
RUMAH ANNA (JANUARI 2008)
Seminggu telah berlalu melewati kejadian tragis yang melanda hati Lulu. Waktu bukan lah menjadi sebuah jaminan yang bisa membuat semua kenangan bisa terhapus begitu saja apalagi kalau itu menyakitkan, sangat sulit!
Merasa sangat bosan berdiam diri dirumah dengan suasana hati yang belum pulih, Lulu memutuskan untuk pergi ke Rumah Anna bersama dengan Dani dan Lenny. Untungnya, Opung mengizinkan Lulu untuk pergi kerumah teman asalkan jangan pulang terlalu sore.
Seperti biasa kalau sudah tiba dirumah Anna, pasti ruang dapur tempat meja makan menjadi tempat favorit untuk berkumpul. Anna menyediakan indomie, minuman dingin dan makanan ringan untuk teman - temannya.
"Jadi, sudah kayak mana si Boy? ada gak dia hubungi kau?" Anna yang sedang membuka kulkas mengambil makanan masih penasaran.
"Ngapain pulak dia mau hubungi si Lulu setelah ngomong kasar kemarin tu!" Dani belum melupakan kejadian saat bertemu dengan Boy.
"Sudah lah, gak usah bahas dia lagi..." Lulu sudah sangat lelah memikirkan semuanya.
"Aku ngerti gimana perasaanmu. Kalau aku diposisimu mengalami itu...sudah kudatangi dia, kumaki dan kutampar. Tapi, aku tau hatimu Lulu...walaupun dia uda nyakitin kau tapi pasti dihatimu masih ada dia." Anna yang duduk didepan Lulu merasa sedih dengan sikap Boy yang tidak diduga.
"Aku jadi tambah penasaran sama si Boy lah, pengen ketemu rasanya!" Lenny yang sama sekali belum pernah bertemu dengan Boy ingin sekali memberi pelajaran.
"Gimana lagi mau kubilang ya? sepertinya menyesal aja pernah ketemu dan mengenal dia. Gak nyangka...hampir 2 tahun kami gak pernah ketemu, selama itu dihatiku kog seperti hanya mikirin dia. Jujur 2 tahun gak ketemu itu awalnya aku yang memutuskan untuk menghindar dari dia karena saat itu perasaanku kalau didekatnya agak aneh, takut berlebihan mengenai perasaan juga mengingat umur ya itulah aku menghilang saja. Kupikir setelah bertemu lagi dengan dia adalah awal yang baik. Tapi, ternyata gak..." Raut wajah Lulu terlihat lesu seperti ingin menangis.
Keadaan hening sejenak...
Semua bisa merasakan betapa hancurnya hati Lulu...
"Makan dulu kita, yuk! biar hati dan pikiran tenang." Anna mulai berdiri dan pergi mengambil piring lalu memberikan minuman dingin kepada Lulu.
Sambil makan, mereka sesekali mengobrol menghibur Lulu agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.
"Lulu, untung kalian belum jadian. Kenapa? belum jadian saja sudah keterlaluan gitu dan menurutku itu kasar. Aku harap kau bisa lupain dia..." Lenny perlahan membuka pikiran Lulu yang begitu polos.
"Itu artinya si Boy bukan yang terbaik untukmu. Gak pantas dia jadi pacar pertamamu!" Dani begitu membenci Boy.
__ADS_1
"Tenanglah, pasti Tuhan mempertemukan kau sama yang lebih baik. Memang si Boy itu sudah keterlaluan! tapi kita gak bisa melawan kehendak Tuhan kalau dia jodohmu. Cuman sekarang, lebih baik melupakan dia. Aku yakin pasti si Boy itu menyesal suatu saat nanti kalau memang benar dia cinta samamu." Nasehat Anna sepertinya terlihat menenangkan hati Lulu.
"Makasih, kalian bukan hanya teman tapi sahabat - sahabatku. Sekarang aku sudah agak lega. Ya, walaupun sulit melupakan dia tapi aku mau berusaha." Raut wajah Lulu yang lesu sudah mulai sedikit tersenyum dan mengusap air mata yang menetes.
"Kita bukan cuman teman...tapi sahabat, yah!" Anna memeluk Lulu begitu semangat.
Mereka berpelukan begitu gembira karena senang berhasil menghibur Lulu...
Waktu sudah menunjukkan pukul 16:30 Wib, artinya sudah harus segera pulang. Lulu, Dani dan Lenny berpamitan pulang sama Anna dan mamanya.
"Lulu, semangat yah! kalau ada apa - apa telepon aku." Anna mengepalkan tangan kanan keatas begitu semangat.
Lulu tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang lucu dan kadang lebay...
RUMAH LULU
"Lulu, sudah jam berapa?" Opung yang sedang berada dikamar bertanya.
"Makan malam lah kita, sudah lapar..." Opung turun dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar, menutup pintu dan berjalan kearah meja makan.
Lulu segera menyediakan makan malam...
Hari ini yang belanja dan masak adalah Tante. Masakan rendang Tante sangat enak dan bikin kangen. Lulu tidak pintar masak rendang, sudah pernah mencoba memasak tapi rasa kurang enak dan masih harus belajar lagi. Kali ini Lulu terlihat begitu lahap sampai nambah 2 kali.
"Awas gendut, Lulu..." Tante yang duduk disamping Lulu terlihat agak khawatir.
"Biarlah selagi masih muda, daripada kurus nanti dibilang kempot lagi." Lulu gak ambil pusing walau berat badannya bertambah.
"Tapi, jangan tambah ke gendutan. Segini saja sudah cocok dan cukup gendutnya." Opung yang duduk didepan Lulu memberi saran.
"Iya, Opung. Hehehehehe....." Lulu tertawa menanggapi.
__ADS_1
Selesai makan malam, Lulu membantu Tante mencuci piring di kamar mandi. Kenapa tidak mencuci piring di wastafel? karena piring kotor begitu banyak jadi kalau nyuci di wastafel terlihat sangat rempong / tidak lega jadi lantai dapur bisa becek karena percikan air.
"Lulu, mana sinetron yang biasa kita nonton itu? sudah mulai?" Opung yang duduk diruang televisi memanggil.
"Bentar, Opung." Lulu bergegas menyimpan piring bersih lalu berjalan ke ruang televisi.
"Belum mulai kan?" Opung sudah tidak sabaran karena penasaran dengan cerita selanjutnya.
"Ini baru mulai..." Lulu yang sudah menyalakan televisi, juga ikut nonton sinetron yang ceritanya lagi seru.
Malam itu, Opung, Tante dan Lulu terlihat begitu serius menonton sinetron yang terkadang memancing emosi.
"Bah, kurang ajar itu laki - laki selingkuh! sudah tinggalkan saja lah suamimu itu." Opung begitu emosi menonton.
"Aduh, istrinya terlalu baik makanya suaminya jadi kayak gitu." Tante ikut emosi jiwa menonton.
Lulu yang sudah mulai mengantuk tapi masih ingin nonton akhirnya memutuskan untuk pergi tidur.
"Opung, Tante...aku duluan tidur ya..." Lulu berjalan ke kamar sambil menguap.
"Iya, tidurlah." Jawab Opung sambil tetap serius menonton sinetron.
KAMAR LULU
Sebelum tidur, Lulu berdoa terlebih dahulu sekaligus mencurahkan semua isi hatinya kepada Tuhan.
"Tuhan, selamat malam...terima kasih aku mengucap syukur kepadaMu untuk hari ini. Ampuni dosa kesalahan yang sudah kuperbuat. Tuhan, ampuni aku yang belum bisa memaafkan Boy. Jujur hatiku sakit begitu kecewa. Tapi,bagaimanapun aku harus memaafkan dia juga mengasihi dia. Terima kasih Tuhan untuk waktu yang pernah Lulu dan Boy lewati bersama. Bila memang Boy bukan yang terbaik...jauhkan dia dari hidup Lulu, Tuhan. Dan Lulu sangat meminta kepadaMu...janganlah Engkau mempertemukan Lulu dengan Boy kapan pun dan dimanapun. Tolong Tuhan...karena lebih baik kami tidak bertemu lagi agar hatiku pulih. Tuhan, walaupun Boy seperti itu, Lulu berharap kepadaMu...Engkau memberikan yang terbaik untuknya. Seorang perempuan yang tulus mencintainya. Terimakasih Tuhan Yesus, Lulu mau tidur..amin."
Selesai berdoa, Lulu menarik nafas terlebih dahulu sehingga merasa lega. Kemudian, mengambil bantal guling dan menarik selimut.
"Tenang hatiku setelah mengungkapkan semuanya sama Tuhan...semoga besok adalah awal yang lebih baik dari hari kemarin." Gumam Lulu tersenyum sembari memeluk bantal guling lalu memejamkan mata.
__ADS_1
Lulu sudah tidur begitu lelap, tapi di ruang televisi masih terdengar perdebatan Opung dan Tante yang serius menonton sinetron. Karena sinetron tersebut, mereka hampir saja bertengkar kecil. Yang dimana Opung sangat kesal dan menyalahkan pemeran istri yang begitu baik sehingga jadi dimanfaatin sama suaminya, tapi Tante malah membela si pemeran istri dan mengatakan kalau suaminya yang bodoh. Jadi, begitu lah perdebatan awal menjadi pertengkaran kecil antara Opung dan Tante.