
"Bang, Pak Arfa lagi sibuk gak ya?" Tanyaku.
"Gue baru pulang capek, bukannya nanyain kabar gue, malah nanya kabar Arfa. Adek durhaka emang." Cerocos Bang Kelvin.
Aku pun tertawa pelan, "Abang kan udah ada yang peduliin."
"Siapa?"
"Mantan."
Bang Kelvin tiba-tiba terdiam setelah mendengar ucapanku barusan. Kayaknya baper deh.
"Baper Bang?"
"Nyesel gue pulang."
"Gimana perusahaan?"
"Lancar jaya. Siapa dulu dong yang mimpin."
"Berkat siapa?"
"Berkat lu mau tunangan dengan Arfa."
"Bagus. Jangan lupa album EXO ya Bang."
"Udah.. Abang tahu lu seneng tunangan dengan Arfa. Jadi, gak ada album."
"Gak bisa gitu dong!"
"Bisa!"
Aku menghela napas panjang.
Sabar, Elvia.
Maafin aku ya Sehun, mungkin kita belum berjodoh.
"Bang, tanyain Pak Arfa coba.."
"Tunangan dia siapa? Gue atau lu?"
"Pak Arfa lagi ngambek, Bang."
"Lu apain?"
"Kemarin aku janji mau masakin, eh aku kelupaan soalnya drama koreanya bagus banget. Jadinya Pak Arfa gak makan siang." Jelasku yang membuat Bang Kelvin ngakakin aku.
"Arfa mau makan masakan lu yang pas-pasan, dek?"
"Wah, cinta emang buta itu benar adanya." Lanjut Bang Kelvin yang kusambut dengan tatapan menusuk.
"Serius ih."
"Urusan lu itu mah, dek."
Aku merengut mendengar balasan Bang Kelvin.
"Coba ke rumahnya. Kayaknya dia di rumah tante Lina. Tinggal jalan beberapa langkah doang. Ribet lu, dek."
"Abang dabestt emang." Ujarku lalu bergegas pergi ke rumah Pak Arfa yang memang jaraknya sangat dekat dengan rumahku.
"Lu gak bawa apaan gitu ke rumahnya?"
"Oh, iya." Ucapku mengambil sekresek kantong yang memang sudah kusiapkan dari tadi.
💕💕💕
"Ngapain dateng? Masih ingat saya?"
Pak Arfa ucul deh kalau lagi ngambek. Kayak ada manis-manisnya gitu.
"Bapak masih ngambek?" Tanyaku.
Iya. Waktu aku sampai, aku disambut dengan muka pare Pak Arfa.
"Siapa yang ngambek."
"Bapak."
"Kantong kresek apa yang kamu bawa? Bukan majalah kan?"
Aduh..
Jadi malu kalau inget insiden majalah.
"Bukan kok! Aku bawa martabak."
"Kamu mau suap saya biar bisa baikan?"
"Iya. Abis bapak ngambeknya lama."
"Arfa ngambek sama kamu, El?" Bukan suara aku ataupun Pak Arfa, tapi suara calon mama mertua yang bersuara.
"Iya, Tan." Ucapku sembari tertawa malu.
Lupa aku, kalau disini ada tante Lina. Hehe.
"Arfa, jangan kayak anak abege dong."
"Mama jangan belain Elvia, ya." Pak Arfa yang masih ngambek berbicara dengan nada kesal.
Aduh...
Tambah gemash dengan Pak Arfa.
"Yaudah deh, biar anak muda aja yang ngambek-ngambekan. Mama pergi dulu ya, Fa. Elvia, kalau Arfa masih ngambek sogok aja." Tutur Tante Lina.
"Sogok pakek apa tan?"
"Pakek cinta." Jawab Tante Lina sembari menunjukkan jari jempol dan telunjuk lalu dibentuk menyerupai tanda hati.
Gak emak, gak anak ternyata sama aja. Hehehe.
"Siap, tan!" Ucapku sembari mengangkat kedua tanganku membentuk love sign.
"Panggil Mama dong, jangan tante lagi."
__ADS_1
Aku tersipu malu, "Iya, Ma."
"Ekhem.." Ujar Pak Arfa yang merasa diabaikan.
"Mama pergi bareng siapa?"
"Bareng geng Mama. Emang cuman anak muda yang bisa hangout?"
"Serah deh, Ma. Nanti hubungin Arfa ya kalau udah sampai. Atau kalau mau dijemput."
Pak Arfa aja seperhatian gini dengan mamanya, apalagi dengan istrinya kelak.
Duh...
Lemah hati adek.
"Mama bukan anak kecil lagi, Fa."
"Hati-hati ya tan."
Tante Lina membentuk tanda oke dengan jarinya lalu bergegas pergi.
"Pak..."
"Apa?"
"Masih ngambek?"
"Menurut kamu?"
"Mana saya tahu, Pak."
"Emang kamu berharap jawaban yang seperti apa?"
"Jawaban seperti, enggak saya gak marah sama kamu."
"Yaudah, anggep aja saya jawab gitu."
"Gak bisa gitu dong, Pak."
"Jadi bisanya apa?"
"Bapak harus tulus dong maafin saya."
"Kok maksa?"
"Iya, maksa. Soalnya saya udah kangen berat. Gak kuat dicuekin."
Hehehe.
Mulut emang gak bisa dikondisikan ya. Salut sama kontrol mulut yang aku punya.
"Kamu udah libur berapa hari?"
"Dua mingguan."
"Selama dua minggu kamu ngapain?"
Apaan sih, kok malah nanya tentang kegiatan liburan aku.
Berarti udah dimaafin nih?
"Makan, nonton, tidur."
"Bagus."
Itu tadi sebuah pujian atau penghinaan?
"Kenapa sih Pak?"
"Selama liburan gak ada tuh keluar kata kangen. Bahkan chat aja susah. Saya pikir kamu sibuk selama liburan." Ujar Pak Arfa sarkas.
Iya sih kalau itu aku akuin.
Pak Arfa sering chat ngajak ketemuan, tapi aku anggurin soalnya lagi asik nonton drama korea.
Soalnya aku lagi lampiaskan kepenatan selama kuliah itu pas lagi liburan. Hehe. Lagian, pas udah masuk pasti gak ada waktu me time buat pantengin oppa-oppa tampan.
"Maaf deh, Pak."
"Drama korea kamu udah tamat kan pasti?"
Aku menganggukan kepalaku, "Iya."
Kok Pak Arfa bisa tahu ya?
"Tuh kan, pasti gara-gara itu kamu baru inget saya."
Omimi...
Salah bacot aku kayaknya.
"Maafin saya ya, Mas."
Pak Arfa tampaknya sedikit luluh mendengar penuturanku.
"Mas?"
"Gak mau Mas."
"Jadi?"
"Sayang."
Blush
Lagi-lagi pipi aku dibuat kayak tomat oleh Pak Arfa.
"Apaan sih, Pak."
"Kok bapak lagi?"
"Gapapa."
"Saya kan gak ngajar kamu lagi."
"Cocok aja panggilnya Pak."
"Kamu mau saya hukum?"
__ADS_1
"Bapak gak bisa ngancem pakek nilai lagi."
"Oh. Kamu nantang saya?" Ujar Pak Arfa yang membuatku menahan tawa saking gemasnya.
Pak Arfa ngambek itu lucu banget.
"Bercanda, Mas."
"Sayang, panggil saya sayang."
"Bebebku jangan ngambek yah."
Kini, Pak Arfa memandangku dengan muka pare dan bertopang dagu.
Aduh...
Gemas banget.
Lemah nih, lemah...!!
"Kamu lebih suka panggil aku-kamu atau saya-kamu?"
"Senyaman kita aja, Pak."
"Kok bapak lagi?"
"Bapak beneran mau saya panggil mas?"
"Iya. Saya lelah denger kamu panggil saya Pak. Emang saya bapak kamu?"
Aku menganggukan kepalaku, "Iya."
"Calon bapak dari anak-anak saya tapi."
Boom!!
Setelah berhasil mengatakan kalimat itu, aku pun langsung menahan geli yang menjalar di seluruh tubuhku.
Ya ampun...
Kok jadi cringey gitu sih.
"Oh. Udah bisa gombal ya kamu."
"Iya dong."
"Elvia."
"Iya?"
"Saya mau ngomong sama kamu."
"Ngomong aja kali, Pak."
"Mas!" Tegas Pak Arfa.
Aku pun hanya membalas dengan cengiran, "Iya, kenapa Mas?"
"Ini tentang Delia."
Guguk lagi?
Kapan kau enyah?
"Dia ngundang kita ke pernikahan dia di Australia minggu depan."
Guguk kawin?
Yass!!!
Sainganku berkurang.
Tunggu, dimana tadi?
Australia? Bah.. jauh kali.
"Jauh, Pak. Gak ada duit kesana."
"Kamu lupa saya siapa?"
Eh iya.
Lupa kalau punya tunangan tajir.
"Sombong banget sih, Pak."
"Panggil Pak aja terus."
"Udah kebiasaan, Pak. Anggep aja panggilan sayang gitu."
"Terserah..."
"Nikah sama siapa Mbak Delia?"
"Dia dijodohin."
"Masih ada Pak jodoh-jodohan?"
"Makanya dia kembali ke Indonesia. Tapi, kayaknya dia udah bisa nerima perjodohan itu."
"Bagus deh."
"Bagus?"
"Iya. Biar saya enggak ada saingan."
"Kamu tahu berapa banyak yang mau dengan saya di luar sana?"
"Gak mau tahu."
"Tapi kamu tahu yang saya mau itu siapa?"
"Tau kok."
"Siapa?"
"Saya."
"Bener. Toss dulu dong."
Aku dan Pak Arfa pun bertos ria.
Iya. Sereceh, segaring, sesederhana itulah keseharian kami berdua.
__ADS_1