
GEREJA PENTAKOSTA (27 JANUARI 2008)
continue.......
"Mau ngomong apa sih? kayak penting banget!" Lulu menatap kesal.
"Sebentar aja, Lulu....." Boy memohon dengan sangat.
"Ya, udah!" Raut wajah Lulu terlihat seperti terpaksa.
Boy yang dari tadi memegang gitar menuntun Lulu untuk duduk dibangku yang panjang, beberapa orang yang sedang duduk menjadi menghindar karena melihat ekspresi Boy dan Lulu seperti ada masalah.
"Gimana kabarmu?" Tanya Boy.
"Seperti yang kau lihat aku baik - baik saja kan? ngapain ditanya lagi." Celetuk Lulu mengernyitkan kening.
Boy terdiam karena sangat gugup...
"Mau ngomong apa? cepetan!" Keluh Lulu tanpa menatap Boy.
"Lulu, kamu masih marah samaku?" Boy menatap Lulu dengan tatapan bersalah.
"Marah? lagian sudah lama gak ketemu kenapa marah?" Lulu pura - pura tidak mengerti.
"Aku tahu pasti Dani pernah cerita ketemu samaku di angkot." Boy tertunduk dengan perasaan menyesal.
Lulu terdiam dengan perasaan marah didalam hati.....
"Maafin aku..." Suara Boy terdengar berat.
"Gampang yah minta maaf!" Celetuk Lulu agak ketus.
"Lulu, aku sungguh minta maaf...jujur gak ada niat melakukan itu." Jelas Boy memohon.
"Gak ada gunanya juga benci, sudah berlalu...aku sudah maafin kamu. Semalam aku berdoa agar Tuhan tidak mempertemukan ku samamu disini karena benar - benar sangat kecewa dan setelah di Gereja ini rasanya aku menyesal." Lulu menatap Boy dengan tatapan dingin.
"Dani, sudah cerita semuanya...karena kangen samaku makanya kamu sampai beli kaset Butterfly. Kamu bilang aku mirip sama Andhika Pratama." Boy merasa sedih mendengar pengakuan Lulu lalu mulai membahas hal yang ingin dibicarakan.
"Kurang asem kau ya, Dan! kapan pulak si Dani ini ngomong semuanya? aduh, jadi tambah malu aku!" Gerutu Lulu didalam hati penuh amarah seperti tidak sabar ingin segera bertemu dengan Dani dan menarik rambutnya.
"Itu benar ya Lulu?" Boy memperhatikan raut wajah Lulu yang aneh.
"Hah? masa Dani ngomong gitu? ngelantur dia kayaknya." Lulu berusaha menutupi kebenaran.
"Lulu, jujur aku udah nungguin kamu selama kurang lebih 2 tahun semenjak kita sudah gak ketemu lagi di Gereja ini. Setiap hari minggu datang beribadah berharap ketemu samamu dan baru hari ini kita ketemu secara kebetulan." Boy perlahan menjelaskan semua yang dipendam selama ini.
Lulu terdiam mendengar sebuah pengakuan yang mengejutkan bagi dirinya...
"Aku mengenalmu saat mengajar anak sekolah minggu. Dari situ kita berteman dan mengenal satu sama lain. Jujur saat itu aku merasa tidak percaya diri karena tanpa kusadari aku punya perasaan samamu. Tidak percaya diri karena perbedaan usia, saat itu aku merasa mungkin kau hanya menganggapku sebagai teman, sahabat atau adik. Bingung mikirin itu semua, sampai aku ketemu sama Dani dan mendengar semuanya." Jelas Boy.
"Oh, jadi ini yang mau kau ceritakan?" Lulu bersikap cuek tapi jantung berdetak kencang.
"Boleh nanya sesuatu?" Suara Boy terdengar begitu serius.
"Apa?" Lulu penasaran.
"Ada gak cowok yang lagi kamu suka sekarang?" Boy mengubah posisi duduknya kearah Lulu.
"Kenapa rupanya?" Lulu menggeser posisi duduk agar tidak terlalu dekat dengan Boy.
"Mau tahu!" Tatapan Boy sangat dalam menatap Lulu.
"Ada! satu sekolah saat SMA dan pernah satu kelas." Jelas Lulu berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya.
"Bagaimana orangnya?" Boy masih tetap menatap dalam.
"Orangnya baik, tinggi, putih dan cakep lagi!" Suara Lulu terdengar begitu sangat memuji.
"Gitu ya...bisa gak cowok yang alamat Rumahnya di Jalan Aman suka samamu?" Boy menahan rasa cemburu.
"Siapa?" Lulu pura - pura tidak tahu yang dimaksud.
"Disampingmu!" Boy menggenggam tangan kanan Lulu.
Lulu terkejut bukan main menatap Boy kemudian menarik tangannya dari genggaman.
__ADS_1
"Gak usah bercanda...gak lucu! haha....."Lulu tertawa kecil menutupi hatinya yang mulai gugup.
"Aku serius! sekarang aku sudah sadar perasaan dan cinta itu tidak harus memandang usia, lagian umur kita hanya beda setahun. Semakin aku melupakanmu justru semakin aku memikirkanmu. Pernah dengar lagu memendam rasa ini sendirian, ku tak tahu mengapa aku tak bisa melupakanmu!" Suara Boy terdengar begitu tegas lalu memainkan gitar sambil bernyanyi.
"Aku juga sering dengar lagu itu...dan yah, aku juga menunggumu selama 2 tahun." Lulu mulai jujur soal perasaan.
"Serius?" Boy kaget.
Lulu mengangguk pelan.....
Boy tersenyum kaget karena tidak menyangka semuanya kebetulan.....
"Kau ngobrol gini samaku pacarmu gak marah?" Lulu mulai memperhatikan halaman Gereja.
"Aku sudah mutusin dia...lagian aku gak serius." Jelas Boy.
"Jangan bilang pelampiasan?" Celetuk Lulu.
"Bisa juga...dan keluargaku juga gak setuju aku pacaran sama dia." Boy tidak bosannya menatap Lulu.
"Oh, gitu." Lulu menanggapi biasa saja.
"Lulu, boleh nanya sesuatu?" Suara Boy terdengar begitu gugup.
"Apa?" Lulu bingung.
"Kamu mau gak jadi pacarku?" Boy sangat gugup.
Lulu terkejut didalam hati.....
"Mimpi apa aku semalam? kog bisa ngalamin kejadian ini? padahal semalam Dani ngerjain aku di telepon ngancem aku jangan deketin Boy, eh sekarang malah kejadian! Aneh rasaku ini semua...." Lulu berkeluh kesah didalam hati.
"Ya, gak harus dijawab sekarang juga gak apa - apa walaupun sebenarnya aku butuh jawabanmu sekarang." Dalam kegugupan Boy berusaha tetap tenang.
"Gimana ya....kenapa kau bisa suka samaku? sudah berapa lama kau suka samaku?" Lulu menjadi sangat penasaran dengan berbagai pertanyaan yang muncul dibenaknya.
"Kamu orangnya baik, apa adanya...tapi yang jelas aku juga gak tahu kenapa bisa suka samamu. Saat kita baru kenal di Gereja ini dan menjadi guru sekolah minggu, disitu aku menyukaimu." Tatapan Boy begitu dalam menatap Lulu.
Lulu sudah gak ngerti lagi dengan apa yang di alami sekarang seperti mimpi yang begitu nyata namun sulit dipercaya.
"Kamu diam gini artinya iya atau tidak?" Boy masih menanti jawaban.
Boy mendekap tangan kanan Lulu.....
"Apa sih? sakit tahu...lepasin!" Lulu mengeluh menatap Boy.
"Kalau gak mau jawab gak akan aku lepas." Nada suara Boy terdengar begitu serius.
"oh, ya sudah gak bakal aku jawab." Celetuk Lulu.
Boy jadi merasa bingung hingga akhirnya melepaskan tangan Lulu...
Keadaan hening sebentar.......
Mereka berdua terlihat sedang berpikir dengan perasaan masing - masing. Sulit rasanya diungkapkan dengan kata - kata, karena banyak peristiwa yang sudah terjadi seperti kebetulan. Seakan takdir mengatakan iya untuk mereka namun masih tanda tanya.
"Maaf................." Lulu mulai serius memberikan jawaban.
"Aku mengerti..." Boy sangat sedih dan terpukul mendengar.
"Maaf, aku gak bisa nolak kamu." Lulu tersenyum.
"Apa?" Boy kaget.
Lulu tertawa kecil melihat ekspresi Boy yang menyedihkan karena dipikir ditolak mentah - mentah.
Boy mulai tersenyum dan bertingkah sangat bahagia...ingin rasanya dia berteriak kegirangan tapi tidak bisa karena di Gereja masih ada orang juga ada Pendeta.
"Aku sayang kamu..." Boy tersenyum bahagia.
"Kenapa bisa berani ngungkapin perasaan samaku?" Lulu penasaran.
"Aku tahu kamu pasti punya perasaan yang sama denganku." Boy menatap Lulu dengan hangat.
"Pasti karena cerita dari Dani." Celetuk Lulu.
__ADS_1
"Gak sepenuhnya karena itu." Jelas Boy.
Lulu tersenyum memandangi wajah pria yang sudah lama sebenarnya sangat dirindukan.
"Berarti kita sudah resmi jadian hari ini...tapi ada satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak bisa janji bisa membahagiakanmu walau sebenarnya aku ingin sekali membahagiakanmu. Apalagi kau tahu aku berasal dari keluarga yang ekonominya biasa saja." Boy merasa gak enak hati dan sedikit malu.
"Aku itu sebenarnya orang yang gak percaya dengan kebahagiaan. Tapi, sekarang aku ngerti...kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya tanpa kita cari. Harta tidak menjamin bisa membuat hidup bahagia. Aku menyukaimu apa adanya, jadi jangan bahas soal materi. Materi itu bisa dicari kog tapi kebahagiaan tidak bisa dicari." Jelas Lulu dengan sangat serius.
"Mulai sekarang, kita harus terbuka dan jujur satu sama lain...kalau kamu ada masalah harus terbuka begitu juga aku." Boy tersenyum.
"Iya..." Lulu ikut tersenyum.
"Sayang..." Boy begitu bahagia.
"Apa?!" Lulu pura - pura tidak mengerti.
"Kita kan sudah jadian jadi boleh kan aku panggil kamu sayang?" Boy bingung.
"Hmmm, terdengar masih sangat aneh untukku karena ini pertama kalinya aku pacaran." Lulu tersenyum kaku.
"Aku mengerti." Boy menggenggam tangan Lulu.
Lulu seketika kaget kemudian segera menarik tangan dari genggaman.
"Tidak bisa aku menyentuh tanganmu?" Boy bingung dan heran.
"Maaf, aku belum terbiasa. Lain kali kamu ijin dulu ya..." Lulu menjadi gugup.
"Iya sudah, aku mengerti." Boy tertawa kecil melihat ekspresi Lulu yang begitu polos.
"Kamu belum mau pulang?" Boy melirik jam tangan.
"Oh iya, sudah jam berapa ini? Duh, aku juga ada janjian mau ketemuan sama teman - teman nanti di Taman Bunga." Lulu tersadar.
"Teman? siapa aja?" Boy sedikit cemburu.
"Teman - teman cewek kog! mereka sahabatku, ada Dani juga! Eh, tahu gak...semalam Dani nelepon aku pakai nomor baru dan menyamar jadi cewekmu terus ngancam - ngancam aku jangan dekatin kamu." Jelas Lulu sambil tertawa.
"Astaga! hahaha.....dan ternyata ancamannya malah membuat kita jadian." Boy tertawa.
"Kamu ikut aja yok sekalian kukenalkan sama teman - temanku." Lulu berharap Boy bisa ikut.
"Maaf, bukannya gak mau. Kebetulan anak kakakku hari ini ulangtahun jadi kami sekeluarga mau pergi ke karang anyer untuk merayakan." Jelas Boy merasa tidak enak menolak ajakan.
"Ya sudah lah." Wajah Lulu menjadi cemberut.
"Lain kali aku janji mau dikenalin sama teman - temanmu." Boy tersenyum sambil membelai rambut Lulu yang panjang.
Hp Lulu tiba - tiba berbunyi...
Ada telepon masuk dari Dani.....
"Halo......." Lulu menjawab.
"Lulu, lagi dimana? jadi kan nanti ketemuannya?" Tanya Dani dibalik telepon.
"Lagi berduaan sama Boy! dan ancamanmu gak berlaku. Tadi pagi mamamu nelepon aku menggunakan nomor baru yang kau pakai buat ngancem aku loh!" Lulu kesal sampai ke ubun - ubun.
"Hah? serius lagi sama Boy? hahaha.......maafin aku iseng. Eh, kalau gitu ajak lah dia nanti." Dani shok gak percaya lalu tertawa karena merasa lucu.
"Dia gak bisa Dan ada acara sama keluarganya." Keluh Lulu.
"Yah, sayang banget. Eh, jangan kasih tahu sama dia kalau semalam aku ngerjain kau ya...please!" Dani merasa sangat malu.
"Sudah terlanjur! tenang aja, dia gak marah kog! sudah dulu ya Dan aku mau pulang ini." Lulu mulai beranjak berdiri dari bangku.
"Hah? serius? Oke...oke!" Dani mengakhiri pembicaraan.
Lulu mematikan telepon lalu menyimpan hp kedalam tas...
Boy tidak bisa mengantar Lulu sampai dirumah karena harus segera pulang untuk acara keluarga. Boy hanya bisa mengantar Lulu sampai disimpang Gereja untuk mengambil angkot.
"Nanti malam aku telepon kamu..." Boy tersenyum.
"Aku tunggu." Lulu tersenyum dan melambaikan tangan dari dalam angkot.
__ADS_1
Mereka pun berpisah...
Baru saja bertemu tapi sudah ada perasaan kangen didalam hati ingin segera bertemu lagi....