
..."My parents are my backbone. Still are. They're the only group that will support you if you score zero or you score 40."...
~ Kobe Bryant
Happy reading...
Adam mulai menjalani hari-harinya di panti rehabilitasi itu. Panti rehabilitasi itu bernama Harapan Kasih. Disana Adam menjalani proses detoksifikasi untuk membersihkan diri dari racun. Adam mengonsumsi obat major tranquilizer untuk menghadapi gangguan sistem neuro-transmitter pada susunan saraf pusat otak. Selain itu juga, untuk mengatasi nyeri Adam mengonsumsi obat antinyeri analgetik nonopiat yang pastinya tidak mengandung narkoba.
Adam merasa kuat menjalani semuanya karena dukungan orang tuanya sangat terasa. Ayah dan ibunya selalu menemaninya di setiap fase pengobatan yang dia jalani. Bahkan ayah dan ibunya selalu bergantian menginap untuk menemaninya di tempat itu. Terkadang, muncul rasa iba di hatinya karena orang tuanya yang sudah lelah mengurus perusahaan harus tetap menemaninya disini.
Pernah satu kali dia berbicara pada Ami ibunya, "Ma, lebih baik mama istirahat di rumah. Adam nggak apa-apa kok sendiri disini. Lagipula disini juga aman."
Ami yang mendengarnya hanya tersenyum menenangkan dan sambil mengelus rambut Adam dia berkata,
"Mama nggak apa-apa sayang. Mama mau nemenin kamu disini biar kamu semangat dan nggak merasa sendirian."
Selain orang tuanya, ada bodyguard yang disewa untuk menjaga Adam 24 jam di tempat itu. Tapi hebatnya, mereka menyamar sebagai pekerja di panti rehabilitasi itu sehingga tidak akan ada yang tahu. Adam mengerti kenapa orang tuanya harus menyewa bodyguard untuk menjaganya. Dia juga tidak ingin ada pihak-pihak yang ingin menyabotase proses pengobatannya sehingga usahanya akan sia-sia belaka.
@@@@@
Di ruang kerjanya Hendrawan sedang duduk di kursi kebesarannya dan berhadapan dengan sang asisten kepercayaannya yang bernama Doni. Dari suasana yang terasa sepertinya mereka berdua sedang terlibat dalam sebuah topik pembicaraan yang serius.
"Untuk menciptakan alibi, buatlah kalau putraku sedang pergi berlibur ke luar negeri."
"Baik Tuan akan saya lakukan. Apa perlu kita menambah bodyguard untuk menjaga tuan Adam? Kalau perlu akan saya kabarkan pada agensi keamanan untuk melakukannya."
Hendrawan terdiam sejenak untuk berpikir. Sesaat kemudian dia menjawab,
"Ya. Sepertinya kita perlu menambah bodyguard atau lebih tepatnya mata-mata. Saya rasa keamanan untuk Adam sudah cukup. Selain itu, rumah sakit itu juga milik teman baikku sewaktu SMA dulu. Kami hilang kontak saat dia akan melanjutkan studi kedokteran di luar negeri. Ternyata sekarang dia sudah mendirikan sebuah rumah sakit khusus untuk pecandu narkoba. Saya juga sudah bertemu dengannya dan dia juga bersedia membantu."
"Baiklah kalau begitu Tuan. Akan saya lakukan seperti perintah Tuan. Jika sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya undur diri."
Asisten Doni membungkukkan badan sambil bergerak mundur untuk pergi dari tempat itu tapi perkataan Hendrawan menghentikannya.
"Tunggu sebentar. Aku ingin kamu melakukan sesuatu lagi. Ini berkaitan dengan nona Ara. Teman putraku yang membantu Adam. Kamu pasti sudah bertemu dengannya. Dia juga ikut mengantarkan Adam saat itu."
"Saya mau kamu mencari tahu semua yang berkaitan dengan nona Ara. Mulai dari latar belakang keluarganya, masa lalu sampai kehidupannya saat ini."
"Apakah Tuan mencurigai sesuatu dari nona Ara? Apa menurut Tuan nona Ara bukan orang baik?" tanya Asisten Doni.
"Entahlah. Tapi dia bilang pada saya kalau dia menolong Adam karena ada rasa penyesalan di masa lalu yang belum tuntas. Dari matanya saya bisa melihat kejujuran dan kesedihan yang mendalam. Tapi kita perlu memastikannya bukan?" kata Hendrawan.
__ADS_1
"Baik Tuan akan saya laksanakan. Data-data mengenai nona Ara akan saya dapatkan secepat dan seakurat mungkin. Kalau begitu saya permisi Tuan."
"Ya dan terima kasih Doni."
Hendrawan mempersilahkan Asisten Doni keluar tak lupa mengucapkan terima kasih.
Setelah Asisten Doni keluar, Hendrawan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil menutup matanya pertanda lelah. Dia memijit pelipisnya sambil berpikir mengenai keadaan keluarganya sekarang. Dia belum berbicara berdua dengan Ami karena semenjak Adam masuk panti rehabilitasi, mereka berdua sibuk mengurus dan menjaga Adam.
Mereka selalu menghabiskan waktu untuk menginap bersama Adam. Selain itu, dia pasti akan sibuk mengurus perusahaan. Hendrawan merasa perlu waktu untuk membicarakan tentang hubungannya dengan Ami berdua saja. Dari semua rasa yang ada benaknya, rasa bersalah yang paling mendominasi karena dia sadar semua ini berawal dari dia. Kalau saja dia tidak bermain api, pasti istri dan anak-anaknya tidak akan ikut terbakar.
@@@@@
Ara sedang duduk santai membaca buku di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Mbok Ina pasti sudah terlelap tidur daritadi karena kelelahan bekerja di rumah Adam. Ara memang terbiasa tidur larut. Banyak kegiatan yang dia lakukan untuk mengisi waktu seperti membaca buku-buku kesukaannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan nama Risa sahabatnya. Memang saat mereka masih sibuk kuliah, Risa sering menelponnya larut malam untuk menanyakan tentang tugas kuliah atau sekedar mengobrol sambil mengerjakan tugas.
"Hallo, selamat malam Sa ... " sapa Ara mengawali pembicaraan.
"Hallo, malam Ra. Lo udah tidur ya? Maaf ya kalau gue ganggu," balas Risa di seberang sana.
"Aku belum tidur kok karena kebetulan belum ngantuk. Ini masih baca buku. Kalau kamu masih ngapain?" tanya Ara.
Ara terdiam sejenak mendengar pertanyaan Risa. Dia setengah yakin dia akan menjalani masa koas di rumah sakit milik Lion Grup karena dia adalah penerima beasiswa dari perusahaan tersebut.
"Kayaknya nanti aku koas di rumah sakit milik Lion Grup. Itu lho, rumah sakit yang katanya milik cowok yang sering kamu bicarain itu. Kamu kan tahu sendiri aku bisa kuliah karena dibiayai oleh perusahaan itu. Kalau kamu kira-kira mau koas dimana?"
"Iya sih ... kayaknya emang kalian yang menerima beasiswa dipersiapkan khusus oleh perusahaan itu untuk menjadi kandidat terbaik untuk bekerja di sana. Kalau gue sih, tergantung dari rekomendasi kampus aja. Tapi kalau bisa gue mau minta buat ditempatin di Rumah Sakit Jiwa aja. Gue bakalan senang kalau sampai bisa koas di sana. Gue juga pernah bicarain hal ini sama dospem skripsi gue. Dia setuju dan mau bantu gue buat koas disana. Menurut kamu gimana Ra?"
Risa meminta pendapat Ara tentang pernyataannya itu. Terdengar jelas dari kata-katanya kalau dia benar-benar ingin menjalani koas di RSJ.
"Risa sahabatku, niat kamu untuk menjalani koas di RSJ itu baik. Selama ini juga aku liat kamu sangat tertarik dengan dunia psikologi. Jadi sebagai sahabat yang baik, aku akan dukung semua niat baik kamu. Tapi, kamu nggak mau berbagi cerita sama aku tentang motivasi kamu kerja di RSJ?"
Ara sangat mendukung niat Risa sekaligus merasa penasaran dengan motivasi di balik niat itu. Risa tidak langsung membalas pertanyaan Ara. Dia masih diam karena dia merasa tidak yakin untuk menceritrakan keadaannya pada Ara. Niatnya untuk berkerja di RSJ memang memiliki alasan kuat yang berhubungan dengan masa lalu dan masa sekarang. Dia berjanji dalam hati kalau dia sudah siap, dia pasti akan menceriterakan semuanya pada Ara.
"Ya. Lo benar Ra. Gue memang memiliki alasan kuat untuk itu. Maaf ya, kalau gue belum bisa cerita sekarang. Tapi nanti kalau gue siap, lo orang pertama yang akan jadi tempat gue buat cerita."
Ara tertegun mendengar jawaban Risa. Sambil menghela napas dia menjawab,
"Ia Sa. Kapanpun kamu siap berbagi, aku siap mendengarkan. Yang penting kamu harus selalu baik-baik aja."
Mereka berdua sama-sama tersenyum senang dengan pembicaraan ini. Sahabat akan selalu mengerti. Sahabat juga akan selalu ada kapanpun kita membutuhkan.
__ADS_1
"Oia Ra, kebaya buat wisuda nanti udah siap belum? Kalau belum kita cari sama-sama yuk. Kebetulan gue juga belum siapin kebayanya nih. Gimana?" tawar Risa.
"Aku juga belum siapin kebaya Sa. Rencananya sih mau pergi bareng Mbok Ina tapi akhir-akhir ini Mbok Ina selalu sibuk di rumah majikannya. Boleh deh kalau kita pergi bareng buat nyari kebaya. Kamu bisa bantuin aku karena kamu tahu sendiri kalau aku payah banget buat urusan fashion."
Ara menjawab dengan senang karena Risa mengajaknya untuk mencari kebaya.
Risa memang tidak tahu kalau Mbok Ina bekerja di rumah Adam. Ara juga tidak ingin membagi informasi karena dia takut malah jadinya gosip. Apalagi sekarang dengan kondisi Adam yang sedang menjalani pengobatan. Ara harus benar menjaga tutur katanya agar kabar ini tidak bocor kemana-mana bahkan Risa sekalipun.
"Bagus deh kalau lo mau, besok gue jemput jam 10 buat pergi bareng. Kebetulan jam segitu mall belum terlalu ramai jadi kita nggak akan pusing deh buat nyari perlengkapan wisuda."
"Ok deh Sa, kalau gitu sekarang kita tidur biar besok nggak telat. Kalau mau otw kabarin ya ... " Ara menyetujui tawaran Risa dengan senang hati.
"Ok Ara. Good night. Have a nice dream sahabatku."
"Good night too Risa."
Mereka mengakhiri percakapan malam itu dengan sebuah janji untuk pergi bersama besok. Yang pasti sekarang Ara harus segera tidur agar besok dia bisa bangun pagi. Dia berencana untuk beres-beres rumah dan membuatkan sarapan supaya Mbok Ina bisa langsung berangkat ke rumah Adam. Dia juga ingin menanyakan tentang keadaan Adam pada Mbok Ina karena dia belum menjenguk Adam. Dan sepertinya Adam tidak diijinkan untuk menerima tamu selama masa pengobatannya di panti rehabilitasi.
Ara menyimpan bukunya di rak buku dan merapikan meja belajarnya. Dia melangkah menuju tempat dimana biasa dia tidur. Pojokan kamar. Dia tidak akan bisa tertidur nyenyak di atas tempat tidur. Menurutnya tertidur dengan posisi yang tidak nyaman di pojokan kamar lebih baik daripada di tempat tidur.
Ara mengatur tempat dan mengambil posisi duduk sambil bersandar di tembok. Ara memeluk selimut tebal yang membungkus tubuh mungilnya dan tak lama kemudian dia terlelap menuju mimpi.
.
.
.
.
.
To be continued ...
Author's note :
Hallo kalian semua ... Terima kasih karena sudah membaca karya saya. Maaf karena saya jarang update dikarenakan kesibukan di dunia nyata.
Cerita tentang pengobatan Adam di panti rehabilitasi, saya ambil dari beberapa kesaksian teman-teman mantan pecandu narkoba yang ditulis di internet dan buku. Kalau ada pembaca yang kebetulan tahu atau pernah mengalami mungkin bisa sharing di kolom komentar.
Sampai jumpa di part selanjutnya. Jangan lupa dukung saya dengan like, komen, vote, dan rate supaya saya semakin semangat untuk update cerita ini. Terima kasih.
__ADS_1