
Dua orang perempuan yang berbeda generasi sedang berkutat di dapur setelah tadi selesai membersihkan rumah
Nara terlihat sangat bersemangat memperhatikan semua teknik memasak yang digunakan bi Ais
bukan tanpa alasan ia melakukan ini,hanya saja ia ingin mengalihkan pikirannya dari pria yang menelponnya tadi,entah,sampai sekarang dia merasa bersalah dengan pria itu
beralih dari sana kini mereka memasak untuk makan siang,yang juga menyempatkan membuat kue,itu yang membuat gadis mungil itu tampak memperhatikan tangan wanita ini mulai dari menyalakan mixer, menyalakan blender,sampai memasukkan adonan itu ke dalam oven,bahkan sesekali dia menghentikan mesin yang menyala hanya untuk mempraktekkannya
"Kita tunggu aja"
"Berapa menit"tanya Nara cepat memperhatikan kedalam oven sana yang tampak meng-jingga
"15 menit sih non"nara mengangguk paham
"Sekarang kita tata makanan ke meja makan"ujar bi Ais mulai membawa makanan itu ke meja makan diikuti Nara yang mulai membawakan piring
Entah kenapa dia sangat semangat kali ini bahkan senyum itu tampak mekar di bibir kecilnya
Ana di pintu masuk dapur sana hanya tersenyum haru melihat Putrinya itu,berat jelas terpatri di hatinya apalagi mengingat sebentar lagi rumah itu akan kembali sepi,jadi pada siapa dia akan kembali mengomel
Pugh
Seketika wanita itu terkejut dan menoleh kebelakang saat sebuah tangan menepuk pelan bahunya
"Kenapa?"
"Gapapa"jawab ana tak kalah berbisik dari sang suami dan segera masuk ke pelukan hangat itu
Bram hanya tersenyum tipis,dia tau apa yang dirasakan istrinya tapi ini sudah menjadi sumpahnya puluhan tahun lalu mau tak mau dia harus tetap melaksanakan Nya
"Ayah..mama..jangan mesra mesraan disitu"keduanya sontak terkejut dengan pekikan Nara dari meja makan sana yang sudah menutupi wajahnya dengan telapak tangannya sendiri
Namun Nara kembali menggeram karena kedua paruh baya itu sejenak saling pandang kemudian tersenyum mengejek padanya apalagi mereka semakin mengeratkan pelukannya
"Nasib jomblo"guman Nara memilih mendekati bi Ais yang tadi melihat kue yang mereka oven
...* * *...
Dret..dret
Melihat nama yang terpampang di layar itu,jemari pria itu sontak menekan ikon hijaunya
"Hm"
__ADS_1
"Kakak..."rengekan perempuan terdengar dari seberang sana
"Kenapa sayang"suara Reyhan melembut seketika
"Jahat yah,3 hari lagi mau tunangan ko gak kasih tau aku"
"Kenapa gak nanya"senyum tipis terpatri dibibir sensualnya
"Ah kakak.."gadis itu tidak tau lagi bagaimana menghadapi pria datar ini
"Kenapa"
"Ah pokoknya aku mau pulang,jemput pokonya"
"Beli tiket aja sana"canda Reyhan menahan senyum untuk adiknya itu,yah perempuan itu adalah adik perempuan Reyhan
"Jahat lagi"Reyhan tertawa pelan mendengar gumaman gadis itu
"Beres beres aja,Kaka jemput bentar lagi"ujar Reyhan
"Serius"pekikan terdengar dari seberang sana,yang membuat Reyhan menggeleng saja
"Hm.. jangan lupa minta ijin sama aunti, jangan langsung pergi gitu aja"lanjut Reyhan lagi yang di jawab baik oleh gadis itu
"Ya tuan"setelah mematikan sambungan tadi dia segera menghubungi asistennya itu
"Kita jemput Aluna 2 jam lagi"titahnya yang langsung dimengerti asisten itu
"Akan saya siapkan tuan"jawabnya pasti
...* * *...
Setelah mematikan sambungan telponnya,gadis mungil itu segera bergegas membereskan barang-barang nya
Sesekali dia berjingkrak ,disertai pekikan tertahan dari bibirnya saking
Semangat nya
Beberapa saat barang barang sudah tertata rapi didalam koper itu,dia sejenak berpikir apa lagi yang tertinggal
"Hm..beres,kita tinggal ijin"senyum itu masih jelas terpatri dibibir mungilnya
Langkah kaki itu membawanya keluar dari ruangan yang diketahui kamarnya itu,masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar
__ADS_1
"Aunti"pekiknya riang membuat sepasang paruh baya di ruang keluarga sana menggeleng kepala apalagi gadis itu berlari sangat semangat
Kebiasaan gadis itu memang
"Kenapa"tanya pria paruh baya disana mewakili yang dipanggilnya tadi
"Kak Reyhan jemput"pekiknya segera memeluk wanita itu sementara yang dipeluk itu hanya tersenyum penuh arti, suasana hati gadis ini tidak bisa di tebak
"Kenapa harus dijemput sayang"tanya wanita yang bernama feronika itu dengan tangan yang mengelus lembut Surai gadis itu
"Hehe biarin ajalah"cengirnya seraya menatap feronika itu penuh arti
"Tanya uncle,kasih ijin gak"netranya kini menatap pria bernama John yang duduk di sofa single sana sementara pria itu berpura pura menatap benda pipih di depannya
"Uncle"rengek Aluna karena merasa diabaikan pamannya itu
Sontak saja paruh baya itu tertawa pelan,kemudian mengangguk tersenyum lebar padanya
"Makasih uncle"pekik Aluna tanpa sadar bertepuk tangan pelan membuat mereka gemas saja dengan gadis mungil itu
"Udah beberes kan"Aluna mengangguk pasti menjawab John
"Aunti sih,gak bisa datang"cemberut gadis itu
"Kan masih bisa hari besarnya sayang"jawab feronika membujuk, pasalnya gadis ini baru tahu pagi tadi jika kakak tercintanya itu akan bertunangan
"Janji kan"
"Janji"kedua perempuan itu menautkan kelingkingnya, kemudian tertawa lepas dengan John yang ikut tertular tawa kedua perempuan itu
...* * *...
Nara tersenyum lebar menunggu suara dari sang ayah yang kini sedang duduk di ruang keluarga,setelah kue buatannya dan bi Ais tadi jadi dia segera membawanya mendekati pasangan itu
"Biasa aja"celetuk ana gemas dengan Nara yang sepertinya tak menghiraukannya karena netranya kini hanya tertuju pada Bram
"Enak sayang"ucap Bram tak tahan dengan wajah putrinya itu dan itu membuat Nara tertawa bangga
"Itu buatan bi Ais bukan kamu"ucap ana kembali mencoba meremehkan gadis itu,tapi kata sontak membuat Nara mengingat sesuatu
"Bi Ais kan belum dapat"rutuknya dengan cepat memotong kue seperempat kue itu lalu segera menuju ke dapur sana
______
__ADS_1
jangan pernah bosan ☺️