
RUMAH DANI (TAHUN 2007)
Sudah dari beberapa hari yang lalu Lulu janji untuk menemani Dani kerumah pacarnya dan baru hari ini janji itu ditepati. Karena di Rumah begitu sibuk, akhir - akhir ini ada tamu yang nginap.
"Dan...Daniii......." Lulu memanggil sambil mengetok pintu Rumah.
"Iya, bentar..." Dani menjawab dari dalam Rumah.
Tidak lama, Adiknya Dani yg cowok paling kecil membuka kan pintu...
"Aku pikir gak jadi lagi kau temani aku..." Dani berjalan mendekati Lulu.
"Iya, nggak lah! Kalau masih ada tamu gak akan berani aku keluar Rumah dan pastinya juga gak akan dikasih Opung." Jelas Lulu sambil memperhatikan dandanan Dani yang berbeda.
"Ayok lah jalan nanti tambah kesorean." Dani mengambil tas, berjalan keluar kemudian menutup pintu.
"Tumben dandan...hahahahaha.........." Lulu tertawa melihat Dani memakai lipstik merah.
"Iya lah, masa gak dandan mau ke Rumah dia." Keluh Dani.
"Tapi, tumben kau kerumahnya? kenapa? kan bisa jumpai dia ditempat kerja." Lulu penasaran.
"Hari ini dia gak masuk kerja. Sudah beberapa hari dia gak ada kabar. Aku penasaran...trus kudengar dari temannya, dia itu ada cewek lain." Jelas Dani panjang lebar dengan raut wajah yang tidak sabaran untuk segera ketemu dengan pacarnya.
"Nah, pacarmu yang satu lagi uda gimana? kalau benar begitu...berarti kalian sama - sama selingkuh donk!" Lulu menyadarkan temannya itu.
"Aku sama yang itu sebenarnya uda putus karena LDR." Raut wajah Dani berubah menjadi sedih.
"Loh, kapan putus? kog gak cerita?" Lulu mencoba berpikir - pikir apakah sudah pernah dikasih tahu atau belum.
"Dua hari yang lalu kami putus, Lu. Sedih kali aku...tapi mau gimana lagi, sudah keputusan dia." Mata Dani terlihat memerah lalu menunduk.
"Aku pikir dia mutusin kau karna ketahuan jalan sama cowok lain disini. Tapi, ya sudah...berarti dia bukan yang terbaik untukmu. Sabar ya, Dan." Lulu mengelus pundak Dani, berusaha menghibur...karena sebenarnya Dani sangat sayang sama mantannya itu. Dan kenapa Dani pacaran dengan pria yang lain juga? itu hanya untuk melihat siapa yang serius. Mengingat masa lalu Dani yang pernah dikhianati jadi membuat dirinya tidak begitu percaya dengan pria.
MENUJU RUMAH PACAR DANI
Lulu dan Dani hanya berjalan kaki tidak naik angkot...
"Btw, dimana Rumahnya?" Lulu penasaran.
"Di lorong 9" Jelas Dani.
"APA???" Lulu kaget.
"Kenapa?" Dani bingung melihat ekspresi wajah temannya yang aneh.
"Kog gak bilang dari tadi sih biar aku tau." Gerutu Lulu
"Kenapa rupanya?" Kening Dani terlihat mengerut karena penasaran.
"Rumahnya Boy kan di lorong 20, berarti dekatan donk Rumah mereka. Jangan - jangan pacarmu kenal lagi sama Boy?" Jelas Lulu sambil menerka - nerka.
"Pasti kenal lah! Eh, gak tau juga ya...nanti tanya aja sama dia." Dani hanya bisa menebak namun penasaran.
Mereka melanjutkan perjalanan...agar tidak bosan, Lulu dan Dani mengobrol tentang masa - masa Sekolah juga mengobrol mengenai sewaktu mereka masih bermusuhan saat duduk di bangku SD dan SMP karena tidak saling mengenal. Jadi, dulu itu Dani kalau pulang Sekolah sering lewat dari depan Rumah Lulu. Gak tahu gimana ceritanya, raut wajah Dani kalau melihat Lulu serem gitu dan suka mengejek. Tidak mau kalah, Lulu ikutan mengejek Dani karena kesal sampai ke ubun - ubun. Yah, gimana ya...gak ada angin gak ada hujan tiba -tiba begitu. Kan bingung...?
Sedang asyik mengobrol, tiba - tiba pandangan Dani melotot lurus kedepan...
"Loh, itu kan Agus!" Langkah Dani terhenti.
"Mana???oh, iya benar! panggil...panggil!" Lulu membuka lebar - lebar kedua matanya untuk melihat seorang pria yg sedang berjalan santai berjarak 2 meter.
Nama pacar Dani adalah Agus, bertubuh tinggi, hitam manis bersuku jawa.
"Bang Agus! Agus!!!" Teriak Dani memanggil pacarnya.
Langkah pacar Dani langsung terhenti lalu menoleh kebelakang. Begitu melihat siapa yang ada dibelakannya. Pacar Dani, si Bang Agus langsung berjalan mendekat kearah Lulu dan Dani.
"Darimana?" Tanya Dani dengan wajah kesal tapi tidak bisa menahan senyum.
"Dari Rumah Tanteku. Ada acara dirumahnya, jadi aku datang." Jelas Agus tersenyum sembari menggarut - garut kepala dibalik topi.
"Oh......." Keluh Dani singkat.
"Eh, Kenalnya abang sama Boy anak lorong 20? yang putih tinggi orangnya?" Lulu penasaran sekali.
__ADS_1
"Loh, kenal lah aku...gimana gak kenal! temannya aja tetanggaku. Kenapa rupanya?" Jelas Agus tertawa kecil dan pikirannya tidak terlalu konsen karena melihat Dani.
"Iya sih, banyak temannya itu bang. Suka kali dia bergaul..temannya pun kebanyakan lebih tua dari dia." Jelas Lulu mengingat sifat dan karakter dirinya dengan Boy berbeda 180 derajat.
"Kenapa? kenal Boy juga?" Agus tambah penasaran.
"Iya lah! pacarnya!" Celetuk Dani.
"Ih, Dan...sejak kapan?" Bantah Lulu.
"Calon maksudnya..." Jelas Dani dengan raut wajah kesal menatap Agus.
"Kog bisa kenal kalian?" Tanya Agus yang penasaran.
"Kenapa rupanya?" Dani kesal karena melihat sikap Agus seperti tidak ada rasa bersalah.
"Kami kenal di Gereja Pentakosta yang di lorong 20 itu bang trus sama - sama guru sekolah minggu." Jelas Lulu sambil sesekali menatap Dani yg berwajah kesal.
Serius mengobrol membahas Boy, tiba - tiba ada yang mengagetkan...
"Itu bukannya Boy yah?" Dani menunjuk ke arah belakang Lulu.
Dari kejauhan terlihat dua orang pria sedang menaiki sepeda motor yang mau mendekat.
"Masa sih?" Lulu mengucek - ngucek kedua mata agar melihat lebih jelas.
"Loh, iya benar!" Agus melihat jelas pria yang dibonceng adalah Boy.
Boy juga sepertinya sudah memperhatikan Lulu dan menyuruh temannya untuk menghentikan motor persis dihadapan Lulu.
"Hi, jeng!!! "Boy tersenyum lebar menyapa Lulu sambil turun dari motor.
Jeng adalah panggilan yang berawal karena sebuah drama natal di tempat Kursus Bahasa Inggris Lulu yang dulu. Dimana didalam drama itu, ada menceritakan sebuah kisah arisan ibu - ibu modern. Jadilah kata Jeng digunakan Boy sekali - sekali memanggil Lulu.
"Waduh, panjang umur nih, bro!" Jelas Agus tertawa sumringah.
"Hah???" Boy bingung.
"Barusan kami lagi bahas kau." Dani keceplosan.
"Aduh!" Dani kaget,merasakan sakit ditangannya.
Lulu memberikan tatapan marah sama Dani.
Boy bingung melihat ekspresi Lulu dan Dani, sedangkan Agus mengerti perasaan Lulu.
"Gini, karena Lulu baru tahu aku tinggal di lorong 9 jadi dia nanya kenal gak sama Boy. Gitu aja sih." Jelas Agus agar Boy mengerti.
"Oh, gitu ya...hehehe....." Boy tersenyum menatap Lulu.
"Sudah, mumpung kalian ketemu ngobrol dulu lah kalian. Biar kami ngobrol yg penting." Dani, menarik tangan Agus untuk melangkah agak jauh dari Lulu dan Boy.
Lulu sudah tahu maksud temannya itu...
"Apa kabarmu?" Tanya Boy.
"Baik. Kau sendiri gimana?" Tanya Lulu menunduk.
"Baik juga! kog bisa ketemu kita disini? mau kemana kalian?" Boy tersenyum senang karena sudah rindu sama cewek yang sekarang berdiri dihadapannya.
"Tadinya kami mau kerumah Bang agus. Eh, gak taunya ketemu disini." Jelas Lulu tersenyum.
"Kog bisa kenal sama Bang Agus? Siapa kamu dia?" Boy sedikit mulai cemburu.
"Bang Agus sama Dani itu pacaran. Jadi, sudah beberapa hari ini bang Agus tidak ada kabar dan Dani dapat kabar dari temannya Bang Agus kalau dia itu ada cewek lain." Jelas Lulu dengan suara pelan tapi gak sadar kalau Boy cemburu.
"Trus, sekarang kamu sudah punya pacar belum?" Tanya Boy serius.
"Belum. Kenapa?" Lulu menanggapi biasa saja.
"Kalau cowok yang kamu suka sekarang ada gak?"Nada suara Boy terdengar begitu serius.
"Apa sih nanya begituan!" Lulu mulai curiga.
"Pengen tahu aja..." Tatapan Boy serius.
__ADS_1
"Ada sih, satu sekolah. Tapi, aku gak yakin gitu." Kali ini jawaban Lulu terdengar tidak bercanda.
"Kenapa gak yakin?" Boy penasaran.
"Karena dia playboy dan perokok."Jelas Lulu.
"Trus, kenapa bisa suka?" Boy tidak berhenti bertanya dengan perasaan yang cemburu.
"Sebenarnya dia anak yang baik.......eh, kenapa nanya - nanya sih?" Lulu berhenti menjelaskan karena bertanya - tanya dengan sikap Boy yang agak terlihat aneh.
"Kamu belum mau pulang? ini kan sudah sore..." Boy mengalihkan pembicaraan.
"Oh, iya! Aduh sudah jam 6 sore! gawat!" Lulu tersadar begitu melirik jam tangan.
"Ayo, aku antar pulang...selesai ngantar kamu baru aku ngantar Dani." Jelas Boy yang khawatir Lulu dimarahin sama Opung.
Boy meminjam motor temannya...
"Dan, ayok pulang uda jam 6 sore ini! Aduh, bisa dimarahin Opung lah aku." Keluh Lulu mulai uring - uringan.
"Iya ya uda sore!" Dani juga baru sadar begitu melirik jam tangan.
"Ayo, naik!" Boy menyuruh Lulu segera naik ke motor.
"Aku antar Lulu duluan...tunggu disini ya, Dan!" Jelas Boy.
"Ok.." Dani mengerti.
Dalam perjalanan, Lulu dan Boy membisu tidak tahu mau mengobrol apa. Boy didalam hati begitu cemburu dengan sosok pria yang disukai Lulu. Sedangkan Lulu sibuk berpikir dengan pertanyaan Boy yang menurutnya sangat aneh.
Begitu sampai didepan Rumah, Boy pamit begitu saja tanpa tersenyum. Lulu bingung dan bertanya - tanya. Sebenarnya, Lulu juga suka sama Boy tapi karena takut ketahuan soal perasaannya. Makanya Lulu menjelaskan soal pria yang pernah disukai saat masih SMA.
RUMAH LULU
"Kayaknya aku ada feeling deh kalau Boy menanyakan soal aku sama Dani!" Berbagai hal terbesit didalam pikiran Lulu.
Untung saja dirumah, temannya Opung datang jadi Lulu gak kenak marah. Opung dan temannya sedang mengobrol serius diruang televisi. Lulu langsung masuk ke kamar dengan raut wajah yang muram.
"Kog Dani gak nelepon ya?" Lulu begitu penasaran.......
Setelah 15 menit kemudian.....
"Lulu...lulu......." Terdengar suara Dani memanggil dibalik gerbang Rumah.
"Kog seperti suara Dani yah? Loh!" Begitu yakin, Lulu langsung bergegas keluar kamar dan berlari menemui Dani.
Lulu mengambil kunci gerbang karena memang setiap hari gerbang Rumah selalu di gembok takut ada orang tidak dikenal masuk begitu saja tanpa ijin.
"Kog gak nelepon?" Tanya Lulu penasaran.
Boy yang belum pergi selesai mengantarkan Dani, pamit terlebih dahulu kepada Lulu lalu pergi.
"Lowbet HP ku." Jelas Dani.
"Pantesan..."Jawab Lulu sambil pandangan tidak lepas melihat Boy yang semakin menjauh.
"Lulu, tadi Boy minta nomormu..trus aku kasih, dicatat dikertas kecil." Jelas Dani sangat serius.
"Loh, tapi kan dia sudah pernah minta nomorku!" Lulu bertambah bingung.
"Iya, Aku tahu! tadi juga kutanya soal itu dan dia bilang hilang gak tau kemana. Mungkin tercuci kertasnya didalam kantong celana." Jelas Dani yang terlihat menahan nafas.
"Pantesan gak pernah nelepon aku." Lulu mulai paham.
"Sebentar..sebentar... Hah..! Hoh...!" Dani duduk sambil menghela nafas panjang.
"Kenapa kau?" Lulu bingung melihat temannya seperti terlihat lelah.
"Gini..Gini...! aku tadi itu kaget sama Boy makanya jantungku berdegup kencang." Dani berusaha menenangkan diri sembari menghela nafas.
Mendengar penjelasan Dani membuat Lulu sangat penasaran dan bingung sekali. Apa ini ada sangkut pautnya dengan hal - hal yang ditanyakan Boy tadi?
"Lulu, kenapa cerita soal cowok playboy yg kau sukai itu?" Dani kesal.
"Lah, dia nanya uda punya pacar belum? ada cowok yang kusuka gak? ya sudah kujawab aja." Jelas Lulu dengan tanggapan biasa alias polos.
__ADS_1
Bersambung...