My.Nation-B

My.Nation-B
Chapter = Another Dimension.


__ADS_3

...Bab 15 \= Dimensi Lain....


...\=\=\=...


“ kruyuukk... ”


Suara perut yang tengah meminta jatahnya sudah mulai berbicara kepada pemiliknya sendiri. Naiya yang tengah bermalas-malasan dikamarnya pun langsung beranjak pergi menuju dapur, berniat ingin mencari makanan yang bisa disantap olehnya.


Namun sayangnya, Naiya tidak menemukan satupun makanan dilemari persediaan. Hanya sisa margarin yang Naiya temukan. Naiya yang menatap lemari kosong itu pun cemberut kecewa.


Naiya beranjak pergi ke ruang utama. Menghampiri Aliesha yang tengah terduduk disofa, sibuk dengan ponsel dan earphone ditelinganya.


“ sha! gak ada makanan.. ” rengek Naiya cemberut layaknya anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada orangtuanya.


Namun nampaknya Aliesha tidak mendengar Naiya, karena earphone yang terpasang dikedua telinganya.


“ sha! gue laper!! ” rengek Naiya.


Aliesha masih tetap tak mendengar Naiya. Ia masih tak menyadari keberadaan Naiya yang berdiri disamping sofa.


“ BUKHH!!! ”


Sebuah bantal sofa berhasil menghantam kepala Aliesha dengan begitu kuat. Aliesha terkejut mantap, dia langsung melepas earphone miliknya dan menatap wajah Naiya dengan tatapan dingin seperti biasanya.


“ nah, nengok kan! seharusnya gue tepak pake teplon aja sekalian! ” ketus Naiya menggerutu.


“ kenapa? ” tanya Aliesha.


“ gue laper! tapi persediaan kita udah ludes!! cepet banget abisnya, padahal baru taun kemaren belanja.. kayaknya disini ada musang upin ipin! dia pindah profesi dari malingin sendal jadi makanan.. sialan!! ” ketus Naiya bergumam.


“ yaudah belanja lagi. ” timbal Aliesha.


“ oke, sekarang! kita capcus!! lo ikut. ”


“ gak. ”


“ lo harus ikut sha!! kalo enggak, gue bakal bawa lu pake mobil derek.. tiktik gak pake tambah kurang bagi!!! ” ketus Naiya sembari menarik paksa tangan Aliesha untuk segera bersiap.


“ cih!! kenapa aku harus ikut?! ” ketus Aliesha.


“ lo harus bantuin gue bawain bawaannya!! gak bisa nolak!! berbagi beban itu indah sha!! ”


Aliesha yang mendengar itu hanya menghela nafasnya. Aliesha tak habis pikir, entah bagaimana ceritanya dia bisa memiliki sahabat seperti Naiya.


...***...


“ pak tolong berhentinya dizebra kross ya.. ” ucap Naiya sembari menunjuk zebra kross yang berada didepan sana.


Setelah sampai ditempat tujuan, Aliesha dan Naiya pun segera turun dari taksi yang mereka tumpangi. Taksinya berhenti tepat didepan sebrang mall, tempat yang meraka tuju untuk berbelanja. Karena mallnya berada disebrang sana, mau tidak mau meraka harus menyebrangi jalan raya.


“ sha, lo yang bayar.. gue gak bawa ongkos buat patungan ehe.. ” ucap Naiya terkekeh, lalu beranjak pergi ke sebrang jalan meninggalkan Aliesha lebih dulu.

__ADS_1


Tanpa basa basi, Aliesha pun membayar ongkos taksi sepenuhnya. Meskipun Aliesha terdiam sejenak menghela nafasnya berat, namun pada akhirnya dia tetap membayarnya karena Naiya pergi begitu saja.


Lampu rambu lalu lintas untuk pejalan kaki yang tadi berwarna hijau kini kembali berubah menjadi merah. Aliesha pun tak punya pilihan lain selain menunggunya disamping zebra kross.


Aliesha melirik ke setiap arah. Melihat ada begitu banyak manusia yang berkeliaran seperti semut dimana-mana. lagi lagi Aliesha menghela nafasnya. Aliesha sangat tidak suka berada ditengah keramaian yang dipenuhi makhluk bernyawa spesiesnya.


Namun.. didepan sebrang sana, Aliesha mendapati seorang laki-laki yang tengah menunggu untuk menyebrang sama seperti dirinya. Orang itu berpakaian serba hitam. Dengan hoodie, topi dan maskernya yang berwarna hitam.. Membuat tampilannya itu tampak terlihat seperti *******.


Manusia manusia yang berpenampilan seperti itu kadang kala membuat Aliesha merasa curiga. Aliesha takut jika orang-orang itu adalah penjahat ataupun manusia bejat lainnya. Karena orang-orang seperti itulah yang nyatanya lebih menakutkan dibandingkan hantu.


“ Degg!!! ”


Pandangan Aliesha tidak sengaja berpapasan dengan kedua mata laki-laki disebrang itu. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda yang dirasakan Aliesha ketika bertemu pandang dengannya.


“ aww.. ” gumam Aliesha merintih sembari memegangi kedua mata miliknya.


Aliesha merasa ada yang aneh dengan mata laki-laki itu. Ketika bertatapan dengan matanya, kedua mata Aliesha tiba-tiba terasa begitu sakit nan perih yang tidak biasa. Layaknya seperti ditusuk benda tajam. Seperti ada sesuatu yang menyerang masuk kedalam mata Aliesha.


Tatapan laki-laki itu membuat Aliesha merasa tidak nyaman. Tampak mengintimidasi dan memberi kesan gelisah pada Aliesha. Aliesha merasa sangat terganggu dengan tatapan anehnya itu. Dia sangat tidak menyukai hal yang mengganggu suasana hatinya.


“cih!! kenapa tiba-tiba sakit kayak gini??!! sialan. ” gumam Aliesha menggerutu didalam hatinya.


Dan akhirnya, lampu rambu lalu lintas yang Aliesha tunggu kini sudah berubah menjadi hijau. Aliesha pun segera berjalan menyebrangi jalan raya didepannya itu dengan langkahnya yang cepat. Tanpa menghiraukan disekelilingnya sama sekali.


Begitu pula dengan laki-laki itu, Aliesha sudah tidak ingin tahu dan tidak lagi peduli. Intinya, Aliesha tidak ingin berurusan lagi dengan siapapun. Bagi Aliesha, bertemu dengan Elvano saja sudah cukup mengganggu hidupnya.


“ ckk!! masih sakit ” gumam Aliesha sembari menggosok pelan kedua mata miliknya.


“ sha! cepetan! ” panggil Naiya sedikit lantang. Anak itu tampaknya masih menunggu Aliesha didepan pintu mall.




[ beberapa jam berlalu... ]


Setelah memakan waktu berjam-jam di dalam mall. Aliesha dan Naiya pun memutuskan untuk kembali pulang, setelah dirasa semua yang diperlukan sudah berada dikantong belanjaannya.


“ satu, dua.. tujuh...... ” gumam Naiya sembari menghitung semua barang belanjaannya.


“ eh? tunggu...... EEHHH??!! SHAA!!!! GUE LUPA!!! ” teriak Naiya karena teringat sesuatu.


“ kenapa?! ” tanya Aliesha terkejut.


“ gue nitip sha!! lo tunggu disini! ” ucap Naiya memberikan semua kantong belanjanya pada Aliesha, lalu kembali masuk ke dalam mall dengan lari tergesa-gesa.


Aliesha yang melihat itu terdiam mematung, sembari mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Aliesha mengerutkan kedua Aliesha, ia dibuat bingung berat oleh Naiya yang tiba-tiba masuk kembali ke dalam mall.


Kedua tangan Aliesha yang sudah dipenuhi oleh bawaannya sendiri, kini ditambah lagi dengan belanjaan yang dibawa oleh Naiya. Rasa-rasanya kedua tangan Aliesha seperti ingin putus karena beban dikedua tangannya.


Namun, lagi dan lagi Aliesha hanya bisa menghela nafas. Mau tidak mau dia harus membawa semua itu dengan tangannya sendiri, walaupun Aliesha tampak sedikit frustrasi dengan tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


“ bruukhh.. ”


Satu kantong belanjaan jatuh dari genggaman Aliesha. Jujur saja, semenjak dia membawa belanjaannya, telapak tangan Aliesha menjadi berkeringat.


“ ckk!!! ” gumam Aliesha berdecak kesal.


“ sini, biar aku bantu.. ”


Ketika Aliesha hendak menekuk tubuhnya untuk mengambil kembali kantong belanjaannya yang terjatuh, kantong itu sudah lebih dulu diambil oleh seorang laki-laki tak dikenal.


Namun saat Aliesha mengangkat kembali pandangannya, Aliesha sedikit terkejut dengan siapa yang tengah berdiri dihadapannya sekarang. Aliesha masih mengingatnya, laki-laki itu adalah orang yang sama dengan laki-laki yang Aliesha lihat sebelumnya dizebra kross.


Lagi lagi Aliesha dibuat kebingungan dengan apa yang tengah terjadi padanya hari ini.


“ gak usah, makasih. ” timbal Aliesha dengan nada dinginnya.


Melihat respon Aliesha, laki-laki itu hanya membalasnya kembali dengan senyuman.


“ disana ada bangku.. mungkin kamu bisa nunggu temen kamu sambil duduk disana.. dari pada kayak gini, repot.. ” ucapnya sembari menunjuk sebuah bangku yang terletak diujung samping mall.


Pikiran Aliesha semakin dilanda kebingungan. Mengapa laki-laki itu bisa tahu bawah didirinya sedang menunggu Naiya.


Aliesha mengerutkan kedua alisnya kuat-kuat sembari berjalan menuju ke arah bangku yang ditunjuk oleh laki-laki itu. Kedua tangan Aliesha memang sudah terlanjur lemas. Ia memutuskan untuk duduk disana hingga Naiya kembali.


Laki-laki itu menyimpan satu kantong belanjaan yang dibawanya diatas bangku.


“ makasih ” ucap Aliesha tanpa menatap sedikitpun ke arah laki-laki itu.


“ nyuutt!!... ”


“ eugh! sialan!!! lagi lagi.. ” gumam Aliesha menggerutu didalam hatinya sembari memegangi mata miliknya.


Dengan begitu tiba-tiba, Aliesha kembali merasakan rasa sakit yang luar biasa dikedua matanya. Entah mengapa, rasa sakit itu membuat Aliesha seperti tersengat sesuatu. Aliesha masih tetap tidak mengerti, ini kedua kalinya dia merasakan sakit dimatanya. Padahal, Aliesha sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit apapun dimatanya. Meskipun warna mata Aliesha berbeda dari manusia lainnya, tapi kesehatan mata Aliesha jauh lebih baik dibanding mata pada umumnya.


“ senang bertemu denganmu... Aliesha. ”


“ Deg!! ”


Aliesha terkejut bukan main, ketika mendengar suara bernada berat tengah memanggil namanya. Sontak Aliesha membuka kembali mata yang terpejam.


Namun, tepat ketika Aliesha membuka matanya. Seketika Aliesha terdiam mematung dengan matanya yang membulat sempurna. Aliesha dibuat tak berkutik habis-habisan.


Aliesha mendapati dirinya tengah berdiri disebuah ruang hampa yang tak berujung dengan pasir hitam sebagai pijakannya. Layaknya Aliesha tengah berada didimensi lain yang bukan bumi.


Aliesha hanya terdiam mematung tak bergeming. Dengan wajahnya yang tampak terkejut mantap sekaligus bingung. Sekujur tubuh Aliesha berkeringat dingin. Aliesha benar-benar tidak mengerti sama sekali dengan apa yang tengah terjadi padanya saat ini.


Ditambah lagi, Aliesha melihat sebuah siluet manusia tepat dihadapannya, namun yang terlihat hanyalah mulut yang tengah tersenyum menakutkan.


“ Selama ini aku gak tau, ternyata Silvia punya harta berharga yang disembunyiin. ” ucapnya menyeringai.


“ DEGG!!! ”

__ADS_1


...\=\=\=...


...To be continued... »...


__ADS_2