
RUMAH LULU (27 JANUARI 2008)
Pagi - pagi sekali Lulu sudah bangun untuk menyelesaikan pekerjaan Rumah sebelum berangkat ke Gereja jam 09:00 wib. Selesai menyelesaikan semuanya, Lulu bergegas mandi namun sebelumnya pamit terlebih dahulu sama Opung untuk pergi ke Gereja.
"Opung, aku pergi ke Gereja ya..." Lulu agak gugup.
" Ke Gereja mana?" Tanya Opung yang sedang sarapan di meja makan.
"Ya, ke Gereja biasa Opung bergereja." Lulu berusaha santai agar tidak ketahuan berbohong.
"Jangan lama - lama pulang. Ini uang untuk ongkos dan persembahan." Opung mengambil dompet dari dalam saku celana lalu menyerahkan uang.
"Iya, makasih Opung." Lulu menerima uang dan pergi ke kamar mandi.
KAMAR LULU
Selesai mandi, Lulu berjalan menuju ke kamar. Baru saja membuka pintu, Hp berbunyi...ada telepon masuk dari nomor cewek gatel. Lulu menamai pacar si Boy di hp dengan nama cewek gatel.
"Ngapain lagi dia nelepon? apa yang tahu nya dia kalau aku mau datang ke Gereja?" Gumam Lulu dengan kening berkerut menatap layar Hp.
"Halo!" Nada suara Lulu terdengar ketus menjawab telepon.
"Dani, bawakan pisang kepok sama pisang ambon ke Pasar, cepat!" Terdengar suara mamanya Dani dibalik telepon.
Lulu kaget karena tidak percaya dengan yang barusan didengar...
"Loh, Tante ini Lulu...Tante salah nomor." Jelas Lulu yang terlihat ingin balas dendam sama Dani.
"Bah, iya nya?!" Mama Dani terdengar bingung lalu mematikan telepon.
"Awas kau ya, Dan! tunggu pembalasanku!!!" Lulu tersenyum sinis sambil membayangkan menarik - narik rambut Dani yang panjang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8:30 wib, Lulu bergegas untuk berdandan dan memakai dress karena takut terlambat.
"Pakai dress yang mana ya? Oh, yang ini aja..." Lulu bingung memilih dress.
Selesai berdandan dan memakai dress, Lulu pamit sama Opung dan Tante untuk berangkat ke Gereja.
"Opung, aku pergi ya..."Lulu pamit sambil menutup pintu kamar.
"Jangan lama - lama pulang biar ada yang bikin makan siangku." Opung sedang serius menonton berita.
"Ada Tante disini bisa bikin makan siang Opungmu. Biar dia pulang agak lama, Mak..." Jelas tante yang datang dari dapur.
"Iya, sudah...tapi tetap jangan kelamaan pulang." Opung tetap memberi peringatan.
"Iya, Opung. Tante, aku pergi ke Gereja yah..." Lulu geleng - geleng kepala melihat Opung.
"Hati - hati dijalan." Tante tersenyum.
GEREJA PENTAKOSTA
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 9:58 wib, Lulu jalan begitu tergesa - gesa menuju ke Gereja dengan wajah kesal. Seharusnya, dia gak akan terlambat. Tadi begitu lama menunggu angkot sekalinya ada angkot tapi begitu banyak penumpang jadinya Lulu menunggu angkot yang penumpangnya tidak banyak.
Sampai didepan gerbang Gereja, Lulu menghela nafas perlahan - lahan karena lelah.
"Aku pikir sudah terlambat ternyata belum." Lulu melihat ibadah belum dimulai dan masih banyak orang yang baru datang.
Lulu melangkah masuk ke Gereja sambil memeriksa sekeliling apakah ada Boy?
"Kak Lulu, sini....." Heny memanggil dari depan deretan bangku barisan nomor dua.
Lulu tersadar lalu berjalan mendekati Heny...
"Kupikir kakak gak jadi datang loh." Heny mengeluh.
"Jadi lah, kan sudah janji. Justru kupikir tadi uda telat ternyata belum." Krissy tersenyum.
"Ih, senang lah aku bisa ketemu sama kakak lagi." Heny tersenyum senang sambil memeluk Lulu dari samping.
"Eh, beneran kan si Boy gak bakal datang ibadah disini?" Lulu sibuk memperhatikan sekeliling.
"Iya kak, tuh cuma mama dan papanya yang selalu datang." Heny menunjuk kearah orangtua Boy duduk.
Wajah Krissy memerah karena malu melihat orangtua Boy...
Ibadah sudah dimulai.......
Heny maju ke altar untuk membawakan doa pembuka ibadah...
Selesai berdoa, Lulu entah kenapa tergerak untuk menoleh kearah kanan...
"Hen, kau bilang dia gak bakal datang. Itu dia datang, Hen!" Bisik Lulu ditelinga Heny.
"Loh, yang benar kak?" Heny menoleh kearah Boy.
"Kayak mana ini?" Raut wajah Lulu kesal sekali.
"Kaget juga aku. Udah, biasa aja kak. Nanti kalau dia mendekat cuekin aja kak." Heny tidak menyangka kalau Boy datang beribadah setelah sekian lama menghilang.
"Tuhan, aku kan uda berdoa minta samamu untuk tidak mempertemukan aku sama Boy! kenapa malah Engkau pertemukan pulak kami Tuhan?!" Teriak Lulu mengeluh didalam hati.
Selama ibadah berlangsung, Lulu tidak bisa fokus karena Boy tidak berhenti menatap dirinya.
"Kog tambah ganteng dia ya? sepertinya baru pangkas rambut, bibirnya tambah merah aja. Jadi, tambah mirip sama Andhika Pratama." Puji Lulu didalam hati yang diam - diam terpesona melihat Boy.
"Kak, nanti bantu dulu aku menghitung persembahan selesai ibadah ya." Heny berbisik ditelinga Lulu agar tidak didengar orang.
"Lebih baik kubantu kau biar jangan mendekat si Boy itu nanti. Eh, antar kan nanti aku ke simpang Gereja nunggu angkot pulang ibadah ya?" Jelas Lulu dengan suara pelan.
"Ok, kak." Heny mengangkat jari ibu menyetujui.
Ibadah sudah selesai.......
__ADS_1
Heny pergi ke altar mengambil beberapa kantong persembahan sedangkan Lulu sibuk merapikan buku catatan kecil, pulpen dan alkitab kedalam tas.
"Hi, Lulu..." Boy sudah berdiri disamping Lulu.
Lulu yang sedang sibuk dengan tas menjadi terkejut tanpa menoleh kearah Boy. Segera Lulu mengambil Hp pura - pura menelepon teman untuk mengalihkan perhatian dari Boy.
"Halo, jadi nanti kan?" Lulu menelpon Anna.
"Iya...jangan telat!" Jawab Anna dibalik telepon.
"Ok. Ini aku mau pulang dari Gereja." Jawab Lulu sembari berdiri, mematikan telepon dan berjalan kedepan menemui Heny.
Boy masih saja berusaha mendekati Lulu...
"Hen, sini kubantu ngitung..." Mengambil satu kantong persembahan.
"Iya kak, uang besar ditaruh di amplop ini dan uang kecil di amplop itu." Jelas Heny sambil memperhatikan Boy yang berdiri disamping Lulu.
"Lulu, apa kabar?" Tanya boy agak gugup.
"Seperti ada yang bicara kak?" Heny berusaha membuat sebuah joke.
"Iya, ya...ntah nya sepatumu yang ngomong barusan." Lulu mengikuti alur Heny.
"Lulu, boleh aku duduk disampingmu?" Tanya Boy tersenyum.
"Hen, kog masih ada suaranya?" Lulu menatap Henny dengan kesal.
"Iya ya kak, aku juga heran...padahal sudah kuperiksa sepatuku." Heny mengangkat sepatunya keatas.
"Nih, sudah selesai. Ayok pulang!" Lulu menyerahkan amplop dan merapikan semua kantong persembahan.
"Ok kak..." Henny menyusun semua amplop dan pergi mengantarkan amplop juga kantong persembahan kepada Pak Pendeta.
Lulu mengikuti Heny...
"Lulu, apa kabar?" Boy menghentikan langkah Lulu.
"Eh, ada Boy...aku pikir tadi siapa....." Lulu tersenyum kecil didalam hati benci.
Lulu melanjutkan langkahnya mengikuti Heny ke Rumah Pastori. Sekedar penjelasan saja, Rumah Pastori itu adalah Rumah yang bersebelahan dengan gedung Gereja dan biasanya ditempati oleh Pendeta yang bertugas di Gereja tersebut. Tapi tidak semua Pendeta sih...
"Lulu, ada yang mau aku bilang sebentar..." Boy yang membawa gitar terlihat memohon waktu Lulu.
"Ngomong sekarang aja disini...aku gak bisa lama mau cepat pulang!" Jelas Lulu dengan raut wajah penuh kebencian.
Boy dan Lulu berdiri tepat didepan pintu Gereja dimana orang - orang berlewatan...
"Masa kita ngobrol disituasi begini? boleh duduk sebentar disitu? cuman 5 menit aja." Boy memohon sambil menunjuk bangku panjang.
"Mau ngomong apa sih? kayak penting banget!" Lulu menatap kesal Boy.
__ADS_1
Lulu heran dan bingung melihat sikap Boy, kenapa masih beraninya muncul dengan pede dan mau membicarakan sesuatu setelah peristiwa di angkot tersebut? jujur, Lulu belum bisa melupakan hal itu.
Bersambung.....