pada tangan Loka, berbalik badan, lalu berjalan mendekati pintu keluar, setelah lebih dulu menunjukan apronnya pada kamera dengan raut wajah bahagia.


"Ini untuk Ayah dan Bunda. I love you so much!" Dia melambaikan tangan ke arah kamera.


Dan benar-benar keluar setelahnya, membuat ketiga juri itu saling beradu pandang satu sama lain.


"Norak!!" Gumam Loka.


Andrew dan Alia tertawa kencang.


"Jangan terus melakukan itu, atau kamu akan mempunyai banyak haters seperti beberapa tahun silam." Kata Alia.


"Ciwi-ciwi pada takut kalau galak begitu, makanya jomblo terus sampai sekarang." Celetuk Andrew.


"Oh shut up!!" Geram Loka.


Dia merasa tidak suka. Namun, itu tidak membuat kedua temannya merasa takut, melainkan semakin mengencang suara tawa karena merasa gemas dengan tingkah Loka yang terkadang konyol, contohnya sore hari ini. Loka terus merasa kesal hanya karena sang kontestan mempunyai keberanian yang cukup besar untuk menjawab setiap ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2