MY FIRST BOYFRIEND IS NOT MY FIRST LOVE

MY FIRST BOYFRIEND IS NOT MY FIRST LOVE
PART 7


__ADS_3

RUMAH LULU


Lanjutan.......


"Dia nanya begitu karena suka samamu! tadi di jalan dia nanya soal kau dan cowok playboy itu! yah, aku jelaskan lah kalau itu semua sudah menjadi masa lalu. Trus, aku jelasin soal kau yg rindu sama Boy karena sudah lama gak ketemu dan sering cerita soal dirinya sama kami teman - temanmu. Trus, kau beli kaset Butterfly karena rindu sama dia dan bilang dia mirip sama Andhika Pratama." Jelas Dani panjang lebar begitu serius.


"APA??? kau cerita semuanya? Kenapa? kog kau ceritakan semuanya???aduh! malu kali aku, Dan!" Keluh Lulu begitu kesal,jengkel dan marah.


"Terpaksa aku jelaskan semuanya biar dia peka! Karena aku lihat dia suka samamu, Lulu!" Jelas Dani yang pengen sekali melihat Lulu bahagia.


Lulu terdiam seribu bahasa gak tahu mau ngomong apa karena semua hal Boy sudah tahu.


"Dia bilang dia suka samamu tapi masih ada satu alasan dipikirkannya. Sudah, tenang saja! gak usah mikir yang macam - macam lagi. Sekarang tunggu kabar dari Boy! aku pulang dulu ya, mau masak soalnya." Dani menepuk pelan pundak Lulu dan pamit pulang.


Setelah Dani pergi, Lulu beranjak masuk kedalam Rumah...


"Aduh, aku berharap jangan lah ketemu sama Boy...benar - benar malu aku, Tuhan!" Keluh Lulu berteriak didalam hati duduk di depan meja makan.


RUMAH TEMAN DANI (TAHUN 2007)


Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian bertemu dengan Boy. Sekarang Lulu dan Dani berada di Rumah salah satu teman Dani. Lulu begitu marah sama Dani karena tidak memberitahukan dimana sebenarnya alamat Rumah temannya itu. Dimana temannya itu bertetanggaan dengan Boy.


"Dan, sumpah kesal banget aku samamu! gimana kalau aku ketemu sama Boy, Hah?! Aduh!" Lulu terus saja berkeluh dengan raut wajah keringat dingin.


"Iya baguslah kalau ketemu, senang aku!" Dani terlihat biasa saja seperti masa bodoh gitu.


"Iihhh...! ihhh.....! sebel kali aku samamu lah!" Kening Lulu mengerut karena begitu kesal.


"Boy jam segini juga belum pulang sekolah, biasanya suka pulang sore dia." Jelas Dina temannya Dani.


Dina ini teman Dani dari SD. Dina berambut hitam panjang lurus, tidak begitu tinggi, ada jerawat diwajah dan manis, juga sudah menikah.


Dirumah Dina, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol, menonton televisi dan memasak indomie. Tidak terasa, waktu sudah mulai sore...


Sedang asyik menyantap indomie, terdengar suara keponakan Dina yang berumur 2 tahun menangis diluar. Segera Dina berlari keluar. Lulu dan Dani tetap melanjutkan menyantap indomie. Selesai makan, mereka mencuci piring masing - masing lalu menyusul Dina keluar.


"Kenapa nangis dia?" Tanya Dani memperhatikan anak - anak kecil banyak yang bermain.


"Coklatnya diambil teman..." Jelas Dina duduk memangku keponakannya.


"Sudah, nanti Tante belikan coklat yah." Dani mengusap air mata keponakan temannya.


Sedang asyik melihat anak - anak kecil bermain, tiba - tiba pandangan Lulu mengarah lurus kedepan...


"Dan.. Dani, ada Boy.. ada Boy! aduh!" Lulu menunjuk kearah Boy kemudian lari bersembunyi.


Lulu begitu kaget dan memilih bersembunyi didalam Rumah Dina sambil mengelus dada.

__ADS_1


"Boy...!" Dani memanggil Boy dari kejauhan sambil tersenyum.


"Eh, Dani...ngapain disini?" Boy kaget.


"Biasa main kerumah temanku Dina." Dani tersenyum melirik Dina.


"Wah, kenal rupanya kalian yah. Hehehe...." Boy tersenyum tidak menyangka.


"Sudah lama kami berteman, loh." Jelas Dina yang menatap Dani sambil menahan tawa karena tingkah Lulu tadi.


Boy, memperhatikan sekeliling seperti sedang mencari seseorang...


"Pasti lagi nyari Lulu kan?" Tebak Dani.


"Eh, hehe.....hehee..." Boy menggarut - garut kepala.


"Ada kog dia didalam. Sebentar aku panggil..." Dani tersenyum geli karena tingkah Lulu yang aneh tadi lalu pergi menemui Lulu.


Lulu bersembunyi di dapur...


"Lulu.....!" Dani memanggil.


"Eh, copot...copot!" Lulu terkejut.


"Itu, Boy nungguin kau..." Dani menarik tangan kiri Lulu.


"Ih, gak mau ah. Kog kau bilang pulak aku disini?!" Lulu merajuk kesal.


"Malu aku loh, Dan!" Wajah Lulu memerah dan jantung berdegup kencang.


"Sudah lupakan lah itu. Aku penasaran gimana kelanjutan kalian berdua. Ayok, jumpai dia." Dani berusaha menarik tangan Lulu dan mendorong badannya untuk keluar dari Rumah.


Begitu sampai diluar, Lulu berjalan kearah Boy dengan wajah menunduk tapi sesekali tersenyum gugup menatap Boy.


"Eh, indomie mu sudah dingin! cepat makan!" Dani mengingatkan Dina dengan sengaja agar meninggalkan Boy dan Lulu berduaan.


"Oh, iya!" Dina menggendong keponakannya dan masuk kerumah bersama Dani.


Sejenak keadaan hening...


"Aku gak nyangka loh kita bisa ketemu lagi secara kebetulan..." Jawab Boy dengan kening yang berkerut karena bertanya - tanya.


"Sama..." Lulu berusaha menyembunyikan rasa gugup.


"Kamu sehat?" Tanya Boy sambil duduk dibangku yang agak rusak.


"Yah, seperti yang kau lihat kan aku sehat." Jelas Lulu yang berdiri dihadapan Boy.

__ADS_1


"Lulu, gimana kalau cowok yang suka samamu ada didepanmu?" Tanya Boy begitu serius dan tiba - tiba menarik tangan kiri Lulu lalu menggenggamnya.


"Maksudmu apa?" Lulu pura - pura tidak mengerti.


"Gimana kalau cowok yang suka samamu sekarang ada didepanmu dan dia berasal dari keluarga biasa saja?" Boy begitu serius menatap Lulu.


"Yah, kalau aku suka sama dia dan dia juga tulus suka samaku. Kenapa gak? kebahagiaan itu kan gak dilihat dari harta. Kenapa, Boy?" Jelas Lulu membalas tatapan Boy tapi tidak sadar dengan maksud dari pertanyaan itu.


"Gimana kalau aku suka samamu?" Tanya Boy serius lebih detail agar Lulu mengerti.


"Kau ini...hahahaa.....bercanda aja kerjamu lah." Lulu tertawa menanggapi sambil menarik tangannya dari genggaman Boy, tapi sebenarnya didalam hati Lulu sangat gugup.


"Kayak mana kalau aku serius?" Boy kembali menarik dan menggenggam tangan kiri Lulu.


"Ah, yang benar kau serius? Hahaa..." Lulu tertawa kecil menganggap Boy bercanda padahal sebenarnya tahu Boy serius dengan ungkapannya.


Keadaan hening sebentar...


Boy, bingung harus bagaimana. Mungkin karena waktu dan keadaan yang kurang tepat sehingga membuat Lulu tidak percaya. Itulah yang ada dalam pikiran Boy.


"Lulu, ayok pulang! Mamaku nelepon disuruh jaga jualan." Dani tiba - tiba datang bersama Dina.


Mamanya Dani berjualan ikan mas dan pisang di Pasar. Sesekali, Dani membantu Mamanya menjaga jualan apalagi kalau barang dagangan baru datang.


"Boy, aku pulang yah..lagian ini juga sudah kesorean." Lulu pamit pulang.


"Iya, maaf ya Boy bukan bermaksud mengganggu. Benaran tadi Mamaku nelepon." Dani menjelaskan karena merasa tidak enak.


"Aku anterin kedepan yah.." Boy segera berdiri dari tempat duduknya.


"Gak usah. Gak apa - apa." Jelas Lulu tersenyum.


Mereka pamit pulang sama Boy dan Dina. Sudah 7 langkah melangkah, Lulu menoleh kebelakang melihat Boy yang masih menatap dirinya.


"Ngobrolin apa kalian tadi?" Tanya Dani penasaran.


"Dia bilang, gimana kalau cowok yang suka samamu sekarang ada didepanmu dan berasal dari keluarga biasa saja? gitu, Dan." Jelas Lulu sambil menghela nafas.


Loh, berarti dia suka samamu! trus kau jawab apa?"


"Aku sebenarnya tahu maksudnya. Tapi, pura - pura tidak tahu. Yah aku bilang aja, kalau aku suka sama cowok itu dan cowok itu juga tulus suka samaku. Kenapa gak? kebahagiaan kan gak dilihat dari harta." Jelas Lulu


"Trus...truss.......???" Dani tambah penasaran.


"Nanti sajalah lanjut ceritanya kalau sudah sampai di Pasar tempat jualanmu kuceritakan semua." Jelas Lulu yang pikirannya masih fokus dengan pertanyaan dan pernyataan Boy tadi.


"Iya sudah, ayok nyebrang.. itu ada angkot!" Dani mengajak Lulu menyeberang jalan untuk segera menaiki angkot yang sudah menunggu.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, pikiran Lulu masih sibuk dengan kejadian yang baru saja dia alami. Entah mimpi apa semalam sampai bisa ketemu Boy seperti ini?


"Kayaknya Boy ngomong gitu karena cerita si Dani waktu itu. Aduh malunya diriku!" Gerutu Lulu didalam hati yang tidak sanggup menjelaskan seberapa malu dirinya.


__ADS_2