MY FIRST BOYFRIEND IS NOT MY FIRST LOVE

MY FIRST BOYFRIEND IS NOT MY FIRST LOVE
PART 15


__ADS_3

HALAMAN RUMAH LULU


Angin bertiup kencang terasa sejuk menyapu kulit Lulu...cuaca terlihat mendung namun tak kunjung hujan. Halaman Rumah Lulu sangat luas bahkan banyak tanaman yang menjadi pelengkap ada berbagai jenis bunga, pohon rambutan, pohon nenas, pohon pepaya, pohon jambu kelutuk, pohon durian, pohon anggur, dan pohon mangga.


Kali ini adalah musim buah rambutan...


Lulu dan Tante sibuk memanen sedangkan Opung baru saja selesai mencabuti rumput di taman kecil. Banyak orang lewat didepan Rumah begitu ngiler melihat buah rambutan yang melimpah di pohon. Lulu mencoba memanjat pohon dengan hati - hati karena banyak semut.


"Tante, kog rambutannya banyak yang ketawa?" Lulu heran melihat rambutan yang kulitnya terbelah.


"Itu karena pohonnya dipanjat sama anak perawan makanya jadi malu sehingga kulit terbelah terlihat seperti ketawa." Jelas Tante sambil memetik rambutan yang ada di dahan paling bawah.


Pohon rambutan tidak lah tinggi namun pendek dan besar, bentuknya seperti pohon cemara yang pendek.


"Ah, gak betul itu...mitos itu!" Celetuk Lulu karena merasa tersindir.


"Betul itu! sebelumnya kan mana ada buahnya yang ketawa." Tante tertawa kecil begitu melihat wajah Lulu yang cemberut.


"Ada - ada aja Tante ini lah...turun lah aku, banyak kali pun semut." Keluh Lulu merasa tidak nyaman dengan semut.


Tante pergi ke halaman belakang untuk mengambil gala yang terbuat dari bambu agar bisa mengambil rambutan yang ada di dahan pohon paling atas.


"Ambilkan juga rambutannya untuk sepupumu...besok mereka datang." Opung yang sedang duduk diteras berpesan kepada Lulu.


"Iya, Opung." Jawab Lulu.


Beberapa menit kemudian Tante datang membawa gala...


Mereka kembali sibuk panen memanen rambutan sampai sore hari...


Ada tetangga yang datang meminta rambutan, Tante memberikan rambutan satu kantong plastik kecil.

__ADS_1


"Capek juga, bah!" Lulu merasa sangat lelah lalu duduk dibawah pohon.


"Istirahat dulu lah kita nanti lanjut mungutin buahnya yang berjatuhan. Mata terasa sakit karena lihat - lihat keatas terus ngambil rambutan yang diatas pakai gala." Keluh Tante duduk disamping Lulu menghela nafas.


"Tante, aku bingung lah sama Boy..." Lulu teringat saat Boy kemarin nelepon.


"Kenapa bingung?" Tante penasaran.


"Aku kan sama Boy baru jadian...masa Boy sudah kasih tahu sama keluarganya kalau kami sudah jadian? trus udah gitu, Mamanya kemarin tu ngomong samaku di telepon katanya senang dan setuju aku sama anaknya pacaran." Lulu beberapa hari ini memang sibuk memikirkan itu semua.


"Loh, bagus lah itu! berarti dia serius samamu...jadi kenapa kau harus bingung?" Kening Tante berkerut karena malah jadi bingung melihat Lulu.


"Iya, wajarlah aku bingung...masalahnya baru jadian di siang hari selesai ibadah di Gereja, eh malam nya dapat kabar mengejutkan seperti itu." Jelas Lulu.


"Menurut Tante dia memang benar serius samamu Lulu...dan bagus lah keluarganya setuju apalagi Mamanya. Jarang orang pacaran disetujui keluarga dan harus banyak usaha untuk mengambil hati dari pihak keluarga. Kalau kau tanpa usaha pun sudah senang Mamanya samamu. Jadi bersyukurlah..." Tante memberikan nasehat.


Pikiran Lulu mulai terbuka dan mengerti...


"Iya bagus itu! tapi tetap lah kau berdoa.. biar kehendak Tuhan aja yang terjadi." Maksud Tante adalah agar Lulu tidak terlalu berharap banyak dengan apa yang dikatakan Boy.


"Jujur aku kaget sih Tante karena terlalu cepat aja dia ngomong gitu." Lulu masih belum mempercayai dengan yang telah terjadi karena semua seperti cerita drama sinetron.


"Kalian memang masih terlalu muda, banyak yang masih dipikirkan...tapi Boy sepertinya memang sudah terlanjur sayang samamu mungkin dia gak mau kehilanganmu." Jelas Tante sambil memakan rambutan.


"Aku juga sebenarnya gak mau kehilangan dia...tapi gak nyangka aja dia ngomong pernikahan secepat itu." Lulu merasa belum siap memikirkan pernikahan di usia 19 tahun.


"Kalau memang berjodoh..anggap lah ini rencana kalian kedepannya mengenai pernikahan. Mungkin 2 tahun, 3 tahun atau 4 tahun lagi kalian baru menikah." Tante berusaha menenangkan pikiran Lulu.


"Aduh, kalau di umur 23 tahun aku pun belum siap..." Pikir Lulu didalam hati sambil membayangkan menjalani rumah tangga dengan mental yang belum matang.


"Ayok kita lanjut mungutin rambutan yang berjatuhan..sudah kesorean sebentar lagi magrib." Tante bangkit berdiri dan mengambil kantong plastik yang besar.

__ADS_1


Lulu bangkit berdiri dengan perasaan yang tidak bersemangat...


Pikirannya dipenuhi dengan Boy yang telah berhasil mengagetkan dunianya. Kalau dipikir - pikir memang kisah mereka itu seperti drama sinetron. Sudah bertahun - tahun tidak bertemu, giliran bertemu Boy ngungkapin perasaan dan baru hitungan jam resmi pacaran Boy sudah pakai acara ngomongin soal nikah. Bagaimana tidak jadi rempong alias shok dunia dan hati Lulu?


"Gak sabar rasanya pengen ketemu sama Dani, Anna, Lenny dan Eva untuk curhat mengenai ini semua." Keluh Lulu didalam hati sambil memandangi rambutan yang bertebaran dibawah pohon.


"Lulu, ayo cepat pungutin..." Tegur Tante menyadarkan Lulu yang melamun.


"Oh, iya..." Lulu kaget.


Sedang sibuk mungutin rambutan, ada lagi seorang ibu tetangga sebelah datang meminta rambutan.


Tante memberikan rambutan dengan satu kantong plastik kecil...


"Wah, makasih banyak loh! rambutan kalian itu benaran manis dan dagingnya gak lengket di bijinya. Dikasih pupuk apa kog bisa lebat dan manis buahnya?" Tanya ibu tetangga sebelah tersebut.


"Gak ada kami kasih apa - apa...cuman disiram pakai air biasa aja itupun jarang disiram. Mungkin tanahnya yang subur karena cacing ditanah juga gendut - gendut." Jelas Tante.


"Bisa gitu ya? Ya sudah, sekali lagi makasih banyak yah.." Ibu tetangga sebelah tersebut terheran - heran lalu tersenyum senang mengangkat bungkusan plastik keatas.


"Iya, bu!" Tante tersenyum.


"Lulu, makasih loh. Tante pamit yah..." Ibu tetangga sebelah tersebut pamit pulang.


"Ok, Tan!" Lulu tersenyum.


Begitu sudah selesai dengan panen memanen...


Lulu dan Tante menyapu daun - daun rambutan yang berserakan kemudian menyimpan peralatan yang dipakai untuk memanen. Waktu sudah menunjukkan pukul 19:00 wib, segera mereka masuk kedalam Rumah untuk mandi. Namun, sebelum mandi...Lulu terlebih dahulu menyiapkan makan malam untuk Opung memang jam makan malam Opung itu adalah pukul 19:00 wib. Tante sudah duluan masuk ke kamar mandi untuk mandi, akhirnya Lulu makan malam bersama dengan Opung karena sudah sangat lapar sekalian menunggu Tante selesai mandi.


"Tidak usah mandi cuma cuci muka, cuci tangan dan kaki saja. Sudah malam ini nanti masuk angin kamu." Opung memberi nasehat karena tidak mau cucu kesayangannya sakit.

__ADS_1


"Iya, Opung." Lulu mengerti Opung khawatir dengan kesehatannya.


__ADS_2