My Pleasure (BxB / BL )

My Pleasure (BxB / BL )
Relatif


__ADS_3

"Ta, mau kemana lagi?"


"Ngantin" Metawin menjawab pertanyaan Eja yang masih berkutik dengan handphonenya.


"Ntar jangan lupa balik"


"Lo kira gue bakal ngilang gitu aja? anjink"


"Anjink siapa tau"


"Tau ah"


"Ah"


"Kek dessah anjir"


Metawin pergi begitu saja, raut wajahnya terlihat sangat berbeda hari ini. Dari pagi dia melewatkan sarapan dan bangun kesiangan.


Wajahnya tampak kusam hari ini, meskipun masih terlihat mempesona. Kantung matanya sangat terlihat akibat bermain PlayStation semalaman.


Jalannya sangat pelan, hingga membuatnya seperti siput.


Beberapa kali nafas panjang ditariknya dengan kaki yang terus melangkah.


Tujuannya bukan ke kantin, namun ke sebuah ruangan. Ruangan seram bagi seluruh warga sekolah, terkecuali dirinya.


"Buk, mau curhat" ucapnya lantang saat membuka pintu tanpa permisi, hal itu tentunya membuat guru berusia paruh baya itu terkaget.


"Metawin, apa lagi?"


"Mau curhat buk" dia duduk didepan kursi


Mendengar pernyataan dari Metawin, membuat sang guru BK menutup bukunya dan menatap lekat kearah Metawin yang kini menumpu kepalanya dengan lipatan tangan.


"Kenapa lagi?" bukan sekali dua kali Metawin menceritakan keluh kesahnya kepada guru ini.


"Buk, saya kurang ganteng ya?"


"Biasa saja"


"Yang jujur dong buk"

__ADS_1


"Iya iya, kamu udah ganteng"


"Ibu kenal Bright kan?"


"Bright? anak IPS 1?"


"Iya buk, gantengan mana?"


"Metawin...tampan itu relatif"


"Iya tau ibu, ganteng saya apa Bright?"


"Bright"


"Gak jadi lah buk, bye"


"Anak sinting"


"Poin saya dikurangin buk" ucap Meta sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Meta bingung harus kemana lagi, sebenarnya dia tengah berpikir kenakalan apa lagi yang menarik untuk dicoba.


Rasanya sudah semuanya ia perbuat, bolos ke roof top, bolos ke kantin, ke perpustakaan, ke ruang BK, ke kelas lain, mencari gebetan, masih banyak lagi.


Tapi Meta masih enggan, kasihan juga.


"Kena pelanggaran lagi?" sebuah pertanyaan menyambut kakinya kala menginjak perbatasan antara ruang BK dan ruang kelas.


"Kepo"


"Ngunci orang di kamar mandi kayak bulan lalu?"


"Lo kok tau yg itu?"


"Gue anggota MPK"


"Emang MPK ngurusin masalah gue? bukannya kalian gak ada hubungannya sama BK?" otak Meta berjalan kali ini, ia tak harus takut kepada Bright.


"A-ada, siapa bilang enggak?"


"Lo iri sama gue? sampe sampe ngurusin masalah gue?"

__ADS_1


"Jangan besar kepala"


"Serius deh, mau lo apa sih?"


"Sok tau"


"Malu lo apa njimk?"


"..."


"Jawab!"


"Jangan dibesar besarin"


"Muak gue sama lo"


"Gak denger"


"Maju lo sini" Metawin menarik kerah batu pramuka Bright.


Buaghh!


Sebuah pukulan yang terlihat spontan melayang di rahang Bright membuat sang empu meringis dalam kagetnya.


"Reflek" Metawin lalu pergi meninggalkan Bright yang masih memegangi rahangnya yang sepertinya sebentar lagi akan memar.


Metawin gusar, membenci seseorang bukan berarti Metawin ingin adu otot, sungguh....pukulan tadi memang hanya sekedar reflek.


"Ck Anjink" dia menendang pintu kelas namun tak ada orang didalam kelas ini.


Mungkin semua sedang istirahat.


"Tai banget sumpah"


"Bright anjink lo!"


Metawin duduk di mejanya yang letaknya paling depan, kemudian kepalanya direbahkan diatas meja.


Sepertinya Metawin kurang tidur akibat aktifitas nya semalam.


Sebelum benar benar lelap, ia menulis sebuah catatan dalam sebuah buku yang diambil dari meja Eja.

__ADS_1


"JANGAN BANGUNIN GUE!" lalu Meta taruh tulisan itu tepat di samping mejanya.


__ADS_2