
“Families are the compass that guides us. They are the inspiration to reach great heights, and our comfort when we occasionally falter”
~ Brad Henry
Happy reading...
Setelah para pembantu keluar, tinggallah Ara berdua dengan mbok Ina di dalam kamar Adam. Ara duduk di samping tempat tidur sambil menyeka wajah Adam dengan handuk yang sebelumnya dibawa mbok Ina. Keduanya masih membisu dengan berbagai pikiran yang mengisi benak mereka.
Mbok Ina masih bertanya-tanya apa yang terjadi pada tuan muda serta bagaimana Ara bisa mengenal dan tahu keadaan tuan muda yang sedang kesakitan tadi. Sedangkan Ara mengkhawatirkan keadaan Adam dan orang tua Adam. Pikiran Ara penuh dengan cara menyampaikan keadaan Adam pada orang tuanya. Pasti ada penyebab mengapa Adam tidak mau jujur tentang keadaannya dan memilih menanggung semuanya sendiri.
Saat keduanya sedang melamun, Adam membuka matanya dan melihat keadaan sekitar. Dia mendapati Ara dan pembantunya sedang menatapnya dengan wajah khawatir. Dia tidak menyangka kalau Ara akan benar-benar datang menemuinya. Seketika hatinya menghangat dengan perhatian yang diberikan Ara. Saat akan membuka mulut untuk berbicara, kedua orang tuanya sudah berdiri di depan pintu sambil menatap mereka dengan tatapan bingung.
“Ada apa ini?” tanya Hendrawan.
Adam yang mendengar pertanyaan ayahnya menatap Ara yang dibalas dengan senyum menenangkan dari Ara. Adam tahu kalau ini saatnya dia harus berkata jujur pada orang tuanya. Mereka pasti bingung dengan keadaannya saat ini dan mengapa Ara ada di rumah ini.
“Selamat malam tuan dan nyonya, bisakah kita berbicara secara pribadi? Ada hal penting yang harus saya sampaikan terkait kondisi tuan Adam,” ucap Ara sopan seraya berdiri dan mendekati orang tua Adam yang masih
berdiri di pintu kamar Adam.
Hendrawan mengangguk seraya berlalu menuju ruang kerjanya diikuti Ami, ibunya Adam. Ara melihat Adam sekilas sambil tersenyum menandakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Dia yang akan berbicara pada orang tua Adam.
Ara langsung mengikuti orang tua Adam menuju ruang kerja. Sesampainya disana dia langsung dipersilakan duduk oleh mereka. Ternyata mereka tidak semenakutkan bayangan Ara tadi.
“Selamat malam tuan dan nyonya, nama saya Ara. Saya adalah teman Adam dari jurusan kedokteran semester akhir. Ada hal penting yang harus anda berdua ketahui tentang kondisi Adam,” kata Ara lugas memperkenalkan diri.
“Saya mengenal Adam bulan lalu di atap. Saat itu saya melihat dia sedang mengalami sakau dan berusaha menyuntikkan narkoba jenis putaw ke dalam tubuhnya...”
“Apa maksudmu? Anakku tidak akan memakai barang haram itu,”potong Ami dengan nada marah.
“Kalau anda tidak percaya anda bisa langsung menanyakan hal ini pada tuan Adam langsung,” kata Ara menyarankan.
“Lanjutkan penjelasanmu nona Ara,” kata Hendrawan mempersilakan Ara berbicara.
“Setelah melihatnya memakai narkoba hari itu saya tidak langsung berbicara dengannya. Tapi keesokan harinya saya ajak dia berkenalan dan bertanya yang jelas. Dia mengakui kalau dia adalah seorang pecandu narkoba.
Saya menawarkan bantuan yang tidak digubris olehnya. Tapi siang tadi dia menemui saya untuk meminta bantuan,” jelas Ara panjang lebar.
Ara melihat wajah syok dan tak percaya di kedua orang tua Adam. Mereka jelas sedih dengan kondisi anak mereka. Ara bisa melihat jelas kalau keluarga ini masih saling menyayangi meskipun terhalang kesibukan masing-masing.
“Tadi siang saya menyarankan tuan Adam untuk berkata jujur pada tuan dan nyonya dan memilih panti rehabilitasi sebagai tempat pengobatan. Tapi tuan Adam menolak usul saya dan memilih melakukan pengobatan sendiri,”
__ADS_1
kata Ara.
Ara menjeda kalimatnya sejenak karena tuan Hendrawan mengangkat sebelah tangannya meminta Ara berhenti bicara.
“Bisakah kau panggilkan Adam kesini? Kami harus mendengar penjelasannya,” titah tuan Hendrawan yang dibalas dengan anggukan Ara.
Ara keluar dari ruang kerja dan menuju kamar Adam. Sesampainya di sana dia mendapati Adam sendirian sedang duduk di atas tempat tidur dengan wajah gelisah.
“Lo bilang apa sama orang tua gue?” tanya Adam ketika dia melihat Ara masuk ke kamarnya.
“Aku mengatakan yang sejujurnya yang ku ketahui tentang kondisimu. Sekarang mereka menunggumu di ruang kerja untuk mendengar ceritamu. Kamu masih pusing?” kata Ara sambil tersenyum menenangkan Adam. Dia melihat wajah Adam masih pucat meskipun tidak sepucat tadi.
“Hei, sekarang pergilah dan temui orang tuamu. Katakan yang sejujurnya pada mereka. Bilang kalau sekarang kamu ingin sembuh. Selain itu, ada masalah internal keluarga yang harus kalian selesaikan sendiri. Semuanya
akan baik-baik saja. Percaya padaku,” kata Ara meyakinkan Adam yang terlihat masih ragu.
Ara membantu Adam berjalan karena tubuh Adam masih sedikit lemas. Tenaganya benar-benar terkuras untuk menahan sakit. Saat berdua dengan mbok Ina tadi, dia sempat ditawari makan. Tapi Adam menolak karena Adam masih merasa mual.
Saat sampai di depan pintu ruang kerja Adam sempat ragu untuk masuk.
“Lo nggak ikut masuk sama gue ke dalam?” tanya Adam sambil menatap Ara. Tatapan Adam persis seperti anak kecil yang meminta pembelaan saat ketahuan melakukan kesalahan.
“Nggak ada yang perlu ditakuti Adam. Mereka adalah orang tuamu. Katakan yang sejujurnya dan semuanya akan baik-baik saja,”
pembicaraan Adam dengan kedua orang tuanya akan berlangsung lama.
@@@@@
Adam masuk ke ruang kerja itu disambut dengan tatapan yang sulit diartikan dari orang tuanya. Dia duduk di hadapan orang tuanya dan hanya diam menunduk tanpa berbicara apapun. Dia sadar kalau dia sudah melakukan
kesalahan besar.
“Gadis tadi mengatakan kalau kamu adalah seorang pengguna narkoba. Apa itu betul?” tanya Hendrawan memecah keheningan. Nada suaranya terdengar dingin dan menahan amarah.
“Ya papa. Apa yang dikatakan Ara benar adanya. Dia melihat langsung saat aku sedang menyuntik putaw kedalam tubuhku,” kata Adam.
Plakkk
Plakkk
Suara tamparan terdengar di ruangan tersebut. Ami yang sedari tadi diam, menampar pipi putranya dua kali karena begitu kecewa dengan kenyataan yang ada. Dia tidak menyangka putranya menggunakan barang haram tersebut. Tak terasa, air mata sudah mengalir di wajahnya.
__ADS_1
Adam yang menerima tamparan itu hanya diam. Dia tidak merasakan sakit sedikit pun. Dia sadar kalau dia pantas mendapatkan hal itu bahkan lebih.
“Apa kamu tahu kalau perbuatanmu salah? Apa yang membuat kamu sampai menggunakan barang haram itu?” tuntut Hendrawan dengan nada suara yang lebih tinggi.
Adam hanya diam mendengar pertanyaan ayahnya. Dia tidak harus mulai dari mana untuk menjelaskan keadaannya. Tapi yang pasti keadaan ini bermula dari rasa bersalahnya akan kematian adiknya Liona.
“Jawab Adam. Apa kamu tidak tahu lagi cara berbicara?” bentak Hendrawan karena kesal dengan Adam yang hanya membisu.
“Aku hanya butuh pengalihan dari rasa tekanan batin yang kualami pah... sampai saat ini aku masih merasa bersalah dengan kematian Liona. Setelah kematian Liona keluarga kita jadi berubah. Aku merasa bersalah untuk semuanya,” terang Adam sambil menatap orang tuanya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kematian Liona meninggalkan luka bagi kita semua. Tapi kalian hanya sibuk sendiri tanpa peduli lagi padaku. Perbuatan kalian seperti mengatakan dengan jelas kalau semuanya salahku. Dan memang semuanya salahku.
Kalian tahu apa yang aku dapat dari barang haram itu? Aku bisa melupakan sejenak beban berat yang sudah ada sejak 8 tahun lalu,” lanjut Adam yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil. Terlihat jelas kalau dia sudah terlalu lama menahan rasa sakit.
Ami langsung memeluk putranya dan ikut menangis. Dia juga menyesal karena perbuatannya sampai membuat putranya menyalahkan dirinya sendiri. Dia terlalu lama berkubang dalam rasa sakit sebagai seorang ibu yang
kehilangan anaknya. Pada kenyataannya, ada seorang anak juga yang membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya.
Hendrawan hanya mengusap wajahnya frustasi. Dia merasa gagal menjadi kepala keluarga. Dia merasa tidak bisa melindungi dan mengayomi istri dan anak-anaknya. Dia melangkah pelan menuju istri dan anak kemudia memeluk
mereka dengan rasa sedih yang mendalam.
Benar yang dikatakan Ara. Langkah pertama yang harus dilakukan Adam adalah berkata jujur kepada orang tuanya. Ara menyadari ada rasa sakit lain yang harus disembuhkan terlebih dahulu sebelum mennyembuhkan ketergantungan Adam akan narkoba. Dengan begini langkah apapun yang akan di ambil selanjutnya, Adam tidak sendirian lagi melainkan ada dukungan utama dan penting dari kedua orang tuanya.
.
.
.
.
.
To be continued...
Author’s note :
Hallo semuanya...
Bagian ini memang paling menguras tenaga karena harus bikin scene yang tepat untuk pembicaraan Adam dengan orang tuanya.
__ADS_1
Semoga kalian semua suka. Jangan lupa buat like, komen, vote, dan rate. Simpan cerita ini sebagai cerita favorit kalian supaya tidak ketinggalan update terbaru. Terima kasih.
Sampai jumpa di part selanjutnya.