
"Ya gitu."
"Gitu gimana?" Pekik Devi sebagai tanggapan atas apa yang aku lontarkan.
"Iya gitu." Jawabku mengulang.
"Jawab iya gitu lagi aku tampol ya." Balas Devi memanyunkan bibirnya.
Aku tersenyum, "Aku jawab iyalah. Masa aku nolak Pak Arfa sih."
"Katanya mau balas dendam."
"Oh, kalau itu mah tenang aja. Masih berjalan kok."
"Enak ya magang tempat calon suami. Bebas mau ngapain, gak ada yang marah."
"Sekali-kali ngerasain nepotisme." Jawabku asal.
"Serah deh."
"Oh ya Aldo mana? Biasanya nempel mulu macem upin-ipin."
"Lagi berantem."
"Lah? Kok bisa?" Kini giliran aku yang bernada antusias, apakah akhirnya Devi menyadari bahwa Aldo adalah sosok manusia yang sangat tidak cocok dengan dia?
"Kok seneng gitu nadanya?"
"Gak kok." Dalihku.
"Jadi kenapa hm?"
"Gapapa. Aldo rese aja sih, jadi aku diemin dulu."
"Oh, putusin aja." Ucapku semudah membalikkan telapak tangan.
"Harusnya Pak Arfa yang kamu putusin." Ujar Devi dengan nada ketus.
Lupa aku tuh kalau Devi itu bucin.
"Oh ya Mas Alvin gimana?" Tanya Devi yang berhasil membuatku murung seketika.
"Dia tiba-tiba ngilang. Aku WA cuman di read doang."
"Cemburu kali doi kamu balikan."
"Yaa kan aku sama Mas Alvin gak ada komitmen apa-apa. Kan temenan."
"Di kamunya temen, emang Mas Alvin ngerasa gitu juga?"
"Gak tahu."
"Selesain deh Vi, mau gimanapun juga Mas Alvin udah banyak bantu kamu." Usul Devi.
"Tapi Dev, aku agak ngerasa naruh curiga ke Mas Alvin."
"Kenapa?" Tanya Devi bingung.
Mas Alvin itu emang sudah dikenal sebagai malaikat baik yang mau menyelamatkan aku dari keterpurukanku akibat ulah Pak Arfa. Jadi, jujur saja aku sebenarnya tidak tega untuk berprasangka buruk terhadap Mas Alvin. Namun, sudah beberapakali pikiranku berkecamuk mengenai kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam benakku.
"Balesan surat konyol yang dikirim Pak Arfa mirip banget sama tulisan tangan Mas Alvin."
"Serius kamu, Vi? Bisa dapat konklusi gitu darimana?"
"Aku dekat sama Mas Alvin hampir setahunan Dev. Aku kenal betul dengan tulisan tangan Mas Alvin."
"Mungkin mirip aja kali."
"Yaa, aku juga berharap gitu."
__ADS_1
Mataku menyipit kala melihat wajah orang yang tidak ingin aku temui datang mendekat sambil senyum-senyum gak jelas.
"Beb. Masih marah?"
Kasihan telingaku harus mendengar kata bab beb bab beb lagi.
Aku mendenguskan napasku sebal, "Bucin lu pada."
"Lu lebih bucin. Disakitin berulang kali masih mau balik." Tentu saja ini bukan suara Devi. Namun ini suara pacar tercintanya Devi, Aldo.
"Itu namanya ujian suka sama cogan."
"Tapi kalau gue jadi lu sih gue juga gak bakal bisa nolak pesona Pak Arfa."
"Lu kesini mau muji kesayangan gue atau mau minta maaf sama bebeb tercinta?" Ujarku.
Iya. Abis kalau Aldo udah bacot tentang Pak Arfa mah bakal panjang ceritanya. Katanya, Pak Arfa itu rolemodel dia. Bilang aja, selama ini dia disogok Pak Arfa buat kabarin kegiatan aku ke Pak Arfa. Iya, aku gak sengaja buka chat Pak Arfa dan ketemu percakapan mereka di salah satu aplikasi chat.
"Berisik." Ujar Devi yang sebal melihat aku dan Aldo yang setiap kali ketemu pasti gak akur semenjak insiden majalah yang tidak mau aku ingat-ingat lagi.
"Yaudahlah, kesayangan gue juga udah jemput. Semoga Devi gak mau baikan sama lu, Do. Byebye."
💥💥💥
"Pak..."
Pak Arfa melirikku, "Kenapa?"
"Bapak ngajar lagi?"
Pak Arfa menganggukan kepalanya, "Iya."
"Saya gak ada kelas sama bapak kan?"
"Menurut kamu?"
"Biar kamu mikir." Ujar Pak Arfa sembari modus mengusap puncak kepalaku.
"Yaudah sih kalau gak mau kasih tahu." Ucapku pura-pura ngambek.
"Bahkan mungkin saya bisa jadi dosen pembimbing dan penguji kalau kamu mau."
"Gak deh. Makasih." Aku langsung menolak mentah-mentah tawaran Pak Arfa.
"Kenapa?"
"Nanti saya gak lulus-lulus."
"Biarin. Jadi saya bisa terus siksa kamu."
"Apa sih salah saya? Punya dosen nyebelin, punya atasan juga nyebelin."
"Itu bukan dosa, El."
Aku menaikkan salah satu alisku tanda tak mengerti, "Jadi?"
"Keberuntungan. Jarang-jarang kamu bisa ketemu dosen sama boss muda, ganteng, kaya."
"Siapa bilang bapak muda? Bapak kan tua."
"Tua tapi masih kuat kan?"
"Kuat apa?"
"Kuat buat bikin kamu klepek-klepek sama saya."
"Pak, coba ulangin bilang klepek-klepek. Lucu."
__ADS_1
"Gak mau." Ujar Pak Arfa yang tangan kirinya memainkan jari tanganku, sedangkan tangan kanannya memegang setir mobil.
Iya. Aku dan Pak Arfa sedang dalam perjalanan balik ke hotel.
"Pak, ngapain sih megang-megang jari tangan saya."
"Jari kamu bantet. Enak maininnya kayak squishy."
Kapan ya Pak Arfa bisa bersikap normal, romantis kayak pria pada umumnya?
"Pak!"
"Bercanda sayang."
Blush
Apa? Sayang?
Hm, jadi mau dipanggil sayang lagi.
"Apaan sih Pak." Ujarku sembari membuang muka.
Iya. Pipiku udah semerah tomat sekarang.
"El..."
"Ya?"
"Kamu tahu gak tanggal 28 Oktober hari apa?"
Wah...
Pak Arfa mau ngetes aku nih.
"Taulah Pak, saya gak sebodoh itu ya sampe gak tahu."
"Apa?"
"Hari sumpah pemuda kan?"
"Bagus. Terus bedanya tanggal 28 dan 29 Oktober apa?"
"Hah? Emang tanggal 29 Oktober juga tanggal penting Pak?"
Pak Arfa kembali menganggukkan kepalanya, "Iya."
Aku pun menggaruk kepalaku yang sebenarnya gak gatal, "Gak tahu deh, Pak."
"28 Oktober hari sumpah pemuda. Kalau 29 Oktober hari sumpah saya cinta kamu."
Aku menahan tawaku yang akhirnya pecah juga, "Gombal ih! Pak Arfa Alay!"
"Tapi kamu suka kan?"
"Kalau tanggal 30 Oktober bapak tahu gak hari apa?"
"Apa?"
"Bapak gak tahu?!"
Pak Arfa nampak berpikir sebelum akhirnya menyerah, "Gak. Kamu mau gombal juga?"
"Siapa yang mau gombal?"
"Emang hari apa?"
"Bodo amat. Gak usah dipaksa inget." Ujarku ketus.
"Ulang tahun kamu ya?" Tebak Pak Arfa.
__ADS_1
"Gak tahu. Cek aja di mbah gugel, siapa tahu ketemu." Balasku sembari melipatkan kedua tanganku di depan dada tanda bahwa aku sangat kesal.