
.
.
.
.
.
.
.
3 hari sudah berlalu sejak fiting baju itu,Reyhan tidak pernah lagi datang ke sana,sebenarnya hanya Nara yang merasakan itu jika ditanya rindu hanya dia yang tau
Hari ini cuaca sangat mendung,Nara hanya bisa menatap langit-langit kamarnya mencari sesuatu yang akan mengalihkan rasa bosannya juga pikirannya yang hanya tertuju pada es balok itu
Tok tok tok
Nara sejenak menghela nafas pelan kemudia beranjak dari posisi nyamannya itu untuk membukakan pintu,yang ternyata adalah mamanya
"De..kamu di rumah atau .au ikut sama mama ayah??"Nara mengernyitkan dahinya heran
"Kemana?"
"Ke rumah ucle Faris"sedetik pikiran Nara sudah meluas menuju es balok itu,ah dia mengutuk diri kenapa selalu kepada pria itu?, tidak ada yang lain kah.
"Hm enggak ma..ngantuk mau tidur"ana merotasi malas,dia bingung dengan putri satu-satunya ini,kenapa betah sekali di kamar seharian
"Yang nikah siapa yang repot siapa"ana menatap sinis Nara dan berlalu dari sana
"Yang suruh nikah siapa"jawab Nara tertahan takut mamanya itu mendengarnya,bisa bisa habis dia
***
Ceklek
"selamat pagi tuan"ucap Ravi sambil menundukkan kepalanya yang diangguki Reyhan dengan berjalan ke arah kursi besarnya
"Apa semua sudah siap?"tanya Reyhan seraya mulai berkutat dengan monitor di depannya
__ADS_1
"Sudah tuan"jawab Ravi pasti,lelah sangat ia rasakan saat ini tapi dia sedikit bersyukur karena tuan-nya itu akan segera melepas masa lajangnya
"Apa aluna kembali menemui pria itu?"tanya Reyhan
"Beberapa hari ini tidak lagi tuan, sepertinya pria itu mengatakan sesuatu sehingga nona muda tidak lagi menemuinya"Reyhan menghela nafas halus
"Hm.. kembalilah bekerja"
"Permisi tuan"pamit Ravi yang diangguki atasannya itu kemudian keluar dari sana
***
Tring.. tring.. tring
"Hm"
"Ra..."
"Jangan merusak telingaku"
Nara segera terbangun saat mendengar pekikan dari seberang sana,dia heran dengan pria ini kenapa dengan orang lain dia bisa sangat datar berbeda sekali jika dengan dia
"Katakan sekarang?"gadis itu mengernyit heran apa yang harus dia katakan
"Aku tidak bisa kembali kesana"
"Karena apa.."tanyanya pelan
"3 hari lagi aku akan tunangan"
Deg
Entah lidahnya seakan kelu untuk mengucapkan sepatah kata
"Hahahaha jangan becanda Ra.."menatap langit-langit ruang kerjanya berharap semua ini hanya candaan semata
"Ih Niel,nggak becanda"oke Daniel sudah mengerti apalagi dengan gaya bicara gadis itu sudah berbeda
"Kenapa tega sampai tidak cerita"tanyanya datar
"Aku tau semuanya,tapi aku gak buat kamu kecewa"satu kenyataan lagi ternyata gadis itu tau apa selama ini dia rasakan
__ADS_1
sejenak keheningan menyergap di obrolan mereka, sebelum Daniel bersuara dengan cepat
"Oke,aku akan datang selamat hm"
"Ni-
Tut
-el"Nara menghela nafas panjang,pasti pria itu akan sangat kecewa dengannya, apakah dia sudah sangat kejam disini
Tok tok tok
Dia mengalihkan atensinya pada pintu kamarnya kemudian bangkit dan membukanya
"Kenapa ma"ana bingung melihat wajah putrinya yang murung tapi dia memilih tak menghiraukannya
"Ngapain cuma dikamar sih,kebawah kek bantuin bi Ais bersihin rumah
Kek"Nara menghela nafas pelan kemudian mengangguk menyetujui perkataan ana,agar segera terlepas dari Omelan mamanya itu
Saat sampai di lantai bawah,dia melihat bi Ais yang sedang membersihkan debu-debu di meja ruang tamu mereka
Nara mengernyit heran,saat melihat kemoceng ditangan wanita itu
Apa masih ada yah
"Bi.."
"Iya non"bi Ais tersenyum melihat anak majikannya yang ternyata sudah sangat cantik tanpa polesan,
"Kapan sampainya bi?"tanya Nara tersenyum khas, pasalnya art ini 5 hari tidak datang karena suaminya yang sedang sakit
"Tadi pagi non,dipaksain ajalah"jawabnya ramah dan sedikit terkekeh kecil
"sini bi kita kerjain sama-sama"
"tumben non"goda bi Ais yang membuat rona merah itu bertambah banyak
"bibi"rengeknya pelan
_________
__ADS_1
jangan pernah bosan yah