
“ We don’t have to be defined by the things we did or didn’t do in our past. Some people allow themselves to be controlled by regret. Maybe it’s a regret, maybe it’s not. It’s merely something that happened. Get over it. “
Pittacus Lore – I am number four
Happy reading.
“ Aku akan membantumu. Kamu bisa percaya padaku“ Jawab Ara tegas supaya bisa meyakinkan Adam.
Keindahan mata coklat bening itu sempat membuat Adam terpana untuk sesaat. Ada keteguhan yang terpancar dari mata sendu itu.
Indah dan menenangkan. Adam membatin.
“ Cih! Memangnya loe siapa hah? Gue bahkan nggak tahu loe yang tiba-tiba datang dan bilang mau bantu gue ? “ Adam berdecih sinis menanggapi ucapan Ara.
“ Loe datang karna loe kemarin liat gue pakai narkoba. Loe mau ngancam gue? Bilang loe mau berapa buat tutup mulut! “ kata Adam seraya menatap tajam Ara yang hanya bergeming.
“ Aku benar-benar ikhlas mau bantuin kamu. Oh ya, sebelumnya perkenalkan namaku Ara. Aku mahasiswa kedokteran semester akhir. Aku nggak ada maksud buat ngancam kamu perihal kejadian kemarin.” Kata Ara tenang sambil tersenyum meyakinkan Adam.
“ Loe dengerin gue baik-baik. Di dunia ini gue udah nggak percaya lagi sama kata-kata kayak yang loe bilang barusan. Bullshit tau nggak. “ ucap Adam dengan penekanan keras.
“ Oke kalau kamu masih curiga padaku. Tapi dari dalam diri kamu sendiri, apakah tidak punya keinginan untuk berhenti ? Aku yakin kamu pasti sadar bahaya yang timbul dari barang haram itu. Kebahagiaan sesaat yang
didapat dari barang haram itu nggak sebanding dengan rasa sakitnya. “
Adam terdiam mendengarkan penuturan Ara. Selama ini kata-kata tersebut hanya sempat mampir di otaknya dan akan hilang saat sakaw datang kembali. Tekadnya tidak sebesar itu untuk berhenti sekarang. Setidaknya dia
akan berhenti jika nanti belum terlambat.
__ADS_1
“ Pikirkan baik-baik perkataanku Adam. Jika kamu ingin berhenti, kamu bisa mencariku. Aku sudah memperkenalkan diri tadi. Selain itu, kamu harus punya niat yang besar.” Ucap Ara seraya berlalu hendak pergi dari
situ. Adam hanya terdiam menatap punggung mungil Ara yang menjauh.
Saat mencapai pintu, Ara berbalik dan berkata kepada Adam.
“ Aku menawarkan bantuan ini padamu untuk mengurangi rasa bersalahku pada seseorang.” Ucap Ara lirih tapi masih bisa didengar oleh Adam.
@@@@@
Siang berganti malam. Di sebuah kediaman mewah, Aurel sedang menyantap makan malam bersama kedua orang tuanya. Aurel adalah anak tunggal dari pasangan Bagaskara dan Danti. Orang tuanya adalah pengusaha sukses kedua di kota ini setelah orang tua Adam.
“ Bagaimana hubunganmu dengan putra Hendrawan ? “ tanya Bagaskara pada Aurel.
“ Namanya Adam pah... Hubungan kami baik-baik aja kok. Meskipun aku harus kerja keras buat jauhin dia dari para pengganggu. Tapi Aurel maklum kok karena Adam adalah cowok paling populer di kampus. “ Aurel dengan semangat menceriterakan hubungannya dengan Adam.
“ Ya pasti ada lah mah... Namanya kalau saling cinta pasti ada rencana buat lanjut ke jenjang yang lebih serius. Tapi mungkin nanti tunggu lulus kuliah dulu lah.” Dengan percaya diri Aurel menjawab pertanyaan ibunya.
“ Ya semuanya terserah kalian. Tapi minimal hubungan kalian diresmikan dalam ikatan pertunangan. Pernikahan bisa menyusul sesudah kalian lulus kuliah. “ ucap Bagaskara memberi saran.
“ Apakah papa dan mama merestui hubungan kami ? “ tanya Aurel memastikan.
“ Ya jelaslah papa dan mama merestui kalian. Memangnya apa lagi yang harus diragukan. Kalian saling suka dan memiliki latar belakang keluarga yang sama. Pernikahan kalian juga bisa menguntungkan perusahaan kita. “
kata Bagaskara sambil melirik Danti dan sama-sama tersenyum.
Aurel tersenyum senang mendengarnya. Dia sudah tidak sabar untuk mengabarkan hal ini pada Adam. Sedangkan ayahnya melanjutkan makan malamnya sambil tersenyum licik. Dia sudah tidak sabar menunggu hari itu datang.
__ADS_1
Rencananya akan segera terlaksana. Hendrawan dan keluarganya harus menderita karena perbuatannya di masa lalu.
@@@@@
Ponsel Adam berdering membuatnya lamunannya terhenti sebentar. Dia melirik nama Aurel terpampang di layar ponselnya. Dia mengabaikan saja sampai akhirnya deringannya berhenti sendiri.
Rasanya mulai menyebalkan. Besok akan aku akhir hubungan ini. Batin Adam.
Adam mulai memikirkan kembali kejadian yang terjadi tadi siang. Khususnya tentang kata-kata Ara yang mengusik relung hatinya. Hal ini pasti sulit mengingat satu jam lalu dia baru saja menyuntikkan putaw ke dalam tubuhnya. Saat di perjalanan pulang tadi, dia mengalami sakaw di jalan. Persediaan jarum suntik dalam tasnya sudah habis. Dia pulang ke rumah dengan mengendarai mobilnya secepat mungkin agar sampai rumah.
Liona maafkan kakak. Bisakah kamu membantu kakak ? Semuanya semakin terasa sulit. Gumam Adam lirih dalam hatinya.
Dia mulai ragu apakah dia bisa berhenti sedangkan rasa sakit akibat putus obat sangatlah menyiksa. Dia mulai menutup mata dan membayangkan kebahagiaan masa lalu yang sekarang hanya bisa dia raih dalam mimpi.
.
.
.
.
.
To be continued...
Author's note :
__ADS_1
Hallo semuanya... Semoga suka dengan cerita ini. Jangan lupa dukung saya dengan like, komen, vote, dan rate. Jangan lupa simpan cerita ini di perpustakaan kalian dengan tekan tombol favorit.