
"Apa yang kamu suka dari Arfa?" Tanya Om Hartanto yang berhasil membuat otakku harus bekerja dua kali lebih keras dari biasanya.
"Hah?" Satu-satunya respon yang keluar dari mulutku hanya itu.
Apa ya?
"Om, jawabnya boleh jujur gak?"
Alis mata sebelah kanan Om Hartanto terangkat menandakan menunggu pernyataan yang akan aku lontarkan selanjutnya.
"Saya sebenarnya gak suka-suka amat sih sama Pak Arfa. Awalnya saya malah benci banget soalnya Pak Arfa nyebelin."
Pak Arfa yang mendengar jawabanku sontak langsung menatapku tajam, mungkin dalam benaknya sekarang ia bertanya-tanya apa yang salah dengan otakku.
"Faktor utama sih karena Pak Arfa tuh ganteng terus selera humor kita sama."
Bener kok, aku gak bohong.
Aku suka sama Pak Arfa emang awalnya karena terpesona sama wajah tampannya Pak Arfa.
"Lama-lama saya mulai merasa nyaman dengan Pak Arfa. Saya pikir nyaman itu kunci utama saat menjalin hubungan, satunya lagi komunikasi."
"Pak Arfa itu emang agak nyebelin kalau masalah komunikasi. Soalnya orangnya sulit ditebak, suka buat orang salah paham. Tapi seiring waktu saya jadi paham dan mulai ngerti tentang betapa rapuhnya Pak Arfa sehingga komunikasi menjadi hal yang sulit bagi Pak Arfa." Lanjutku diiringi senyum yang lebar.
Emang otakku harus kepepet dulu baru bisa mikir. Aku pun menatap Pak Arfa dengan tatapan bangga seperti berkata, "Gimana Pak? Oke kan? Jangan lupa nilai saya besarin ya."
Om Hartanto tidak merespon pidato singkat milkku tadi selama beberapa detik.
Kesehatan jantungku udah jangan ditanya lagi gimana. Udah berdetak kayak habis dikejar setan, benar-benar kencang.
"Kamu sepertinya memang pintar ngomong ya?" Ujar Om Hartanto dengan senyuman simpul yang menghiasi di kedua ujung bibirnya.
Aku pun berani bernapas lega saat itu, "Om.."
"Ya?" Jawab Om Hartanto.
"Sebenarnya ada satu hal lagi sih yang mau saya sampaikan."
"Apa?"
"Sebenarnya yang suka sama saya duluan itu Pak Arfa."
Om Hartanto pun tertawa pelan mendengar ucapanku, "Ya, Elvia. Saya sudah banyak dengar tentang kamu dari Arfa. Arfa bilang kamu suka ceplas-ceplos. Ternyata benar ya."
"Pak? Bapak bilang gitu ke capar?"
Pak Arfa dan Om Hartanto pun saling melihat menandakan tidak mengerti dengan ucapan terakhirku, capar?
"Calon papa mertua. Bapak gak gaul ih!" Ujarku yang peka dengan ketidaktahuannya Pak Arfa dan Om Hartanto.
__ADS_1
"Hahaha. Saya duluan Elvia. Arfa, jaga Elvia baik-baik." Ujar Om Hartanto yang kubalas dengan senyuman terbaikku.
"Siap, Boss!" Balas Pak Arfa.
💞💞💞
"Pak, saya capek nih." Ujarku sembari meratap kakiku yang mulai bengkak akibat memakai heels.
"Sabar dong El. Baru pakek dua jam udah ngeluh, gimana nanti kalau nikahan kita?"
Aku pun memutar bola mataku kesal, "Serah."
"Apa? Saya gak suka Sarah."
"Bapak budeg ya? Saya bilang serah."
"Serah itu kata? Saya pikir menurut kaedah bahasa Indonesia yang benar gak ada tuh kata serah yang artinya masa bodoh."
"Nyebelin! Terserah maksudnya!"
"Nah. Good Girl!" Ujar Pak Arfa sembari menepuk puncak kepalaku pelan.
"Bapak pikir saya anjing bapak si sweety? Ditepuk-tepuk kepalanya, ngomong good girl lagi."
"Kok kamu samain kamu sama Sweety sih El?"
"Kasihan Sweety disamain sama kamu."
"Pak!!" Sebenarnya kalau mau tempur sekarang, aku sudah cukup siap. Di tas kecilku sudah ada barang-barang yang siap untuk aku lemparkan ke arah Pak Arfa.
"El..."
"Hmm?" Jawabku sambil mengunyah beberapa kue yang sudah tertata manis di piring yang aku bawa.
"Makannya yang elegan dikit."
Aku menatap Pak Arfa dengan tatapan tajam, lebih tajam dari silet kayaknya.
"Kamu gak lihat orang-orang ngelihatin kamu terus."
"Mungkin mereka iri dengan kecantikan saya Pak." Ujarku sembari tangan kiriku mengibas rambutku.
"Iri ndasmu." Gumam Pak Arfa.
"Bapak ngomong apa tadi?!" Ujarku dengan nada meninggi.
__ADS_1
"Kamu cantik." Jawab Pak Arfa dengan nada lesu.
"Nah, good boy!"
Aku pun mencoba menahan tawa seraya melihat wajah gemasnya Pak Arfa saat kupanggil Good Boy, Heheh.
"El..."
"Apalagi sih Pak?"
"Itu sepupu saya yang nikah. Kamu gak berniat nyapa?"
"Eh? Oh iya lupa Pak. Abis makanan disini enak-enak." Ujarku sembari tersenyum kikuk.
Pak Arfa mendenguskan napasnya pelan, "Ikut saya. Jangan ngomong kalau gak saya suruh. Mulut kamu itu kadang susah dikontrol."
Aku pun menunjukkan jempolku untuk menjawab ucapan Pak Arfa.
"Fa? Lu dateng? Gue pikir lu gak dateng." Ujar mempelai pria sembari merangkul Pak Arfa. Sepertinya hubungan mereka cukup dekat.
"Dateng lah. Kalau gak dateng, udah digorok nyokap bokap." Jawab Pak Arfa.
"Eh? Ini cewek lu?" Tanya pria tadi yang namanya aku sedikit lupa. Siapa ya? Rion ya kalau gak salah.
"Iya. Elvia kenalin dia Ryan, Ryan kenalin dia Elvia." Oh, namanya Ryan toh. Aku pikir Rion. Kalau namanya Rion kan nama panjangnya bisa unik, Rion Maspion. Bah, kalau nama itu dipakek orang bisa jadi nama of the year itu.
Saat Pak Arfa memperkenalkan aku, aku pun hanya berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Tahan tekanan batin ya El sama Arfa."
"Tahan lahir batin udah. Kebal banget."
"Sabar-sabar aja ya Vi sama Mas Arfa." Kini mempelai wanita yang aku ketahui bernama Sherin itu buka suara.
Siapa sih yang gak tahu Sherin?
Artis Indonesia papan atas yang namanya sedang naik daun. Jadi, wajar lah ya kalau aku tahu namanya.
"Siap, Kak Sherin!" Ucapku sembari menahan tawa melihat wajah tidak senangnya Pak Arfa.
"Yaudahlah Bro, Rin, gue sama Elvia pamit duluan ya. Takut kelamaan nyampe Jakarta."
"Yoi, hati-hati Bro."
"Siap. Semoga awet sampe kakek-nenek ya." Ujar Pak Arfa yang membuatku sedikit bingung.
"Akhir hayat Pak. Emang kita tahu kapan ajal kita datang? Kalau gak sampe kakek-nenek gimana?" Sontak kalimat yang aku lontarkan ini mendapat tawa dari kedua mempelai dan tatapan tajam dari Pak Arfa.
"Saya kan sudah bilang kamu tutup mulut aja El." Bisik Pak Arfa.
__ADS_1
Aku pun menggelengkan kepalaku, "Gak bisa Pak. Mulut saya gatal kalau diam."