
...Bab 14 \= Ancaman....
...\=\=\=...
Setelah mendatangi semua kedai yang ada didalam taman, ternyata tak ada satupun yang menjual obat merah. Akhirnya Aliesha dan Elvano pun memutuskan untuk pergi ke apotek terdekat yang berada diluar taman pinus.
Setelah berjalan sedikit, akhirnya Aliesha mendapati sebuah apotek yang tidak terlalu jauh dari taman. Aliesha pun segera masuk ke dalam sana untuk membeli beberapa obat-obatan luka luar.
“ nih... sendiri bisa kan? ” tanya Aliesha sembari memberikan obat-obatan yang dia beli pada Elvano.
“ i—iya.. bisa ”
“ aduh.. ini yang mana dulu yang harus dipake? apa langsung aja obat merah ya? ckk! au ah gelap. ” gumam Elvano kebingungan melihat semua obat yang ia pegang.
“ yaudah. ” timbal Aliesha dengan tatapan dinginnya, dia pun langsung pergi meninggalkan Elvano yang masih duduk disana menatap obat-obatnya.
“ kamu... mau pulang duluan? ” tanya Elvano dengan raut wajahnya yang tampak sedikit kecewa.
“ hmm ” Aliesha menjawab pertanyaan Elvano dengan anggukkan kecil dari kepalanya.
“ mau aku anter? ”
“ gak usah. makasih. ”
“ nanti aku pulang sendiri dong? ”
“ bukan urusan aku. ”
“ e?? haahhh.. yaudah, hati hati.. ”
“ cih! padahal rencananya aku mau anter dia pulang! harusnya lu kalo mau luka tuh liat dulu situasinya!! bikin repot. ” gumam Elvano menggerutu didalam hatinya. Ia tampak kesal dengan luka dikakinya itu.
“ tapi.. ini luka dari mana? ko tiba-tiba ada? apa karena pas jatoh tadi gitu ya? aneh.. ”
Aliesha pun beranjak pergi tanpa menghiraukan Elvano yang tengah kebingungan dengan obatnya sendiri.
“ ini dulu.. apa ini? ah langsung obat merah aja lah! gelap banget kalo tentang beginian! ” gumam Elvano menggerutu.
Aliesha yang mendengar itu pun lagi dan lagi langkahnya terhenti begitu saja. Aliesha yang sudah hampir memegang tuas dari pintu itu tidak melanjutkannya. Dia melirik kembali ke arah Elvano yang sudah sibuk dengan obatnya sendiri.
“ cih!! ” gumam Aliesha berdecak kesal.
“ kamu bisa apa bodo?! air infusnya dulu baru obat merah! ” ujar Aliesha menggerutu. Merasa geram karena Elvano tampak tak becus mengurus lukanya sendiri.
“ eh.. aku salah ya? aku gak paham obat-obatan soalnya.. ” timbal Elvano menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“ bersihin dulu lukanya pake air infus. ” titah Aliesha pada Elvano.
“ oh..... gini? ”
“ E EH?! bukan gitu! ckkk!!.... haahh... pake kapasnya bukan ditumpahin!! ” ketus Aliesha merasa geram.
“ sa—salah lagi ya? ” tanya Elvano dengan wajahnya yang tak berdosa.
“ cih!.... sini! ”
Aliesha berjongkok dihadapan Elvano, dia mengambil beberapa kapas dan menumpahkan sedikit air infusnya pada kapas itu.
" kamu.. mau obatin aku? ”
“ terpaksa. ”
Elvano hanya tersenyum-senyum melihat Aliesha yang tengah mengobati luka dikakinya.
__ADS_1
“ kita ketemuan hari ini tuh takdir. ya kan? ”
“ insiden, bukan takdir. ” timbal Aliesha.
Dengan perlahan, Aliesha membersihkan pinggiran luka dikaki Elvano dengan kapas ditangannya, tanpa mengenai lukanya sedikitpun. Tanpa Aliesha sadari, dia sudah mengurus luka dikaki Elvano dari awal hingga akhir. Aliesha tampak begitu mahir dalam hal mengurus luka luar.
Aliesha yang tadinya tidak ingin direpotkan, pada akhirnya dia tetap membantu Elvano untuk mengurus luka dikakinya. Ya, pada dasarnya Aliesha hanyalah seorang anak perempuan yang mewarisi sifat peduli dari ibunya. Namun, Aliesha yang sekarang menyangkal bahwa dirinya itu peduli terhadap lingkungan. Kalaupun dia membantu, itu bukan karena dia peduli, melainkan terpaksa.
“ makasih ya.. maaf ngerepotin lagi. ” ucap Elvano. “ by the way.. kamu pernah ikutan pmr? kayaknya kamu mahir banget obatin luka.. ”
Mendengar perkataan Elvano, Aliesha tidak meresponnya sepatah katapun. Namun, Aliesha malah teringat akan masa lalunya. Tentang Aliesha yang selalu mendapati luka ditubuhnya setiap hari, dan yang mengobati luka itu hanya dirinya sendiri. Semakin dia sering mengobati lukanya sendiri, dia semakin paham tentang bagaimana cara mengobati luka. Namun, hingga hari ini.. Aliesha masih tidak tahu bagaimana cara mengobati luka dihatinya sendiri.
“ drrtt.. drrtt.. drrtt.. ” ( panggilan masuk. )
Mendengar ada panggilan masuk, Aliesha pun segera mengambil ponsel miliknya dan menjawab panggilan itu.
“ sha! lo dimana?? ”
“ di apotek. ”
“ cepetan lo ke resto depan taman! gue lagi ada disana ama si jey! cepetan sini! ”
“ aku pulang duluan. ”
“ ehh??!! kenapa pulang dah?? lo sakit?? ”
“ enggak. ”
“ lah trus?? ”
“ tuutt... ” ( Panggilan berakhir. )
Setelah mematikan telepon dari Naiya, Aliesha langsung beranjak pergi begitu saja, tanpa menghiraukan Elvano yang masih terduduk dikursinya. Aliesha langsung menaiki sebuah taksi yang sedang menganggur sedari tadi.
“ haahh... ko bisa ya aku cinta sama kulkas idup? cih!! ” gumam Elvano sembari tersenyum merekah.
...***...
- [ 18.28 ] -
Setelah membersihkan diri dari aktivitas diluar rumah, Aliesha langsung beranjak menuju ke rooftop dirumahnya. Aliesha berniat ingin menyendiri sekaligus mencari ketenangan untuk dirinya. Ditambah pula ia membawa secangkir susu panas dan beberapa cemilan miliknya.
Sedari pagi cuaca hari ini cukup cerah. Aliesha tahu jika seharian cuacanya cerah, berarti malam ini waktunya bulan menampakan diri. Dan benar saja, langit malam hari ini tampak ramai dihiasi bintang dan bulan sabit.
Aliesha menyenderkan tubuhnya dibahu kursi yang sudah tersedia disana. Memejamkan kedua matanya sembari menikmati suasana malam hari. Ditambah dengan angin sepoy yang meniup tubuhnya dengan lembut. Aliesha begitu menyukai suasana tentram dan damai seperti ini. Hatinya kini terasa lebih tenang dibanding sebelumnya.
Aliesha meraih susu panas miliknya yang sudah tersimpan damai diatas meja disampingnya. Dengan perlahan Aliesha meneguk air didalam cangkir kesayangannya itu.
“ BRRAAKK!!! ”
“ ALIESHA!! ”
“ uhuk uhuk!!.... ckk!! ”
“ haahhh... ternyata lo disini! ” teriak Naiya memanggil nama sahabatnya dengan begitu lantang.
“ gue nyari lo gak ada dimana-mana coba.. gue panik banget sha.. kirain gue lo diculik wewe gombel! ”
Aliesha yang saat itu tengah meneguk susu panas, dibuat tersedak bukan main. Aliesha terkejut setengah mati dengan matanya yang membulat sempurna. Kedatangan satu tasmanian devil itu membuat Aliesha seperti mendapati malaikat maut tengah bertamu dihadapannya.
Melihat Naiya yang sudah berada disisinya pudar sudah semua ketenangan Aliesha detik ini juga. Aliesha hanya bisa menghela nafas menghadapi semua tingkah laku unik sahabatnya itu.
Aliesha pun segera menyeka sisa susu dimulutnya, lalu menyimpan kembali cangkir ditangannya ke atas meja.
__ADS_1
“ Aliesha! ”
“ Deg!! ”
Lagi lagi Aliesha dikagetkan oleh wajah Naiya yang sudah berada tepat dihadapan wajahnya Aliesha. Ingin sekali rasanya Aliesha menggeplak wajah Naiya dengan panci dari dapurnya.
“ aku mau cerita sesuatu sama lo! ”
Aliesha memegang kuat dahinya sendiri, kali ini Aliesha merasa kepalanya mendadak terasa berat.
“ lo mau dengerin kan? lo harus denger pokoknya!! ”
Naiya membawa salah satu kursi yang lainnya kesamping Aliesha lalu mendudukinya. Naiya tampak antusias dengan raut wajahnya yang berseri dan tersenyum tanpa henti.
“ sha!.. gue jadian sama jey! ”
“ eh? apa?? ” tanya Aliesha sedikit terkejut.
“ lo masih inget gak? sama cowo yang lo liat dikedai bi inem tadi siang?? ” tanya Naiya, dijawab hanya dengan anggukan kecil dari Aliesha.
“ nah, gue pacaran sama dia!! ”
“ secepet itu? ”
“ iya lah! kita udah ngerasa klop dari pertama kali ketemuan! gue gak peduli apapun yang lo bilang, yang jelas gue udah gak kuat ngejomblo mulu!! ” ujar Naiya tampak girang.
Mendengar cerita dari Naiya, Aliesha hanya sekedar memangut-mangut kecil tanpa merespon sepatah katapun. Naiya yang melihat Aliesha merespon seikhlasnya tampak sedikit kesal.
“ ckk!! lo gak seneng apa?! gue udah gak sendiri lagi tau. gue punya ayang sekarang! ” ketus Naiya.
Aliesha hanya menatap Naiya dengan tatapan dinginnya tanpa berkutik sedikitpun. Aliesha hanya mengedipkan matanya beberapa kali. Setelah itu dia beranjak dari kursinya, membawa cangkir susu lalu pergi meninggalkan Naiya lebih dulu.
Naiya yang melihat tingkah dingin Aliesha hanya bisa kesal dan menggerutu. Dia pun segera menyusul Aliesha untuk kembali turun ke bawah.
“ ihh.. shaa!! seenggaknya lo ngangguk ke!!! dasar nyebelin ya!!! kali-kali gue gorok juga lo pake pake pedang algojo!! ” geram Aliesha.
“ gak peduli. ”
“ lo harus seneng sha!!! gue tuh udah bertaun-taun nyari cowo yang sefrekuensi! hargain dikit ke usaha gue!! kasih ucapan selamat gitu atau apa kek!! ”
“ hmm ”
“ ckk!! ALIESHA!!! ”
•
•
— [ sedangkan itu, disisi lain... ] —
“ cih! Silvia.. ternyata kamu punya anak ya?! bisa-bisanya kamu sembunyiin hal ini hah?! ”
“ Silvia malang.. kamu mati tapi nyembunyiin harta?! ckk!!! aku anggap masalah kita selesai. tapi... anak kamu sebagai gantinya. ” ucapnya menyeringai.
“ kok... aku ngerasa ada yang ngeliatin ya? apa cuma halusinasi? sekarang bukan malam jum'at kan? ” gumam Naiya. “ HIHH!!! gue paling benci medi!!! dasar setan sialan!!! ” ketusnya.
...\=\=\=...
__ADS_1
...**To be continued**... »...