
"Lu hari ini masih ga ngampus?" Tanya Bang Kelvin yang sudah pasrah melihat kelakuanku yang hanya duduk selonjoran sambil nonton drama korea seharian.
Aku mengangguk, "Hari ini cuman ada jadwalnya Pak Rahmet kok, Bang. Gampanglah itu."
"Hape lu mati?" Tanya Bang Kelvin lagi. Lama-lama ini sudah kayak jadi sesi tanya-jawab Abang dan Adek.
"Abis baterai."
Bang Kelvin tersenyum cerah. Saking cerahnya, bahkan wajah Bang Kelvin yang biasanya muram berubah menjadi cringey.
"Nape lu bang senyum-senyum?"
"Devi tadi nelpon gue."
Aku terperangah, "Hah? Devi kan udah ada pacar Bang. Wahh, parah lu bang."
Jitakan pun akhirnya mendarat mulus di atas kepalaku, "Kagak lah. Devi bilang hari ini ada jadwalnya Pak Arfa. Jam 2 siang."
Mataku pun membelo, "Seriusan?"
"Ngapain gue bohong?"
Mataku pun dengan sendirinya langsung mencari barang yang dapat memberikan informasi mengenai pukul berapakah gerangan sekarang.
"Bang!! Ngapain baru bilang sekarang sihh!!"
Iya. Bang Kelvin kasih tau kalau ada jam kuliahnya Pak Arfa saat jarum pendek sudah hampir mendekati pukul satu.
"Salah lu sendiri, hape ga diidupin."
Tanpa membalas ucapan Bang Kelvin, aku pun langsung ngacir ke kamar mandi.
💥💥💥
Niat mau minta maaf sama Pak Arfa, alhasil malah kena semprot karena telat 2 menit.
Semua gara-gara Bang Kelvin!
"Alasan apa lagi kamu? Sakit? Hanya telat 2 menit? Kebelet ke toilet?" Ngegas euy Pak Arfa. Baru aja masuk udah dihadiahi tatapan tajam.
"Maaf, Pak."
Belajar dari pengalaman sebelumnya, sepertinya hanya kata maaf yang mampu menyelamatkanku dari situasi seram ini.
"Kalau maaf bisa menyelesaikan masalah, penjara ga bakal penuh." Ucap Pak Arfa dengan di setiap katanya itu penuh penekanan.
__ADS_1
Salah lagi kan aku? Minta maaf salah, jawab yang lain salah. Udahlah, salah banget kalau ngejawab Pak Arfa yang menganut paham dosen selalu benar.
"Kenapa diam?" Pak Arfa sedikit meninggikan suaranya.
Aku sedikit tersentak, "Gapapa, Pak."
Pak Arfa mengerutkan keningnya, "Biasa kamu bakal nyerocos tidak jelas."
Ini Pak Arfa mau aku mengeluarkan umpatan dalam hati nih? Boleh..
"Saya kan telat sebentar, Pak. Kata abang saya sebagai manusia itu harus saling memaklumi." Ucapku yang sudah bodo amat kalau bakal dikeluarkan dari kelas.
Pak Arfa be like "Abang lu malah ga ada toleransi, neng. Mana ada saling memaklumi. Pembohongan publik itu."
"Ini terakhir kalinya saya lihat kamu telat. Cepat duduk." Titah Pak Arfa langsung membuatku bergegas ngacir nyari tempat duduk yang aman untuk duduk nyantai.
Hehe. Iya, nyantai. Tapi kayaknya aku segera mengurungkan niat ketika melihat tatapan Pak Arfa yang bikin jantungan itu mengikuti langkah kakiku.
Ya udahlah. Yang penting duduk dengan aman dulu.
Selama Pak Arfa berceloteh entah tentang materi apa, aku hanya fokus berusaha untuk tidak tertidur di kelas Pak Arfa. Karena kalau tidur, sama aja dengan cari mati.
Makin lama, makin tidak tertahankan rasa kantuk yang semakin terasa.
Aku pun mengerjapkan mataku sejenak berusaha menetralkan rasa kantuk yang sudah hampir tidak tertahan.
"Saya Pak?" Ucapku sambil menunjuk diri tatkala sadar bila ucapan Pak Arfa itu menuju ke arahku.
"Setan." Jawab Pak Arfa ngasal.
Gemas, Pak Arfa bisa ngelawak juga!
"Heheh, kok setan sih Pak? Kan ada bidadari disini." Jawabku lebih ngelantur.
Memang mulut ini tak bisa mengkondisikan diri.
"Kamu keluar atau saya yang keluar?" Titah Pak Arfa.
"Saya aja deh Pak. Kalau bapak yang keluar nanti saya digebukin fans bapak." Ucapku lalu ngacir keluar kelas.
Bodo amatlah dengan nilai. Lelah hayati selalu salah.
"Kamu tunggu di kantor saya." Ucap Pak Arfa setengah berbisik saat aku melewatinya.
__ADS_1
Karena samar-samar aku pun hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Kantin dulu lah..
Kalau ngantuk penangkalnya apa? Kalau aku sih, makan.
"Do, woi!" Aldo sepertinya terkejut mendengar panggilanku. Hehe. Maap.
Aldo pun menghampiriku sambil memasang muka kesal, "Apaan sih teriak teriak. Udah kayak tarzan lu."
"Hehe, maap. Abis mulut ini sulit dikontrol." Ucapku cengengesan.
"Lu diusir lagi?"
"Kelihatan banget ya?"
"Lu ada apa sih sama Pak Arfa?"
Aku mengernyitkan keningku tanda tidak mengerti, "Dosen dan mahasiswi lah. Apa lagi?"
"Tapi muka lu sekarang seperti menunjukan kalau lu lagi patah hati dicuekin pacar." Ujar Aldo ngawur. Iya ngawur banget.
"Memang tidak berfaedah ngobrol sama lu."
"Mau kemana?"
"Ke ruangan Pak Arfa. Ilang napsu makan gue lihat lu."
Aldo tampak membulatkan matanya, "Ngapain? Tuh kan lu ada apa-apanya sama Pak Arfa!"
"Lah, gue kan asisten dosennya."
Lagi-lagi mata Aldo membesar, "Pak Arfa yang perfeksionis milih lu buat jadi asdos?"
"Wahh.. lu pelet Pak Arfa ya, Vi? Ngaku lu!" Lanjut Aldo.
yeuu, Aldo ngegas.
"Ih kok tau sih, Do?" Iyain aja. Biar Aldo bahagia.
Aldo pun menunjukkan ekspresi aneh yang sulit untuk aku definisikan. Hmm, apa ya? Seperti tak percaya, ingin muntah, dan tercengang. Bingung kan gimana ekspresi mukanya Aldo ? Sama! Aku juga. Intinya dia jelek banget sekarang.
"Bye Do, gue pengen ketemu my sweet heart." Ucapku lalu bergegas pergi menuju ruangan Pak Arfa.
Entah kesialan apalagi yang akan menimpaku kali ini.
__ADS_1
"Delia?" Tanyaku bingung ketika melihat Delia sedang duduk manis di ruangan Pak Arfa.