My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Be Mine


__ADS_3

Masih ada waktu 10 menit lagi sebelum kelas Pak Arfa dimulai.



Karena takut telat, aku pun sudah hadir dan duduk manis di ruang kelas.



Tentu saja aku memilih tempat duduk paling strategis, yaitu tempat duduk paling belakang dan di pojok.



Devi dan Aldo pun baru datang sekitar 15 menitan. Memang kalau mereka berdua udah pacaran, bisa gitu lupa sama teman.



"Dev, kamu jahat banget sih. Daritadi aku gabut disini." Rengekku.



"Makanya jangan jones." Celetuk Aldo yang mendapat jempol dari Devi.



"Ngeselin ya kalian berdua."



"Bukannya kamu udah selangkah lebih maju dari kita?" Tanya Devi yang berhasil membuat wajahku terlihat lebih masam dari sebelumnya.



"Selangkah lebih maju gimana? Dia bilang suka aja enggak, nembak aja enggak." Gumamku kesal.



"Jadi lu tunangan tapi Pak Arfa masih belum nembak?!" Pekik Aldo sedikit keras yang langsung aku hadiahi dengan geplakan yang cukup keras pula.



"Jangan keras-keras, bego."



Selain rekan bisnis Papa, Bang Kelvin, dan Pak Arfa. Aldo dan Devi juga tahu.



"Jadi sebenarnya hubungan lu sama Fafa apaan?" Tanya Aldo yang membuatku tertawa geli saat dia mengganti nama Pak Arfa dengan sebutan Fafa.



"Tunangan." Jawabku singkat.



"Tunangan rasa temen?" Tanya Devi yang ikutan kepo.



"Mending kalau temen, lah ini..." Ujarku seakan menggantungkan kalimat yang belum selesai aku ucapkan.



"Hubungan gak jelas." Lanjutku yang mampu membuat Aldo dan Devi menghela napas panjang.



Lalu secara tiba-tiba riuh kelas yang awalnya ricuh, berubah jadi hening seketika tatkala mendengar derap langkah Pak Arfa yang semakin dekat menuju kelas.



Parah sih, derap langkah aja sekarismatik gitu.



"Pak Arfa udah dateng." Ucap Devi yang langsung membuatku dan Aldo mengubah posisi kami yang awalnya saling berhadapan menjadi lurus kedepan. Iya, posisi duduk kami tuh Aldo di kiri, Devi di tengah, aku di kanan.



Selama Pak Arfa menerangkan materinya, entah kenapa rasa kantuk tiba-tiba menyerang begitu saja.



Padahal tadi enggak ngerasa ngantuk. Apa mungkin karena udah mulai malam ya?



Aku pun memutuskan untuk memejamkan mataku sejenak. Berharap rasa kantukku dapat diatasi sebentar.



"Elvia, kalau kamu hanya mau tidur. Dengan hormat saya persilahkan kamu untuk keluar dari kelas saya."



Deg!

__ADS_1



Suara Pak Arfa berhasil membuatku jadi pusat perhatian kelas saat ini.



Gila, baru mejem mata bentar doang. Pak Arfa kenapa sih sensitif banget hari ini?



"Maaf, Pak." Ujarku sembari menunduk.



💥💥💥



"Pak..."



Pak Arfa hanya diam. Seakan malas menanggapiku.



"Mas.."



Kali ini Pak Arfa menoleh, hanya saja ia tak mengeluarkan suara.



"Pak, jangan marah lah." Ujarku sembari memegang tangan Pak Arfa. Kelakuanku sekarang persis kayak anak TK minta permen ke bapaknya.



"Saya gak marah." Jawab Pak Arfa sembari melepaskan genggaman tanganku dengan pelan.



"Bohong, tadi pas ngajar aja kayak sensi gitu sama saya."



Alis Pak Arfa terangkat satu, "Saya sensi? Bukannya itu salah kamu tidur di kelas saya?"



Aku mengerucutkan bibirku karena kesal, "Saya cuman mejem mata lima detik, Pak. Bukan tidur."




"Pak, saya mau tanya satu hal deh."



Pak Arfa yang daritadi sedang fokus dengan tumpukan kertasnya pun tampak tidak berniat menanggapiku.



"Saya lagi malas dengan kamu."



"Pak.."



Tidak ada respon.



"Pak Arfa.."



Masih tidak ada respon.



"Mas Arfa.." Ujarku sembari memeluk tengkuk Pak Arfa dari belakang. Kala kata orang sih namanya itu back hug.



Posisinya itu Pak Arfa lagi duduk, jadinya aku bisa meluk lewat belakang gitu. Walau lebih tepat disebut sebagai gelendotan daripada meluk. Soalnya aku cuman meluk tengkuk Pak Arfa.



Aku tenggelamkan wajahku di ceruk leher Pak Arfa, "Bapak bau apek."



Pak Arfa menyentil dahiku, "Saya lagi malas debat sama kamu, Elvia."

__ADS_1



Entah kenapa, nada suara Pak Arfa nampak melemah. Apa mungkin karena skinship tiba-tiba yang aku lakukan sekarang?



Hehe. Aku juga bingung kenapa aku bisa seberani itu.



"Bapak cemburu ya?" Tanyaku yang masih tetap dengan posisi memeluk Pak Arfa dari belakang.



"Ya. Saya cemburu." Jawab Pak Arfa terus terang yang mampu membuatku tersentak heran.



Aku kan cuman mau menggoda Pak Arfa saja dengan bilang cemburu, tidak pernah berharap mendapat jawaban seperti itu.



"Bapak bilang apa tadi?" Tanyaku berharap Pak Arfa mau mengulang pernyataannya tadi.



"Saya tidak suka mengulang ucapan saya." Tegas Pak Arfa.



Aku pun berniat melepas tautan kedua tanganku di leher Pak Arfa. Namun, Pak Arfa malah menahan kedua tanganku.



"Saya cemburu, Elvia. Lain kali jangan buat saya cemburu."



"A-apa Pak?"



"Kamu. Jangan buat saya cemburu. Alvin itu sepertinya suka sama kamu. Jaga hati kamu untuk saya."



"Bapak aja gak pernah nembak saya kok."



"Memang perlu?" Tanya Pak Arfa yang membuatku geram.



"Menurut bapak aja sih. Tunangan kita kan cuman pura-pura doang." Celetukku.



"Siapa yang bilang seperti itu?"



"Saya menyimpulkannya begitu."



Pak Arfa pun mengganti posisi duduknya untuk menghadap belakang, menatap mataku dengan tatapan tajam yang ia miliki.



"Saya tidak pernah berniat untuk main-main dengan kamu, Elvia."



"Lalu kenapa gak pernah nembak? Bilang suka atau ajak pacaran gitu?"



Pak Arfa menghembuskan napasnya dengan pelan, "Saya pikir cukup saya bilang jaga hati kamu sudah paham dengan maksud saya."



"Saya kan lemot. Mana ngerti kode-kode bapak yang super."



"Elvia, would you be mine?"



Aku langsung melambaikan tanganku tanda menolak dengan keras pernyataan Pak Arfa tadi.



Pak Arfa lantas mengernyit heran, "Kamu gak mau?"


__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku, "Ini gak romantis, Pak Arfa. Saya gak mau. Masa nembak gitu amat. Gak memorable."


__ADS_2