
Sometimes the hardest part isn't letting go but rather learning to start over.
~ Nicole Sobon
Happy reading...
Setelah menyuntikkan barang haram tersebut ke dalam pembuluh darahnya, Adam merasa tenang. Tidak ada lagi perasaan sakit yang menyiksa seperti tadi. Perasaanya juga terasa lebih tenang dan bahagia. Dia duduk sejenak untuk menikmati pemandangan langit biru dan angin sejuk.
Bisakah aku seperti ini tanpa barang haram ini ? Aku ingin berhenti menggunakannya tapi rasanya ingin mati. batin Adam sambil melirik jarum suntik bekas pakai yang sudah kosong.
Dalam keadaan yang tenang, Adam mengingat kembali masa lalunya yang penuh kebahagiaan. Saat-saat dimana kedua orang tuanya dan adik perempuannya yang manis bernama Liona masih berkumpul dalam keadaan keluarga yang hangat. Keadaan ekonomi keluarga Adam yang dulu serba sederhana tapi semuanya berusaha untuk saling mendukung. Setiap malam ayah dan ibunya selalu ada untuk mengantar mereka menuju mimpi indah.
Semuanya berubah saat terjadi kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa Liona.Kecelakaan itu terjadi saat ayah dan ibunya sedang berada di luar kota untuk mengembangkan bisnis keluarga mereka. Adam yang pada saat itu sudah berumur 14 tahun, diberi tugas untuk menjaga Liona yang masih berumur 6 tahun.
Saat itu, sepulang sekolah Adam harus menjemput adiknya di sekolah dasar yang bersebelahan dengan SMP Adam. Jam pulang yang berbeda membuat Liona harus menunggu Adam di sekolahnya. Tapi ternyata bukannya menjemput Liona, Adam lebih tertarik untuk mengikuti teman-temannya main game online di warnet yang berseberangan dengan sekolah. Adam berencana akan menjemput Liona setelah 1 jam bermain game online.
Liona merasa sudah menunggu kakaknya terlalu lama. Dia memutuskan untuk pergi menemui Adam di sekolahnya. Saat sedang berjalan, Liona melihat Adam bersama teman-temannya berjalan memasuki warnet. Dia mencoba berteriak memanggil-manggil kakaknya tetapi suara bising kendaraan yang ramai membuat suaranya teredam. Saat Liona menyebrang jalan untuk menyusul kakaknya, dia tertabrak mobil yang melaju kencang. Liona terseret sejauh dua meter dan tubuhnya berlumuran darah. Sebelum memejamkan mata untuk selamanya, dia sempat melirik ke arah warnet dimana dia melihat kakaknya masuk. Ya, Liona meninggal saat itu juga sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.
@@@@
Ara pulang ke rumah dalam keadaan lelah saat matahari hampir terbenam. Rumah masih kosong itu tandanya Mbok Ina belum pulang ke rumah. Dia langsung menuju dapur untuk meminum air putih. Saat mengambil air dia melihat pesan dari mbok Ina.
"Makanannya ada dalam kulkas. Sebelum makan dipanaskan dulu. Masak air panas untuk mandi dan jangan mandi pakai air dingin." Begitulah bunyi pesan mbok Ina.
"Ia mbok... " Ara menjawab pesan mbok Ina sambil terkekeh senang.
__ADS_1
Ara melanjutkan kegiatannya untuk membersihkan diri. Dia berencana untuk mengerjakan skripsinya setelah makan malam. Setelah makanannya siap, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi mbok Ina. Saat panggilannya baru tersambung, Ara mendengar suara pintu depan yang dibuka. Ternyata mbok Ina sudah pulang.
"Malam nak... Sudah makan?" tanya mbok Ina saat Ara mencium tangannya.
"Belum mbok, ini kebetulan baru mau makan. Kita makan sama-sama ya mbok..." jawab Ara sambil mengajak mbok Ina makan.
"Ia nak.. duluan aja ke meja makan nanti mbok nyusul." Mbok Ina berlalu menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Saat makan malam bersama, Ara sesekali melirik mbok Ina. Dia ingin sekali bertanya tentang majikan mbok Ina. Pada akhirnya dia memutuskan untuk bertanya.
"Mbok, gimana perasaan mbok selama ini kerja dengan orang kaya?" tanya Ara memulai percakapan.
"Ya seperti pada pembantu pada umumnya lah nak..." jawab mbok Ina.
"Keluarga mereka gimana sih mbok? Secara kan mereka kaya jadi pasti nggak pernah merasa kekurangan," tanya Ara penasaran.
"Terlalu dingin gimana sih mbok?" tanya Ara.
"Kayak nggak ada suasana hangat sebuah keluarga kayak canda tawa, obrolan ringan, atau aktivitas bersama gitu nak. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka juga berkumpul saat sarapan itupun jarang sekali terjadi. Tuan besar sibuk banget, nyonya juga sama-sama sibuk. Kalau tuan muda jarang sekali di rumah. Kalaupun ada interaksi antara orang tua dan anak itupun cuman titah tuan besar supaya tuan muda menyiapkan diri untuk menjadi pewaris yang pantas. Pokoknya gitu deh keadaan keluarga mereka." Terang mbok Ina menjelaskan keadaan keluarga majikannya.
Ara terdiam sejenak mendengar penjelasan mbok Ina. Memang, permasalahan keluarga adalah masalah utama seseorang terjerumus dalam hal-hal yang tidak baik. Tapi, semuanya kembali pada pribadi kita masing-masing.
"Terus, mbok Ina kenal nggak sama tuan muda? Mbok pernah liat dia berkelakuan aneh?" tanya Ara menjurus pada Adam.
"Kelakuan aneh gimana maksudmu nak? Mbok kenal kok. Namanya den Adam. Memang sih orangnya pendiam banget. Katanya dia kuliah di kampus kamu," kata mbok Ina heran dengan pertanyaan Ara.
__ADS_1
"Satu kampus sih mbok tapi beda jurusan. Dia jurusan bisnis."
"Pantas dia jurusan bisnis. Kan nanti dia yang gantiin bapaknya. Eh tapi, mbok sering banget liat tuan muda pulang ke rumah dalam keadaan berkeringat dingin sambil nahan rasa sakit. Dia kelelahan kali ya... Kan dia jarang di rumah. Mungkin dia sibuk sama pendidikan sama teman dan pacarnya itu." Kata mbok Ina.
Ara tertegun mendengar perkataan mbok Ina. Seketika dia teringat dengan pertemuannya dengan Adam tadi siang.
Keadaan Adam sama persis dengan yang diceritakan mbok Ina.
Sebenarnya sudah berapa lama kamu menggunakan barang haram itu ? batin Ara sambil mengeratkan pegangan pada sendoknya.
Mereka menyudahi makan malam mereka. Mbok Ina langsung pamit untuk beristirahat karena dia merasa sangat lelah begitu juga dengan Ara. Sesampainya di kamar, Ara tidak langsung mengerjakan skripsinya seperti rencana semula. Dia masih duduk di tempat tidur dan melamun.
Ara memikirkan masa lalunya dimana Dio juga mengalami kesakitan yang sama seperti Adam. Ara masih merasa kedaan Dio yang dulu sebagian besar disebabkan olehnya. Hal itu menyebabkan rasa penyesalan selalu menyakiti hidupnya sampai saat ini.
Dio, tadi siang aku seperti melihatmu lagi. Tapi, aku melihatmu sangat kesakitan. Akankah rasa sesalku berakhir lewat Adam ? Aku seharusnya sadar kalau Adam bukanlah kamu. Tapi rasanya aku ingin mengurangi rasa sesalku padamu lewat dia. batin Ara sambil memejamkan mata mengenang Dio.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued...
Halo semuanya... selamat membaca dan semoga suka. Jangan lupa dukung terus saya dengan like, komen, vote, dan rate ya... Sampai jumpa di bab selanjutnya.