
...Bab 10 \= Pengganggu....
...\=\=\=...
[ *Naiya Pov * ]
“ tuutt... tuuttt.. ” ( panggilan masuk )
Merasa ada sesuatu yang bergetar disaku celana, Naiya pun mengambil ponsel yang ia simpan di sakunya. Dan dengan cepat, Naiya langsung menjawab panggilan masuk yang ternyata dari sahabatnya.
“ ya, sha? kenapa? lo kangen ma gue? ”
“ kamu dimana? ”
“ bener kan dugaan gue.. gue tau lo gak bisa jauh dari gue. gue sih emang suka sama orang yang gak gengsian.. tapi, masalahnya kan kita tinggal seatap, ngapain lo kangen ama gue..? ”
“ dimana?? ”
“ ih jawab dulu pertanyaan gue dah.. ”
“ dimana??!! ”
“ gue di kedainya bi inem. ”
“ kedai bi... inem?? ”
“ ya, gue ngarang sih.. biar gampang aja gitu ”
“ trus dimanaa??!! ”
“ gue ada di kedai yang waktu itu kita beli minum sebelum lo nemuin tu peti tua, trus lo ning— ”
“ tuuutt.. ” ( panggilan berakhir )
“ eh? hiihh??!! si kampret!!!! minta dijitak pake bola boling emang!!! ” ketusnya sembari menatap kesal layar ponselnya sendiri.
“ siapa? ” tanya Jey.
“ Aliesha ” jawab Naiya sembari menaruh kembali ponselnya diatas meja.
“ ooh.. si kulkas yang lu bilang itu? ”
“ ya, gitu deh.. cuma bedanya dia punya mata, idung, telinga, bibir, tangan, kaki, nadi, jantung, hati, paru-paru, otak, usus, empedu, pankreas— ”
“ SETOP!!! udah cukuv!!! ”
“ sudah cukup, cukup sudaahhh.. cukup sampai disini sajaaa~~ ”
“ elah, malah nyanyi ”
“ e iya sorry ”
[ *Pov End * ]
Setelah mematikan telpon, dan menyimpannya kembali ke dalam saku celananya, Aliesha pun segera beranjak dari tempatnya berdiri untuk pergi ke kedai yang Naiya maksud.
__ADS_1
Namun, langkah Aliesha terhenti begitu saja ketika mendapati seorang laki-laki yang sempat ia pukul perutnya disungai tadi, kini tengah berdiri beberapa senti meter disampingnya.
Mengingat apa yang telah dilakukan oleh laki-laki itu padanya saat disungai, seketika ekspresi wajah Aliesha berubah menjadi garang dengan tatapannya yang begitu tajam. Cara menatap Aliesha menjadi jauh lebih tidak bersahabat dibanding pertemuan sebelumnya.
“ emm... soal tadi.. kamu salah paham. aku beneran gak ada maksud apapun. aku cuma mau nyingkirin serangga yang ada dirambut kamu ” ujar laki-laki itu mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
“ trus.. kamu mau saya percaya?? ” tanya Aliesha dengan nada yang tampak tidak bersahabat.
“ iya.. ”
Aliesha hanya menatap sinis laki-laki itu dari bawah kaki hingga ujung kepalanya. Aliesha tidak merespon apapun lagi, dia tidak peduli dan langsung pergi begitu saja meninggalkan laki-laki itu seorang diri.
“ tadi beneran, aku gak bohong! ” ucapnya masih berusaha membuat perempuan dingin itu untuk percaya padanya.
Melihat Aliesha yang terus berjalan tanpa peduli sedikitpun, dia langsung berlari menyusul langkah Aliesha yang begitu cepat dan emosi. Laki-laki itu setengah berlari menyusul dan berhenti tepat dihadapan Aliesha.
“ ini.... ulah serangga yang ada dirambut kamu tadi. ” ucap laki-laki itu sembari menunjukan luka ditangannya.
Dan luka ditangan laki-laki itu nyatanya berhasil menghentikan langkah Aliesha. Terpampang jelas luka dengan sedikit berdarah. Dilihat dari lukanya yang memang tampak sungguhan, Aliesha merasa mungkin itu bukanlah tipuan. Aliesha pun kembali menatap laki-laki dihadapannya dengan tatapan dingin, namun tidak mengeluarkan sepatah katapun.
“ sekarang kamu percaya? ”
Aliesha hanya terdiam sejenak, dan setelah itupun ia kembali pergi tanpa merespon sedikitpun. Namun kini langkah Aliesha tidak se-emosi sebelumnya.
“ ya sebenernya ini gak sebanding sih sama ngilu diperut.. ” ucapnya masih belum menyerah membuntuti Aliesha.
“ by the way... kamu ikutan taekwondo ya? ”
Aliesha sama sekali tidak merespon pertanyaan yang dilontarkan laki-laki itu padanya. Dia masih saja berjalan tanpa melirik ke arah manapun selain jalanan didepannya.
Aliesha masih tetap terdiam tidak menghiraukan laki-laki disampingnya itu.
“ atau mungkin kamu ikutan karate? ”
“ ohh, atau.. kung fu?? ”
Dan lagi lagi Aliesha masih saja terdiam bungkam tanpa berkutik sedikitpun.
“ yang pasti... kamu masternya dari semua bela diri kan? soalnya perut aku masih ngilu sih sampe sekarang.. ” ocehnya. Masih tetap berusaha mencari topik agar tidak diabaikan oleh perempuan disampingnya itu.
“ pasti ayah ka— ”
“ kamu mau apa sih?? ” tanya Aliesha dengan nadanya yang tampak sedikit kesal.
Akhirnya Aliesha kembali membuka mulutnya, karena ocehan-ocehan yang terasa cukup mengganggu telinganya. Laki-laki itu yang merasa berhasil membuat Aliesha kesal, tersenyum puas melihat Aliesha yang kini kembali menatapnya.
“ el.... Elvano. ” ucap laki-laki itu dengan senyuman terbaik dikedua sudut bibirnya, sembari menyodorkan tangan kanan miliknya pada Aliesha.
Aliesha yang melihat itu hanya terdiam tanpa menyautkan tangannya ataupun menyebutkan namanya. Dan lagi lagi, Aliesha memilih pergi dari pada meladeni orang asing seperti laki-laki yang baru saja menyebutkan namanya itu.
“ gapapa.. kalau kamu gak mau kenalan juga aku udah tau nama kamu. yang penting aku udah sebutin nama.. ” ucapnya, kembali berjalan menyusul Aliesha. Lagi lagi ia belum menyerah dengan tekadnya itu.
“ harus inget ya, namanya.. jangan sampe lupa. ” ucapnya tampak girang karena ia sudah menyebutkan namanya pada Aliesha. Meskipun Aliesha mengabaikannya, tapi setidaknya Aliesha pasti sudah mendengar itu.
“ oiya.. kamu mau ke kedai ya? pas banget aku juga haus.. sekalian, bareng ya.. ”
__ADS_1
Baru kali ini Aliesha menemukan laki-laki cerewet seperti orang disebelahnya itu. Karena semua ocehannya itu, Aliesha menjadi sedikit frustrasi. Namun, dia lebih memilih untuk menganggap laki-laki yang bernama Elvano itu tidak ada, dibanding harus kembali bertukar kalimat dengannya.
Aliesha merasa sedikit risih karena Elvano yang terus membuntuti langkahnya, namun berbeda hal nya dengan Elvano. Dia tampak bahagia dengan senyuman disudut bibirnya.
...•••...
“ eh??.. tu si kulkas! ” ucap Jey sembari menunjuk keberadaan Aliesha dengan jari telunjuknya.
“ mana? ” tanya Naiya sembari mengikuti ke mana arah jari telunjuk Jeyno.
“ heh! sahabat gue tu cewe! sejak kapan Aliesha berubah jadi cowo?? ganti genre dimana bisa cepet banget kek kereta express!! ” ketus Naiya kebingungan.
“ lu ngeliat ape sihh?? noh! disono sumarni!!! elah.. mata lu tu mata lu! jangan dipake buat ngeliat cogan doang!! ”
“ iihh!! dima— e iya ada.. ” gumam Naiya menemukan Aliesha yang tengah berjalan mendekat.
“ masi idup lu nyet? ” seru Naiya pada Aliesha.
“ EH, BRAY!!! mangap! gue gak liat lu.. ” ucap Jey sembari menepuk keras pundak Elvano.
“ sini sha.. lo mau pesen apa? biar gue pesenin.. ” tanya Naiya sembari menepuk kursi disampingnya, memberi tanda agar Aliesha segera duduk.
“ gak usah. ”
“ lah, trus? ”
“ pulang. udah gak mood. ”
“ lah ko gitu?! gue masih pengen disini sha! cepet banget lo mau balik.. gak sumpek apa lo dirumah mulu? ”
“ terserah.. aku pulang duluan. ” ucap Aliesha lalu pergi lebih dulu, meninggalkan Naiya yang masih menyeruput gelas yang sudah tidak berisi.
“ ah elah.. padahal gue tu masih pw tau gak.. ” gumam Naiya kecewa karena merasa belum puas dengan hang outnya kali ini.
“ yaudah, gue duluan ya.. ”
“ mau gua anter? ”
“ gak usah.. gue bareng Aliesha.. ”
“ tapi tadi udah bener kan? gak salah? ”
“ iya!.. dah, gue duluan! bye ” seru Naiya berpamitan lalu pergi menyusul Aliesha yang sudah menjauh.
“ eh, nai!! ”
“ kenapa jey? ”
“ hati hati! ”
Naiya merespon itu hanya dengan senyuman, lalu kembali pergi dengan langkah yang cepat. Mungkin, Naiya tidak ingin Jeyno tahu, bahwa wajahnya mungkin sekarang tengah memerah.
...\=\=\=...
...To be continued... » ...
__ADS_1