
...Bab 07 \= Keinginan Terpendam....
...\=\=\=...
- [ 00.23 ] -
Hari semakin larut, detik jam dinding pun semakin terdengar jelas. Setelah lukanya Aliesha selesai diobati, dan menyelesaikan film yang belum tuntas ditonton, akhirnya Aliesha dan Naiya pun memutuskan untuk pergi tidur dikamarnya masing-masing.
“ tik.. tik.. tik.. ”
“ Aliesha... kamu harus janji sama mama ya? nanti, kalau dateng waktunya mama mati— ”
“ mama gak boleh bilang gitu! mama bakal terus ada disamping Aliesha sampai Aliesha tua! kita mati bareng-bareng ya ma.. ”
“ cukup Aliesha. mama itu udah tua. mama juga gak akan bisa terus ada disamping kamu.. kamu harus cari pendamping hidup yang bisa sayang sama kamu sepenuhnya. dia harus bisa gantiin posisi mama disamping kamu. dia harus janji buat selalu lindungin kamu. ”
“ tapi.. Aliesha punya mama aja itu udah cukup.. ”
“ Aliesha.... dengerin mama..! satu-satunya cara yang bisa kamu lakuin buat mama sekarang. kamu harus cari pendamping hidup pengganti mama! kalau kayak gitu, mama jadi tenang buat ninggalin kamu. mama gak perlu lagi khawatir siapa yang bakal jagain kamu kalau mama udah gak ada. ”
“ ma.. ”
“ mama yakin.. kamu bakal ketemu sama laki-laki yang mau cinta sama kamu sepenuhnya. dan orang itu pasti dateng buat kamu suatu saat nanti. ”
•
•
“ Degg!! ”
“ tik.. tik.. tik.. ”
“ haaahhh.. ”
“ lagi?? sialan!!! ” ketus Aliesha menggerutu.
Aliesha pun bangun dan menyenderkan tubuhnya dibahu kasur. Menggosok wajahnya dengan begitu frustrasi. Lagi lagi Aliesha harus terbangun karena mengingat sesuatu tentang masa lalunya.
Aliesha sudah cukup frustrasi setelah bertahun-tahun hidup seperti ini sejak semua yang dimilikinya hilang. Seharusnya semua itu sudah berlalu seiring waktu berjalan, namun entah mengapa rasanya masih tetap saja menyakitkan.
__ADS_1
Aliesha terdiam mematung. Ingatan masa lalu yang mengganggunya tadi nampak berbeda. Biasanya Aliesha selalu diganggu dengan ingatan tentang ayah ataupun pamannya. Namun kali ini tentang ibunya. Aliesha merasa ibunya benar-benar hadir ditidurnya malam ini, menyampaikan hal yang sama seperti dimasa lalu.
“ hah.... ”
“ apa ada gunanya pendamping hidup? aku bisa ko hidup sendiri.. ”
“ semua laki-laki itu buat aku sama aja! gak ada bedanya! emang apa yang mama percaya dari mereka? kalau suami mama sendiri aja sama kan banjingannya??!! ”
“ cih!!! anjing bengis sialan kayak gitu gak akan pernah bisa jadi ayah!!! dasar brengsek!!! ”
“ mama gak usah khawatir. aku bisa jaga diri. aku gak akan butuh yang namanya pendamping hidup. mama istirahat aja disana yang tenang. ”
“ mungkin buat sekarang enggak.. tapi liat aja nanti, lo pasti bakal kemakan sama omongan lo sendiri. ”
“ eh...?? Na—Naiya?! ”
Aliesha nampak terkejut mantap sekaligus heran karena melihat Naiya yang tengah terbaring tidur membelakanginya. Namun anehnya, entah mengapa Aliesha bisa sama sekali tidak menyadari keberadaan Naiya disampingnya.
“ haahh.... gue ingetin sekali lagi sama lo. lo jangan pernah sok gak butuh sama laki-laki. asal lo tau, ada saatnya lo bakal sadar, kalau lo itu butuh seseorang disamping lo. ” ujar Naiya tanpa terbangun dari tidurnya.
“ gak akan pernah. ”
“ pikirin baik-baik apa kata mama lo.. apa yang mama lo bilang itu pasti saran terbaik buat lo! ”
“ cih! apa gunanya?! ”
“ manusia gak akan pernah bisa hidup sendiri. dan gue juga gak akan terus bisa ada disisi lo. inget itu baik-baik! ”
“ oiya... dikamar gue tadi ada kecoa, gue gak bisa tidur tenang gara-gara tu serangga laknat! jadi gue pindah ke kamar lo.. gapapa kan? dah, gue tidur duluan. lo jangan ngumpat mulu! gue jadi gak bisa tidur tau! bay. ” ucap Naiya lalu kembali tidur.
Aliesha sempat terdiam sejenak, namun beberapa menit setelahnya Aliesha tidak lagi peduli dengan apa yang Naiya katakan. Aliesha pun keluar dari kamarnya dan pergi ke arah dapur.
Sesampainya didapur, Aliesha mengambil teh dilemari makanan dan menyeduhnya dengan air panas.
Aliesha tidak berniat untuk kembali lagi ke kamarnya. Karena jika Aliesha sudah terbangun ditengah tidurnya, akan susah bagi Aliesha untuk kembali tertidur walaupun itu dipaksa.
Aliesha pun pergi ke ruang televisi dan mendudukan dirinya diatas sofa.
“ sluurrpp.. ”
__ADS_1
“ hmm.. kurang manis. ” gumam Aliesha menatap lekat cangkir berisi teh merah ditangannya.
Menatap teh yang begitu tenang didalam cangkir miliknya, Aliesha merasa rasa gundah dihatinya sedikit berkurang. Meskipun Aliesha masih teringat dengan apa yang ibunya sampaikan dan apa barusan Naiya katakan.
Aliesha tidak bisa yakin dengan apa yang ibu dan sahabatnya bicarakan tentang laki-laki. Menurut Aliesha, ibu dan sahabatnya itu salah dalam hal menilai laki-laki.
Dilihat dari apa yang sudah terjadi selama ini pada hidup Aliesha, dan melihat takdir percintaan dirinya sendiri dan juga Naiya. Membuat Aliesha semakin percaya, bahwa semua laki-laki itu sama.
Mereka yang datang tak diundang, lalu pergi tanpa pamit. Mereka yang menyakiti tanpa mengerti perasaan yang disakitinya. Tidak ada apapun lagi yang bisa membuat Aliesha percaya pada mereka yang disebut ' laki-laki '.
“ laki-laki mana yang bisa ngelindungin aku? laki-laki mana yang bisa cinta sepenuhnya sama aku? laki-laki mana yang ibu maksud itu??!! ”
“ aku gak akan bisa lagi percaya sama mereka! ”
Aliesha menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kuat-kuat. Mencoba untuk menenangkan suasana hatinya sendiri. Aliesha meneguk kembali teh hangat ditangannya.
“ lagi pula.... emang ada, laki-laki yang mama bilang itu? ” gumam Aliesha dengan wajah lesu. “ hah.. gak mungkin. ” sambungnya.
Aliesha menaruh cangkir tehnya diatas meja. Tepat disamping buku kuno dari peti tua tadi. Aliesha sedikit terkejut buku itu masih ada disana. Ternyata Aliesha lupa menyimpan buku itu dikamarnya. Setelah menyimpan peti itu ke dalam gudang, Aliesha langsung pergi ke tidur dan melupakan bukunya.
Aliesha pun meraih buku itu dan membuka halaman tadi yang terkena darah dari luka ditangannya. Dan ternyata darahnya membekas jelas disana, nampak begitu merah dan kering. Namun Aliesha tidak mempedulikan itu sama sekali.
Aliesha membuka buku itu dihalaman pertama dan menyimpannya kembali diatas meja. Lalu beranjak dari duduknya dan pergi menuju lemari dibawah televisi. Aliesha mengambil sebuah pulpen yang sudah tersedia didalam sana dan kembali duduk.
Entah mengapa, Aliesha ingin menuliskan sesuatu dibuka itu. Dengan perlahan, ia pun mulai menaruh satu persatu huruf dihalaman sana. Mencoba menuliskan satu keinginan dilubuk hatinya. Walaupun mungkin Aliesha tahu bahwa itu mustahil, setidaknya Aliesha sudah mengutarakannya diatas kertas.
Dihalaman itu, Aliesha menuliskan tentang dunia Euphoria impiannya, dan satu hal perihal seorang lelaki idamannya.
Ya, Aliesha tetaplah seorang perempuan biasa pada umumnya. Aliesha juga seseorang manusia, yang memiliki impian dan bahkan juga tipikal idamannya sendiri. Namun Aliesha menyadari bahwa itu tidaklah mungkin ada didunia nyata ini. Meskipun begitu, Aliesha hanya akan menyimpan impiannya itu dalam-dalam dihatinya.
...•...
...•...
...“ lelaki yang tidak lagi pergi tanpa pamit. lelaki yang tidak lagi memberi luka. lelaki yang tidak lagi membuatku kembali terbelunggu dilubang yang sama. dan lelaki yang rela memberi cinta tanpa rasa pamrih dihatinya. ”...
...\=\=\=...
...To be continued... »...
__ADS_1