
Hari ini hari apa?
Hari Jumat.
Bener kok, iya hari Jumat.
Kalian gak salah, cuman akunya aja yang agak sensitif sama hari ini.
Hari ini bisa aku anggap sebagai hari yang paling menyebalkan bagiku. Iya, saking nyebelinnya rasanya aku mau marah-marah aja.
Bagaimana tidak? Sudah berulang kali aku ingetin Pak Arfa kalau hari ini tuh tanggal anniversary aku sama Pak Arfa.
Nih ya, kan aku juga mau kayak couple goals di luar sana atau kayak di drama korea yang sering aku tonton. Sekali-kali gitu Pak Arfa romantis dikit.
"Kenapa sih lu dek? Heran gue dari tadi ngomel mulu." Tanya Bang Kelvin.
"Diem deh Bang. Berisik banget tau gak?" Jawabku dengan nada sewot.
"Kenapa? Skripsi gak kelar?" Tanya Bang Kelvin lagi. Bang Kelvin tuh kayaknya gak ngerti bahasa Indonesia yang baik dan benar ya. Padahal aku udah bilang berisik, masih aja terus nanya.
"Skripsi udah hampir kelar kok."
"Gue tahu kayaknya. Gue tebak ya." Ujar Bang Kelvin yang hanya aku iyain aja. Bang Kelvin kalau lagi gak ada kerjaan, emang suka bawel.
"Pasti gara-gara Arfa kan. Lu diapain lagi?"
"Gak tau. Jangan sebut nama dia." Jawabku ketus.
"Kenapa sih dek?"
"Nih ya Bang, bilangin ke temen abang. Kalau pacarnya ngambek tuh disamperin bukannya dianggurin."
"Lu ngambek kenapa sih dek?"
"Harusnya hari ini tuh aku sama Pak Arfa ngerayain anniversary Bang. Percuma punya pacar ganteng tapi gak romantis." Gumamku.
"Bodo amat. Lelah gue denger beragam kisah berantem lu sama Arfa. Saran gue sih, daripada lu ngomel gak jelas mending lu telponin aja tuh si Arfa, lu marah-marahin biar lega."
"Gak bisa marah gue Bang."
"Kenapa?"
"Nilai yang jadi taruhannya."
"Makanya jangan punya pacar dosen."
"Dosennya ganteng gimana coba."
"Gantengan gue atau Arfa?" Tanya Bang Kelvin yang benar-benar random menurutku.
"Gantengan Pak Arfa lah Bang. Abang mah jauh kalau dibandingin sama Pak Arfa."
"Dasar adek yang gak tahu diri. Kalau ngomong suka bener."
"Serah deh, Bang."
💞💞💞
Setelah peperangan yang terjadi antara hati dan pikiranku, akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Pak Arfa. Ya, aku memutuskan untuk mencoba saran dari Bang Kelvin. Semoga kali ini saran dari Bang Kelvin bener ya.
"Halo? Pak?" Ujarku saat teleponku telah terhubung dengan Pak Arfa.
"Ya?"
"Pak? Dimana? Udah sampai Jakarta belum?" Tanyaku bertubi-tubi.
Iya. Karena Pak Arfa tahu aku ngambek, makanya dia chat bela-belain balik ke Jakarta hari ini.
"El.." Nada suara Pak Arfa agak melemah kalau dari yang aku dengar di telepon.
"Iya? Kenapa Pak?" Tanyaku yang mulai agak khawatir.
Pak Arfa kenapa nih? Sakit?
"Saya kayaknya gak bisa datang makan malam hari ini. Tapi saya sudah pesan tempat makannya. Sayang kalau gak ada yang datang."
"Yaudah, gapapa Pak. Gak usah dipaksa kalau gak bisa datang."
Ngerasa bersalah kan akunya. Aku tuh kadang lupa kalau Pak Arfa itu orang penting, kerjaannya banyak.
"Kamu ajak Devi sama Aldo aja El buat makan disana. Saya sudah hubungin Aldo kok, katanya dia mau sama Devi."
Sejak kapan Pak Arfa deket sama Aldo? Oh iya lupa, semenjak Pak Arfa tiba-tiba pergi itu ya.
Kalau si Aldo mah gak usah ditanya, pasti iya aja. Kan ke restoran bukan abal-abal punya, dia mah pasti seneng.
"Yaudah deh, Pak. Gapapa."
"Maaf ya El."
"Iya. Bapak sakit?"
"Enggak kok."
"Terus kenapa suara Bapak kayak habis kejepit apaan gitu. Lemah banget."
"Kejepit cinta kamu El."
"Udah gak mempan gombalan Bapak."
"Iya ya?"
__ADS_1
"Iya. Udah ya Pak saya tutup teleponnya. Jangan lupa istirahat."
"Iya. Makasih ya El."
"Sama-sama."
💞💞💞
Alhasil, imajinasiku buat pacaran kayak di dalam drama korea pupus sudah. Malah yang harusnya makan malam romantis, berubah menjadi makan malam dramatis.
Kata Devi sih dia sama Aldo nanti pergi barang ke restoran. Jadi, mau gak mau aku datang sendirian ke restorannya.
Nasib... Nasib...
Punya pacar rasa jomblo kok gini amat ya rasanya. Iya, kalau Pak Arfa lagi sibuk ya rasa jomblo.
"Mbak Elvia ya?" Tanya salah satu waiters yang menyambutku dari luar pintu.
Eh, kok mbak ini tahu namaku ya?
"Iya, Mbak." Jawabku berusaha tidak mencurigai Mbak waiters ini.
Bentar deh.
Kok sepi?
Restoran yang hampir segede lapangan sepak bola kok kayak gak ada penghuninya ya?
"Mbak Elvia silahkan duduk disini." Mbak waiters lainnya menuntunku untuk duduk di salah satu kursi yang menurutku cukup eksklusif. Karena view dari tempat dudukku sekarang menghadap langsung ke panggung berukuran sedang.
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Ini beneran restoran yang dimaksud Pak Arfa atau aku salah tempat? Benar-benar kayak gak berpenghuni.
Aku gak lagi syuting acara lambaikan tangan ke kamera kan?
Lampu yang awalnya terang benderang tiba-tiba padam satu per satu.
Lah, ini restorannya belum bayar listrik ya? Tapi kata Pak Arfa ini restoran terbaik kok.
Lalu satu lampu tersisa menyorot ke tengah panggung. Samar-samar aku dapat melihat kalau ada seseorang di sana.
"Pak Arfa?" Gumamku saat berhasil mengenali orang yang berada di tengah panggung.
Pak Arfa yang berbalut jas berwarna putih dan celana jeans hitam itu pun mengalungkan gitarnya di bahu bidang miliknya. Sangat tampan dan gagah.
Aduh, meleleh hati adek Bang.
Jreng
Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Pembawa sejuk, pemanja rasa
Dia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Waktu Pak Arfa menyanyikan lirik ini, matanya menatapku dalam. Sangat dalam, sampai-sampai mataku juga hanya terkunci untuk Pak Arfa.
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu
Iya. Tanpa sadar, aku yang jarang meneteskan air mata pun tak kuasa menahan liquid cair yang terus-menerus menerobos keluar dari sepasang mataku.
Kata teman hidupku berhasil membuat air mata mengalir di kedua pipiku.
Kalau diingat-ingat, aku dan Pak Arfa memang tidak cocok untuk dianggap sebagai sepasang kekasih. Ya kami juga mengakuinya kok. Sebenarnya kami lebih suka menganggap diri kami sebagai sepasang teman bahagia daripada sepasang kekasih. Pacaran kan bisa putus, kalau temenan kan ga ada kata putus.
Kini, saat Pak Arfa menyinggung kata teman hidup. Entah kenapa aku langsung merasa begitu emosional.
Setelah Pak Arfa menyanyikan reff dari lagu Tulus - Teman Hidup, lampu yang tadinya padam pun secara satu per satu mulai hidup.
Saat lampu tersebut hidup, aku bisa melihat wajah temanku, teman Pak Arfa, dan beberapa keluarga aku maupun Pak Arfa berbaris berjejer dengan masing-masing membawa satu kertas besar yang berisikan huruf-huruf yang jika dirangkai menjadi kalimat, kertas itu berisikan rentetan kata "Would You Be Mine?"
Tanpa kusadari, Pak Arfa sudah berdiri di depanku sembari mengeluarkan cincin yang sebelumnya sempat kupilih.
Yaa, karena aku pikir Pak Arfa mau kasih itu sebagai kado ulang tahunku. Gak nyangka ternyata Pak Arfa ingat tindakan randomku sekalipun.
"Elvia."
Aku menatap Pak Arfa. Suara Pak Arfa yang tiba-tiba jadi deep sangat berhasil membuat jantungku berdegup dua kali lebih kencang.
"Saya tahu jika saya bukanlah orang yang pandai bertindak romantis seperti drama korea yang kamu kagumi itu. Saya juga bukanlah orang yang peka dengan tiap tingkah kamu. Tapi, satu hal yang harus kamu ketahui. Rasa sayang yang ada di hati saya adalah tulus apa adanya. Saya ingin menjagamu , ingin melindungi, ingin selalu berada di sisimu. Jadi Elvia, would you be mine? Maukah kamu menjadi teman hidup saya, menemani saya di saat suka maupun duka?" Ucap Pak Arfa sembari membuka kotak cincin berwarna putih itu.
"Pak..."
"Ya?" Aku tahu dari nada suara Pak Arfa, dia sekarang sedang sangat gugup.
"Kan saya belum lulus Pak." Ujarku yang ditanggapi dengan geraman dari beberapa orang, termasuk suara Aldo yang paling kencang. Awas aja ya tuh anak!
"Saya tahu."
"Terus kenapa ngelamarnya sekarang? Kan saya maunya di Korea, Pak. Biar romantis gitu. Terus katanya Bapak gak bisa datang? Ngapain Bapak sekarang disini? Terus Bapak ngapain sih buat saya nangis! Kan make-up saya luntur! Nyebelin!" Ujarku sembari menghapus air mata.
Mungkin orang-orang akan bilang, Elvia masih aja ngelawak padahal lagi momen penting juga. Aku tegasin sekali lagi ya! Aku gak ngelawak! Aku serius!
__ADS_1
"Elvia!" Suara Mama yang mungkin sudah kesal dengan tanggapanku pun terdengar.
Aduh, ampun Nyai.
"Kamu kan bentar lagi udah mau lulus. Emang persiapan nikah itu cepet? Ya, sebelum kamu menggila lebih dalam dengan boyband Korea favorit kamu, mending saya lamar kamu dulu biar saya bisa boikot poster-poster korea kamu." Ujar Pak Arfa yang sepertinya ikut ngelawak.
"Gak boleh!"
"El, saya capek dengan posisi berlutut gini. Jadi kamu gimana? Mau gak?"
"Jadi teman hidup Bapak?"
"Iya."
"Mau gak ya?"
"El..."
"Yaudah, mau deh Bang."
"Kok Abang?"
"Gapapa biar namaku selalu Abang tandai terus." Masih ingat dalam benakku saat Pak Arfa mengucapkan kalimat ini ketika aku dengan ceroboh mengira kalau Pak Arfa itu abang fotokopi.
"Terserah kamu deh."
Pak Arfa pun berdiri dari posisi yang semula berlutut menjadi berdiri di dekatku lalu memasangkan cincin yang sangat cantik itu ke jari manisku.
Aku pun sontak langsung memeluk Pak Arfa dengan erat.
"Bentar! Gue ada puisi nih!" Teriak Aldo yang langsung kuhujani dengan tatapan tajam.
Namun lain halnya dengan tanggapanku, Pak Arfa justru mempersilahkan Aldo untuk baca puisi.
Benar-benar ya! Lamaran macam apa ini?!
"Akan ada hari dimana rona kemerahan menjadi warna yang candu bagiku.
Laksana hati yang selalu diliputi rasa gundah dan malam.
Aku berharap fajar segera tiba mengambil alih senja yang kesepian.
Agar senja sanggup memandang matahari yang selalu ia dambakan.
Sebab seperti mentari, mencintaimu masih menjadi alasan ku terjaga di pagi hari. Kamu laksana mentari yang selalu aku dambakan Dev."
"Dev, aku tahu ucapan aku sekarang sangat tidak romantis karena numpang acaranya Pak Arfa. Maaf ya, Pak. Heheh."
Aku hanya cengo melihat kekonyolan Aldo.
"Dev, aku mau kita tunangan dulu ya. Selagi aku mempersiapkan masa depan yang lebih baik untuk kamu, izinkan aku mengikat kamu dengan status tunangan. Devi, kamu mau gak?" Tanya Aldo yang menurutku ini mah pernyataan paling gak banget.
Tapi entah kenapa, karena cinta itu buta si Devi mah kayaknya terharu gitu.
"Iya." Jawab Devi yang menbuat seisi restoran ramai.
"Mas..." Bisikku ke Pak Arfa.
Iya. Semenjak lima menit yang lalu kami sudah sepakat untuk aku memanggil Pak Arfa dengan sebutan Mas. Tentu saja ada imbalannya, Heheh. Imbalannya Pak Arfa akan mentraktirku matcha latte selama sebulan. Ayey!
"Kenapa?"
"Ini acara kita apa Aldo sih Mas?"
"Gak tahu. Ya sudahlah yang penting semua senang."
Iya. Ini hari menyebalkan sekaligus membahagiakan dalam perjalanan hidupku.
Terima kasih Pak Arfa sudah membuat masa remajaku tidak berfaedah.
"El..."
"Kenapa Mas?"
"Abang kamu kayaknya ngenes banget ya. Duduk di pojokan gitu."
"Iyalah kan ada mantannya. Mas yang undang Mbak Githa ya?"
"Iya."
"Biarin aja lah Mas, karma Bang Kelvin itu."
Aku tahu ini bukanlah akhir dari kisah kami, melainkan awal dari kisah kami. Yaa, semoga hubungan kami bisa normal seperti pasangan pada umumnya ya. Lelah juga ngelawak tiap ketemu.
Sebelum aku menyudahi hari ini, ada satu rahasia yang sebenarnya belum aku bagikan kepada siapapun.
Sebenarnya...
Bang Kelvin itu jauh lebih gombal dari Pak Arfa. Bah, kalau kalian baca chat Bang Kelvin ke ceweknya ya rasanya wibawa Bang Kelvin sebagai mamas direktur muda luntur sudah.
"Dek! Lu ngomongin gue ya?" Teriak Bang Kelvin dari pojok sana yang berhasil menyita perhatian orang-orang.
"Kagak Bang." Ujarku yang malu dengan kelakuan Bang Kelvin.
The End
💕💕💕
Untuk memudahkan berkomunikasi dan cek cerita-cerita aku yang lain, kalian bisa follow Instagram aku ya @juliahsn_ Jangan sungkan untuk nyapa aku ya. Heheh. Happy Reading!!!
__ADS_1