
RUMAH LULU
Tok...tok.....tok......tokkkkk....!
Ada yang mengetuk pintu.....
Tante yang sedang duduk disamping meja setrika segera membuka pintu...
"Opung dimana?" Lulu bersuara pelan dengan raut wajah takut dimarahi.
"Baru selesai makan Opung langsung pergi ke kamar." Tante kembali menutup dan mengunci pintu begitu Lulu masuk.
Lulu mengelus dada tanda bernafas lega namun masih panik takut dimarahi...
"Kenapa baru pulang jam segini sudah jam 7 malam?" Tante khawatir Opung bisa marah.
"Kan tadi tu hujan jadi terpaksa berteduh dulu Tante." Lulu berjalan pelan - pelan kearah ruang tamu hendak mengintip.
"Ganti lah bajumu biar langsung makan malam supaya jangan masuk angin." Tante pergi ke dapur.
Lulu berjalan pelan - pelan ke kamar juga sangat hati - hati membuka dan menutup pintu agar tidak didengar sama Opung, karena kamar mereka tepat bersebelahan.
Tante yang sedang berada di dapur, mengambil makanan dari dalam lemari kemudian dibawa ke ruang makan.
Setelah selesai mengganti baju, Lulu pergi ke ruang makan...
"Tante sudah makan?" Lulu pergi mengambil piring dan gelas di dapur.
"Belum...makan bareng lah kita."Jawab Tante yang duduk didepan meja makan.
"Tadi Opung ada nanyain aku gak Tante?" Lulu meletakkan piring dan gelas di meja lalu menarik kursi untuk duduk.
"Gak ada! mungkin lagi senang karena dapat kiriman uang dari anaknya." Tante menyendok nasi ke piring bersamaan dengan ikan juga sayur.
"Yah, Opung kalau lagi kesenangan gitu kadang - kadang jadi lupa sesuatu." Lulu geleng - geleng karena heran.
Menu makanan Lulu sekeluarga adalah sayur daun singkong dimasak pakai santan, ikan mujair goreng sambel dan kerupuk ikan. Menu yang sederhana tapi nikmat.
"Tante, masih ingat gak sama Boy yang pernah aku ceritakan?" Lulu mulai curhat.
"Masih lah.....papanya sering lewat di depan Tante waktu lagi jualan di Pasar. Kenapa rupanya?" Tante menikmati makan malam dengan lahap.
"Tadi aku ketemu sama Boy di Gereja, sudah jadian kami." Lulu begitu bersemangat karena hatinya masih berbunga - bunga.
"Siapa yang duluan ngomong?" Tante ikut merasa senang.
" Ya dia lah Tante masa aku? hehehehehe..." Wajah Lulu cemberut lalu tertawa kecil.
"Semoga kalian berjodoh ya. Senang mendengarnya." Tante berharap yang terbaik.
Selama menikmati makan malam, Lulu menceritakan semua kejadian yang dialami saat bertemu dengan Boy di Gereja juga bagaimana Boy mengungkapkan perasaannya. Tante tertawa begitu mendengar Boy bernyanyi menggunakan gitar berusaha untuk melakukan hal yang romantis.
__ADS_1
"Biasanya laki - laki kalau sudah terlanjur sayang pasti akan berusaha melakukan yang terbaik seperti yang dilakukan Boy bernyanyi untukmu Lulu." Tante tertawa gembira.
"Oh, begitu ya? baru tahu..." Lulu si polos mulai mengerti.
"Tapi ingat, jangan terlalu cinta." Tante memberi nasehat yang sulit dimengerti.
Lulu hanya tersenyum sambil mengunyah makanan namun didalam hati berpikir, "Kalau gak terlalu cinta berarti setengah hati donk?"
Karena belum punya pengalaman dalam hal cinta, jadi Lulu belum begitu mengerti bagaimana seharusnya mencintai seseorang.
Selesai makan, Lulu bertugas mencuci piring - piring yang kotor...
Tiba - tiba Hp yang tergeletak di meja makan berbunyi...
Ada telepon masuk dari nomor baru...dengan ragu - ragu Lulu menjawab telepon tersebut.
"Halo....." Jawab Lulu.
"Lulu, ini aku Boy." Suara Boy terdengar begitu bersemangat dibalik telepon.
"Boy? aku pikir tadi siapa yang nelepon, hehehe.....ini nomormu?" Lulu merasa sangat senang sekali mendengar suara pria yang memiliki hatinya.
"Ini nomor Mamaku, disimpan ya." Jawab Boy dibalik telepon.
"APA???" Lulu terkejut.
"Kenapa?" Boy bingung.
"Lulu, aku mau kasih tahu kalau Mama, Papa, Adik dan Kakak ku semuanya sudah tahu kalau kita pacaran." Boy menjelaskan begitu antusias dibalik telepon.
"APA??? SERIUS??? KOG?!" Lulu panik dan shok setengah mati seperti tersambar petir.
"Kenapa? kamu gak suka keluargaku tahu?" Boy bingung mendengar reaksi Lulu.
"Bukan begitu...maksudku, kita kan baru aja jadian...kenapa begitu cepat kau beritahu sama keluargamu?" Lulu berusaha tenang memberi penjelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Ya, gak apa - apa. Justru malah bagus aku beritahu dari sekarang...dan keluargaku setuju kita pacaran, apalagi Mamaku senang. Mamaku bilang perempuan seperti Lulu lah yang Mama suka dan pacarmu sebelumnya Mama tidak suka sama sekali!, begitu..." Jelas Boy.
"Masa?" Detak jantung Lulu berdetak kencang karena masih shok.
"Keluargamu sudah tahu kita pacaran?" Nada suara Boy terdengar begitu serius dibalik telepon.
"Yang baru tahu cuman Tante. Kalau Opung kan kamu tahu sendiri aku belum di ijinin pacaran dan Mamaku kan jarang komunikasi samaku. Nanti, kalau Mama nelepon pasti aku kasih tahu." Lulu menjelaskan secara hati - hati agar Boy bisa mengerti.
"Iya, gak apa - apa. Yang terpenting sekarang keluargaku sudah setuju sama hubungan kita dan tinggal menunggu persetujuan dari keluargamu. Nanti aku tinggal cari kerja dan ketika keluargamu setuju, kita langsung menikah!" Nada suara Boy terdengar begitu bersemangat dan serius.
"APA??? NIKAH???" Lulu kembali shok sampai ke ubun - ubun.
"Kamu gak mau menikah sama aku?" Nada suara Boy terdengar melemah seperti mendapat sebuah penolakan.
"Tentu aku mau...kita kan menjalani hubungan ini serius. Aku hanya terkejut kamu terlalu cepat mengatakan itu, kita kan baru jadian." Suara Lulu begitu gugup sampai keringat dingin.
__ADS_1
"Itu karena aku memang sayang dan serius sama kamu!" Jelas Boy tegas.
Lulu terdiam gak tahu harus ngomong apa...
Disini umur Lulu dan Boy masih muda, Lulu 19 tahun dan Boy 18 tahun...jadi wajar saja masih terlalu dini bagi Lulu membicarakan sebuah pernikahan. Apalagi pada saat mengetahui keluarga Boy sudah mengetahui hubungan mereka, Lulu menjadi sangat panik itu karena dia baru pertama kali pacaran jadi merasa canggung, bingung, takut dan gak tahu harus menghadapi dengan cara bagaimana?
"Lulu, Mamaku mau bicara..." Sedari tadi suara Boy terdengar begitu happy.
"HAH? APA??? aduh! kenapa secepat ini? Gawat, aku harus ngomong apa??? duh, bingung aku!" Keluh Lulu didalam hati panik, shok dan gugup setengah mati.
"Halo, Lulu......." Suara Mama Boy terdengar begitu ramah dibalik telepon.
"Ha...halo...Tante....." Lulu berusaha tenang.
"Tante, senang sekali Boy pacaran samamu! sangat setuju! Tante, lebih suka sama Lulu. Sebelumnya Boy pernah punya pacar tapi Tante gak setuju. Tante berharap hubungan kalian kearah yang serius yah." Jelas Mama Boy begitu ramah dibalik telepon.
"Iya Tante, makasih. Aku juga berharap seperti itu tapi bawa dalam doa saja." Jantung Lulu berdetak kencang karena gugup.
"Lulu, kalau ada apa - apa misalnya Boy bikin marah, kecewa atau gak ada kabar...telepon Tante di nomor ini ya biar Tante nasehatin dia." Mama Boy begitu welcome dan terlihat sayang sama Lulu.
"Iya, baik Tante. Tapi, pasti Boy anak yang baik kog...hehehehehe....." Lulu begitu senang mendapat perlakuan yang baik dari Mamanya Boy.
"Aduh, senangnya Tante akhirnya kalian pacaran! ya sudah kalau begitu, Tante ada kerjaan sedikit kamu lanjut lagi ngobrol sama Boy." Mama Boy tersenyum dibalik telepon.
"Iya, Tante." Lulu tersenyum gugup.
"Sayang......." Sapa Boy dibalik telepon.
"Apa? sayang?" Lulu masih canggung dengan satu kata itu.
"Gak suka dipanggil sayang?" Suara Boy terdengar melemah dibalik telepon.
"Maaf, aku belum terbiasa karena baru kali ini. Mungkin akan menjadi terbiasa nantinya." Jelas Lulu yang masih baru meraba dunia pacaran.
"Aku mengerti kog." Boy tersenyum dibalik telepon.
"Mama kamu baik yah...jujur aku takut dan gugup tadi waktu lagi ngobrol sama Mama mu, gak tahu mau ngomong apa." Jelas Lulu yang jantungnya masih berdetak kencang karena shok.
"Aku mengerti karena ini terlalu cepat untukmu. Nanti juga kamu akan terbiasa. Mamaku kalau sudah suka memang seperti itu. Sekarang hatiku sudah tenang karena hubungan kita disetujui keluargaku. Lulu, aku ada kerjaan bantuin Papa setelah itu mau lanjut belajar." Jelas Boy dibalik telepon.
"Ya sudah, kamu belajarnya yang bener biar lulus ujiannya!" Lulu memberikan semangat.
"Siap, Tuan Putri! dada...dada...daaa......." Suara Boy terdengar bersemangat.
"Dadaaaaaaa......." Lulu mengakhiri pembicaraan dan mematikan telepon.
Hal yang dirasakan Lulu saat ini itu seperti terpeleset dari perosotan diketinggian 20 meter lalu tersambar petir bercampur percikan api warna - warni seperti kembang api. Jantung Lulu masih berdetak kencang karena shok dengan hal yang baru saja dihadapi bahkan sampai keringat dingin.
PLAKKK! PLAAKKK!!!
Lulu memukul - mukul wajahnya seperti orang bodoh...
__ADS_1
"Mimpi apa aku semalam??? aneh...aneh sekali hari ini!" Lulu kebingungan memikirkan semuanya lalu menarik nafas satu - satu berusaha menenangkan jantung yang berdetak kencang.