My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
PAK ARFA KENAPA? [EXTRA PART|03]


__ADS_3

Menjelang pernikahan sebenarnya ada saja banyak hal yang aku ragukan. Entah itu pertanyaan apakah aku siap melepas masa lajangku? Apakah aku siap melepas titel jomlo yang sudah tersemat selama beratus-ratus tahun lamanya? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik? Apakah, apakah, apakah. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus memutari pikiranku.



Tapi yang paling krusial sih sebenarnya pertanyaan apakah aku akan cepat lulus? Hehe.



Tapi permasalahan yang sedang menjadi beban bagi pikiranku adalah masalah waktu.



Pak Arfa memang selalu menyempatkan waktunya untukku. Kapan pun itu. Namun sepertinya itu tidak berlaku untuk sekarang.



"Pak, nanti malam makan bareng ya?"



"Saya sibuk, El."



Tiga kata yang berhasil keluar dari mulut Pak Arfa itu ternyata mampu membuat dahiku mengerut.



Tumben?



"Sibuk ngapain?"



"Sibuk ya sibuk."



Kalimat terakhir yang diucapkan Pak Arfa berhasil membuatku kagum dengan pendengaranku. Ini Pak Arfa? Gak salah?



"Pak. Skripsi saya udah mau tahap akhir nih! Cek dong!"



"Nanti saja."



Awalnya aku maklumi, mungkin Pak Arfa lagi banyak pikiran dan kerjaan. Tapi perilaku aneh Pak Arfa itu sudah berlangsung selama dua minggu.



Hari ini hari Jumat. Aku sebenarnya ada jadwal ngampus sebentar, ada kelasnya Bu Ningsih soalnya.



"El, tumben muka kamu kusut." Devi yang sudah sampai duluan bingung seraya memperhatikan wajahku.



"Gimana gak kusut, orang dia dicuekin yayangnya." Celetuk Aldo yang rasanya mau aku sumpal saja mulut Aldo pakai batu. Biar gak bisa ngomong lagi sekalian.



Kalau ada Devi pasti ada Aldo kan? Mereka mah emang udah kayak sepasang sendal, sepaket.



"Bacot lu Do."



"Sensitif amat Neng. Mungkin Pak Arfa jenuh sama lu."



"Udah ah Beb, jangan gituin Elvia."



Jenuh?


Jenuh itu kata lain dari bosan kan ya?



Kok rasanya ada bunyi kretek saat dengar kata tersebut diucapkan. Apalagi konteksnya dalam hubungan aku dan Pak Arfa.



"Do. Emang lu gak pernah merasa jenuh dengan Devi?"


__ADS_1


"Pernah." Jawab Aldo yang langsung saja menarik perhatian Devi.



"Tapi cuman sebentar. Karena gue sadar tanpa Devi, hidup gue gak berwarna."



Jawaban Aldo tentu saja langsung dihadiahi senyuman malu-malu dari Devi.



Alamak cik, orang lagi galau juga malah dibuat tambah ngenes.



"Kalau Pak Arfa jenuh sama gue gimana?" Gumamku.



"Ya gak mungkin lah El. Kan kalian aja udah proses mau nikah."



"Tapi kan belum nikah, Dev."



"Kok kamu jadi pesimis gitu sih? Ada masalah sama Pak Arfa?" .



"Iya. Dia cuekin aku."



"Tumben? Biasanya Pak Arfa kan hobi banget gangguin kamu."



"Gak ngerti juga, Dev."



Belum sempat aku menyelesaikan ceritaku, Bu Ningsih yang terhormat ternyata sudah datang. Otomatis aku langsung kicep dong. Gak mungkin berani ngeluarin satu patah kata, soalnya Bu Ningsih anti ribut-ribut keleb. Bernapas aja dikontrol, biar gak kedengaran dia. Gak deng, soal bernapas tadi bercanda doang kok.



💝💝💝




"Kenapa?"



"Ikut saya."



Pria itu siapa?


Pak Arfa.



Aneh banget gak sih? Janggal banget kan sikap Pak Arfa sekarang?



Aku pun hanya menurut. Aku mengekori Pak Arfa dari belakang. Setelah sampai di ruangannya, aku sedikit tersentak melihat beberapa kertas di atas meja Pak Arfa.



"Kamu masih asisten saya kan? Bantu saya koreksi. Saya lagi gak ada waktu." Titah Pak Arfa.



Mungkin karena tercekat dengan suasana dingin yang Pak Arfa buat, sehingga aku mah iya iya aja disuruh ngoreksi. Padahal niat udah mau nolak. Ya kali, orang lagi ngambek malah disuruh ngoreksi tumpukan kertas.



"Pak. Tebak ya kenapa ac itu dingin?"



Pak Arfa yang daritadi hanya fokus ke handphone miliknya. Kini perlahan fokusnya berubah ke arahku karena pertanyaan konyol yang aku ajukan. Meskipun hanya berupa lirikan.



"Jangan banyak ngomong. Cek aja kertasnya dengan benar."



"Tapi Bapak malah main handphone, sedangkan saya capek-capek ngoreksi. Apa maksud kamu, Bambang?"

__ADS_1



"Bambang? Siapa?"



"Imajinasi saya saja."



Tolong Elvia.


Ini bukan saatnya untuk melawak.


Jangan ngelawak!



"Oh."



"Oh?"



"Kenapa?"



"Laper."



"Selesaikan dulu tugas kamu. Saya buru-buru ada janji."



Demi es teh manis Mang Tatang! Untung ganteng, jadi termaafkan. Kalau gak udah aku jambak kali tuh mulut Pak Arfa.



"Janji lagi? Kenapa sih Pak jadi sok sibuk?"



"Menurut kamu saya orang gak sibuk?"



"Gak gitu juga."



"Yaudah."



Sabar Elvia.


Orang sabar, disayang pacar.



"Pak!!!"



"Apa sih?"



"Satu tambah satu sama dengan berapa?"



"Dua."



"Kok pinter sih? Tanya lagi ya saya. Kalau aku tambah kamu?"



"Kita." Jawab Pak Arfa dengan nada datar.



"Nah sama kayak angka dua tadi Pak. Bapak kan satu, saya kan satu kalau ditambahin jadi dua. Bapak kan kamu, saya kan aku, kalau ditambahin jadi kita."



"Ya. Selesaikan kerjaan kamu segera."



Yaelah, gak mempan nih gombalannya.

__ADS_1


Apa mungkin Pak Arfa salah makan obat ya?



__ADS_2