My.Nation-B

My.Nation-B
Chapter = Incident.


__ADS_3

...Bab 13 \= Insiden....


...\=\=\=...


“ aku cinta sama kamu, Aliesha. ” ucap Elvano berterus terang dengan nadanya yang tulus.




“ wuusshhh... ”


Anginnya kini terasa sedikit lebih kencang. Suaranya semakin terdengar riuh. Rumput dan daun pohon pun makin bergoyang kesana kemari. Rambut Aliesha kembali terbang melayang-layang karena angin. Begitu pula dengan Elvano, rambut hitamnya yang sedikit gondrong itu tampak melayang tak beraturan.


Aliesha menatap Elvano dengan matanya yang membulat sempurna. Aliesha terdiam memaku, karena setelah bertahan-tahun lamanya, Aliesha kembali mendengar kalimat yang sulit untuk ia terima. Tidak, bahkan Aliesha membenci itu.


Karena sebuah issue dimasa lalu, yang membuat Aliesha menjadi tidak percaya lagi dengan apa yang baru saja Elvano ucapkan.


Lagi dan lagi, Aliesha sama sekali tidak peduli. Meskipun dia masih sedikit terkejut, Aliesha memilih melanjutkan lagi aktivitasnya yang sempat terhenti.


Sudah sejak bertahun-tahun yang lalu, hati milik Aliesha sudah mati rasa. Aliesha sudah merasa muak dan terganggu dengan perkataan itu.


Namun, terkadang Aliesha merasa bahwa sikapnya yang sekarang itu memang kejam. Tapi Aliesha lebih memilih begitu, terlebih lagi soal perasaan. Aliesha lebih memilih tidak merespon apapun tentang itu. Bahkan dia berharap, dengan sikapnya yang dingin itu Elvano menjadi mengerti bahwa tidak mungkin baginya untuk masuk ke dalam hati Aliesha.


“ aku tau ini terlalu mendadak. apalagi kita belum kenal lama. tapi aku lebih milih buat ungkapin ini dari awal. ”


“ kamu sendiri tau... cinta itu datangnya emang sembarangan. dan aku gak bisa nyangkal perasaan aku sendiri. ”


“ terserah kamu mau percaya apa enggak. tapi aku bicara terus-terang. ”


Elvano menatap Aliesha tampak begitu tulus. Ia berbicara dengan serius namun begitu tulus. Senyumannya yang tadi menghilang kini kembali berunsur mekar. Elvano merasa lebih tenang setelah mengungkapkan perasaannya itu. Meskipun dia tahu Aliesha tidak akan mudah menerimanya, tapi setidaknya dia sudah tidak terbebani lagi dengan cinta diam-diam.


“ aku gak perlu alasan buat cinta sama kamu. ”


“ kamu jangan tanya kenapa harus kamu yang aku cinta. karena aku juga gak tau. ”


Aliesha masih diam tak berkutik sedikitpun. Aliesha benar-benar tidak peduli sama sekali. Dia tampak sibuk dengan kameranya sendiri. Mengabaikan Elvano yang tengah menatapnya.


“ kamu tau? aku bisa cinta sama kamu dalam satu kali kedip. tapi buat balasannya... mungkin aku harus nunggu berkali-kali pergantian hari. ”


“ tapi itu gak masalah buat aku. ”


" jangan berharap. buang aja perasaan kamu. ” ucap Aliesha sembari berjalan sedikit ke arah depan.


“ kenapa?? ” tanya Elvano terkejut mendengar timbalan dari Aliesha. Ia pun segera menyusul kemana Aliesha melangkah.


Aliesha tidak menjawab sepatah katapun pertanyaan yang dilemparkan oleh Elvano.


“ gapapa kalau kamu nolak. nanti aku bakal confess lagi ko.. sampe kamu terima. ” ucapnya.

__ADS_1


“ cih!! ” gumam Aliesha berdecak kesal.


Aliesha hanya melirik sekejap ke arah Elvano namun tidak menjawab sepatah katapun. Dengan tatapan dinginnya yang tampak tak peduli sedikitpun.


Elvano berjalan dengan perlahan menuju ujung bukit. Entah apa yang sedang dipikirkannya, dia melihat kearah jurang didepannya dengan perlahan menekukkan kedua lututnya. Nampaknya ia ingin duduk diujung bukit itu.


Aliesha yang melihat tingkah Elvano itu hanya terdiam memperhatikan dengan rasa herannya.


“ jangan aneh aneh! jatoh baru tau rasa. ” ucap Aliesha dengan nadanya yang tidak bersahabat.


“ enggak ko... cuma mau duduk doang ”


“ naik! kalau kamu jatoh yang repot siapa?! ” tegas Aliesha.


“ gak akan, cuma du— ....... ciee.. kamu takut aku jatoh ke sana ya? kamu peduli kan? ” tanya Elvano dengan nada yang nampak menggoda Aliesha.


“ cih!! nyesel udah ngomong ” ketus Aliesha didalam hatinya. Baru kali ini Aliesha merasa menyesal karena berbicara.


Elvano yang melihat raut wajah Aliesha yang tampak geram karena tingkahnya itu hanya tertawa puas.


“ yaudah aku naik ” ucap Elvano masih tertawa. Ia pun berdiri dari duduknya. Namun...


“ SRREETTT!!! ”


“ e ehh???!!! ”


Elvano tergelincir, karena rumput yang ia injak itu terasa licin membuatnya terjatuh. Namun Elvano masih sedikit beruntung, karena kedua tangannya memegang ujung bukit.


“ Aliesha! ” panggil Elvano.


“ cih!! baru dibilang!! ” ucap Aliesha menggerutu. Ia merasa kesal karena apa yang ia ucapkan sebelumnya itu benar-benar terjadi.


Aliesha melemparkan tas dan kamera miliknya ke atas tanah lalu bergegas lari menghampiri Elvano.


“ pegang tangan aku! ” ucap Aliesha mengulurkan tangannya pada Elvano.


“ kamu yakin? badan aku bera— ”


“ cepetan!! ” tegas Aliesha.


Elvano langsung menggenggam tangan Aliesha dengan sangat kuat. Aliesha pun menarik tubuhnya ke belakang agar Elvano bisa kembali naik ke atas bukit. Namun Aliesha sedikit kesulitan karena tubuh Elvano begitu berat.


Aliesha sempat menginjak rumput yang Elvano injak. Kakinya tergelincir dan tubuhnya sempat kehilangan keseimbangan, namun Aliesha langsung mengontrol kembali tubuhnya agar tidak ikut terjatuh tanpa melepaskan tangan Elvano.


Aliesha memilih untuk mendudukan tubuhnya lalu kembali menarik Elvano dengan posisi seperti itu. Dengan susah payah sekuat tenaga miliknya, Aliesha berusaha sebisanya untuk bisa menarik Elvano. Jujur saja, semenjak kematian ibunya, Aliesha sangat tidak ingin melihat seseorang merenggang nyawa dihadapannya.


Elvano yang melihat Aliesha tengah bersusah payah, ia pun ikut mendorong tubuhnya dengan kakinya menaiki tanah dari bukit itu.


Dan entah Aliesha mendapat kekuatan dari mana. Dia berhasil menarik Elvano kembali ke atas bukit. Meskipun sekarang wajahnya tampak begitu merah dan kelelahan.

__ADS_1


Aliesha pun berjalan ke arah pohon lalu menyenderkan tubuhnya dibatang pohon itu, meninggalkan Elvano yang masih terbaring disana. Nafas Aliesha terengah-engah karena menarik tubuh Elvano yang beratnya kira-kira setara dengan tandon air.


Aliesha menutup kedua matanya sembari berbaring dibawah bayang-bayang pohon itu. Terasa begitu nyaman karena rasa teduh dan angin sepoy yang meniup tubuhnya. Rasanya, lelahnya itu langsung menghilang begitu saja.


Elvano yang terbaring pun akhirnya berdiri. Berjalan menuju ke arah pohon, berniat ingin berteduh juga dibawah pohon itu seperti Aliesha.


Elvano menjatuhkan tubuhnya disamping Aliesha. Karena rerumputan yang lebat dan cukup tinggi, membuat Elvano merasa seperti jatuh diatas karpet tebal.


“ haha.... lucu ya.. aku yang larang kamu kesana supaya gak jatoh, malah aku sendiri yang kena. sialan! ” gumam Elvano terkekeh.


“ tapi, makasih ya. ” ucap Elvano tulus. “ buat kamu yang dingin, ternyata masih punya sisi peduli juga ya. ” sambungnya.


“ cih! ” gumam Aliesha berdecak.


“ kamu mau apa? ” tanya Elvano.


“ maksudnya? ” tanya Aliesha tak mengerti.


“ anggap aja ini rasa makasih aku ke kamu.. ”


“ gak usah. ” timbal Aliesha dengan spontanitas.


Aliesha pun segera berdiri dari tidurnya, dia membereskan semua barang-barang miliknya lalu beranjak pergi begitu saja.


“ kamu mau kemana? ” tanya Elvano sembari melihat ke arah punggung Aliesha yang sudah pergi meninggalkannya.


“ Aliesha! ” panggil Elvano sembari berdiri untuk segera menyusul Aliesha.


“ Aliesha, tungguin.. aduduh!! akh.... argh!!! ni kaki kenapa sih?! ” geram Elvano merintih.


Aliesha yang saat itu sudah setengah jalan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia pun menghela nafas berat dan melirik ke arah Elvano.


Aliesha mendapati Elvano tengah duduk dengan salah satu kakinya yang berdarah. Aliesha yang melihat itu pun lagi lagi hanya menghela nafas.


“ yaudah... mau diem disitu sampe kapan? ” tanya Aliesha lalu pergi lebih dulu.


“ maksud kamu? ”


“ cari obat merah. ngapain lagi? ” timbal Aliesha tanpa melirik sedikitpun.


Elvano yang mendengar itu dari mulut Aliesha, kini pipinya kembali terasa panas. Sebuah senyuman kembali terbentuk dikedua sudut bibirnya. Jujur saja, Elvano tersipu dengan Aliesha yang ternyata masih memiliki rasa peduli terhadap seseorang.


“ tu—tungguin sha! ”


Elvano pun langsung beranjak menyusul langkah Aliesha dengan kakinya yang berdarah-darah.


...\=\=\=...


...To be continued... »...

__ADS_1


__ADS_2