
"Pak, bapak tahu gak guguk yang paling nyebelin itu apa?" Tanyaku tiba-tiba.
Pak Arfa yang sedang berkutat dengan pisau, talenan, dan berbagai macam sayur pun melihat ke arahku dengan tatapan tanya.
"Apa?"
"Gukdelia.." Jawabku asal.
Pak Arfa yang mendengar penuturan ku pun tersenyum kecil, "Sebenci itu kah kamu dengan Delia?"
"Iya, Pak. Dia itu kayak rival aku."
Pak Arfa lagi-lagi terkekeh, "Ngaco kamu."
"Bapak tadi kenapa malah ketawa aja bukannya belain aku?!" Ujarku dengan nada sedikit tinggi.
Tiba-tiba aku teringat insiden adu bacot antara aku dan Delia di rumah sakit sore tadi.
"Habis lihat kamu marah gitu lucu, El. Kayak singa galak."
Aku membulatkan mataku kesal, "Singa bapak bilang?!"
Pak Arfa menganggukan kepalanya, "Iya."
"Bapak udah bosan hidup?"
"Kamu sudah bosan makan?"
Skak mat!
Pak Arfa berhasil membuat diriku kicep.
Asal kalian tahu ya, Pak Arfa itu pinter masak. Hehehe.
"Iya deh, Pak. Lemah saya kalau dengan dua hal."
"Apa?" Ujar Pak Arfa seraya menumis masakan yang harumnya aja udah bikin perut menghasilkan bunyi 'krucuk.. kriuk..' gitu kan?
"Satu kalau soal makanan."
"Satunya lagi?"
"Cogan."
Catat, guys!
Dua hal yang membuat Elvia lemah.
1. Makanan
2. Cowok Ganteng
Hehehe.
"Berarti saya sudah memenuhi semua syarat yang membuat kamu lemah dong?"
"Iya. Apalagi kalau bapak gak nyebelin, bersikap manis, buang si guguk, pasti hidup saya makin bahagia."
"Gak ada yang sempurna, El."
"Ada kok."
"Mana?"
"Di mata saya, cinta bapak sempurna."
Mau muntah euy aku ngomongnya.
Ini nih efek banyakan baca novel bucin. Hehe.
"Elvia," Panggil Pak Arfa yang tetap saja fokusnya masih berkutat di dapur.
"Iya, Pak?"
__ADS_1
"Tau gak bedanya kamu dengan cicak apa?"
"Kok cicak sih, Pak?! Jelas beda dong."
"Jawab aja napa sih."
"Yaudah, apa?"
"Kalau cicak nempelnya di dinding."
"Terus? Kalau itu saya juga tahu Pak."
"Jangan potong ucapan saya dulu, Elvia."
"Iya.. iya.. lanjut Bang!"
"Bang?"
"Hehehe. Biar unik gitu, Bang. Kayak abang abang yang jual bakso gitu, Pak. Kan kekinian."
"Saya jadi males lanjutinnya, El." Ujar Pak Arfa yang moodnya udah jelek.
"Jangan gitu dong, Pak."
"Gak."
"Lanjut ya?"
"Udah males."
"Mas.."
"Kurang rayuannya."
"Sayang.."
Krik..
Krik..
"Gitu doang?" Tanyaku dengan nada sarkas.
"Iya." Jawab Pak Arfa sambil menggoreng kentang.
Tahu banget Pak Arfa kalau aku doyan kentang. Hehe.
"Gombalan bapak kurang top cer."
"Memang kamu ada?"
"Ada dong."
"Mana?"
"Bapak tahu gak hari apa yang menjadi hari favorit aku?"
"Apa tuh?"
"Hari Selasa."
"Bukannya kamu benci hari Selasa soalnya ntar ada matkulnya Bu Ningsih?"
Inget banget sih, Pak Arfa.
Padahal aku cuman asal ngelantur aja. Tapi detail omonganku pun, Pak Arfa inget. Hehe.
"Kan lagi ngegombal, Pak. Kalau itu mah beda perkara."
"Iya.. iya, kenapa?"
"Biar bisa selasa berduaan terus dengan bapak."
__ADS_1
Krik..
Krik..
"Sesama receh dan garing mending gak usah saling menghina."
Pak Arfa secara telaten menata piring, hasil masakan, dan peralatan makan dengan rapi dan indah di meja makan.
Bener-bener ya Pak Arfa, karena tahu aku suka Korea makanya dimasakin makanan ala-ala Korea.
"Pak, sejak kapan bisa masak?"
"Memang saya hobi masak. Salah satu sahabat saya chef. Jadinya ketularan ilmu."
Pak Arfa menarik kursi agar aku bisa duduk.
Omimi,
Sungguh romantis sekali.
Pak Arfa bisa romantis juga ya ternyata. Hehe.
"Sebagai permintaan maaf saya karena batalin janji waktu itu." Ucap Pak Arfa dengan nada yang terdengar tulus.
"Makasih banget, Mas."
Pak Arfa terdiam. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tapi, matanya seakan memberitahuku bahwa Pak Arfa sedang terpesona dengan ucapanku tadi.
"Kamu ya, giliran ada maunya aja baru manggil saya Mas." Ucap Pak Arfa sembari menyentil dahiku dengan pelan.
"Hehe. Bapak sih nyiksa saya."
"Nyiksa apa?"
"Ngasih makanan sebanyak ini tuh nyiksa saya."
"Maksudnya?"
"Saya kan lemah Pak dengan makanan."
"Kalau saya makan banyak, ntar gendut."
"Kalau gendut, ntar tambah jelek."
"Kalau jelek, saya gak bisa tebas kecantikan saya lagi ke bapak."
"Kalau gitu, ntar bapak gak suka lagi sama saya."
"Sudah?" Tanya Pak Arfa yang jenuh mendengar bacotanku yang gak ada faedahnya.
"Iyaa." Ucapku sembari mengunyah makanan.
"Kalau saya suka kamu karena kamu cantik, maka nanti akan ada alasan kalau saya bisa ninggalin kamu karena ada wanita lain yang lebih cantik."
"Saya suka kamu apa adanya. Saya suka waktu saya debat gak penting sama kamu, saya juga suka waktu saya adu gombal gak jelas sama kamu. Saya suka kamu yang enak diusilin. Saya suka kamu yang kadang bersikap ceroboh, frontal, galak. Saya suka sifat kamu, dan mungkin itu otentik hanya ada di kamu." Lanjut Pak Arfa.
"Jadi, jangan pernah terbesit di benak kamu kalau saya suka kamu karena hanya kamu cantik."
"Kamu cantik kok, saya akui. Tapi bukan itu yang membuat saya jatuh hati dengan kamu."
Pak Arfa menatapku dengan tatapan lembut yang berhasil membuat fokusku teralihkan. Yang tadinya aku fokus pada hasil masakan Pak Arfa, kini fokusku tertuju pada Pak Arfa.
"Pak.."
"Iya?"
"Bapak harus tanggung jawab!"
"Kenapa?" Tanya Pak Arfa bingung.
"Bapak udah buat saya makin cinta dengan bapak!"
__ADS_1
💕💕