My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
SAKIT PILEK [EXTRA PART|02]


__ADS_3

Lebih mending sakit gigi atau sakit hati? Ya, kalau aku sih mending sakit pilek. Sakit gigi tuh gak enak soalnya bakal susah makan. Kalau susah makan kan nanti aku kurusan. Kalau aku kurusan kan nanti Pak Arfa gak sayang lagi.



Nah, kalau misalnya sakit hati lebih berabe lagi. Kalau sakit hati kan ntar jadi gak nafsu makan. Terus kalau gak nafsu makan, berat badan menurun. Terus kalau krempeng ntar gak ada yang suka. Yang paling krusial sih kalau aku sakit hati ntar Pak Arfa pasti kena dampaknya.



Jelasin apa sih aku dari tadi? Intinya sudah dua hari aku pilek. Heheh.



"Udah minum obat belum?" Tanya Pak Arfa saat melihat aku terus-terusan mengeluarkan suara hembusan napas yang tidak enak didengar saat sedang pilek. Tahu kan suaranya gimana?



"Belum." Jawabku dengan suara agak serak.



"Panas gak badan kamu El?" Tanya Pak Arfa lagi. Kalau Pak Arfa lagi khawatir, bawaannya bawel. Lucu aja gitu.



"Mau guling-guling aja Pak."



"Kalau sakit, jangan malas-malasan."



"Jahat banget sih Pak. Orang sakit malah diomelin"



"Yang ngomelin kamu siapa?"



"Pak Arfa!"



Kayaknya salah satu kebiasaan aku kalau lagi sakit tuh jadi sensitif.



"El..."



"Apa?"



Pak Arfa mendekatkan wajahnya ke arahku, "Ingus kamu tuh meler-meler."



"Tetep cantik kan?"



"Enggak."



"Pak! Mau gelut?"



"Nanti kalah, kamu nangis."



"Gak bakal!"



"Tuh ingus kamu meler lagi. Minum obat gih."



"Biarin."



"Ya kan nanti kalau saya kena tular pilek, gimana?"



"Gapapa. Biar Bapak gak ngajar. Terus kan jadinya saya gak ada kelas. Nah, bisa bolos sejuta umat."



"Lebay kamu. Buruan minum obat atau saya bawa kamu ke dokter?"



"Gak mau ih kalau ke dokter! Cuma pilek doang kok."



"Makanya jangan bandel kalau disuruh minum obat."



"Iya. Ntar saya minum."


__ADS_1


"Oh ya Pak..."



"Kenapa lagi?"



"Kayaknya tulang aku sakit deh, Pak. Bisa gak ya kita tukar tulang?"



"Emang kamu pikir tulang itu handphone yang bisa tukar-tambah."



"Bisa tau! Bapak jadi tulang punggung saya, terus saya jadi tulang rusuk Bapak."



Pak Arfa menoyor pelan kepalaku, "Sakit aja kamu tetap ngelawak ya El."



"Serius loh itu padahal."



"Ya ya, gombal aja terus sampai kita nikah ya."



"Iya dong. Ntar kita nikah rasa lawak. Oh ya Pak udah update berita terkini belum?"



"Kenapa?"



"Song Song couple cerai Pak!"



"Seriusan?"



Aku menganggukkan kepalaku, "Iya, yang main drama si tentara sama dokter itu loh!"



"Kamu sempat baca berita artis korea tapi cari referensi skripsi gak sempat?"



"Aduhh."



"Kenapa?"




Pak Arfa tersenyum melihat tingkahku, "Sana istirahat. Awas aja kalau malah streaming video EXO ya."



"Siap Pak!"



💞💞💞



Hari ini termasuk hari yang udah aku lingkari di kalender. Soalnya hari ini aku ada jadwal kuliah. Kuliahnya Pak Arfa lagi.



"Dek! Bangun! Kagak niat kuliah?" Seperti biasa, suara Bang Kelvin yang melengking dengan sempurna itu berhasil membuat telingaku sakit.



"Kagak!" Jawab ku yang malah dibalas dengan lemparan bantal. Tentu saja pelaku pelemparan bantal itu Bang Kelvin.



"Yaudah. Kalau lu dimarahin Arfa karena telat, gue gak tanggung jawab."



"Yaudah sih. Kan masih lama Bang."



"Mata tuh dipakek makanya. Lihat aja udah jam berapa."



Alamak cik, waktu yang tersisa tinggal tiga puluh menit lagi.



Hatiku sempat ragu sejenak. Apa pura-pura sakit aja ya? Kalau mau ke kampus juga kan kalau telat disembur Pak Arfa. Mending di rumah, nyantai, minum kopi, guling-guling. Iya gak?



"Bang, gue sakit. Kagak masuk."

__ADS_1



"Alasan lu."



"Seriuss!!!"



"Serius mau ngibul?"



"Bang."



"Apaan?"



"Aku baru nyadar loh."



"Sadar kenapa?"



"Abang bohongin aku ya! Abang sengaja setel jam aku satu jam lebih cepet kan!"



Kenapa sih punya Abang gini amat.



Tadi tuh aku sempat chat Devi minta nitip kabar dengan alasan sakit padahal mah telat gitu. Tapi malah diketawain Devi karena kata dia masih ada waktu cukup lama sebelum kelasnya Pak Arfa.



Lagian ya Bang Kelvin tuh niat amat tau gak kerjain akunya. Jam di ponsel aku diutak-atik, terus jam dinding di kamar juga. Sungguh Abang terniat. Kayaknya perlu dikasih netizen penghargaan.



"Jam dinding lu kan habis baterai. Terus gue iseng, gue ubah jam di ponsel lu. Habis lu kalau tidur kayak kebo."



"Dasar abang lucknut!"



"Udah mau jadi istri orang tuh belajar jadi cewek dikit kek. Biasain bangun pagi, terus belajar masak. Sama Gavin tuh belajar masak. Senangin calon suami kan gak rugi."



Bang Kelvin tuh udah macem emak-emak. Bawel banget. Pantas saja Mbak Githa gak tahan.



"Yaudah sana pergi. Mau siap-siap."



"Ngusir?"



"Emang Abang udah gak niat kerja?"



"Suka-suka Boss dong."



"Atasan tuh kan harus jadi contoh teladan yang baik."



"Bodo amat. Udah sana! Hush!"



"Abang yang sana. Kan ini kamar aku."



"Oh iya ya. Gak usah ngegas dong dek!"



"Siapa yang ngegas sih?!"



Haduh, punya abang kok gini amat yaa.




💞💞💞



Maaf ya aku telat update, soalnya tugas lagi numpuk dan harus segera diselesaikan. Terima kasih yang sudah setia dengan terus support cerita ini.


__ADS_1


Happy Reading!!!



__ADS_2