
"Pak, tumben ngajak makan? Biasanya ngajak ribut."
Heran. Pak Arfa ada angin apa nih? Ngajakin dinner tiba-tiba. Biasanya sok sibuk. Diajakin jalan, bilangnya ada meeting.
Giliran aku nonton drama korea dikit aja, udah ngambek. Gak diajak nonton, ngambek. Diajak nonton bareng, banyak alasan.
"Gak boleh?"
"Tumben aja. Kan bapak sibuk." Ujarku dengan nada sarkas.
"Ngambek?"
"Iya."
"Kamu sudah nonton drama korea yang main goblin itu belum sih?"
"Yang mana?"
"Yang ada malaikat maut itu."
Aku menajamkan pendengaranku, ini gak salah dengar?
"Touch Your Heart?"
Pak Arfa mengangguk-anggukan kepalanya, "Iya. Mungkin."
"Udah nonton setengah."
"Kok gak ngajak saya?"
Tuh kan...
Pak Arfa ngambek kalau gak diajak nonton drama korea bareng. Kadang bingung lebih tuaan aku atau Pak Arfa.
"Emang bapak ada waktu?"
"Saya bisa siapkan waktu."
"Oh. Jadi, kalau saya ajak jalan gak mau. Tapi kalau nonton drama mau. Gitu?"
"Iya."
Punya tunangan kok nyebelin banget.
Sabar, Elvia.
"Bapak udah bosan hidup?"
"Gak bosan."
"Apalagi kalau ada kamu." Suaraku dan suara Pak Arfa terdengar bersamaan. Kami tertawa setelahnya.
Udah bisa ketebak sih gombalan Pak Arfa. Gak pro nih!
Kapan ya kami berdua bisa waras?
"Elvia, yang paling kamu benci dari pria apa?"
"Kalau dia melanggar komitmen, gak jujur, dan selingkuh. Karena menurut saya kalau dia selingkuh berarti dia sudah merusak kepercayaan."
"Gitu, ya."
"Iya. Kalau bapak?" Kini giliran aku yang menatap Pak Arfa dengan penuh minat.
Dia perfect, tajir iya, pintar iya, ganteng iya. Kenapa malah maunya sama aku?
Jujur. Sempat beberapa kali aku minder jadi tunangannya Pak Arfa. Cantik? Relatif sih. Tapi kalau dibandingkan dengan wanita-wanita disekitar Pak Arfa, aku mah cuman butiran debu. Anggun? Bahkan kata itu sudah terhapus dari kamus hidup aku.
"Saya? Gak suka? Boleh sukanya aja gak?"
"Apa?"
"Saya suka wanita yang apa adanya. Saya suka wanita yang kadang bisa jadi sahabat, kadang bisa jadi adik, kadang bisa jadi seperti ibu saya, kadang bisa diajak romantisan kayak pacar."
Blush
Entah kenapa, nada bicara Pak Arfa seakan-akan menggambarkan aku sebagai subjek gambaran wanita yang Pak Arfa sukai.
"Pak, ini di mobil loh. Jangan buat saya ngefly. Nanti atapnya bocor."
"Garing kamu."
"Biarin. Garing kan krenyes. Enak."
"Hati-hati nanti lempem."
"Kok lempem?"
"Habis toplesnya saya buka terus."
"Lucu banget ya, Pak. Hahaha." Ucapku seraya tertawa paksa.
"Iya. Hahaha." Pak Arfa malah ngikutin gaya ketawa aku.
Emang gak bisa ya kita jadi pasangan waras? Romantis-romantisan kayak di drama korea?!
💞💞💞
"Pak? Makan di sini?" Ujarku tatkala melihat banyak sekali pedagang kaki lima yang berjejer.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu kecewa?"
Aku menganggukan kepalaku, "Iya."
"Oh, gitu?"
"Bapak harus tanggung jawab!"
"Kamu gak suka saya ajak makan di kaki lima gini?"
"Bukan gitu! Saya sebal dengan bapak!"
"Jadi kenapa?"
"Saya kan gak bawa duit. Mana bawanya atm doang. Emang mau makan disini bayar pakek apa? Daun?"
Pak Arfa tampak menghela napas lega, kayaknya Pak Arfa salah sangka dengan tingkahku barusan.
"Saya ada bawa duit cash. Santai dong."
"Bapak traktir?"
"Iya."
"Yakin gak marah saya jajan banyak?"
Pak Arfa tersenyum melihat tingkahku, "Emang kamu makan sebanyak apa?"
"Oke. Deal! Makin cinta deh, Pak."
"Giliran makan aja, baru bilang cinta."
"Tahu banget sih, Pak." Ujarku lalu menyusuri beberapa pedagang street food yang secara ajaib membuat napsu makanku meningkat dua kali lipat.
Makanan yang pertama kali menyita perhatianku itu sate.
"Mang, 10 tusuk ya."
"Bapak mau?"
Pak Arfa memandangku heran, "10 tusuk berdua kan?"
"Gak cukup Pak kalau 10 tusuk berdua."
"Makasih, Mang." Ucapku sembari membayar dan mengambil sekresek kantong berisi 10 tusuk sate tadi.
Iya. Aku mutusin buat bawa pulang aja. Soalnya udah mau hujan.
Pak Arfa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat napsu makanku yang begitu besar, "Kelvin gak pernah jajanin kamu ya?"
"Bang Kelvin pelit."
"Bukan pelit. Kalau jajanin kamu tiap hari takutnya dia bangkrut." Gumam Pak Arfa.
"Tuh Pak Arfa tahu." Ucapku lalu mulai menjajaki satu per satu stan yang tersedia.
"Masih belum puas?"
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Elvia."
Tunggu.
Suara ini, seperti kenal?
"Kak Rio?"
"Rio?" Gumam Pak Arfa bingung tatkala melihat sikap pria yang tiba-tiba muncul memelukku.
"Kak, kapan balik ke Indo?"
"Kemarin. Langsung kangen sama masakan Indo. Makanya kesini. Kamu sendiri?"
"Oh, aku diajak temen sih."
Pak Arfa membelalakkan matanya ketika mendengar kata teman yang ku sematkan kepada Pak Arfa.
"Gitu, ya. Temani saya dong, El. Kelihatan ngenes banget saya sendirian." Pinta Kak Rio.
"Dia tunangan saya, sedang jalan sama saya." Baru saja aku ingin membalas, Pak Arfa sudah mengintrupsi pembicaraanku.
Kak Rio tersenyum, "Sayang banget, El. Padahal saya masih kangen kamu loh. Have fun ya!"
"Iya, Kak. Nanti contact aku aja kalau mau ketemuan."
Pak Arfa memandangku dengan tatapan tidak suka.
Hehe, biarin!
Sekali-sekali aku buat cemburu.
"Siapa?" Tanya Pak Arfa ketika Kak Rio sudah berlalu menjauh.
"Apanya yang siapa?" Tanyaku balik, pura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Pria yang tiba-tiba meluk kamu."
"Mantan." Jawabku enteng.
Iya. Kak Rio itu mantan pertama aku. Gak bisa dibilang mantan juga sih, habis waktu itu Kak Rio gak pernah nembak. Tapi dekatnya kita itu udah bisa disimpulkan kayak orang pacaran. Teman rasa pacar gitu.
"Oh, masih kangen-kangenan sama mantan?"
Aku menganggukan kepalaku, "Iya. Udah lama gak lihat Kak Rio."
Mamam tuh cemburu.
Gak enak kan?
"Yaudah, jalan sama dia aja."
"Bapak cemburu?"
"Menurut kamu?"
"Iya."
"Kalau saya cemburu. Kamu mau apa?"
"Apa ya?"
Pak Arfa diam. Kayaknya marah beneran deh.
"Pak..."
"Mas..."
Pak Arfa masih diam.
"Sayang..."
Pak Arfa mencubit pipiku gemas, "Lain kali jangan buat saya cemburu."
"Kenapa?"
"Saya takut kamu berpaling. Saya takut dia lebih dari saya."
"Pak..."
"Ya?"
"Bapak tahu gak bedanya bapak sama sate apa?"
"Apa?"
"Kalau sate kan masaknya ditusuk. Tapi, kalau bapak, bapak yang nusuk-nusuk hati aku."
"Gombalan kamu lemah, El."
"Yaudah, coba bapak gombalin saya."
"Mau banget?"
Aku pun mengabaikan ucapan Pak Arfa yang menyebalkan itu.
Btw, saking gak warasnya kami. Kami gombal-gombalan di tengah hiruk pikuk pasar malam. Kadang harus sedikit teriak pas ngomong, biar kedengaran.
"El, saya mau ngomong serius." Ucap Pak Arfa tiba-tiba.
"Kenapa, Pak?" Ucapku seraya menghentikan aktivitas menyeruput green tea yang tadi sempat Pak Arfa beli ketika menunggu sate. Entah kapan Pak Arfa belinya. Yang jelas tiba-tiba Pak Arfa udah nyodorin minuman aja.
"Saya mau kita jangan keseringan ketemu."
Aku mengernyitkan dahiku bingung, maksud Pak Arfa apa nih?
Kok ada bunyi kretek-kretek gini ya?
"Maksud bapak apa?"
"Iya. Kita jangan sering ketemu." Ucap Pak Arfa dengan tampang serius.
"Kenapa?"
"Nanti diabetes saya kumat."
Hah?
Apaan nih?
"Apaan sih, Pak? Kolerasinya apa?"
"Kemanisan lihat senyum kamu." Ucap Pak Arfa sembari menahan tawa.
"Bapak bosan hidup?!"
Aku pun memukul lengan Pak Arfa dengan pelan.
Kesal. Aku kira tadi itu beneran.
"Nyebelin!" Ucapku yang disambut dengan tawa besar Pak Arfa.
Sabar, Elvia.
Punya tunangan kok gini banget.
__ADS_1