My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Elvia Galau


__ADS_3

Langit mulai menghitam dan angin pun menghembuskan napasnya dengan kencang. Yang tadinya banyak orang berlalu lalang sambil bercengkrama. Kini tergantikan dengan orang-orang yang berlari seraya mencari tempat nyaman untuk berteduh.



Disitulah aku, duduk sambil memperhatikan rintik-rintik air yang secara berirama turun membasahi bumi. Perlahan, volume air yang turun pun semakin deras, tak terbendung. Disertai dengan suara geledek yang mampu mengagetkan siapapun yang mendengar.



Gimana? Udah kayak galau banget kan akunya? Kalau lagi galau, aku memang bakal jadi alay.



"Maaf, dek. Apakah sudah mau pesan?" Ujar seorang wanita lengkap dengan seragam khas waiters sembari tersenyum.



"Sebentar lagi mungkin, Mbak. Saya lagi nunggu orang." Jawabku gelisah.



Iya. Tadi, Pak Arfa udah janji mau ketemuan disini. Kemarin sih, setelah tanpa kabar semalaman. Akhirnya dia WA ngajak ketemuan di Kafe Pelangi.



"Baik dek, saya permisi." Waiters itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya, memang terkadang ia sempat curi pandang ke aku. Iya. Aku tau aku cantik. Tapi, Mbak itu kayaknya punya maksud lain dibalik tatapannya.



Entahlah, mungkin mbak waiters itu mengkhawatirkan kondisi aku saat ini. Aku datang ke Kafe dalam kondisi sedikit basah. Soalnya Bang Kelvin kan lagi sibuk. Jadi gak bisa anter. Terus karena dapat voucher promo, jadilah aku memilih naik Gojek.



Ga taunya malah kehujanan. Untung udah deket.



Nah, setelah sampai aku juga tidak memesan apapun daritadi. Niatnya sih barengan aja pesannya bareng Pak Arfa.



Atau Mbaknya takut rugi mikir kalau aku cuman numpang duduk doang? Hehe.



Aku memperhatikan arloji berwarna biru yang melekat di tanganku. Beberapa kali, ah tidak. Bahkan, aku sudah memperhatikan arlojiku itu ratusan kali.



Memang Pak Arfa itu pantas aku ngambekin. Kan aku takut jadinya kalau misalnya Pak Arfa kenapa-napa di jalan. Buat cemas aja.



"Pak Arfa itu sebenarnya jadi datang gak sih?" Gumamku.



I'm jealous of the rain



That falls upon your skin



It's closer than my hands have been



I'm jealous of the rain



Aku mengeratkan earphone yang tersemat di kedua telingaku. Berharap suara hujan tidak mengganggu aktivitas mendengarkan lagu. Daripada kesal nungguin Pak Arfa, mending denger lagu.



Tapi kok lagunya malah bikin suasana hati tambah buruk. Apalagi setelah dengar Pak Arfa udah punya calon.



Bah, tersayat-sayat hati ini.



It's hard for me to say



I'm jealous of the way


__ADS_1


You're happy without me



Selagi mendengarkan lagu yang sedang aku putar, green tea yang sempat aku pesan 10 menit yang lalu pun sampai. Jangan tanya kapan pesannya, soalnya aku juga peka kok kalau mbak waiters dari tadi ngelihatin aku butuh asupan gaji.



Jadi, mending pesen aja daripada dituduh numpang ngadem doang.



You've got a new message!



Aku hanya bisa menghela napas dengan kasar. Aku daritadi telepon gak diangkat dan balasannya? Pria menyebalkan itu hanya mengirim pesan.



Pak Galak


Saya ad ursan lain.


Km kl sdh smpe plg sj.


Jgn repotin abang kamu, dia lg psing.



Gila! Udah nunggu Pak Arfa hampir 1 jam cuy. Masalahnya, sekarang lagi hujan deras. Mana ada ojek online yang mau nerima penumpang hujan-hujan gini.



Elvia Avaretta


Ojek online g ad yg mau.


Jmpt sy dong.



Pak Galak


Saya lg ad ursn.



Elvia Avaretta


Yg ngajak ksni sp?



Pak Galak


Maaf



Elvia Avaretta


Lg sm sp?



Pak Galak


Delia.


Dia lg bth saya


(Read)



Iya. Delia aja trus yang ditanggapi.


Trus aku apa?



Iya kok sadar kalau aku cuman remehan kacang.



Tapi gak batalin janji tiba-tiba kan?


Udah pergi kena hujan, masa pulang juga harus kehujanan?


__ADS_1


Aku pun membulatkan tekadku untuk menyebrangi jalanan menuju halte bus.



Udah pasti kehujanan ini. Huhu.



Akhirnya, sedikit keberuntungan menghampiriku. Tak perlu menunggu lama, karena selang 10 menit bus yang aku tunggu pun datang menjemput.



Rejeki anak yang selalu dinomorduakan ya gini.



"Bodo lah. Udah terlanjur basah juga." Jadilah, aku memutuskan berlari dari halte bus depan komplek ke rumah Papa. Kalau mau nungguin hujan reda mah, bisa ditebas Bang Kelvin nanti. Soalnya bisa sampe subuh. Mana hape pakek acara mati lagi.



💥💥💥



"Abis ngapain? Kok basah kuyup gitu?" Tanya Bang Kelvin.



"Gara-gara temen lu, Bang."



"Arfa? Bukannya dia lagi bareng Delia?"



Gilaa, sampe Bang Kelvin aja tahu. Emejing.



"Abang tau?"



"Iya. Delia kan lagi demam."



Demam doang nih? Lah aku..


Sakit hati tuh penyakit paling mematikan bagi aku. Dan aku, sudah merasakannya hari ini. Untung baru stadium awal.



"Oh."



"Arfa gak bilang dia jenguk Delia?"



"Ngapain sih guguk ada disini? Dia dimana-mana ada perasaan." Racauku.



"Guguk?"



"Lupain aja, Bang."



"Delia emang udah ada di Bandung 2 hari yang lalu. Mau jenguk Mamanya, katanya lagi sakit. Eh malah dianya juga jatuh sakit." Jelas Bang Kelvin.



Bodo amat, Bang.


Adek lu lagi sakit hati juga.


Hibur kek.



"Abang kan udah bilang. Jangan Baperan sama Arfa."



"Gak! Siapa juga yang baper. Malah aku ngerasa Pak Arfa itu annoying." Ujarku lalu bergegas berjalan ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2