
TAMAN BUNGA
Lagi - lagi Lulu datang terlambat, dari kejauhan terlihat dia sedang berjalan dengan cepat seperti dikejar sesuatu kemudian sesekali berlari pelan. sahabat - sahabatnya sudah dari 1 jam yang lalu sudah pada ngumpul di Cafe lesehan langganan.
"Hooh...hooohhh.....! Haduh, capek juga!" Lulu ngos - ngosan menghela nafas.
Maklumlah Lulu memang si Ratu Telat dari jaman SMA...
"Lama kali kau datang?" Celetuk Anna.
"Sudah mau pulang kami!" Lenny begitu kesal.
"Ntah ini...mentang - mentang baru ketemuan sama si Boy..." Celetuk Dani seraya mengejek.
"Kau ya...sini kau...sini kau.....!!!" Lulu begitu geram mengingat Dani yang menyamar menjadi pacar si Boy.
Lulu sudah tidak sabar ingin rasanya menarik - narik rambut Dani sampai puas...
"Aduh...aduuuuhhhhhh.......!!!" Dani mengeluh kesakitan memegang rambut.
"Yang kenapanya kalian?" Anna bingung.
Semua terdiam bingung menyaksikan pertengkaran kecil antara Lulu dan Dani seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan.
"Akhirnya lega..." Dengan raut wajah tanpa dosa Lulu merapikan baju dan rambut.
"Bersyukurlah kau karena ancamanku kalian malah jadi dekat lagi." Keluh Dani dengan wajah cemberut merapikan baju dan rambut yang berantakan.
"Aku geram aja ingat gaya bicaramu yang sombong, mentel dan lebay membanggakan diri." Lulu menatap sinis Dani namun didalam hati tertawa geli melihat penampilan Dani dengan rambut yang berantakan seperti singa.
"Betul kau ketemuan sama Boy?" Anna penasaran.
"Ceritakan dulu ada apa ini?" Lenny yang bingung menjadi penasaran.
"Berterimakasih lah seharusnya samaku!" Keluh Dani yang sibuk menyisir rambut.
Karena sudah lapar, Lulu memesan makanan dan minuman...
"Ceritakan dulu..." Anna begitu penasaran.
"Ntah ini, datang - datang bikin heboh." Celetuk Eva sambil mengunyah makanan.
Melihat sahabat - sahabatnya sudah begitu penasaran, Lulu mulai menceritakan semuanya.
"Gini, semalem tuh Dani ngerjain aku nelepon pakai nomor baru menyamar jadi pacarnya si Boy. Aku tuh kesal banget tahu gak sih dia pakai acara ngancam segala gak boleh aku dekatin si Boy terus pakai acara muji diri bilang dirinya lebih cantiklah. Eh, tadi pagi mamanya nelepon aku pakai nomor itu. Lah!ternyata si Dani! kesal kan?!" Jelas Lulu begitu geram.
"Kau pun kurang kerjaan, Dan!" Celetuk Anna tertawa.
"Pantaslah kau di jambak tadi." Eva membela Lulu dan menertawai Dani.
"Iya, mungkin kalau gak kukerjain gak bakal kejadian hari ini dia ketemu sama Boy." Dani membela diri.
__ADS_1
Mereka semua menatap Lulu dengan tatapan tanda tanya besar...
"Permisi...ini pesanannya." Mas pekerja Cafe mengantarkan makanan.
"Makasih." Lulu tersenyum.
"Sama - sama kak." Jawab Mas nya dengan nada suara begitu lembut lalu pergi.
Lulu yang sudah merasa haus segera meneguk minuman dingin...
"Sebenarnya......." Lulu terdiam karena Hp berbunyi.
Ada telepon masuk dari Opung...
Lulu menjawab telepon, Opung berpesan untuk membeli susu yang biasa diminum. Selagi Lulu sedang berbicara dengan Opung...Anna, Lenny, Eva dan Dani mengobrol pelan menerka - nerka apa maksud Lulu.
Lulu selesai berbicara dengan Opung lalu mematikan telepon...
"Sebenarnya apa?" Lenny sudah tidak sabaran.
"Yang serius lah, kujitakkan nanti kepalamu ya..." Anna sebal karena sudah gak sabaran juga.
"Sebenarnya.........." Lulu tersenyum geli menatap ekspresi lucu sahabatnya yang sangat penasaran.
Lulu begitu tergoda dengan aroma bakso yang dipesan, kemudian menuangkan kecap, saus, sambel 3 sendok...mengaduk - aduk semua menjadi satu lalu menikmati kuahnya.
"Sebenarnya apa???" Anna, Lenny, Dani dan Eva begitu kesal.
Anna segera memberikan air minum...
Air mata Lulu keluar karena menahan pedas di tenggorokan dan di hidung.....
"Aduh, pedas...!" Lulu mengeluh kepedasan bercampur rasa perih.
"Kau pulaknya ngomong setengah - setengah!" Keluh Lenny.
"Minum yang ini jangan yang dingin biar enakan." Anna memberikan segelas air putih biasa.
Sudah merasa agak tenang Lulu mulai melanjutkan cerita...
"Sebenarnya, aku dan Boy sudah jadian!" Jelas Lulu yang masih menahan sedikit rasa perih di hidung dan tenggorokan.
"SERIUS???" Semua terkejut gak percaya.
"Iyalah, ngapain pulak aku bohong." Lulu kembali menikmati bakso.
"Terus? terus???" Anna terlihat begitu senang.
"Kami ketemu di Gereja Pentakosta...padahal aku sudah berdoa minta sama Tuhan agar tidak dipertemukan dengan Boy di Gereja karena kata temanku dia sudah lama gak Gereja. Eh, malah ketemu." Jelas Lulu.
"Berarti jodoh itu!" Eva ikut merasa senang.
__ADS_1
"Kan kubilang juga karena kukerjain ngancam - ngancam jadi ketemu kan?!" Dani masih berusaha membenarkan diri.
"Iya juga sih ancamanmu malah jadi doa yang malah mempertemukan mereka." Lenny perlahan menanggapi.
"Duh, senang kali aku! cerita - cerita gimana dia nembak kau?!" Anna sudah tidak sabaran mendengar lebih lengkap.
"Sebentar..." Lulu masih sibuk menikmati bakso.
Semua tidak sabaran menunggu...
"Awalnya, aku cuek waktu dia berusaha dekatin aku. Ya, aku kan belum lupa kejadian di angkot yang diceritakan Dani. Terus, dia mohon - mohon untuk bisa bicara sebentar. Akhirnya, aku mau dengerin apa yang mau dia bilang." Jelas Lulu.
"Ada dia minta maaf?" Dani masih kesal mengingat kejadian di angkot.
"Iya, dia minta maaf berulang kali. Katanya gak ada maksud ngomong kasar gitu Dan. Dia bingung mikirin perasaannya yang sebenarnya apalagi karena perbedaan umur. Tapi, sekarang dia sadar kalau perasaan cinta itu gak mandang umur." Sambil bercerita Lulu kembali memesan makanan karena masih lapar.
"Terus pacarnya itu gimana?" Dani bingung.
"Oh, itu cewek uda diputusin. Boy gak serius dan keluarganya juga gak setuju." Lulu tersenyum bahagia karena hari ini begitu spesial.
"Pelampiasan itu!" Celetuk Eva.
"Sebelum Boy ungkapin perasaannya, aku tuh bingung lihat dia bawa gitar segala. Eh, ternyata dia nyanyi lagu Serpihan Hati nya Utopia...tapi, cuman reff aja." Lulu masih ingat jelas betapa kerennya Boy saat nyanyi.
"Ya ampun, romantisnya!" Anna heboh karena ikut merasa bahagia.
"Cuman dia bilang gak bisa janji bisa membahagiakanku walau sebenarnya ingin sekali membahagiakanku, karena ekonomi keluarganya yang biasa saja." Lulu sedih mengingat perkataan Boy yang sebenarnya tidak suka didengarnya.
"Halah! Harta itu bisa dicari...apalagi kalau kalian memang berjodoh kan bisa sama - sama memulai dari nol dan menikmati hasilnya bersama." Jelas Lenny tegas.
"Iya, betul itu! yang paling penting kalian itu bahagia udah cukup. Ngapain harta melimpah tapi gak bahagia!" Anna agak kesal menanggapi perkataan Boy yang seperti tidak mau berusaha memperjuangkan kebahagiaan dengan Lulu.
"Aku sudah bilang sama dia kalau aku terima dia apa adanya. Kebahagiaan itu datang dengan sendirinya sedangkan materi/harta bisa dicari." Jelas Lulu.
Mereka semua menjadi agak ragu dengan perasaan Boy...
"Lalu apa jawabannya?" Dani terlihat mengernyitkan kening.
"Dia mengerti, dan bilang harus jujur/terbuka didalam hubungan apalagi kalau ada masalah." Lulu tersenyum.
"Berharap dia itu serius ya Lulu." Dani mengelus pundak Lulu memberi semangat.
"Kog gak kau ajak si Boy kesini?" Lenny masih sangat penasaran dengan wajah Boy.
"Tadi sudah kuajak, dia gak bisa ikut ngumpul karena anak kakaknya ulang tahun." Lulu tersenyum dan mulai menikmati rujak.
"Jangan terlalu cinta nanti sakit." Celetuk Eva mengingatkan.
"Kau ini...mentang - mentang sudah berpengalaman." Ejek Anna.
Mereka semua menertawai Eva si playgirl tapi baik hati dan sangat perhatian kalau soal sahabat. Sambil menikmati makanan dan minuman, mereka tetap masih saja ngobrol membahas Boy yang membuat hati Lulu bingung. Namun, tidak lupa mereka memberikan nasehat soal pacaran kepada Lulu si polos yang baru pertama kali berpacaran agar bisa menjaga diri dan menjaga hati.
__ADS_1