
Sehari setelah kejadian itu, Lucy kembali masuk sekolah dengan di antar oleh pria paruh baya yang biasa ia sapa paman Han.
Lucy duduk di taman sekolah. mengayun-ayunkan kakinya sembari menunggu Lenna yang sedang membeli minum di kantin sekolah.
Lucy memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya ke atas. Tiba-tiba saja dia merasakan ada sesuatu yang dingin di dahinya.
"Lenna janga main-main, kemarikan minumanku" ucap Lucy tanpa membuka matanya.
"Ehemm.." Itu jelas bukan suara Lenna.
Lucy segera membuka matanya
"Mr. Dion" Lucy terkejut melihat Mr. Dion yang berdiri di belakangnya sambil membawa minuman dingin.
"Bolehkah aku duduk?"
"Tentu saja" Lucy menggeser posisi duduknya, memberi ruang untuk Mr. Dion di sebelahnya.
"Untukmu" Mr. Dion memberikan sebotol minuman dingin sambil tersenyum manis.
"Untukku?..eh terima kasih Mr" Lucy gugup. Tentu saja, wanita mana yang tak terpikat oleh senyum manisnya, apa lagi di tambah lesung pipit yang membuatnya menjadi lebih menawan.
"Emm..Lucy" Mr. Dion terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya Mr?" Jawab Lucy canggung.
"Bisakah saat sedang berdua saja atau saat di luar lingkungan sekolah jangan panggil aku Mr?" Ucap Mr. Dion terus terang.
"Memangnya kenapa? " tanya Lucy heran.
__ADS_1
"Aku merasa kurang nyaman saja" Dion tertawa kecil.
"Baiklah..jadi, aku harus memanggilmu apa?"
"Terserah kau saja"
"Bagaimana kalau kakak? sepertinya kau seumuran dengan kakaku" Jawab Lucy dengan senyum lebar.
"Baiklah panggil aku kakak hehe" Dion tersenyum lembut pada Lucy, tapi diam-diam jantungnya berdebar.
"Oh ya, kemarin Lenna bilang kau tidak masuk sekolah karena sakit" tanya Dion.
"Ahh..iya, aku merasa kurang enak badan kemarin"
"Lalu apa kau sekarang baik-baik saja? Tanya dion.
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang hehe" jawab Lucy dengan senyum manisnya.
"Sudah bell, kebetulan ini bagianku mengajar di kelasmu. mari pergi bersama" Dion bangkit dari duduknya.
"Bolehkah?" tanya Lucy.
"Tentu saja, memang kenapa tidak boleh" Lucy bangkit dari duduknya dan berjalan di samping dion.
Lucy merasa sangat canggung, apa lagi banyak murid yang memperhatikan mereka, sudah jelas mereka iri. karena idolanya berjalan bersama Lucy.
"Em..kak Dion, ngomong-ngomong berapa tinggi badanmu? kau terlihat sangat tinggi" Tanya Lucy mencoba mencairkan suasana.
"Benarkah?, tinggiku emm..181"
__ADS_1
"wahhh...pantas saja aku tenggelam di sampingmu haha" Lucy tertawa.
Tinggi Lucy hanya 158, jadi wajar saja jika dia terlihat seperti kerdil di samping Dion.
****
Setelah kelas Dion selesai, Lenna langsung datang menghampiri Lucy dan siap menginterogasi.
"Jelaskan padaku yang terjadi? Lenna yang baru duduk di depan Lucy begitu heboh.
"jelaskan apa?" Lucy tak mengerti.
"Semua murid membicarakan mu. kau habis berkencan dengan Mr. Dion kan di taman?" Lenna menatap Lucy.
"Apanya yang kencan? kita hanya ngobrol biasa saja. Lagi pula ini juga gara-gara kau yang tidak datang ke taman" jawab Lucy.
"hehe..maaf, aku ada panggilan alam mendadak tadi" Lenna tertawa sambil menggaruk kepalanya.
"Dasar perut karet haha" ejek Lucy sambil terkekeh.
"Heyy jangan bahas perut seksiku, beri tahu saja apa yang kalian bicarakan?" Lenna masih penasaran.
"Dia memintaku untuk tidak memanggilnya Mr" jawab Lucy santai.
"Hah?! lalu kau memanggilnya apa? sayang? baby? cinta? daddy? sugar daddy? " Lenna semakin ngawur.
"Dasar gila, mana mungkin aku memanggilnya dengan panggilan bodoh seperti itu. aku memanggilnya kakak, karena dia seumuran dengan kakakku"
jelas Lucy.
__ADS_1
Tolong bantu Like dan komen ya..
Terima kasih♡