
...Bab 11 \= “ dia lagi! ”...
...\=\=\=...
- [ 12.58 ] -
Hari ini Aliesha dan Naiya tidak meninggalkan rumah. Mereka hanya bersantai diatas sofa, menonton televisi dengan cemilan-cemilan yang tersedia diatas meja.
Mungkin Naiya merasa bosan, karena sedari pagi dia terlihat lesu dan tidak berisik seperti biasanya. Aliesha sedikit khawatir dengan Naiya yang hari ini. Tapi disatu sisi Aliesha juga bersyukur, karena hingga detik ini telinganya masih baik-baik saja. Tidak lagi berdenging karena ocehan sahabatnya.
Berbeda dengan Aliesha. Anak itu tampak biasa-biasa saja. Tidak merasa bosan ataupun senang sama sekali. Hanya menonton televisi dengan mulutnya yang sibuk berkerja.
“ drrtt.. drrtt.. drrtt.. ” ( panggilan masuk )
“ halo?.... eh, lo beneran??.... o—oke oke... gue sama Aliesha... hmm.. ”
Mendengar respon Naiya yang menjawab suara dibalik telponnya itu. Entah mengapa, Aliesha merasa setelah telponnya itu berakhir, Aliesha berani bertaruh bahwa Naiya akan mengajaknya lagi untuk pergi keluar rumah.
“ oke.. bayy.. ”
“ tuutt.. ” ( panggilan berakhir )
“ sha, kita cabut!! ”
Dan ternyata apa yang diduga Aliesha itu benar. Naiya langsung mematikan televisi. Menarik tangan dan mendorong paksa Aliesha untuk masuk ke kamarnya agar segera bersiap pergi.
Sebenarnya hari ini Aliesha ingin berdiam diri saja. Rasanya seperti terlalu malas untuk pergi kemana-mana. Namun, nampaknya Naiya begitu memaksa.
Dibanding harus meladeni jurus ngerap milik Naiya, akhirnya Aliesha memutuskan untuk mengikuti saja keinginan Naiya. Meskipun rasanya begitu malas untuk melangkah.
...• • •...
“ din.. din.. ”
“ taksi onlinenya dateng.. ayo! ” ajak Naiya berjalan lebih dulu, meninggalkan Aliesha yang masih mengunci pintu.
Aliesha pun segera menyusul Naiya menaiki mobil taksinya. Aliesha masih tidak tahu kemana ia dan sahabatnya itu akan pergi.
“ kita mau kemana? ” tanya Aliesha.
“ taman pinus.. ” jawab Naiya semangat.
“ lagi? ”
“ yap! gue kangen nasgornya bi inem! ”
“ sejak kapan kedai pop ice jual nasgor?? ”
“ ...... tadi pagi! ”
Mendengar timbalan Naiya, Aliesha merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui dari betina disampingnya itu. Aliesha menatap Naiya begitu tajam, seakan-akan tahu bukan itulah alasan Naiya ingin pergi ke taman pinus.
“ y—yaa.. mau ketemuan sih sebenernya.. ” seru Naiya memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“ sama? ”
“ bi inem ”
Aliesha merasa bodoh karena meladeni Naiya. Seharusnya Aliesha sadar bahwa Naiya itu adalah salah satu makhluk unik penuh dengan beban pikiran, yang membuat otaknya itu terpental keluar.
Aliesha mengambil earphone di tas miliknya. Ia lebih baik mendengarkan musik ditelinganya dengan volume penuh, daripada kupingnya harus berdenging karena teriakan dari tasmanian devil disampingnya.
...***...
Setelah beberapa menit memakan waktu, akhirnya Aliesha dan Naiya sampai ditaman pinus. Mereka pun langsung pergi menuju kedai yang biasa mereka datangi.
“ nai..! sini!! ”
“ disana ternyata! ayo sha! ” ucap Naiya sembari menarik tangan sahabatnya itu agar berjalan sedikit lebih cepat.
Sekarang Aliesha tahu. Ternyata, alasan Naiya ingin pergi ke taman pinus adalah karena seorang laki-laki yang kini tengah melambai-lambaikan tangannya, tepat disalah satu meja didepan sana. Pantas saja, hari ini Aliesha merasa begitu malas untuk pergi kemanapun. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik Aliesha diam saja dirumah.
“ sejak kapan kamu akrab sama dia? ” tanya Aliesha.
“ baru kemarin sih.. ” timbal Naiya tampak berseri.
“ hai nai! lu apa kabar? gua baik, makasih udah nanya ” sapa Jey lebih dulu.
“ gue belom nanya somplak!! ” timbal Naiya sembari duduk dikursi samping Jey. “ oiya jey.. lu udah tau kan? dia siapa? ” sambung Naiya sembari menunjuk Aliesha.
“ ya, kulkas berkaki kann?? ”
“ Aliesha nyet! ”
“ Aliesha. ” timbal Aliesha seadanya, dengan senyuman satu sentinya tanpa membalas uluran tangan Jeyno.
Jeyno yang melihat itu, langsung mengalihkan tangannya untuk mengambil minuman miliknya.
“ lu tau suhu di antartika? ” tanya Jey.
Aliesha hanya merespon pertanyaan Jey hanya dengan anggukan kecil dari kepalanya.
“ nah, badan lu tuh dah cosplay kek antartika dicampur kutub utara! antara -101,1 nyampe -1001°celcius suhu badan lu, gue yakin itu! ”
“ tau dari mana lo? suhu Aliesha sedingin itu? ” tanya Naiya sedikit mengerutkan kedua alisnya.
“ dari datengnya aja udah kek bongkahan es, saking dinginnya tuh nyampe ngebul kek asep roko ”
“ dia emang beda dari yang lain. lahirnya aja di inti gunung antartika. jangan salah! gini-gini juga dia tu blasteran es ama salju. jadi lo jangan aneh ya! ” timbal Naiya.
“ aku ke wc dulu ” ucap Aliesha sembari berdiri dari duduknya.
“ tapi sha, lo baru juga duduk! ” ketus Naiya.
Aliesha tidak merespon sedikitpun. Ia langsung pergi begitu saja membawa tasnya, meninggalkan Naiya dan Jeyno disana.
“ eh, itu bukan arah mau ke wc tau.. ” ucap Jeyno.
__ADS_1
“ gak tau.. sarap otaknya emang agak belok. biarin aja. ” timbal Naiya.
Sebenarnya, Aliesha sama sekali tidak ingin ke kamar mandi. Dia hanya ingin menjauh dari dua manusia dengan otak yang salah posisi.
Aliesha terus berjalan menjauh, namun entah kemana. Dia hanya melangkah tak tentu arah mengikuti arus angin. Sembari memperhatikan pohon pinus disisi kanan kirinya yang tumbuh begitu tinggi menjulang.
Entah mengapa, hari ini Aliesha merasa tidak bersemangat. Ditambah pula sekarang Naiya sedang tidak bersamanya.
Aliesha menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Terdiam mematung ditengah jalanan taman, memperhatikan dedaunan yang terjatuh dan terbawa angin. Kali ini rasanya Aliesha sangat bosan untuk melakukan apapun. Aliesha pun menghela nafas lalu mengambil kamera mini miliknya yang masih tersimpan di dalam tas.
Entahlah, hari ini taman pinus tampak sedikit lebih sepi dari biasanya. Namun, karena itu Aliesha senang. Dengan begitu dia bisa lebih leluasa untuk mengambil foto tanpa ada gangguan.
“ cekrek.. cekrekkk... ”
“ kamu kenapa? ”
“ Degg!! ”
Seseorang berhasil membuat Aliesha tersontak kaget. Dengan spontan Aliesha pun langsung memutarkan kepalanya ke arah belakang, untuk mencari tahu siapa yang baru saja membuatnya terkejut.
Dan pantas saja. Kenapa Aliesha merasa tidak asing mendengar suara itu, karena ternyata itu adalah Elvano. Laki-laki itu tengah berdiri dengan senyuman terbaiknya.
“ ckk!! dia lagi. ” gumam Aliesha berdecak kesal didalam hatinya. Aliesha merasa dia tidak akan pernah lagi merasa damai jika bertemu dengan Elvano.
Aliesha pun kembali melanjutkan aktivitasnya, tanpa menghiraukan Elvano sama sekali atau menyapa sekalipun. Bahkan Aliesha berharap semoga Elvano segera pergi dan tidak mengganggunya.
“ aku temenin ya! ” ucap El membawa tubuhnya agar berdiri disamping Aliesha.
Aliesha tidak merespon El sepatah katapun. Dia lebih memilih sibuk dengan kegiatan favoritnya itu. Namun sayangnya, itu sama sekali tidak membuat El menyerah sedikitpun.
“ kamu fotografer? ” tanya El memecah rasa gugupnya sendiri. Namun lagi-lagi Aliesha mengabaikannya.
“ daripada disini, aku punya tempat bagus buat kamu foto.. pemandangannya lebih terbuka dibanding disini. ” ucap El berniat ingin mengajak Aliesha untuk pergi kesuatu tempat.
Namun Aliesha tampak tak peduli sedikitpun. Tapi El tidak ingin kalah, dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa bersama Aliesha lebih lama.
Melihat Aliesha yang terus sibuk dengan aktivitasnya, El memikirkan satu hal bagaimana cara agar Aliesha kembali menatapnya lagi.
Dengan sengaja El menghalangi lensa kamera Aliesha dengan tangannya sendiri. Aliesha tetap tidak peduli, tapi El terus melakukan itu hingga akhirnya Aliesha mulai merasa kesal dan menghentikan aktivitasnya.
Aliesha menatap El dengan tatapan yang begitu tajam, tampak dari ekspresinya yang kesal. Melihat aksinya yang berhasil membuat Aliesha kesal, El tersenyum dengan begitu puas.
“ mau kamu apa?? ” tanya Aliesha dingin.
“ kamu pasti suka.. tempatnya cantik! ” ucap El masih tetap kukuh ingin mengajak Aliesha untuk pergi bersamanya.
Aliesha yang tidak sengaja melihat tangan El yang ditutup hansaplas. Mungkin itu adalah luka dari gigitan serangga kemarin. Melihatnya seperti itu, Aliesha menjadi merasa sedikit bersalah karena sudah menuduh El yang tidak-tidak, dan bahkan hingga memukul perutnya.
“ tempatnya gak jauh, masih ditaman ini ko.. ” ucap El lalu berjalan lebih dulu. Ia berharap semoga Aliesha mengikuti langkahnya.
Karena Aliesha merasa sedikit bersalah pada El, dan disisi lain Aliesha memang merasa bosan jika terus menerus mengambil gambar yang sama. Ia pun memutuskan untuk mengikuti kemana El berjalan, dengan tujuan ingin mengetahui tempat seperti apa yang El maksud.
...\=\=\=...
__ADS_1
...To be continued... » ...