
Camomile Yvone Dearest
Namaku yang kebarat-baratan selalu menimbulkan banyak pertanyaan di antara teman-teman dan guru atau dosenku. Tak sedikit yang mengira orang tuaku adalah orang Eropa atau Amerika atau Australia. Nyatanya kedua orang tuaku adalah orang Asia yang kebetulan memiliki kecintaan pada dunia barat, seperti halnya aku di kehidupan sehari-hariku yang cuek dan sedikit tomboy.
Dan siang ini, ketika aku hampir terlelap dalam tidur siangku, aku di kejutkan suara dering handphoneku yang nyaring tepat di samping telingaku. Dengan malas aku menekan tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelpon. Seketika mataku terbuka lebar ketika mendengar suara seseorang yang entah sejak kapan mulai kurindukan ini. Dia meminta bertemu sebelum kepulanganku sore nanti, yang sebenarnya aku juga belum pasti jadi pulang atau tidak. Karena sejujurnya orangtuaku pun sedang berada di luar kota untuk keperluan bisnis.
Aku memang sengaja menunggu kedatangannya di teras, supaya ketika dia datang aku bisa langsung melihat sosoknya yang ku rindukan.
Dia tersenyum dengan sangat manis, membuat jantungku hampir lepas dari tempatnya. Aku mendekatinya membukakan pintu untuknya dan kehabisan kata.
Ya
Begitu lah aku ketika sedang berhadapan dengan orang yang mulai menyita pikiranku, speechless dan dagdigdug di buatnya. Ketika aku mempersilahkan dia masuk dan memunggunginya karena aku bingung harus bagaimana, dia menarikku dengan cepat masuk kedalam pelukannya. Hangat dan wangi. Rasanya benar-benar seperti mimpi ketika ada seseorang yang memelukku lagi dengan penuh kerinduan seperti ini.
off.
"Ssttt..Yv..Yvi.." lelaki tampan di depanku mengguncang bahuku dan menyadarkanku dari lamunan
"Eh..ehem..iya mas" jawabku kikuk
__ADS_1
"Deal kan? kamu denger semua yang mas omongin tadi kan? itulah alasan kenapa sekarang mas udah enggak pake 'lo gue' sama kamu, kamu milik mas mulai saat ini" kalimat yang bahkan muncul dari bibirnya ini membuatku hampir kehabisan nafas karena terkejut
"Kita jalanin dulu aja ya mas..pelan-pelan kita saling kenal lebih dalam lagi. Aku masih takut akan komitmen, tapi aku janji aku akan belajar pelan-pelan" akhirnya kalimat yang sudah hampir satu minggu aku simpan terlontar juga, sebagai jawaban yang pernah lelaki ini minta.
"Oke..mas akan pelan-pelan, tapi enggak janji bakal pelan, karena bukan tipeku untuk menjadi pelan" Dia mengerling saat menjawabnya
Dan bodohnya lagi, kemana sosok Yvone yang ceplas ceplos itu pergi? kenapa jadi ada sosok Yvone yang malu-malu kucing berpipi merah disini?
Saat aku sibuk memandanginya, aku baru sadar ternyata banyak terdapat bekas luka di wajah dan tangannya. Aku menyentuh bekas luka yang ada di tangannya. Dia terkejut rupanya.
"Maaf mas..masih sakit?" tanyaku polos
Hening ...
"Yvi..bisakah jangan pulang hari ini atau besok?" pintanya
"Aku butuh kamu sweety, setidaknya dalam minggu ini, setelah itu aku yang akan mengantarmu pulang ke rumah orangtuamu" suaranya kali ini terdengar tulus dan penuh harap
"ehem..anu mas..sebenarnya aku juga belum memutuskan jadi enggaknya aku pulang sore nanti" jawabku sambil nyengir
__ADS_1
"Benarkah? benarkah kamu tidak jadi pulang liburan 3 minggu?" matanya bersinar penuh semangat
Aku mengangguk pelan
'Woaaahhh.. syukurlaahh.. aku lega sekali" teriaknya
"Sstt..mas..pelan-pelan suaranya. Temen-temenku ada di kos semua" pintaku panik karena Weni dan Anne ada di kamarnya masing-masing. Dan aku belum menceritakan part ini ke mereka. Aku yakin setelah ini mereka pasti akan menginterogasiku sampe subuh.
"Ayok ikut mas keluar" ajaknya tiba-tiba
"Kemana mas? aku perlu ganti pakaian?"
"Nggak perlu, ayo langsung kita let's go aja" Dia menarikku mengikuti di belakang dan menaiki motor sportnya. Sebelumnya dia memakaikan helm di kepalaku dan langsung wuuuss tancap gas entah kemana dia belum memberitahuku.
Sekitar 25 menit perjalanan, sampailah kita di depan sebuah rumah sakit yang sangat besar. Dia menarikku berjalan disisinya
"Mas..kita ngapain disini? mas sakit? aku sehat lho" tanyaku kebingungan
"Kita akan jenguk rekan mas yang kemaren juga jadi salah satu korban kebakaran" jawabnya santai
__ADS_1
Kamarnya ada di lantai 3, selama perjalanan tanganku di genggamnya tanpa terlepas sedikitpun. Dan itu membuatku tersipu