My Annoying Chef

My Annoying Chef
Chapter 14


__ADS_3

Setelah mengikuti setiap tantangan yang cukup panjang dan tentunya tidak mudah. Juga menghadapi para juri yang tentunya sangat menguras emosi, apalagi Loka, pria itu seolah tidak akan pernah puas dengan hasil dari apa yang Farah berikan. Jika kedua juri akan mengapresiasi setiap hidangan nya, tapi tidak dengan Loka, ada saja alasan yang dia berikan, seolah-olah Farah tidak menyelesaikan challenge dengan maksimal. Bahkan beberapa kali Loka menyeretnya ke pressure test, yang tentu saja membuat mental Farah di bombardir habis-habisan.


"Oke guys! Waktu kalian tinggal 30 detik lagi." Alia berteriak.


Seperti biasa dia berkeliling, melihat setiap peserta yang sibuk di bench masing-masing. Berjalan santai, sambil melipat kedua tangannya ke belakang.


Farah yang sempat melamun pun kembali menarik kesadarannya, dan kembali memeriksakan beberapa kondimen di dalam masakannya.


Dia berlari ke arah pantry, lalu kembali membawa satu buah piring berukuran besar, juga mangkuk berukuran kecil. Farah meletakan benda itu di atas bench miliknya, tak lupa membersihkan terlebih dulu, sebelum akhirnya ia meletakan daun pisang yang sudah dipotong bundar.


Farah memeriksakan alat untuk membakar daging, memindahkan beberapa tusuk sate sapi ke atas piring, lalu ketan bakar dan segera menghiasnya. Tak lupa mengisi mangkuk kecil dengan sambal oncom, yang langsung Farah letakan tepat di samping beberapa tusuk sate sapi yang terlihat menggiurkan.


Warna coklat dengan Kilauan dari lemak daging sapi yang meleleh karena uap panas dari bara api, tak lupa beberapa potong irisan tomat dan cabai yang hias sedemikian rupa, lalu memberikannya taburan bawang goreng, membuat hidangannya tampak mempesona meskipun terbuat dari bahan-bahan sederhana.


"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, … satu! Oke guys, waktu kalian habis." Andrew berteriak.


Semua kontestan mengangkat kedua tangan.


"Oke, break." Salah seorang crew tv berteriak.


Beberapa orang petugas kebersihan memasuki area syuting. Kemudian membantu merapikan setiap bench para peserta. Membawa barang dan wadah yang kotor, merapikan meja, lalu membawa sampah, sehingga area memasak kembali rapi, hanya terdapat hidangan-hidangan yang sudah diselesaikan oleh para peserta.


Loka mendudukan diri di sofa yang tersedia, meraih sebotol air minum kemasan, membuka segel, dan meneguknya sampai habis setengah. Tangannya terangkat ke atas, bibirnya terus bergerak menelan air, sementara sorot mata terus ditujukan pada sosok gadis yang berdiri di meja paling depan.


Setiap hari penampilannya semakin memukau. Tidak hanya dari segi kemampuannya untuk memasak dan menyelesaikan tantangan dengan baik. Namun, caranya berpakaian juga sudah sangat memperjelas, kalau Farah bukan seorang gadi yang terlahir dan tumbuhan besar dari orang sembarangan.


Pakaian bermerk, yang tentunya tidak dapat sembarang orang pakai. Hanya orang-orang menengah ke atas saja yang mampu membeli barang terbatas dari brand ternama dunia.


"Merhatiin siapa?" Lantas Alia segera bertanya ketika menyadari sesuatu.


Loka menoleh, lalu menutup botol air minumnya.


"Siapa?" Loka berlagak seperti tidak mengerti apa-apa.


"Lagi nyiapin skenario buat bikin mental Farah down ya? Mau bikin dia berkaca-kaca lagi kaya Minggu kemarin?" Mata Alia memicing.


Mencari sebuah akal bulus yang mungkin saja tengah Loka siapkan.


"Loka, kan memang begitu, mana mau berhenti kalau belum bikin anak orang nangis kejer." Andrew tiba-tiba muncul, lalu menyambar botol air minum, dan langsung meneguknya.


"Ck! Memangnya aku ini kurang kerjaan sampai harus membuat skenario? Menjadi juri saja sudah membuat aku kelelahan, kurang istirahat, kurang tidur, kurang semuanya." Ujar Loka seraya memutar kedua bola matanya.


Alia bungkam, dengan tatapan tajam dan ekspresi tidak percaya.


"Nah, katanya nggak kurang kerjaan. Jadi hari ini stop drama yah? Nggak usah masukin orang yang nggak seharusnya masuk ke area pressure test." Andrew menyahut.


Alia menatap Andrew, kemudian kembali menatap Loka.

__ADS_1


"Saat briefing katanya aku harus judes. Lah aku sedang mendalami peran ini!" Dia masih mengelak.


Namun, gelagat Loka kali ini memang terlihat lebih menonjol dari biasanya. Bagaimana manapun kerasnya seorang Loka saat menjadi juri, pria itu tidak pernah menjelekkan hal yang bagus, tapi season kali ini. Loka seolah ingin menunjukan siapa dia, sehingga membuat Farah beberapa kali masuk kedalam pressure test, meskipun gadis itu tidak pantas berada disana, karena apa yang dia hidangkan sudah melebihi standar kompetensi.


Menyelesaikan challenge dengan baik, entah itu dari segi plating, seasoning, dan juga flavor. Yang tentunya membuat Farah mempunyai nilai plus meskipun tidak pernah menjadi juara dari setiap tantangan, tapi Farah melakukan semuanya dengan baik.


"Guys, ayo! Waktu break sudah selesai. Kembali ke tempat masing-masing." Seorang pria dengan handphone di kepalanya berteriak, sambil menepukan kedua tangannya kencang.


Semua orang kembali bersiap, tidak terkecuali Loka yang segera bangkit dari duduknya, kemudian berjalan kembali memasuki stage.


"Yok langsung, yok!" Crew tersebut kembali berteriak.


Yang segera dibalas anggukan oleh Andrew juga Alia. Sementara Loka bersikap seperti acuh tak acuh, dan itu sudah menjadi bawaannya sejak pria itu bergabung bersama mereka.


"Baiklah, di challenge hari ini kami akan memanggil kalian semua. Bukan yang paling buruk, ataupun yang paling bagus saja seperti biasa." Ucap Alia sambil tersenyum.


"Oke, tantangan daging sapi, right? Saya sudah tidak sabar untuk mencoba hidangan yang kalian buat." Andrew melipat kedua tangannya di dada.


Sementara Loka diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Baik, Ratu kamu boleh maju." Alia mempersilahkan.


Orang yang dipanggil pun mengangguk, lalu membawa hidangannya ke depan, dan meletakkannya di atas meja seperti biasa.


"Bagaimana tangan daging sapi menurut kamu?" Andrew maju lebih dulu.


"Tidak terlalu sulit, Chef. Masih bisa menikmati alurnya." Ratu berujar.


Membuat Alia menoleh ke arah Loka, kemudian saling memberikan senyuman tipis. Apa maksudnya? Entahlah, hanya mereka berdua yang tahu.


"Jadi, … apa ini?" Andrew menatap peserta yang berdiri di hadapannya.


"Steak, Chef."


Andrew menahan senyum, lalu memejamkan mata.


"Iya saya tau ini, Steak. Tapi …"


"Ahahahahaha, … dasar kau bodoh!" Loka mengarahkan jari telunjuknya pada Andrew.


Tiba-tiba saja Loka tertawa kencang, dengan nada penuh ejekan.


"Saya tidak buta, saya tahu ini steak. Tapi bisa lebih jelaskan tidak ke arah mana kamu membawa masakan kamu? Entah dari saus atau apapun." Andrew terlihat sedikit kesal.


Ratu tampak tersenyum malu-malu.


"Malah senyum-senyum!" Celetuk Loka sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Eee, … ini Rib eye steak, with potatoes skillet, and creamy mushroom sauce."


Piring hitam berukuran besar, berisi beberapa potong daging sapi dengan warna yang begitu cantik dan menggiurkan. Tak lupa potongan kentang berukuran sedang, juga terdapat asparagus yang menjadi tampilannya menjadi semakin menarik.


Andrew membawa satu potong daging, meletakan ke dalam piringnya, lalu potongan kentang, asparagus, tak dan menyendok sedikit mushroom sauce.


Kemudian Andrew mundur tanpa mengucapkan sepatah katapun setelah mencicipinya.


Tidak lama, Alia pun maju. Sama halnya seperti Andrew, di mencicipi makanannya, lalu kembali tanpa mengucapkan sesuatu.


"Kenapa kamu memilih masak steak?"


Loka maju, lalu membawa garpu dan pisau, dan segera menjejalkan potongan kecil daging tanpa saus.


"Nggak apa-apa, Chef. Mau aja!"


Loka menatapnya tajam, sambil terus mencicipi daging dengan cocolan saus, kentang dan asparagus yang tersisa disana.


Kening Loka mengkerut, lalu memberikan ekspresi yang tidak bisa diartikan dengan jelas. Dia tampak merasa aneh, atau mungkin sedang berusaha merasakan sesuatu yang kurang.


"Kamu pakai Rib eye, kan?"


Ratu mengangguk.


"Rib eye itu salah satu bagian yang sangat empuk. Dan jujur, saya sangat menyukai bagian rib eye itu sendiri, … dengan catatan pengolah yang baik dan tepat. Ini enak, flavor dan seasoning nya pas, apalagi ada mushroom sauce disini, … tapi sayang, ini bukan tingkat kematangan yang saya mau. Sedikit terlalu matang." Ujar Loka, lalu dia kembali bergabung bersama kedua temannya.


"Dih, tumben nggak ketus!" Batin Farah berbicara.


Bahkan sudut bibirnya tampak mencebik, dengan raut wajah aneh.


"Benar, steaknya enak. Hanya saja sedikit terlalu matang." Sambung Alia.


"Steaknya enak, cocok dengan cocolan saus yang kamu buat. Saya suka, … jadi kamu boleh kembali ke bench." Kata Andrew.


"Baik, Chef. Terimakasih."


Ratu berbalik badan, lalu berjalan cepat menuju bench miliknya.


"Oke selanjutnya, Farah!"


Alia memanggil, membuat gadis yang sedang fokus menyimak pun sedikit terkejut. Dia mengangguk, lalu membawa hidangannya menuju meja yang terletak di hadapan para juri.


"Siapkan mental, Farah. Akan ada kata-kata pedas yang pasti kamu terima setelah ini." Hatinya berbicara kesal.


Sementara bibirnya tampak melengkung, memperlihatkan senyuman yang paling manis seperti biasa.


......................

__ADS_1


Duh Mas juri jangan aneh-aneh dong, kasian Farah😌


__ADS_2