My Pleasure (BxB / BL )

My Pleasure (BxB / BL )
Law


__ADS_3

"Ade, udah jam segini belum berangkat, ntar telat loh"


"Tau Ma, supir udah di depan kan ma?"


"Udah, bajunya rapiin"


"Iya Ma.."


Metawin langsung bergegas menuju mobil, dan memaksa sang supir untuk menancap gas menyalip mobil mobil lain yang bersiap menyusuri jalanan.


Sang supir hanya menurut, tak ingin merusak mood tuan mudanya yang kelihatan sudah emosi.


Akhirnya.


Akhirnya mobil itu sampai di depan gerbang, Metawin turun bersama kaca mata hitamnya.


Kalian mencari tas di balik punggunya? jangan bermimpi, itu tak akan pernah ada.


Lalu mencari apa lagi? au Metawin tidak akan pernah ingin sama dengan siswa kutu buku.


Sekarang dia berlari, eits gebang sudah terkunci. Saatnya masuk menggunakan pintu samping.


Metawin berjalan pelan, untuk apa berlari? toh juga telat juga. Ibaratnya tanggung kalau membuang tenaga untuk berlari.


"STOP!" sebuah teriakan menghentikan langkah Metawin saat baru saja memasuki pintu itu.


Metawin diam sambil menunggu ceramah orang paruh baya di hadapannya, malas untuk berdebat.


"Lepas kaca mata kamu! ikut saya" Metawin diam mengacuhkan, sampai akhirnya tangannya diseret paksa.


SIAL.


Tubuhnya ditarik hingga sampai di depan lapangan utama, lebih tepatnya dihadapan siswa siswa yang tengah ber baris sembari bersiap menjalankan kegiatan upacara bendera.


Ini senin.


"Berdiri disini sampai upacara selesai, setelah itu saya akan memberi hukuman!" paruh baya itu meninggalkan tubuh Metawin yang malas beranjak.


Kaca mata yang tadi terselip di saku kemeja putihnya kini kembali dipasang kembali ke tempat semula.


"Jika ada yang tidak beratribut lengkap, silahkan maju ke depan!" pengumuman penuh penekanan menusuk telinga Metawin yang berdiri tepat di samping speaker.


Dia bergerak menjauh membuat banyak pasang mata terfokus kepadanya.

__ADS_1


"CEPAT!" lanjutan dari pengumuman iyu.


Tak ada yang berani maju, atau semuanya sudah bersiap melakukan upacara bendera pagi ini?.


Metawin mengambil handphone nya dan membuka sebuah game disana, tak ada yang berani melapor, sedangkan guru tidak ada yang melihatnya.


Sebuah siku menyenggol tangannya membuat handphonenya, untung saja tidak jatuh.


Dari mana dia mendapat handphone? tidaklah sulit.


"Lo?" Metawin menatap pria di sampingnya penuh dendam.


"Kenapa?"


"Gimana bisa seorang anak culun kayak lo lupa bawa atribut" Metawin mengkritik pria dihadapannya.


"Buka kaca mata lo, biar gak buta" Bright membalas


"Dih"


Iya, Bright si anak organisasi sekarang berdiri di depan, tempat siswa yang melanggar tata tertib.


"Cuma dua orang saja?" speaker itu kembali berbunyi tapi tak ada sahutan.


"Saya bangga kepada kalian yang sudah mengikuti tata tertib sekolah"


"Nyenyenye" gumam Metawin yang mampu didengar Bright.


Upacara dilanjut, meskipun matahari semakin bergerak keatas membuat seluruh siswa terpapar sinarnya.


Panas.


Semua bergerak bergelinjang, sangat berbeda dengan saat mulai upacara.


Ada yang mengipas wajah, ada juga yang menunduk begitu saja.


Metawin? dia sudah tak berdiri tegap sejak tadi. Tangannya menutupi jidatnya yang sudah terpapar sinar matahari sejak tadi.


Sampai akhirnya Bright yang semula dihadapannya kini berjalan ke depannya.


Oi, ternyata tubuh Bright sedikit menutupi tubuh Metawin dari sinar matahari.


Metawin tak protes, lagi males.

__ADS_1


Sampai terakhir upacara selesai, setelah dipermalukan habis habisan, dua pemuda itu tak dibiarkan pergi begitu saja.


"Sekarang, saya akan menghukum kamu" paruh baya itu menunjuk Metawin.


"Loh pak gak adil"


"Bright, kamu bisa menemui guru pembimbing buat mempersiapkan olimpiade besok"


"Saya akan menerima hukuman" Bright sigap sembari berjalan mundur mensejajarkan berdirinya dengan Metawin.


"Baik kalo itu mau kamu, saya tugaskan bersihkan gudang, pukul 12 saya akan mengecek keadaan gudang" paruh baya itu pergi meninggalkan mereka berdua.


"APA LO?!" Metawin sewot


"Ke gudang" Bright berjalan mendahului.


"Sendiri sana" Metawin malah pergi mengikuti siswa yang sudah bubar dari barisan.


"Ikut gue" Bright menyeret tangan Metawin.


"Siaalan lo!"


Mereka sampai di gudang.


Oih lebih berdebu dari pada rumah hantu.


"Gue? bersihin ini?" Metawin bergegas pergi, namun sedetik kemudian badannya sudah terpojok di samping pintu.


Bright pelakunya.


"Kalo lo pergi, gue laporin ke Kesiswaan" ancamnya sembari mendekatkan tubuhnya dengan Metawin.


Posisi mereka terlihat ambigu.


Entah bagaimana orang melihatnya. Tubuh Metawin terpojok di pintu, Bright dengan tubuhnya yang cukup dekat dihadapan Metawin.


Membuat siapa saja yang melihat akan mengira mereka sedang akan....


Berciuuman?.


"Sialan lo!" Metawin sadar dan mendorong tubuh itu.


Hai?

__ADS_1


Kurang degdegan ga si?


__ADS_2