My Dandellion

My Dandellion
Bab 9


__ADS_3

“If you want to reach the main goal, you have to realize the most important step to start.”


~ Arabelle


Happy reading...


Selama berada di jalan pulang, perkataan Ara tentang berbicara jujur pada orang tuanya benar-benar membuat Adam bingung. Dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan tentang keadaannya sekarang. Mungkin itu bisa dipikirkan nanti setelah dia menghancurkan sisa-sisa heroin yang masih ada di rumahnya.


Mobil mewah Adam memasuki halaman rumahnya yang luas dan megah. Setelah mobilnya terparkir dia langsung keluar dan berlari menuju kamarnya. Dia takut gejala sakau kembali datang dan membuatnya berubah pikiran.


Lagipula dia sudah mengantongi nomor telepon Ara. Entah kenapa dia percaya bahwa gadis itu bisa menolongnya.


Saat sampai di kamar, Adam langsung membuka lemari rahasia tempat penyimpanan heroin yang sudah diisi dalam jarum suntik steril. Selam menggunakan barang haram ini, Adam hanya memakai jarum suntik steril tanpa


pernah mau berbagi. Terdapat 5 jarum suntik berisi heroin dalam sebuah kotak besiberukuran sedang. Adam mengambil dan membawa semuanya menuju kamar mandi. Dia membuang isi jarum suntik tersebut ke dalam closet dan menghancurkan jarum suntiknya dengan cara diinjak. Setelah selesai dia membungkusnya dengan kantung plastik dan rencananya akan dia buang sebentar.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Biasanya di jam-jam begini dia masih berkumpul dengan kekasih dan teman-temannya. Ponselnya berdering menampilkan nama Raga di layar.


“Halo,“ ucap Adam mengangkat teleponnya.


“Halo Dam, lo lagi di mana? Hari ini nggak keliatan di kampus. Lagi sakit ya lo?”


“Ya. Gue agak kurang enak badan hari ini. Tapi gue usahain besok ngampus,” jawab Adam.


“Yah... Padahal kita-kita mau ngajak lo ngumpul. Atau paling nggak entar malem kita clubbing. Tenang aja, nggak ada Aurel kok,” ajak Raga.


“Oh... Sorry man, mulai sekarang gue nggak bakal ke club malam lagi. Gue mau serius dengan kuliah dan masa depan gue,” jelas Adam to the point menolak ajakan Raga.


Setelah mengatakan demikian Adam langsung mematikan sambungan pembicaraannya dengan Raga. Dia harus mulai bertindak sesuai dengan janjinya pada diri sendiri dan pada Ara. Dia benar-benar mau sembuh.


Sambil menatap semburat keemasan matahari yang akan terbenam, Adam mulai terlelap menuju Alam mimpi.


@@@@


“Gimana gimana, Adam bisa datang nggak?” tanya Aurel pada Raga tepat setelah sambungan teleponnya terputus.


“Adam lagi kurang enak badan jadi nggak bisa  datang. Lagian, ngapain lagi sih lo ngusik dia lagi? Kalian kan udah putus,” kata Raga sambil meminum kopi pesanannya.


Saat ini Raga, Sinta, dan Aurel sedang berkumpul di sebuah kafe langganan mereka. Sebenarnya Raga dan Sinta sedang berkencan tapi Aurel memaksa ingin ikut mereka supaya dia punya alasan untuk menemui Adam. Dia memaksa Raga dan Sinta untuk membantunya kembali menjalin hubungan dengan Adam. Aurel benar-benar tidak rela putus dengan Adam karena menurutnya Adam adalah pasangan paling sempurna. Sudah ganteng, keren, dan kaya. Adam adalah impian semua perempuan.


“Gue nggak bisa lepasin Adam gitu aja. Dia itu emang paling sempurna dan cocok untuk dijadikan pasangan. Nggak malu-maluin dan bisa membuat semua perempuan iri dengan gue,” kata Aurel.


“Semua perempuan kecuali gue ya Rel kalau lo lupa,” sanggah Sinta tak terima dengan pernyataan Aurel.


“Ckckck... Hati-hati lo entar malah jatohnya lo terobsesi sama Adam. Lagian Adam itu orangnya keras. Kalau dia sudah memutuskan sesuatu dia nggak akan tarik lagi keputusannya. Gue nggak mau bantuin lo lagi. Lo usaha sendiri, “ kata Raga memperingatkan.


Aurel hanya menunjukkan wajah kesalnya mendengar peringatan Raga. Dia sudah bertekad untuk mendapatkan Adam dan seorang Aurel tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai. Entah karena cinta atau obsesi, dia tidak perduli. Berbagai rencana cadangan sudah tersusun rapi dalam benaknya. Sepertinya untuk kasus Aurel, kita harus percaya bahwa pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohon” itu benar adanya.

__ADS_1


@@@@@


Adam terbangun dari tidur lelapnya dengan rasa sakit yang sangat menyiksa pada otot, tulang belakang, serta persendiannya. Seperti alarm bahaya, dia cepat-cepat mengecek lemari penyimpanan heroin. Saat pintu lemari


terbuka dia langsung tersadar kalau tadi sore dia sudah mengancurkan putaw tersisa di dalam kamar mandi.


Dia langsung berjalan mengambil ponselnya dan berusaha menelpon Ara. Pandangannya kabur karena matanya mulai berair. Rasa mual dan diare terasa secara bersamaan. Selain itu, jantungnya mulai berdetak cepat dan tubuhnya mulai mengalami tremor.


“Halo Adam,” sapa Ara dari seberang sana.


“Halo Ra, sekarang... badan gue rasanya sakit semua...” balas Adam sambil menahan sakit di tubuhnya.


“Tunggu sebentar aku kesana sekarang. Jangan matikan teleponnya,” ucap Ara terdengar tergesa-gesa.


Di seberang sana, Ara yang pada awalnya sedang menyiapkan makan malam sambil menunggu Mbok Ina pulang merasa kaget mendapatkan telepon dari Adam. Sekarang dia merasa panik mendengar kata-kata Adam yang sedang menahan sakit. Dia terus berbicara dengan Adam meskipun respon yang didapat hanya berupa erangan.


Ara berlari secepat mungkin mengambil jaket di kamarnya dan pergi untuk menemui Adam. Dia menyesal dulu tidak menerima tawaran mbok Ina untuk membeli motor. Tahun lalu mbok Ina mendapat THR Lebaran yang cukup banyak dari majikannya. Mbok Ina menyarankan pada Ara untuk membeli motor dengan uang tersebut agar Ara tidak kesusahan transportasi waktu pulang pergi kuliah.


Tak terasa Ara sudah berada dalam taksi menuju rumah Adam. Jarak rumah Adam dan Ara memang tidak terlalu jauh supaya mbok Ina tidak kesulitan tiap pagi dan sore. Sepanjang perjalanan, Ara terus mencoba berbicara dengan Adam sampai sebuah kalimat membuat Ara tertegun.


“Gue bisa liat Liona Ra... kayaknya gue udah mau mati jadi Liona datang buat jemput gue,” ucap Adam lirih sambil terus menahan sakit.


Gejala putus obat salah satunya adalah halusinasi. Ara menyarankan Adam pergi ke panti rehabilitasi bukan tanpa alasan. Putus heroin secara mendadak umumnya tidak dianggap sebagai situasi yang mengancam jiwa. Namun,


yang paling berbahaya adalah kondisi psikologis pasien yang mungkin mengancam jiwa karena menjurus pada hal-hal buruk. Depresi dan halusinasi yang dialami pengguna heroin bisa menuntunnya pada kecenderungan bunuh diri, jika tidak ditangani oleh ahlinya.


Tak terasa, Ara sudah sampai di depan rumah Adam. Ara bersyukur jalanan yang tadi dia lalui tidak macet seperti biasanya. Ara menekan bel dan pintu pagar besar itu dibuka oleh seorang satpam. Satpam itu mengenali Ara sebagai keponakan mbok Ina karena Ara pernah datang beberapa kali meskipun tidak sampai masuk ke dalam.


“Eh non Ara... mau ketemu mbok Ina ya?” sapa pak Joko.


“Malam pak... Ia saya mau ketemu mbok Ina. Ada kan di dalam?” tanya Ara sambil tersenyum menutupi kekhawatiran di wajahnya.


“Ada non. Masuk aja! Nanti bapak telpon ke dapur buat kabarin mbok Ina,” ajak pak Joko.


Ara dibawa masuk ke dalam dan sambil menunggu dia mengamati keadaan halaman rumah Adam yang mewah dengan taman yang tertata bagus dan hijau lengkap dengan air mancur buatan.


“Kata mbok Ina, non disuruh langsung masuk aja lewat pintu belakang. Mboknya lagi sibuk di dapur. Tapi tenang aja tuan dan nyonya belum pulang,” ujar pak Joko sambil mempersilahkan dan menunjukkan arah pintu belakang pada Ara.


“Halo adam, kamu masih disitu?” ujar Ara yang hanya dibalas dengan helaan napas. Ara bertanya seperti itu karena dia takut Adam sudah pingsan karena saking tak kuatnya menahan rasa sakit. Sambil bertanya dia terus berjalan menuju pintu belakang. Untung saja pintu disitu hanya ada satu kalau tidak Ara hanya akan menghabiskan waktu dengan tersesat di rumah mewah tersebut.


Ara langsung masuk dan mencari mbok Ina. Dia melihat mbok Ina sedang sibuk menyiapkan makan malam. Mbok Ina sedikit terkejut tetapi langsung tersenyum menyambut Ara. Mbok Ina berpikir kalau nanti Ara datang menjemputnya karena sudah malam.


“Non Ara, tumben datang ke rumah ini? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya mbok Ina. Ara tidak menjawab melainkan mbok Ina menjauh agar pembicaraan mereka berdua tidak didengar pembantu lain.


“Mbok, Ara mohon sekarang mbok tunjukkin kamar tuan muda. Dia sekarang lagi kesakitan dan butuh pertolongan kita. Hal-hal lainnya nanti Ara jelaskan kalau urusannya sudah beres,” ucap Ara tergesa-gesa.


Mbok Ina yang mendengar permintaan Ara langsung mengerutkan keningnya. Tapi ketika mendengar kalau tuan muda sedang kesakitan, dia langsung menyetujui permintaan Ara. Mereka berdua langsung menuju kamar Adam tanpa diketahui oleh pembantu lain.

__ADS_1


“Ini non kamarnya tuan muda,” ucap mbok Ina sambil menunjuk sebuah pintu kayu besar di hadapannya. Tanpa berkata apapun lagi, Ara langsung membuka pintu kamar yang tak terkunci itu.


Pemandangan yang ada dalam kamar benar-benar menyedihkan dan mengejutkan. Menyedihkan untuk Ara dan mengejutkan untuk mbok Ina. Dia tidak menyangka akan mendapati majikannya dalam keadaan seperti ini.


Adam yang sudah terletak di atas lantai mengikat mulutnya dengan sebuah kain agar suara teriakannya tidak terdengar sampai luar. Wajahnya sudah pucat dengan tubuh yang basah oleh keringat sedangkan tangannya memgang ponsel. Sepertinya dia berusaha keras menahan rasa sakitnya. Kelopak mata Adam tertutup. Dia pingsan. Ara langsung mengecek kecepatan denyut nadi di pergelangan tangan Adam.


“Adam... Adam... Ini Ara. Kamu bisa mendengarku?” tanya Ara sambil menepuk-nepuk pipi Adam.


“Non Ara, ini sebenarnya ada apa dengan tuan muda?” tanya mbok Ina yang terdengar panik dengan keadaan majikannya. Dia hanya bisa memijit-mijit kecil lengan Adam karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


“Mbok sekarang keluar dan panggil beberapa orang buat pindahin tuan muda ke atas ranjang. Setelah itu, telpon tuan dan nyona buat pulang segera karena keadaan benar-benar gawat,” ucap Ara memberi perintah dan dibalas


dengan anggukan mbok Ina yang segera keluar dari kamar itu.


Saat mbok Ina keluar, Ara langsung membuat kain yang terikat kuat di mulut Adam sambil terus memanggil-manggil nama Adam. Tak lama kemudian, mbok Ina datang membawa baskom dan handuk diikuti dengan beberapa orang


termasuk pak Joko. Mereka bergotong royong untuk memindahkan Adam ke atas tempat tidur. Ekspresi di wajah mereka semua sama yakni terkejut tapi mereka tidak berani berbicara apa-apa. Setelah Adam berhasil dipindahkan, mbok Ina dibantu beberapa pembantu lain langsung membantu Ara untuk mengganti pakaian Adam


yang basah.


“Gimana mbok?” tanya Ara yang merujuk pada orang tua Adam.


“Tuan dan nyona lagi di jalan pulang non. Terus nanti gimana ngejelasin keadaan den Adam pada mereka?” tanya mbok Ina yang panik dan kebingungan.


“Ara akan berbicara jujur pada mereka mbok. Mereka harus tahu keadaan Adam yang sebenarnya. Semoga Adam bisa mengerti dengan perbuatan Ara,” ucap Ara dengan kegelisahan yang begitu kentara. Dia hanya bisa menatap


Adam yang terbaring lemah di ranjang dengan perasaan yang tak menentu.


Rencana mereka tadi siang tampaknya akan berubah total. Dan memang langkah inilah yang seharusnya diambil Adam ketika dia memutuskan untuk sembuh.


.


.


.


.


.


To be continued...


Author’s Note :


Hallo semuanya... Semoga suka dengan cerita ini. Jangan lupadukung saya dengan like, komen, vote, dan rate. Simpan cerita ini sebagaicerita favorit kalian supaya tidak ketinggalan dengan update episode terbaru. Terima kasih.


Sampai jumpa di bab selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2