My Dandellion

My Dandellion
Bab 5


__ADS_3

“Hope lies in dreams, in imagination, and in the courage of those who dare to make dreams into reality.”


~ Jonas Salk


Happy Reading.


Keesokan pagi harinya, Ara bangun dari tidurnya yang beralaskan buku-buku bacaan penunjang skripsi. Rupanya


semalam dia terlalu lelah mengerjakan skripsi dan akhirnya tertidur di meja belajarnya. Tapi beruntung, skripsinya sudah selesai direvisi dan memang harus selesai karena hari ini adalah jadwal konsultasi dengan dokter Rudi


sebagai dosen pembimbing. Dia melirik jam berbentuk doraemon yang menunjukkan pukul 8 pagi. Dia


berencana untuk melakukan konsultasi dengan dosen pembimbingnya. Selain itu, ada misi lain yang harus dia lakukan hari ini.


Ya. Ara telah memutuskan untuk terlibat dalam hidup Adam. Dia akan menemui Adam untuk memastikan apa yang


dilihatnya kemarin di atap. Ara sadar mungkin dia telah salah langkah. Dia melihat Adam sebagai Dio. Rasa bersalah dan penyesalan yang sudah bersarang lama dalam hatinya membuat dia buta. Ara hanya berharap  dengan tindakannya ini hidup dan masa depannya akan sedikit lebih mudah.


Saat masih melamun, ponsel bututnya berdering dan menampilkan nama Risa sahabatnya.


"Good morning my best friend ... Bangun dan lihatlah betapa indahnya dunia. " Sapa Risa memulai percakapan. Risa memang secerewet itu memulai percakapan di ponsel meskipun sang penerima telepon belum mengucapkan hallo.


"Pagi juga Risa. Hari ini kamu ke kampus?" tanya Ara membalas sapaan Risa sambil terkekeh.


"Maaf ya Ra, hari ini gue nggak ke kampus. Revisian skripsi gue belum selesai. Lagipula tenggang waktu dari dokter Nana juga lusa." Jawab Risa memohon maaf.


"Ya udah deh. Jangan sampai lupa selesaiin skripsinya ya ... Semangat" kata Ara dengan nada ceria.


"Semangat juga ... Hari ini loe ke kampus?" tanya Risa


"Ia sa. Aku ke kampus karena jadwal konsultasinya hari ini." jawab Ara sambil mulai berdiri untuk bersiap-siap.


"O... yaudah deh. Hati-hati ya Ra, jangan melamun di jalan. Bye-bye." ucap Risa mengakhiri percakapan.


"Bye Risa."


Ara mulai bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Suara mbok Ina yang setiap pagi membangunkannya sudah tidak ada. Ara tahu betul mbok Ina sudah berangkat ke rumah majikannya dari pukul setengah 7 tadi. Meskipun masih lelah dan mengantuk, Ara harus memulai hari ini dengan semangat. Ada hal bagus yang menjadi alasannya untuk bersemangat. Semoga Tuhan mempermudah semua urusannya hari ini.


@@@@@


Di kediaman keluarga Adam seperti pagi sebelumnya, sarapan berjalan dengan sangat hening. Mbok Ina berdiri di

__ADS_1


dekat meja makan untuk memastikan segala kebutuhan sarapan majikannya terpenuhi. Sesekali dia melirik mereka yang sedang serius menghabiskan sarapannya masing-masing.


"Bagaimana hubunganmu dengan putri Bagaskara itu?" tanya Hendrawan sebagai kepala keluarga.


"Biasa aja pa." Jawab Adam singkat dan dingin.


"Kalau belum terlalu serius, sebaiknya hubungan kalian jangan dilanjutkan. Papa tidak terlalu nyaman dengan keluarga mereka." kata Hendrawan memberi perintah.


"Kalau papa tidak suka seharusnya papa tidak perlu perduli. Selama ini Adam baik-baik saja dengan keadaan ini." Jawab Adam seraya bangkit berdiri meninggalkan meja makan meskipun dia belum menghabiskan makanannya.


Setelah Adam pergi keadaan kembali seperti sedia kala. Diam dan sepi. Hanya bunyi denting sendok yang meramaikan ruang makan itu.


"Tadi malam kamu mimpi buruk kali ya sehingga pagi ini kamu bicara dengan Adam. Berhentilah perduli pada


kami tuan Hendrawan." tandas sang nyonya rumah, nyonya Ami.


Hendrawan hanya melirik tajam istrinya sedangkan Ami hanya menghabiskan sarapannya.


Sepertinya akan adu argumen lagi pagi ini. Untung saja tuan muda sudah berangkat. Kasian juga dia melihat orang


tuanya bertengkar terus. batin mbok Ina yang berdiri gelisah meskipun pemandangan ini bukan pertama kali.


"Ya seharusnya aku tidak perlu perduli padanya. Sama seperti ibunya yang hanya sibuk menghabiskan waktu untuk mengurus bisnis dan kegiatan di luar yang tak begitu penting." Kata Hendrawan santai dengan tujuan untuk membalas kata-kata Ami.


pecahan gelas terdengar di ruang makan. Sedangkan mbok Ina rasanya ingin pergi dari sana saja. Tidak nyaman rasanya menyaksikan perkelahian mereka.


“Jangan pernah lupa kalau semua ini berawal dari kamu. Ingat baik-baik kalau kamu adalah penyebab semua


kehancuran ini.“ teriak Ami pada Hendrawan. Raut wajahnya yang memerah benar-benar menunjukkan kalau dia marah.


Hendrawan hanya berdiri sambil menatapnya sekilas sambil berlalu pergi dari sana. Saat berbalik dari Ami, raut


wajahnya yang keras dan dingin langsung berubah sendu. Dia secepatnya pergi dari sana karena dia tidak ingin melanjutkan lagi pertengkaran ini.


Ami yang melihat kepergian Hendrawan begitu saja langsung terduduk lelah di kursi. Air matanya mengalir di


pipinya yang cepat-cepat dia hapus. Dia merasa marah dan malu pada dirinya sendiri. Sedangkan mbok Ina yang menyaksikan semuanya hanya bertingkah seperti layaknya patung.


Andaikan saja mereka mau menurunkan sedikit ego. Pasti ada cara untuk menyelesaikan masalah mereka. Batin


mbok Ina merasa prihatin dengan keadaan rumah tangga majikannya.

__ADS_1


@@@@@


Ara keluar dari ruang dosen dengan menghela napas. Ternyata masih ada lagi bagian skripsi yang harus dia perbaiki. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang saat ia berjalan menuju kantin untuk istirahat sebentar. Sampai di pintu kantin dia langsung teringat dengan misi khusus yang sudah direncanakannya tadi malam. Dia langsung melangkahkan kaki menuju tangga yang akan membawanya ke atap.


Sesampainya di sana, dia melihat kesekeliling dan tak menemukan siapapun di sana. Dia duduk sebentar sambil


menikmati angin sejuk yang bertiup. Matahari yang tidak terlalu terik hari ini membuat Ara nyaman duduk disini.


Sayang sekali tempat setenang ini disia-siakan. Bahkan tempat ini lebih tenang dan sepi daripada perpustakaan. Batin Ara.


Ara duduk agak lama disitu sambil menikmati suasana di sana. Saat dirasanya sudah terlalu lama, dia melirik


sekali lagi ke arah pintu dan ternyata tidak ada orang yang masuk.


Sepertinya hari ini dia tidak datang. Aku bisa gagal menjalankan misi kalau begini ceritanya. Mau bertanya pada Risa tapi takutnya nanti dibilang suka lagi sama si Adam. Bisa-bisa aku dibully sama ceweknya Adam lagi. Aduh, jangan sampai terjadi. Aku hanya ingin menyelesaikan studiku dengan tenang. Lebih baik kucoba lagi besok saja. Batin Ara seraya beranjak dari situ.


Saat membuka pintu, Ara dikejutkan dengan keberadaan Adam yang hanya menatap datar ke arahnya. Ara langsung merasa gugup karena sejujurnya semua yang sudah dia rencanakan saat bertemu Adam hilang begitu saja dari otaknya. Dia segera bergeser untuk memberi Adam agar tidak menghalangi pintu. Karena saking gugupnya, dia sudah akan berbalik dan pergi dari sana. Tapi tiba-tiba dia urung melakukannya.


“Hei, kemarin aku melihat apa yang kamu lakukan disini. Aku tahu obat apa yang kamu gunakan kemarin. Itu heroin kan? Kamu adalah seorang pemakai.“ Kata-kata Ara berhasil menghentikan langkah Adam.


Adam hanya berbalik dan menatap Ara dingin. Dia sedikit terkejut dengan perkataan Ara tapi dia tidak ingin Ara


tahu. Menurutnya, Ara hanya ingin mengancam dan memanfaatkannya.


“Kalau lo tahu, terus kenapa? Lo nggak tahu gue siapa? Gue bahkan bisa buat loe keluar dari kampus ini dan tidak bisa lagi melanjutkan pendidikan.“ tantang Adam pada Ara yang masih bergeming menatapnya.


“Aku akan membantumu lepas dari barang haram itu. Kamu bisa percaya padaku.“ Jawab Ara tegas supaya bisa meyakinkan Adam.


Adam hanya tertegun menatap mata bening kecoklatan Ara yang indah. Dia tidak menyangka kalau Ara akan menawarkan bantuan. Haruskah dia menerimanya?


.


.


.


.


.


To be continued

__ADS_1


Author's Note :


Halo semuanya... selamat membaca ceritaku. Semoga suka ya... Jangan lupa buat tinggalin jejak berupa like, komen,vote, dan rate. Terima kasih.


__ADS_2