
Seorang cowok tengah mendengus kesal disebuah kelas, tangannya mengepal kuat.
"Lo kenapa, Ta?" tanya temannya heran
"Lagi kesel"
"Sok imut amat lo,kayak lon—"
"Lon APA?!"
"Lontong sayur"
"Dasar sialan lo, Ja"
Namanya Meta, Metawin Megantara
"Gegara si pewekor lagi?" Eja menebak, telinganya terasa sudah panas karena temannya ini terlalu sering mendengus.
"Iya, sekarang dia rebut Citra dari gue, emang sialan tuh anak"
"Si enbodi gebetan lo itu?"
"Sembarangan lo nyebut Citra kayak gitu"
"Alah, gebetan lo sebelumnya juga enbodi kan, si siapa ya namanya, emm Rina, Marina kan"
"Kebetulan doang sat"
"Labrak aja Ta, terus lo hajar gitu"
"Bener juga kata lo Ja"
"Yaudah labrak aja, tapi ga salah dia juga, toh ganteng, gebetan lo juga milih milih kali"
"MAKSUD LO GUE GAK LEBIH GANTENG DARI SI PEWEKOR ITU?" Meta ngegas sambil berdiri dari duduknya, Eja yang melihat itu hanya mengangguk mengiyakan.
"Iya, kan emang?"
"Tai lo"
"Mau kemana?" Eja menyela langkah kaki Metawin
"Ngelabrak pewekor"
Meta berjalan meninggalkan kelas, untung saja hari ini jam kosong sampai pulang.
Kakinya berjalan ke kelas IPS 1, dari kelasnya yang menjadi urutan terbawah di jurusan IPS, urutan 5.
Tak jauh, tapi Meta berlari cepat, baru saja gebetannya bernama Citra itu meminta Meta pergi jauh.
__ADS_1
Flash back
"Ta?"
"Iya?"
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo"
"Ngomong apa Cit? kebelet ditembak?" Meta cekikikan menggoda Citra
"Emm bukan Ta" Citra ragu bicara, ujung bajunya sudah kusut sejak tadi.
"Terus apa?"
"Gue mau kita jauhan" Citra langsung berdiri setelah mengatakan hal itu, Meta mengikutinya.
"Kenapa Cit? gue ada salah?" Meta menarik tangan Citra untuk tetap disana.
"Bukan gitu, lo gak salah Ta, tap—"
"Tapi apa?"
"Gue suka sama Bri"
"Bri? Bri mana?" Meta terengah
"Bright, gue suka dia, bukan elo" kaitan tangan Meta terlepas, seketika Citra pergi jauh dari sana.
Flash back off
Tangannya mendorong pintu kelas IPS 1 dengan tergesa, matanya membelalak saat berhasil masuk kedalam sana.
"Loh, kamu siapa?" tanya seorang paruh baya yang memakai baju batik dan berdiri di depan sana membawa sebuah buku.
"S-saya Metawin, pak" dia gugup
'Sialan, kenapa ada guru segala sih ah' batin Meta
"Dari kelas mana?"
'Aduh mampus'
"Kelas IPS t tiga pak" Meta gugup mendengr pertanyaan guru tersebut
"Loh terus cari apa kamu?"
"Mmm anu pak, saya—"
"Dia cari saya pak" seorang cowok mengangkat tangannya dan berjalan kedepan menghampiri Meta
__ADS_1
"Nyari dia?" tanya guru itu kembali ke Meta
"I—iya pak" Meta menjawab
"Ada urusan apa? harus sekarang?"
"Iya pak, urusan organisasi pasti" tebak cowok itu membuat guru yang mengajar langsung mingkem.
"Oh yasudah Bright, silahkan urusi diluar kelas"
"Permisi pak"
Cowok bernama Bright itu menarik tangan Meta erat keluar dari kelas, Meta yang masih gugup itupun tertarik hingga keluar kelas, bahkan sekarang mereka sudah jauh dari lorong kelas.
Meta sadar.
"WOI LO NGAPAIN NARIK NARIK GUE?!"
"Bukannya lo yang ngapain nyari gue?—"
"Mana dobrak pintu segala lagi, ngebet amat" lanjutnya sambil menyunggingkan salah satu sudut bibirnya, membuat Meta geram seketika
"Sialan lo anj"
"Tapi masih lo cari juga"
"Diem bangst!"
"..." Bright diem tanpa suara dan memilih duduk di sebuah anak tangga
"Oh iya gue lupa, lo punya dendam apa sih sama gue?" Meta mendengus
"..."
"Ngapa diam lo?!"
"Lah situ nyuruh gue diem"
"NGOMONG DEH LO, LO NGAPAIN REBUT CITRA? KURANG CEWE?" Meta yang semula diam kini menarik kerah baju Bright.
"Emang gue ada ngerebut?" tampangnya watados banget
"SI ANJING NGELUNJAK, KENAPA SIH LO TERUS TERUSAN REBUT GEBETAN GUE?" Meta ngegas
"Emang iya?"
"Tai lo" Meta melepas tangannya dari kerah Bright
"Hm oke" Bright pergi begitu saja.
__ADS_1
"BRIGHT DANENDRA BANGST!"