My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Far Away (3)


__ADS_3

"Dek, lu napa sih dengan Arfa? Dia ketemu gue kayak orang linglung." Ucap Bang Kelvin tiba-tiba yang langsung datang ke kamarku dengan nada frustasi.



"Gapapa."



Bang Kelvin menatapku aneh, "Gapapa kata lu? Kok lu tiba-tiba kalem sih dek?"



"Bang, gak usah bacot. Lelah hayati mau tidur. Hush!" Ucapku sembari mengusir Bang Kelvin.



Jujur saja, aku sedang malas diusik oleh siapapun untuk saat ini.



"Gue pusing lihat kelakuan Arfa, El."



"Terus?"



"Lu kan tunangannya."



"Nah itu, Bang. Gue aja yang tunangannya biasa aja. Kenapa lu yang repot?"



Bang Kelvin mengusap mukanya dengan kasar, "Pusing gue. Bodo amat lah."



Aku pun mengibas-ngibaskan tanganku, "Makanya abang gak usah urusin. Urusin dulu tuh si mantan."



"Berisik."



"Abang tahu yang berisik!"



"Serah."



"Bang..."



"Apa?" Tanya Bang Kelvin dengan nada gak woles.



"Coba ceritain sedikit tentang Pak Arfa."



"Masih peduli? Katanya tadi gak usah urusin."



"Yaudah sih kalau gak mau." Ujarku dengan nada merajuk.



Bang Kelvin pun duduk di kursi belajarku lalu menarik kursi agar posisinya lebih dekat denganku.



"Arfa itu dulu parah sih. Pokoknya semua cewek kalau lihat dia pasti langsung muncul ketertarikan gitu."



Kalau itu mah gak usah diomongin Bang. Bahkan aku pun sampai sekarang masih sering terpesona melihat wajah Pak Arfa yang terlalu tampan. Hehehe.



"Banyak yang deketin Arfa. Kalangan artis sampai anak kolega bisnisnya sering banget deketin dia secara terang-terangan. Tapi anehnya, dia selalu nolak. Katanya gak ada waktu. Dia dulu gila kerja."



"Dia pernah sih sekali pacaran, nama ceweknya itu Delia. Waktu itu dia di Australia. Gue juga sempet sih beberapakali ke sana. Emang kelihatan banget kalau Arfa bener-bener cinta dengan Delia."



Bang Kelvin nampak melihat raut wajahku sebentar, seperti menimbang apakah ceritanya mau dilanjut atau tidak.


__ADS_1


"Nah, tapi entah kenapa mereka putus. Gue juga gak paham mereka putus kenapa. Sejak saat itu, Arfa yang gentle berubah jadi lebih cuek."



"Tapi, waktu Arfa deket sama lu. Dia seakan balik jadi Arfa yang receh. Bahkan, dia dulu gak sereceh itu ke Delia. Lebih sok kalem, tapi kalau sama lu kayak jadi diri dia sendiri banget."



Aku menghela napas panjang, "Gapapa. Lanjut aja Bang."



"Yang buat gue suka dari Arfa itu dia sangat menghormati siapapun yang lebih tua dari dia dan rasa kemanusiaannya tinggi. Pernah sekali dia ngajak gue buat jadi relawan. Ternyata dia udah sering jadi relawan, gue baru tahu."



"Dia juga tiap bulan jadi sponsor lebih dari puluhan panti. Jadi, gue yakin buat titipin lu sama dia. Tapi, yaa sifat buruk dia itu dia suka banget nutup diri. Kadang, sering banget kita dibuat bingung dengan tingkah dia. Dia juga kalau gak diminta, gak ada penjelasan. Itu yang buat gue sering ribut sama dia."



"Yaudah. Makasih Bang. Sana deh, gue mau bobok cantik."



"Udah buat gue capek bacot juga."



Aku tertawa pelan lalu Bang Kelvin yang peka dengan kemauanku yang sedang ingin sendiri pun pergi keluar dari kamarku.



Sebenarnya sudah sekitar dua minggu aku gak pernah benar-benar ketemu dengan Pak Arfa, kecuali waktu dia ngajar.



Selama itu, sebenarnya dia terus berusaha buat ngehubungin aku. Setiap hari dia pasti chat, kadang ke rumah tapi aku gak pernah bukain pintu, kadang juga Pak Arfa sering nanyain kabar aku ke Bang Kelvin.



Namun, entah kenapa tapi kayaknya Mas Alvin makin gencar mendekatiku. Sudah selama seminggu terakhir, Mas Alvin anter-jemput aku terus.



Tentu saja hal ini yang menjadi perhatian Pak Arfa. Sering banget dia nanya, "Kamu ngapain pulang bareng dia?"



Tapi seringnya juga aku gak pernah balas pertanyaan Pak Arfa. Entahlah, rasanya aku sudah jenuh dengan perasaanku. Tapi, aku tak bisa untuk tak jatuh dengan pesona Pak Arfa.




"Elvia..."



Pak Arfa memanggilku setelah kelas usai.



"Kenapa Pak?" Ujarku dengan nada datar. Biasanya, aku pasti manggil Pak Arfa dengan nada antusias.



"Saya rasa kita perlu bicara, El."



"Saya..."



Ucapanku terpotong, Pak Arfa menarik pergelangan tanganku dengan lembut, "Tolong, Elvia. Saya benar-benar tidak bisa begini."



Aku pun mencoba memantapkan perasaanku, "Yaudah. Bapak duluan aja. Nanti saya nyusul. Saya mau kasih tahu Alvin dulu."



Raut wajah Pak Arfa nampak berubah. Seperti menandakan bahwa dia tidak senang mendengar nama Alvin.



"Ya. Saya duluan." Entah kenapa, tapi nada Pak Arfa yang semula lembut berubah menjadi datar setelah mendengar nama Alvin keluar dari mulutku.



Aku pun menghubungi Mas Alvin terlebih dahulu untuk mengabari bahwa hari ini Mas Alvin gak perlu jemput. Sebenarnya sudah cukup sering sih aku bilang gak usah jemput. Tapi, Mas Alvin masih tetap kekeuh.



Alhasil, hari ini aku berbohong dengan bilang Bang Kelvin yang jemput.



"Pak..." Ucapku setelah memasuki ruangan Pak Arfa.

__ADS_1



Pak Arfa melihatku sebentar lalu tanpa aba-aba langsung memelukku.



Otakku merespon untuk menolak. Tapi entah kenapa, hatiku tak mampu menampik rasa rindu yang begitu menyesakan dada.



"Pak..." Gumamku pelan.



"Elvia, sebentar saja. Saya rindu."



Aku diam sebentar karena jujur aku juga nyaman dengan posisi sekarang. Aroma badan Pak Arfa itu memorable banget. Kayak wangi-wangian lavender.



"Pak, maaf."



Perlahan, Pak Arfa melepas pelukannya.



Pak Arfa menatapku bingung, "Untuk?"



"Saya rasa kita udah gak bisa sejalan lagi, Pak." Ucapku sembari menunduk.



"Maksud kamu apa El?"



"Saya lelah, Pak."



"El?"



"Bapak masih sayang Delia kan?"



Pak Arfa nampak terdiam sebentar, "Dia kan mau nikah, El."



"Oke. Saya ganti perkataan saya. Bapak sayang saya gak?"



Pak Arfa nampak ragu untuk menjawab.



"Gak perlu kamu tanya. Saya sayang sama kamu, El."



"Kenapa jawabnya lama?"



"Saya hanya bingung dengan pertanyaan yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya."



Aku tertawa pelan, "Tapi kenapa saya gak pernah ngerasain hal itu? Kenapa yang saya rasakan hanyalah rasa sakit? Kenapa saya merasa bahwa hanya sayalah yang berjuang dalam hubungan kita? Kenapa saya merasa kalau saya terlalu mencintai Pak Arfa?"



Perlahan, tawaku berubah menjadi isakan-isakan kecil.



"Saya pergi. Tolong jangan temui saya lagi, Pak."



Pak Arfa menahan tanganku, "Kenapa? Apa karena Alvin kamu berubah?"



Aku melepas paksa genggaman tangan Pak Arfa, "Gak ada hubungannya dengan Mas Alvin. Bapak selama di Australia ngapain aja? Coba mikir."



Setelah mengucapkan rentetan kalimat tersebut, aku pun langsung pergi dengan suasana hati yang sangat mengusik ketenanganku saat ini.

__ADS_1


__ADS_2