My Dandellion

My Dandellion
Bab 3


__ADS_3

When i see you, that regret comes back. Even though you are not him.


~ Arabelle


Happy reading


Dalam sebuah ruangan kuliah, banyak mahasiswa yang sedang mengikuti kuliah dengan serius. Ada yang sibuk mencatat penjelasan dosen dan ada beberapa yang hanya mendengar dengan seksama. Tidak ada raut santai di wajah mereka karena penjelasan di kuliah ini sangat penting. Mereka semua sudah masuk semester akhir perkuliahan di fakultas kedokteran. Sebentar lagi jika tidak ada aral melintang, mereka semua akan menghadapi dunia medis yang sesungguhnya. Koas.


“Baik. Kita cukup sampai disini. Simak dan pelajari semuanya baik-baik. Ingat, tanganmu akan menyelamatkan banyak nyawa. Belajar dengan sungguh-sungguh!“ ucap sang dosen mengakhiri kuliah hari ini disertai dengan pesan dan motivasi.


Setelah dosen keluar, sedikit demi sedikit mahasiswa keluar dari ruangan. Ada yang tinggal dan beristirahat sejenak. Arabelle dan temannya Risa memilih merapikan buku-buku dan peralatan tulis mereka untuk pergi makan di kantin. Risa adalah teman baik Ara. Mereka berdua berkenalan sejak masa OSPEK. Perkenalan keduanya diawali ketika mereka sama-sama mendapatkan hukuman karena lupa membawa atribut ospek. Sampai sekarang, mereka menjadi teman baik.


“Ra, gue lelah fisik dan lelah hati. Dedek nggak sanggup ...” ucap Risa lunglai sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.


“Sabar Sa, tinggal sedikit lagi kok. Koas nanti lebih sulit lho... Masa semangatnya udah kendor dari sekarang. Semangat, semangat, semangat!” Kata Ara menyemangati sambil memijit bahu Risa pelan-pelan.


“Tadi malam gue begadang buat nyelesaiin revisi skripsi. Eh ternyata, ngerjain skripsi dekat tempat tidur itu benar benar cobaan. Nggak bisa konsentrasi karena rasanya gue denger tempat tidurnya manggil-manggil buat tidur. Mungkin ruang keluarga atau dapur tempat paling bagus buat ngerjain tugas.“ Risa manggut-manggut sambil membenarkan perkataannya.


"Ada-ada aja kamu sa... Itu mah kamunya yang udah ngantuk. Tapi tugasnya udah selesai kan?” Ara terkekeh menanggapi pemikiran Risa.


“Udah dong... Nggak mau uji nyali sama pembimbing gue si dosen killer itu.“ Risa berkata sambil membayangkan berapa banyak kesulitan lagi yang akan didapat jika dia terlambat menyerahkan revisi.


“Ke kantin yuk... Lapar nih. Gue belum sarapan tadi pagi,“ ajak Risa sambil menggandengan Ara yang memegang buku tebalnya.


Keduanya berjalan menuju kantin sambil berbicara tentang topik-topik ringan dan persiapan mereka untuk yudisium dan koas nanti. Saat tiba di depan pintu kantin, seorang pemuda tak sengaja menabrak Ara dan membuat buku tebal yang dipegang Ara jatuh. Tas ransel pemuda tersebut juga jatuh dan sedikit terbuka.

__ADS_1


Ara sempat melihat sebuah jarum suntik yang berisi cairan bening kecoklatan. Kondisi pemuda tersebut juga berkeringat dan seperti menahan sakit. Ara sempat merasa deja vu dengan keadaan ini. Pemuda itu hanya membereskan tasnya dan langsung pergi melewati Ara tanpa mengatakan apapun. Saat mengambil buku tebalnya, Ara menyadari sesuatu dan langsung berbalik mengejar mengikuti pemuda itu tanpa menghiraukan teriakan Risa.


Ara berlari mengejar pemuda itu ke bagian toilet tapi kemudian dia melihat dia berlari keluar menaiki tangga menuju atap. Ara menaiki tangga dengan napas ngos-ngosan. Sesampainya di pintu atap, Ara menenangkan dirinya yang gemetar. Secara perlahan, dia membuka pintu tersebut dan melihat pemuda tersebut sedang menyuntikkan cairan bening kecoklatan yang tadi dilihatnya ke dalam pembuluh darah di lengannya.


Ara terus mengamati kegiatan dan reaksi si pemuda setelah menyuntikkan obat itu. Ara tahu betul obat apa yang sedang digunakan pemuda itu. Seketika dirinya merasa seperti di keadaan yang sama di masa lalu. Bayangan tersebut datang seiring dengan rasa penyesalan besar yang masih menghantuinya hingga saat ini.


Dengan wajah pucat, Ara berbalik menuruni tangga dan kembali menuju kantin. Kejadian hari ini seperti pukulan besar karena dia kembali diingatkan akan masa lalunya. Jantungnya berdebar keras dan telinganya seakan berdenging. Dia berbelok menuju toilet wanita dan menenangkan dirinya di sana sampai teleponnya berdering. Nama kontak Risa muncul di layar ponselnya. Dia bercermin sekali lagi sambil menenangkan dirinya dia kembali menuju kantin.


“Loe kemana sih Ra... loe sakit perut ya makanya lama banget ke toilet ? “ sahut Risa saat Ara baru akan duduk di kursi kantin.


“Ia sa. Tadi perut aku agak sedikit sakit tapi udah beres kok,“ jawab Ara sambil tersenyum.


“Loe mau makan apa? Tadi gue udah pesan duluan. Bentar lagi kayaknya makanan gue udah mau datang.“ Risa bertanya sambil melirik penjual bakso yang sedang menyiapkan makanannya.


Tak lama berselang, bakso pesanan Risa datang bersamaan dengan Ara yang memegang minuman pesanannya. Risa yang sudah sangat lapar langsung melahap makanannya ditemani Ara yang sedang menikmati minumannya


sambil membaca buku yang dipegangnya. Tiba-tiba Risa berhenti mengunyah dan memandang Ara.


“Eh Ra, tahu nggak siapa yang tadi nabrak loe di pintu kantin?“ tanya Risa.


“Aku nggak tahu dia siapa. Orang dianya nggak punya sopan santun. Main pergi aja tanpa bilang maaf,“ ujar Ara sambil tetap membaca buku menutupi rasa sedihnya.


“Loe kurang update sih makanya nggak tahu. Dia itu namanya Nathaniel Adam dari jurusan bisnis dan manajemen. Biasa dipanggil Adam. Cowok paling keren di kampus ini. Pewaris tunggal Lion Grup yang terkenal itu lho. Bisa


dibilang dia itu most wanted guy di kampus ini. Tapi sayang dia udah punya cewek. Sama-sama tajir juga namanya Aurel,“ jelas Risa semangat sambil mengunyah bakso.

__ADS_1


Jadi namanya Adam. Batin Ara.


“Makan yang bener Sa ... bakso dan kuahnya nanti muncrat kemana-mana,“ kata Ara memperingatkan Risa.


“Ia mama ... Tapi ini fakta bukan gosip lho. Aurel itu udah kayak anjing herdernya si Adam. Kalau sampai ada cewek yang ketahuan suka sama si Adam pasti dibully. Pernah ada adik semester mereka yang nekat buat nembak, eh dibully sampai akhirnya pindah kampus. Seram kan dia ... Kalau di dunia dongeng mungkin dia udah jadi nenek sihir,“ ledek Risa sambil terus menghabiskan baksonya yang tinggal sedikit.


Ara terdiam mendengar penjelasan Risa. Dia mengenal Lion grup karena mbok Ina bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah pemimpin sekaligus pemilik grup tersebut. Selain itu, kampus ini juga berada dalam naungan Lion grup. Ara adalah salah satu penerima beasiswa dari Lion grup. Jika nanti sudah lulus kuliah dan menjadi dokter, Ara akan menjadi dokter di rumah sakit milik Lion grup.


Tenang Ara ... Cowok itu adalah Adam bukan Dio. Jangan dipikirkan lagi. Kata Ara dalam hati menenangkan dirinya.


.


.


.


.


.


To be continued...


Author’s Note :


Hallo semuanya, semoga kalian suka dengan cerita ini. Jangan lupa dukung saya dengan like, vote, rate, dan komen. Tunggu episode atau bab selanjutnya ya...

__ADS_1


__ADS_2