
Aku mengernyitkan dahiku heran. Baru saja percakapan rumitku dengan Pak Arfa usai, kini perasaanku harus diuji lagi kala mataku melihat sosok wanita yang sering kusapa dengan panggilan guguk.
"Kenapa?" Tanyaku dengan nada gak woles.
Untungnya, sebelum ketemu guguk aku sudah menata ulang penampilanku yang sebelumnya terlihat berantakan.
"Ada yang mau saya omongin ke kamu."
Aku menatap tidak suka pada guguk. Seminggu ini emosi aku memang sedang tidak stabil, bawaannya pengen emosi aja kalau melihat meong apalagi guguk.
"Mau apa?" Tanyaku malas.
"Gak disini. Ikut saya."
Yaudah. Aku ikutin aja si guguk yang ngajak ngobrol di kafe deket kampus.
"Jadi?" Tanyaku to the point.
"Saya to the point aja ya."
Aku menganggukan kepalaku sebagai respon.
"Saya butuh Arfa." Ucap Delia.
Aku tertawa hambar ketika mendengar pernyataan Delia. Otakku sedikit tersendat, seperti sulit merespon tiga kata yang dilontarkan oleh Delia.
"Kamu butuh? Lalu menurut kamu, saya gak butuh?"
Mencintai Pak Arfa mengajarkanku untuk bersikap lebih tegas. Kalau biasanya aku terlalu malas untuk menanggapi, maka sekarang mulutku sudah terasa gatal untuk mencerca.
Delia nampak sedikit terkejut mendengar ucapanku. Ia mungkin tak menyangka bahwa aku yang biasa selow-selow bisa berubah menjadi ganash.
Biar tau rasa kamu, guguk! Elvia itu ganash! Makanya jangan macem-macem!
"Saya lebih butuh dia."
"Tapi cinta bukankah bukan hanya tentang butuh atau tidak? Tapi tentang rasa."
"Bukannya kalian sudah putus?"
"Kamu tahu darimana?"
Entah kenapa, pertanyaan biasaku berhasil menbuat Delia kelagapan.
"Saya hanya menebak." Ujar Delia dengan nada suara yang sedikit bergetar.
"Oh, ya. Jadi kamu kesini hanya untuk memberitahu saya tentang hal ini?"
"Kalau iya. Maaf, saya gak bisa ngelepasin Pak Arfa ke kamu." Lanjutku.
"Saya hamil."
__ADS_1
Aku mengernyitkan dahiku, "Lalu? Apa hubungannya dengan saya?"
"Saya belum selesai berbicara."
Aku diam sebagai tanda agar Delia dapat melanjutkan ucapannya.
"Anak Pak Arfa." Ucapnya yang berhasil membuat napasku tercekat untuk sementara waktu.
"M-maksud kamu?" Jujur saja, sekarang otakku sedang mencoba mencerna maksud dari kalimat yang diucapkan Delia.
"Saya pikir kamu tidak cukup bodoh untuk mengerti maksud ucapan saya."
"Gak. Saya gak percaya."
"Kamu tahu kan kalau Arfa pernah ke luar negeri?"
Aku menganggukan kepalaku, "Iya. Jadi?"
Delia tersenyum aneh, "Kamu juga tahu kan kalau dia kesana ketemu saya?"
Aku mengatupkan mulutku berusaha untuk menahan agar tidak berbicara kasar.
"Sepertinya segitu dulu. Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk saya." Ucap Delia lalu pergi meninggalkan aku yang duduk dengan sekelumit pemikiran yang sedang berkecamuk.
💕💕💕
"Dek, ada Arfa di bawah."
"Suruh pulang aja." Teriakku dari kamar.
"Telat lu, dek."
Aku mengerutkan dahiku mendengar ucapan Bang Kelvin. Apaan sih Bang Kelvin, buat mood tambah jelek aja.
"Elvia."
Suara itu terdengar familiar. Aku pun segera menyibak selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhku.
"Pak Arfa!?" Ucapku dengan nada sedikit tinggi karena terkejut.
Pak Arfa masuk ke kamarku dengan penampilan yang sangat berantakan. Sangat berbeda dari Pak Arfa yang aku kenal dengan image rapi.
"Pak..." Ucapku pelan. Sangat pelan bahkan hampir terdengar seperti berbisik.
"El, maafin saya. Saya gak mau kita selesai."
"Pak, saya lagi lelah. Tolong jangan temui saya dulu."
Aku takut emosiku mengendalikan tingkah lakuku. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menghindari Pak Arfa dulu.
"El..."
__ADS_1
"Pak, tolong..."
Pak Arfa mengusap mukanya dengan kasar.
"Saya pulang."
Aku pun hanya diam mendengar ucapan Pak Arfa yang melemah.
"Pak..."
"Iya?" Pak Arfa membalikkan tubuhnya untuk melihatku.
Terlihat dari gerak tubuhnya, dia seperti antusias ketika mendengar aku memanggilnya.
"Bapak tahu kenapa saya membenci malam?"
Pak Arfa bingung dengan pernyataanku yang cukup random.
"Maksud kamu, El?"
"Karena ketika malam datang, hati saya terasa semakin remuk dan tak mampu menahan luka, Pak. Pemikiran saya begitu berkelit sehingga membuat hati saya sesak bila mengingat luka yang sudah bapak torehkan."
"Saya gak ngerti, El. Luka apa? Saya menyakiti kamu?"
"Menurut bapak?"
"El, tolong jangan berbelit."
"Masalah bapak itu satu."
"Bapak terlalu menutup diri." Lanjutku.
"Selama ini, harus saya yang selalu inisiatif dalam hubungan kita. Bapak tahu? Setiap kali ada cerita, ada sesuatu yang berjalan gak baik atau berjalan baik, ketika saya mendengar cerita lucu, mendengar gombalan gak bermutu, bahkan ketika saya sedang dalam masalah. Bapak adalah orang pertama yang ingin saya temui untuk berbagi. Tapi bagaimana dengan bapak? Bahkan, saya gak yakin kalau bapak juga merasakan hal yang sama."
Pak Arfa terdiam mendengar rentetan kalimat panjang yang aku lontarkan tanpa berniat membalas. Hanya mendengar.
"Bapak tahu hal yang paling menyakitkan itu apa?" Ucapku berhenti sejenak sembari menyeka air mata yang entah sejak kapan mengalir itu dengan kasar.
"Ketika saya mendengar rumor tentang bapak, tetapi saya terlalu takut untuk bertanya. Saya terlalu takut untuk mengetahui faktanya."
"Elvia..."
"Bapak tahu hari ini sudah menjadi hari yang sangat sulit bagi saya?"
"Maaf."
"Lihat! Bapak bahkan gak bertanya alasan saya menangis? Bapak hanya mengucap maaf yang tentu saja tidak bisa membantu sama sekali."
"Elvia, saya pikir kamu butuh waktu sendiri."
"Enggak, Pak! Saya gak butuh! Yang saya butuh itu hanya kejujuran. Kalau bapak masih cinta dengan orang lain, kenapa mempermainkan hati saya?"
__ADS_1
"Sudahlah. Saya pikir harusnya saya akhiri saja. Saya sudah lelah, Pak. Tolong keluar."