My Annoying Chef

My Annoying Chef
Chapter 11


__ADS_3

"Challenge bawang hari ini sudah selesai. Sebagian dari kalian ada berhasil dengan mudah, … dan beberapa kontestan gagal dalam bermain dengan waktu dan feeling mereka, sampai semua yang mereka kerjakan berantakan, … sangat berantakan." Loka menatap lurus kedepan, dimana para peserta berdiri di bench masing-masing, dengan raut wajah tegang.


Loka diam untuk beberapa saat, memindai wajah peserta satu-persatu. Dan lagi-lagi tatapan matanya terkunci pada Farah, sosok gadis yang kali ini terlihat lebih tenang.


"Dari sekian banyak orang yang mendaftar untuk mengikuti acara bergengsi ini. Kalian adalah yang terpilih, … tapi jangan anggap enteng, tidak semua yang kelihatan mudah itu, memang bener mudah. Justru dari hal mudah, kalian bisa pulang kapan saja jika tidak hati-hati." Loka kembali berbicara.


Dia melipat tangan di dadanya.


"Dan jangan pernah berpikir jika kami akan membuat kalian melakukannya dengan mudah. Bukan kompetisi namanya jika semu peserta akan melalui setiap tantangan dengan sangat mudah, bukan begitu?" Andrew menyahut.


"That's true!" Loka mengarahkan jari telunjuk pada Andrew.


"Kalian mengerti?" Alia bertanya.


"Siap mengerti, Chef!"


Jawaban dari semua peserta terdengar riuh, membuat Alia dan Andrew tersenyum. Sementara Loka hanya diam tanpa ekspresi apa-apa.


"Baik, … saya tidak suka berbasa-basi. Jadi ayo kita panggil siapa orang yang harus pulang, agar saya bisa cepat kembali ke apartemen, dan istirahat dengan segera." Ucap Loka jujur.


"Baik." Alia menatap kedua rekannya.


"Ada sekitar lima orang yang terlambat sekali. Yuda, Agus dan Nia sedikit kesulitan menimbang bawang bombay, sementara Cynthia dan Aldi kesulitan di challenge ke tiga, … yaitu bawang merah." Jelas Alia.


Loka tersenyum miring.


"Padahal sudah kita ingatkan yah! Jika kalian itu tidak bisa menganggap enteng setiap tantangan yang ada di galeri. Ingat! Tidak hanya memasak, semua kemampuan kalian di uji disini." Alia berujar.


Loka menghela nafas, kemudian menatap rekan wanitanya dengan raut jengah.


"Langsung saja, Chef Alia. Siapa yang akan pulang lebih dulu?" Ucap Loka sedikit ketus.


Alia menoleh, menatap Loka yang tiba-tiba mendelikam mata saat pandangan keduanya beradu.


"Emmm, … baiklah! Kelima orang tadi boleh maju ke depan." Pinta Alia.


Orang yang di maksud mengangguk, lalu berjalan menjauh dari bench, dan berdiri tepat di hadapan meja para juri. Mereka berdiri saling berdampingan, berjajar rapi, dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.


"Maaf sebelumnya, tapi diantara kalian, harus ada tiga orang yang pulang lebih dulu. Selain tidak bisa memanajemen waktu dengan baik, … apa yang kalian lakukan juga sudah sangat fatal. Masa iris tipis bawang merah tidak bisa? Potong dadu bawang Bombay juga bisa sampai sebesar dadu sungguhan? Kami kecewa, kenapa kemampuan kalian harus kalah dengan tiga jenis bawah saja?" Andrew terlihat sangat serius.


"Ck!!" Loke berdecak sebal. "Payah sekali! Sama bawang saja kalah!" Dia mengejek.


Mereka semua diam untuk beberapa saat, sehingga membuat studio itu benar-benar hening. Walaupun dipenuhi kontestan dan juga crew tv.


"Nia, Aldi? Maaf. Tapi perjalanan kalian hanya sampai disini saja." Alia berbicara dengan ekspresi tidak tega.


Dua orang itu tampak terpuruk, bahkan tangisannya seketika pecah saat Alia menyebutkan namanya untuk orang yang pertama kali meninggalkan galeri.


"Nia, … kamu sangat buruk dalam memanajemen waktu. Sehingga kamu tertinggal sangat jauh. Dan kamu Aldi. Saya tidak habis pikir, kenapa cara kamu mengiris bawang merah seperti itu, … buruk sekali, Aldi!" Alia tampak kecewa.


"Saya bilang iris tipis, … tapi kamu melakukannya dengan hanya memotongnya saja. Itu terlalu tebal, saya jadi ragu kamu ini beneran bisa masak atau tidak!?" Alia menatap Aldi lekat-lekat.


Orang yang di maksud mengangguk. Mereka berusaha berbesar hati, meskipun pada kenyataannya mereka cukup sedih, karena harus jadi orang pertama yang pupus dalam menggapai impian, dari sekian banyak peserta yang ikut serta.


"Sekali lagi maaf, … Aldi, Nia! Kalian harus pulang hari ini!" Alia tampak memperlihatkan senyumannya.


Nia mengangguk, lalu dia maju seraya mengulurkan tangan kanannya, yang langsung Alia sambut, sampai keduanya berjabat tangan cukup lama.

__ADS_1


"Thank you, Chef. Meskipun sedih karena harus menjadi kontestan yang lebih dulu pulang. Tapi saya bahagia karena mendapatkan banyak pengetahuan disini." Ucap Nia.


Alia mengangguk.


"Mungkin Next time ya. Jangan pernah putus asa, asah terus kemampuannya, … jadi nanti kalau ikutan audisi lagi bisa jadi juara!"


"Baik, terimakasih Chef!"


Lalu Nia beralih menyalami juri satu-persatu, sebelum akhirnya kembali ke bench, dan meletakan apronnya disana. Perempuan itu tampak menangis, menatap meja tempatnya memasak beberapa saat, kemudian mengarahkan pandangan pada juri, lalu kemudian tersenyum dan melambaikan tangan.


"Sekali lagi terimakasih Chef!" Katanya, lalu berjalan keluar dari studio memasak tanpa menoleh kembali ke arah belakang.


Setelah Nia keluar, Ali pun melakukan hal yang sama. Pria itu mengucapkan banyak terimakasih, seraya menjabat tangan juri satu-persatu, sampai akhirnya Ali keluar ketika sudah melepas apronnya.


Keadaan kembali menegang, karena diantara tiga kontestan yang masih tersedia. Ada satu lagi yang harus pulang.


"Yuda, … Agus dan Cynthia. Kalian boleh maju ke depan." Pinta Andrew.


Mereka bertiga menurut.


"Menurut kalian. Siapa yang lebih pantas pulang hari ini?" Loka bertanya, sambil memindai wajah peserta satu-persatu.


Mereka bertiga diam.


"Apa Cynthia? Agus? Atau Yuda?" Ucap Loka lagi.


Namun, ketiga peserta itu masih diam, dengan kepala menunduk. Tentu saja, memangnya siapa yang berani terang-terangan menunjuk teman seperjuangannya jika mereka tidak pantas berada di galeri lagi, dan harus menghapus mimpinya, lalu pulang dengan harapan yang belum tercapai sama sekali.


"Cynthia? Menurut kamu siapa yang harus pulang hari ini?" Loka melipat kedua tangannya di dada.


Pandangan terangkat, sehingga pandangan Loka dan salah satu dari kontesan hari ini saking beradu.


"Eeee, … Yuda Chef." Cynthia menjawab, lalu kemudian dia menundukan kepala.


Sementara Yuda langsung mengarahkan pandangan pada Cynthia.


"Kenapa?"


"Yuda nggak bisa menyelesaikan challenge pertama dengan baik, Chef. Padahal cincang bawang putih adalah tantangan paling gampang." Jelas Cynthai.


Loka diam, menatap dua rekannya bergantian. Lalu kembali menatap para kontestan di hadapannya.


"Jadi menurutmu Yuda adalah satu yang terburuk? Dan dia harus pulang hari ini?" Alia menatap Cynthia dengan sorot mata penuh intimidasi.


Cynthia diam.


"Menurut saya, tidak ada yang lebih buruk selain dari irisan bawang merah yang tidak beraturan. Challenge bawang merah itu justru paling gampang, … hanya perlu mengupas dan mengirisnya tipis. Tidak perlu menimbang lagi, … jadi saya kira yang kalah di challenge pertama, lebih baik dari pada yang kalah di challenge ke tiga. Itu memalukan Cynthia!" Alia tersenyum tipis.


"Sorry, Chef." Chynthia berkata pelan, namun masih bisa di dengan oleh ketiga juri dengan sangat jelas.


"Baik, Yuda? Apa kamu merasa pantas jika kamu harus pulang hari ini?" Loka menatap Yuda.


Pria itu menggelengkan kepala.


"Benar kata Chef Alia, yang kalah di challenge satu tidak lebih buruk dari yang kalah di challenge tiga, …"


"Kenapa kamu berpikir begitu? Sementara disini harus jadi pemenang di setiap tantangan?" Sergah Loka.

__ADS_1


Dan ucapan itu mampu membuat Yuda kehilangan kata-kata.


Andrew tersenyum. Apalagi saat rekannya mulai menunjukan bagaimana cara dia berkomentar. Dan itu sudah menjadi ciri khasnya setiap kali menjadi juri, meskipun sikap Loka di buat-buat, nyatanya pria itu dapat mendalami perannya dengan sangat baik.


"Jadi kamu merasa lebih baik dari Chynthia, ya?" Nada bicara Loka terdengar penuh sindiran.


Yuda bungkam.


"Agus? Bagaimana menurutmu?" Andrew menatap salah satu peserta yang memang sudah berada di ambang kegagalan.


"Saya tidak tahu, Chef. Anda yang lebih mengerti!" Dia mencari aman.


Semua orang kembali diam. Termasuk para kontestan yang sudah berada di posisi aman.


"Cynthia?" Panggil Alia.


"Siap Chef?"


Para juri kembali saling menatap, membuat perempuan yang di maksud diam dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana tidak, impiannya yang baru saja tercapai, namun sudah memperlihatkan tanda-tanda jika dirinya haru mundur dan mengubur semuanya dalam-dalam.


"Kamu boleh bergabung dengan kontestan yang lain." Kata Andrew tanpa banyak basa-basi. "Kamu lolos!"


"Ya ampun!" Perempuan itu menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya.


Lalu setelah itu Cynthia berjingkrak bahagia, meskipun wajahnya memerah, dengan air mata yang terus bercucuran.


"Thank you Chef!!" Katanya, lalu perempuan itu ikut bergabung bersama para peserta yang lolos.


Bahkan mereka menyambut Cynthia dengan segera, memeluk tubuhnya sambil tertawa penuh haru.


"Yuda? Agus? Diantara kalian harus ada yang pulang. Siap tidak siap kalian harus siap!" Ujar Alia.


Dua pria itu menganggukan kepalanya.


"Baiklah, mohon maaf sekali Agus. Kamu adalah orang terakhir yang harus menghapus mimpimu." Alia memberi tahu.


Yuda langsung bersujud, mengucapkan rasa syukur karena masih bisa memperbaiki semua setelah ini. Ada sedikit harapan untuk melanjutkan mimpinya, setelah kesalahan-kesalahan yang dia lakukan, nyatanya juri masih memaklumi.


Pria itu bangkit, kemudian merangkul tubuh Agus yang tampak menahan tangisnya.


"Sepertinya mental kamu belum kuat. Sehingga kamu melakukan banyak kekacauan, … padahal baru hari pertama." Loka tanpa banyak berbasa-basi.


Agus mengangguk.


"Mungkin tidak season ini, … tapi di season-season selanjutnya. Asah kembali kemampuanmu, dan kembalilah untuk menjadi juara di ajang memasak yang akan datang." Alia memberi semangat.


"Siap Chef!"


Agus maju, lalu menyalami ketiga juri, sebelum akhirnya mendekati bench, dan meletakan apron miliknya disana. Di susul Yuda, yang melakukan hal yang sama, kemudian segera bergabung bersama teman-teman peserta yang lolos.


"Astaga, padahal ini baru hari pertama, … tapi jantung aku rasanya udah mau copot!" Batin Farah berbicara.


Dia ikut memeluk kontestan terakhir yang berhasil bergabung. Lalu menatap Loka yang tampak berbincang-bincang dengan juri yang lain, tanpa ada yang menyadari.


Cukup lama Farah memandangi Loka, sebelum akhirnya gadis itu mengalihkan pandangan, saat Loka menoleh ke arahnya secara tiba-tiba.


......................

__ADS_1


Ciyeeeeeeeee🤭


__ADS_2