
Setelah Pak Arfa memarkirkan mobilnya, aku pun lantas langsung pergi memesan makanan.
Perutku sudah tidak bisa diajak kerja sama. Untung saja restoran ini terkenal cepat dalam menyajikan makanan.
"Laper banget?" Tanya Pak Arfa yang sepertinya terkejut melihat betapa banyak porsi makanku
Entahlahlah, mungkin makan merupakan salah satu momen yang paling membahagiakan yang terjadi setiap hari.
Aku hanya bisa nyengir menanggapi ucapan Pak Arfa "Abis enak banget sih Pak makanannya."
Aku ga nyangka kalau makanannya bakal seenak ini.
"Makannya pelan-pelan aja."
Kali ini giliran aku yang bertanya, "Bapak ga makan?"
"Saya kenyang lihat kamu."
Hah? Gimana ceritanya lihat aku bisa kenyang?
"Bapak ngerasa keganggu ya lihat saya makan. Maaf Pak." Aku pun menarik kesimpulan mungkin Pak Arfa risih dengan gaya makanku.
Pak Arfa tidak menanggapi ucapanku. Malahan sekarang ia tersenyum. Sangat cerah. Sampai-sampai membuat bulu kudukku berdiri karena merinding melihat Pak Arfa yang terkenal galak tiba-tiba tersenyum lebar seperti itu. Sangat tampan.
"Bapak kenapa sih? Sakit?" Tanyaku.
"Cepat habiskan makanan kamu." Baru saja tadi Pak Arfa berkelakuan manis banget dengan senyumnya. Sekarang muka Pak Arfa kembali sangar.
"Senyum lagi dong Pak. Bapak ganteng maksimal kalau lagi senyum"
"Hm?" Alis Pak Arfa naik sebelah mendengar rentenan kalimatku tadi.
Ya ampun, punya mulut susah banget dikontrol ya.
"Maksudnya bapak senyum aja. Ga usah pasang muka sangar."
"Kamu siapa saya nyuruh-nyuruh saya senyum?"
"Mahasiswi yang kepengen dapet nilai A di mata pelajaran bapak."
__ADS_1
"Bagus kamu ingat."
Kalian bingung ga sih sama Pak Arfa?
Tadi ngajak nikah sampe bahas-bahas
jodoh. Terus ga lama menegaskan status kita yang hanya sekedar siswi dan dosen. Padahal tadinya aku pikir kita sudah cukup akrab untuk yaa setidaknya berteman.
Tapi, aku bakal cabut pernyataan mengenai keinginan untuk berteman.
For your information, umur aku dan Pak Arfa beda 6 tahun. Pak Arfa itu satu tahun lebih tua dari Bang Kelvin.
Bayangin aja, umur 26 tahun Pak Arfa udah jadi dosen sukses. Kenapa aku bilang sukses? Karena selain ngajar, Pak Arfa itu juga banyak diminta untuk jadi dosen tamu di luar kota dan juga sering diminta mengisi seminar.
Sebenarnya aku juga masih belum tahu sih selain jadi dosen, kerjaan Pak Arfa itu apa. Aku belum sekepo itu sih dengan Pak Arfa. Yaa.. emang ga ada niat juga untuk kepoin Pak Arfa.
"Loh, Mas Arfa?" Suara bernada kalem seorang gadis berhasil membuyarkanku dari kegiatan melamun yang sudah aku jalani selama kurang lebih 5 menitan tadi.
"Oh, Delia?"
Delia?
Siapa dia?
"Mas Arfa, saya tidak menyangka akan bertemu dengan kamu disini. Sudah lama saya ingin menghubungi kamu. Tapi sulit sekali." Wanita yang dipanggil Delia oleh Pak Arfa tadi pun berbicara dengan tutur kata yang sangat lembut.
Satu kata yang mendefinisikan Delia? Anggun.
Delia sangat anggun. Dilihat dari cara dia bertutur kata saja sudah sangat nampak bahwa dia bukan dari kalangan orang biasa.
Pak Arfa hanya menanggapi ucapan Delia dengan tersenyum simpul.
"Maaf, kamu pacarnya Mas Arfa ya?" Ucap Delia seraya menengok ke arahku.
"Bukan." Jawab Pak Arfa. Singkat, jelas, dan padat.
Kok rasanya agak nyelekit ya?
"Oh, saya Delia. Kamu?" Eh, mbak mbak ini ngajak kenalan nih? Duh--mana tangan abis pegang makanan lagi.
"Tidak perlu kenalan dengan dia. Dia bukan siapa-siapa. Hanya murid saya." Pak Arfa kenapa sih? Masa kenalan aja ga boleh.
__ADS_1
Alhasil aku pun hanya tersenyum kikuk ketika Mbak Delia menurunkan tangannya yang pada awalnya sudah berposisi untuk menjabat tanganku.
"Asisten dosen." Pak Arfa cenayang nih fix. Dia kayaknya tau kalau Mbak Delia sedikit bingung dengan siapa gerangan dirikuhh?
Tapi kok kayak ada bunyi kretek kretek ya? Apa mungkin suara perut yang masih belum kelar lapernya?
"Kamu pulang sama siapa?" Tanya Pak Arfa.
Ke aku atau ke mbak Delia nih?
"Saya pul--" Lagi-lagi ucapanku dipotong.
"Saya tanya Delia, bukan kamu." Oke. Pak Arfa jahat sih bisa-bisanya dia giniin aku. Oke fix! Aku ngambek.
Emang ada yang peduli kalau kamu ngambek, Elvia? Ga ada. Hehehe. Pengen aja gitu ngambek.
"Saya diantar Pak Arman, Mas." Aduh, mas mas. Udah kayak panggilan aku ke mas mas gojek aja.
"Kamu ikut saya pulang aja." Ujar Pak Arfa.
"Saya pulangnya gimana dong Pak?!" Jeritku kesal.
Enak aja. Dia yang bawa kesini. Dia juga dong yang harus tanggung jawab anterin pulang.
"Naik gojek bisa. Ga usah manja."
Gila aja. Masa naik gojek?
Mendung Pak! Woi! Ada mata ga sih?!
"Mendung, Pak." Ucapku dengan nada lemas.
"Gocar."
Pak Arfa pun berdiri, "Terimakasih sudah bantuin saya."
"Saya permisi, dik." Mbak Delia pamit kepadaku tatkala tangannya sudah digenggam oleh Pak Arfa untuk segera beranjak pergi dari restoran.
Pucuk dicinta,
Ulan pun tiba.
Ini hape kenapa matek sih?!
__ADS_1
"Demi mimi peri yang katanya isteri sahnya Sehun. Gimana coba gue pulang?!!" Rutukku kesal.