My Dandellion

My Dandellion
Bab 13


__ADS_3

"Sungguh sangat disayangkan karena kamu berjuang mati-matian untuk apa yang memang dari awal bukan milikmu."


~ Author


Happy reading...


Adam dan orang tuanya berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Mereka berpelukan sambil menangis dalam rasa penyesalan yang dalam. Malam ini di ruangan kerja Hendrawan, Adam menangis sambil diapit oleh kedua orang tuanya.


"Sayang, dengerin mama," kata Ami sambil membingkai wajah Adam dengan kedua tangannya. Adam yang sedari tadi menunduk, menengadahkan wajah menatap Ami.


"Semuanya bukan salah kamu. Papa dan mama yang sudah bersalah. Kami tidak menyangka kalau membangun sebuah rumah tangga tanpa kejujuran dan rasa percaya itu mustahil," kata Ami sambil mengingat-ingat kesalahannya dulu.


Kalau saja dulu dia tidak sibuk mencurigai suaminya dan fokus mengurus anak-anaknya maka semua ini tidak akan terjadi.


Flashback on


Semenjak pertemuannya dengan Clara, Ami selalu merasa terancam. Berbagai kemungkinan terburuk selalu terlintas dalam otaknya. Satu hal yang Ami takutkan adalah Hendrawan akan menceraikan dia dan meninggalkan anak-anaknya untuk kembali bersama Clara.


Sedangkan Hendrawan merasa biasa-biasa saja dengan keberadaan Clara. Dia hanya menganggap hubungannya dengan Clara sekarang hanya sebatas hubungan bisnis yang sama-sama menguntungkan. Tidak ada niat untuk kembali menjalin cinta seperti dulu karena dia mencintai istri dan anak-anaknya lebih dari apapun.


Lagipula Clara juga bersikap biasa saja padanya. Malahan di awal pertemuan mereka, Clara menawarkan sebuah hubungan pertemanan. Hendrawan tidak menaruh dendam karena Clara meninggalkannya dulu melainkan dia berterima kasih karena dengan itu dia bisa menghargai apa arti keluarga yang sesungguhnya. Hendrawan tidak tahu kalau Clara mengintimidasi istrinya di belakang layar. Benar-benar perempuan ular sejati.


Tapi sayangnya Hendrawan tidak cukup peka dengan perubahan sikap Ami. Sikap posesif yang ditunjukkan Ami hanya dianggap biasa. Ami mulai sering ikut membantu pekerjaan Hendrawan dan selalu menemaninya meeting dengan klien di luar kota atau luar negeri. Ami seakan melupakan perannya sebagai ibu. Padahal biasanya dia akan menyempatkan diri untuk menjemput Liona pulang sekolah karena jam pulang SD berbeda dengan Adam.


Di suatu pagi yang cerah, empat orang dalam keluarga kecil itu sedang sibuk bersiap-siap. Anak-anak sedang bersiap untuk pergi ke sekolah sedangkan orang tua sedang bersiap-siap untuk menemui klien di luar kota.


Usaha showroom mobil yang dirintis oleh Hendrawan berkembang pesat. Banyak klien yang ingin ikut bekerja sama khususnya yang berasal dari bidang yang sama yaitu bidang otomotif. Pertemuan-pertemuan untuk menghasilkan kesepakatan bisnis biasanya dilakukan di tempat Hendrawan. Kecuali kalau ada hal-hal yang perlu ditinjau di tempat klien seperti pembuatan mesin.


"Mama, sebentar bisa jemput Liona nggak? Mama udah lama nggak jemput Lio... Masa Lio harus nungguin kakak pulang? Kan lama Ma... " kata Liona memelas. Ami sedikit terusik dengan permintaan disertai wajah memelas Liona. Tapi dia tidak boleh goyah karena kali ini mereka akan mengadakan pertemuan di kantor Clara. Dia merasa sudah benar dengan melakukan hal ini. Dia melindungi apa yang menjadi miliknya dan anak-anaknya.


"Maaf ya sayang, mama janji besok mama akan jemput Lio supaya Lio nggak perlu capek-capek nungguin kakak pulang," bujuk Ami menenangkan Liona. Mereka melakukan perjalanan dinas dan akan berusaha untuk langsung pulang.


Liona melihat ibunya sambil berpikir keras. Dia hanya harus bersabar lagi untuk hari ini. Besok dia tidak perlu lagi capek-capek menunggu kakaknya Adam pulang sekolah.


"Ok mam... " kata Liona sambil tersenyum dan memeluk Ami erat. Ami membalas pelukan Liona dengan sayang.

__ADS_1


'Sabar sayang, mama berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga kita," tegas Ami dalam hati.


"Dek, ayo berangkat. Nanti kita telat. Entar kalau pulang sekolah, tungguin kakak di sekolah ya nanti kakak jemput setelah pulang sekolah. Jangan nyebrang jalan sembarangan ya dek," ucap Adam mengingatkan Liona.


Mereka berangkat bersama-sama dengan mobil diantar ayah dan ibunya. Ban sepeda Adam kempes dan kemarin dia tidak sempat menambalnya jadi hari ini sepeda tersebut tidak bisa digunakan.


Walaupun keadaan ekonomi keluarga mereka sudah mulai membaik tapi kebiasaan hidup sederhana masih terus mereka jalani karena merasa nyaman. Mobil yang mereka pakai sekarang juga merupakan barang yang terpaksa Hendrawan beli untuk keperluan transportasi saat bertemu klien di luar kota.


@@@@@


Ami dan Hendrawan sudah tiba di tempat tujuan tetapi sayangnya yang bersangkutan tidak ada di tempat. Clara tidak menghadiri pertemuan kali ini karena berhalangan sehingga harus diwakilkan pada asistennya. Ami sedikit lega dengan hal ini.


Yang mereka tidak ketahui, Clara sedang menyiapkan rencana jahat pada mereka. Dia sedang memantau kegiatan anak-anak mereka di sekolah. Dia sudah bertekad untuk mendapatkan Hendrawan jadi semua penghalang harus segera disingkirkan.


Saat ini dia sedang berada di depan sekolah Adam dan Liona. Dalam pantauannya, banyak anak SD yang sudah pulang dan dijemput oleh orang tuanya masing-masing. Clara sudah mendapatkan informasi dari asistennya kalau Hendrawan menghadiri meeting bersama Ami. Hal ini berarti tidak ada yang menjemput Liona sepulang sekolah.


Clara keluar dari mobilnya dan melihat Liona sedang berdiri menunggu di depan pos satpam sekolahnya. Clara mencoba menghampiri Liona yang kebingungan karena dia tidak mengenal Clara.


"Dek, sudah pulang sekolah? Lagi nungguin siapa?" tanya Clara pada Liona.


Clara yang kesal karena tidak digubris oleh Liona pun segera bangkit dan pergi dari situ. Dia bisa saja membawa pergi Liona dengan paksa tapi dia tidak mau ambil resiko karena ada dua orang satpam yang melihatnya saat dia mulai berbicara pada Liona.


Clara kembali ke mobilnya dan memutuskan untuk terus menunggu di situ sambil memantau keadaan. Dia ingin melihat siapa yang akan menjemput Liona pulang. Rencana selanjutnya akan dia pikirkan nanti.


@@@@@


Bel waktunya pulang disekolah Adam berbunyi. Semua murid menyambut dengan sukacita karena akhirnya mereka bisa pulang. Begitupun dengan Adam. Dia sudah tidak sabar untuk menjemput adiknya dan segera pulang ke rumah. Semoga adiknya tidak kelelahan karena menunggu dia.


Saat akan keluar dari kelas, teman-temannya yang lain memanggil namanya dan mengajaknya main game online di warnet depan sekolah.


"Dam, ikutan kita main game online di warnet depan yuk! Nanti selesai main kita jemput Liona dan pulangnya bareng. Tenag aja, nggak akan lama. Gue traktir deh ..." ajak Raga sambil melingkarkan lengannya pada bahu Adam.


"Tapi nanti kalau Liona nungguin gimana dong Ga?" tanya Adam pada Raga. Dia tampak ragu dengan ajakan Raga. Dia juga ingin ikut bermain bersama teman-temannya. Tapi masalahnya dia khawatir dengan Liona.


"Kan warnetnya berada persis di depan sekolahnya Lio. Nanti kita liat dulu keadaannya Lio dari depan warnet. Lio kan biasanya nungguin kita di pos satpam. Aman deh kan ada satpam," bujuk Raga memberi alasan pada Adam.

__ADS_1


Sejenak menimbang tawaran Raga, akhirnya Adam setuju untuk ikut teman-temannya. Dia berjanji dalam hati untuk tidak terlalu lama bermain. Dia bahkan sudah berencana pulang duluan jika nantinya Raga masih ingin melanjutkan permainan.


Saat berjalan melewati sekolah Liona untuk menuju warnet, Adam sedang asyik bercanda dengan teman-temannya sehingga dia lupa melihat keadaan Liona. Dia mengikuti teman-temannya tanpa ada beban sedikitpun. Ternyata hal tersebut akan membawanya pada rasa penyesalan yang besar.


@@@@@


Liona merasa sudah menunggu kakaknya terlalu lama. Dia memutuskan untuk pergi menemui Adam di sekolahnya. Saat sedang berjalan, Liona melihat Adam bersama teman-temannya berjalan memasuki warnet. Dia mencoba berteriak memanggil-manggil kakaknya tetapi suara bising kendaraan yang ramai membuat suaranya teredam. Saat Liona menyebrang jalan untuk menyusul kakaknya, dia tertabrak mobil yang melaju kencang. Liona terseret sejauh dua meter dan tubuhnya berlumuran darah. Sebelum memejamkan mata untuk selamanya, dia sempat melirik ke arah warnet dimana dia melihat kakaknya masuk. Ya, Liona meninggal saat itu juga sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.


@@@@@


Clara mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia baru saja menabrak Liona saat anak itu akan menyebrang jalan. Entah setan apa yang ada di pikirannya saat itu. Yang dia tahu, dia melihat Liona menyebrang jalan dan dia langsung menginjak gas dan mobilnya menabrak tubuh kecil itu. Dia langsung meninggalkan tempat kejadian tanpa perduli dengan tubuh mungil Liona yang berlumuran darah.


Dia mengendarai mobil menuju apartemennya untuk menenangkan diri. Dia sudah sampai sejauh ini tidak ada jalan untuk mundur. Dia harus dengan tujuan awalnya untuk merebut kembali Hendrawan. Dia agak sedikit lega karena keadaan di sekitar tempat kejadian agak sepi. Banyak anak sekolah yang sudah pulang ke rumah. Selain itu, dia juga langsung pergi sehingga dia hanya bisa berharap tidak ada orang yang mengenali mobilnya. Dia pastikan akan mengganti mobilnya untuk menghilangkan jejak.


Flashback off


.


.


.


.


.


To be continued


Author's note :


Hallo semuanya... Maaf baru update. Rutinitas setelah berlakunya new normal benar-benar melelahkan. Sudah hampir terbiasa dengan rasa santai saat lockdown jadi agak sedikit tidak rela kalau aktivitas kantor sudah mulai berlaku kembali. Banyak penyesuaian yang harus dilakukan. (Maaf curhat dikit...)


Semoga kalian semua suka dengan cerita ini. Jangan lupa dukung saya dengan like,komen,vote, dan rate. Simpan cerita ini sebagai cerita favorit kalian supaya kalian tahu kalau ada update part baru. Terima kasih.


Sampai jumpa di bab selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2