
“The initial trauma of a young child may go underground but it will return to haunt us.”
~ James Garbarino
Happy Reading...
Pernahkah kalian merasa dikejar kenangan buruk masa lalu bahkan sampai ke dalam mimpimu ? Ara adalah salah satunya. Trauma masa lalu membuat Ara tidak bisa tertidur nyenyak di atas kasur seperti orang normal lainnya. Bayangan mengerikan dan menyesakkan akan selalu datang menghampirinya jika dia tidur di atas kasur.
Tempat paling aman untuk menjadi tempat tidur adalah di pojok ruangan dengan posisi bersandar di tembok. Tertidur dengan posisi seperti itu akan membuat Ara merasa terlindungi dari bahaya apapun kecuali mimpi buruk.
Setiap kali terlelap, Ara akan mengalami mimpi buruk yang sama. Mimpi berupa potongan kejadian dimana Dio menghembuskan napas terakhir. Mimpi itu akan diikuti dengan suara-suara kebencian yang mengatakan Ara adalah penyebab kematian Dio.
Saat mengehembuskan napas terakhirnya, satu pesan Dio yang selalu Ara ingat.
“ Tetaplah jadi Ara yang baik dan ceria. Jangan biarkan semua rasa sakit di masa lalu merubah jati dirimu. Selain itu, jangan pernah lagi merasa sakit. Aku tidak bisa lagi disampingmu saat itu terjadi.” Selepas mengucapkan kata-kata itu, Dio pergi untuk selama-lamanya dalam pelukan Ara.
Selain mimpi itu, ada satu mimpi yang merupakan refleksi masa kecil Ara yang kelam. Ara menghabiskan masa kecilnya di sebuah panti asuhan pinggiran kota. Panti asuhan itu diurus oleh sepasang suami istri sederhana yang baik hati. Awalnya dia bisa hidup dengan baik di tempat itu seperti anak-anak lain. Semuanya berubah setelah kematian ibu panti karena kecelakaan.
Dio adalah teman masa kecil Ara di panti asuhan. Dalam keadaan susah dan senang mereka selalu bersama. Dio berusia lebih muda satu tahun dari Ara tapi sifatnya lebih dewasa karena dia merasa harus melindungi Ara.
Dio merasa gagal saat dia menyaksikan Ara dilecehkan oleh ayah asuh mereka di panti. Kejadian itu menggoreskan luka mendalam bagi Ara maupun Dio.
@@@@@
Tak terasa sudah satu bulan berlalu sejak Ara menawarkan diri untuk membantu Adam. Ara tidak punya lagi keberanian untuk berbicara lagi dengan Adam karena dia merasa tawarannya sudah ditolak. Sedangkan Adam bersikap seolah-olah tidak pernah mengenal Ara. Setiap kali mereka berpapasan di kantin kampus mereka akan bersikap biasa-biasa saja.
Hubungan Adam dan Aurel mulai diterpa gosip miring. Hal ini disebabkan beredarnya video dimana Adam mencoba untuk memutuskan hubungannya dengan Aurel. Entah siapa yang merekam dan menyebarkan video tersebut. Tapi
yang pasti, video tersebut direkam dan disebarkan oleh orang yang profesional. Aurel yang merasa malu dengan keberadaan video tersebut menyewa orang untuk melacak sang pelaku tapi tidak pernah ditemukan.
Orang tua Aurel khususnya sang ayah merasa geram karena rencananya gagal. Dia memiliki rencana yang akan melibatkan hubungan Adam dan Aurel. Tapi sepertinya mulai sekarang dia harus menggunakan cara lain.
__ADS_1
“ Bagaimana bisa dia memutuskan hubungan kalian begitu saja? “ tanya Bagaskara pada Aurel yang sedang menangis di pelukan ibunya.
“ Aku nggak tahu pah... Dia mengatakannya begitu saja. Aku juga malu dengan adanya video itu.” Jawab Ara sambil menangis. Entah apa yang dia tangisi. Apakah karena hubungannya dengan Adam atau karena egonya yang terluka.
Pastinya, banyak yang berbahagia dengan berita ini. Khususnya wanita-wanita yang menjadi korban bully Aurel karena ketahuan menyukai Adam. Atau mungkin, pelaku penyebaran video adalah salah satu dari mereka.
Berbeda dengan keluarga Aurel, ayah Adam merasa lega dengan keputusan Adam. Dari awal dia memang tidak terlalu suka dengan keluarga Aurel. Dia melihat mereka sebagai saingan bisnis yang harus dikalahkan. Sebenarnya ada hal lain yang menjadi prioritasnya tapi tidak pernah diperdulikan yakni keadaan Adam.
@@@@@
Sidang skripsi telah dilalui Ara dengan baik. Kebahagiaannya menjadi lengkap karena sahabat baiknya Risa juga bisa menyelesaikan skripsinya dengan baik. Satu proses panjang menjadi dokter telah mereka lalui. Hal ini
bukanlah apa-apa karena mereka harus melalui beberapa tahap lag sebelum menjadi dokter yang sesungguhnya. Bisa memeriksa dan menangani pasien berdasarkan keahlian sendiri tanpa diawasi dosen. Mereka berdua sudah tidak sabar menantikannya.
Setelah wisuda nanti, mereka akan menjalani satu tahap baru yang bernama koas. Koas adalah program lanjutan profesi dokter. Mereka akan terbagi di beberapa rumah sakit sesuai kebijakan kampus dan turun langsung berinteraksi dengan pasien. Tahap ini akan lebih berat dari saat perkuliahan karena dokter koas sudah mulai dihadapkan dengan kenyataan bahwa seorang dokter harus bisa stay 24 jam di rumah sakit.
“ Ara... rasanya gue pengen teriak sekencang-kencangnya karena akhirnya selesai juga. Tinggal nunggu waktu wisuda deh... Biarpun yang didepan nanti akan terasa lebih berat tapi seenggaknya sekarang gue udah lewatin satu tahap.” Ujar Risa sambil memeluk Ara erat-erat.
“ Eh kira-kira nanti kita dapat rumah sakit apa ya? Semoga aja gue dapat di Rumah Sakit Jiwa. “ kata Risa penuh harap. Selama ini Risa memang mengharapkan untuk menjalani masa koas di Rumah Sakit Jiwa karena katanya dia suka tantangan disana. Tapi menurut Ara, ada sesuatu yang disembunyikan Ara. Sebagai sahabat yang baik Ara tidak akan memaksa Risa bercerita sampai dia sendiri siap untuk membaginya pada Ara. Toh, Ara juga belum
membagikan masa lalunya pada Risa. Tapi untungnya itu bukanlah halangan bagi mereka untuk bersahabat.
Saat sedang bersenang-senang dengan Risa, Ara melihat Adam yang sedang menatap ke arah mereka. Adam hanya memberi isyarat dengan mengacungkan jari telunjuknya ke arah atas. Ara mengartikan bahwa Adam ingin
berbicara dengannya di atap.
“ Oh ya Sa, katanya setelah ini kamu mau bertemu dengan dospem kamu. Jadi nggak ? Kalau jadi aku ke kantin duluan ya nanti kamu nyusul. Udah lapar banget ni... “ kata Ara memberi alasan.
“ Oh ia untung diingetin. Ya udah gue kesana dulu ya... Sampai jumpa di kantin ya Ra...” kata Risa sambil berjalan menjauhi Ara.
Ara segera mengambil langkah menuju atap. Saat sampai disana, dia membuka pintu menuju dan mendapati Adam sudah duduk di bangku kayu panjang sambil menunggunya. Adam tidak menoleh sedikitpun pada Ara. Dia hanya menatapi keindahan langit biru yang terlihat jelas dari atap.
__ADS_1
Ara berjalan perlahan mendekati Adam. Kehadirannya sudah diketahui oleh Adam tapi dia masih memilih bungkam. Keduanya duduk di bangku kayu itu sambil menatap langit biru.
“ Gue mau sembuh. “ ucap Adam memecah kesunyian.
Ara langsung menolehkan kepalanya pada Adam. Dia tidak mengira Adam akan berkata seperti itu mengingat saat pertama Adam bersikap begitu ketus dan dingin.
“ Gue mau sembuh demi diri gue sendiri dan demi adik gue yang udah lama meninggal. Tapi gue nggak tahu gimana caranya. Semakin lama rasa sakit saat sakaw benar-benar menyiksa sehingga mau nggak mau gue harus terus make.” Lanjut Adam sambil menunduk. Terlihat jelas kalau dia sangat frustasi dengan keadaannya.
“ Lo mau nggak bantuin gue. Kali ini bukan elo yang nawarin bantuan tapi gue yang mohon supaya lo bisa bantu gue. Karna jujur, lo orang pertama yang menyadarkan gue tentang barang haram itu. “ Adam berkata sambil
menatap Ara dengan binar harapan yang terlihat jelas di matanya.
Ara tersenyum senang sambil mengangguk berulang kali untuk menjawab permohonan Adam. Terlihat jelas kalau dia sangat bersemangat dan antusias dengan hal ini. Dan kisah mereka pun dimulai.
.
.
.
.
.
To be continued...
Author's note :
Hallo semuanya...
Semoga suka dengan cerita saya. Jangan lupa untuk terus dukung saya dengan like, komen, vote, dan rate. Simpan cerita ini sebagai buku favorit kalian supaya nanti kalau saya update kalian akan tahu notifikasinya.
__ADS_1
Terima kasih.