
"Sekarang apa?" Metawin mengusap meja berdebu dengan telapak tangannya, lalu duduk begitu saja.
Menyisakan Bright yang menggaruk tengkuknya sembari memerhatikan ruangan satu ini.
Kotor.
"Ya apa lagi? bersihin lah"
"Lo aja, gue duduk ngawasin"
"Lo takut bersih bersih? lemah" Bright memancing membuat Meta memincingkan matanya dan segera berdiri.
"Gue? takut? ga mungkin" Metawin menendangi kursi kursi yang menghalangi jalannya.
"Pelan pelan Win"
"Biar cepet anjink"
"Terserah lo" Bright bergerak begitu teratur, mengatur barang barang buangan itu dan memasukkannya ke dalam kardus kosong.
Sedangkan Metawin hanya mengusap usap meja meja yang sebagian sudah rusak dengan telapak tangannya.
Tangannya begitu kotor, Meta menatap Bright dan tangannya secara bergantian.
"RASAIN.." Meta mengusap pipi Bright dengan tangan yang kotornya.
"Hahahahah" dia tertawa terlalu kuat sampai perutnya kesakitan
"Berani lo ya" Bright memegang pipinya dan sebuah lengkungan tergambar di setiap sudut bibirnya.
"Berani wlee"
"Sini lo" Bright menarik tangan Meta dan mengusap tangannya yang kotor ke lengan Metawin.
"Bright!"
"Lo yang mulai kan hahaha"
"Rasain juga nih" Metawin mengusap kembali meja dan mengarahkan ke Bright.
"Kotor Win.."
"Gak peduli"
Mereka membersihkan gudang dengan cukup baik, hanya sedikit percekcokan kecil membuang rasa canggung keduanya.
"Bright ini kertas taruh dimana?" Metawin berjalan mendekati Bright yang berjongkok membelakangi dirinya.
Baru saja Metawin sampai, saat yang berbarengan Bright bangkit membuat keduanya bertrabakkan.
__ADS_1
Tubuh Metawin luruh, semua kertas jilidan terlempar ke udara begitu saja mengguyur tubuhnya yang kini di selamatkan oleh Bright.
Lagi.
Tangan Bright mendarat di perut Meta dan Meta mendekapkan tangannya di punggung Bright.
1.
2.
3.
Metawin sadar setelah semua kertas habis mengguyur tubuhnya.
"SIAALAN! umpatnya kesal setelah kertas yang sudah dikumpulkannya berantakan begitu saja.
"Sini gue bantuin" Bright berjongkok ikut memunguti kertas kertas itu.
Matanya sesekali menatap Metawin yang masih menggerutu penuh amarah.
"Gak usah marah marah" Bright membuka suara
"Idih SKSD lo" cibirnya
Tak lama tepat di pukul 11 semuanya telah bersih, hanya tersisa plastik penuh sampah yang perlu dibuang.
"Em"
"Lengan lo kotor, pakek ini aja" Bright meraih saku celana panjangnya mengambil sebuah sapu tangan yang selalu terselip di sana.
Sebuah benda terselip dan ikut terjatuh tanpa ia sadari.
Bright mengarahkan tangannya ke dahi Metawin dan mengusap pelan dengan sapu tangan tak bermotif itu.
"Biar gue aja!" Meta mengambil alih sapu tangan itu dan menepis tangan Bright.
Bright berjalan ke pojok ruangan untuk mengambil plastik sampah bersiap dibuangnya.
Di saat yang bersamaan Metawin menghela nafas setelah keringatnya sudah selesai diseka, matanya melirik ke bawah.
Tepat ke lantai.
Tangannya terulur meraih benda yang tergulung itu, tatapan Metawin langsung berubah 180 derajat.
Benda itu diremaas dalam genggamannya, satu sudut bibirnya ditarik, lidahnya bermain didalam mulut.
Bright yang menenteng plastik besar itu terkaget ketika Metawin tiba tiba menarik kerah kemejanya begitu saja.
"MAKSUD LO APA HAH?!"
__ADS_1
"Lo kenapa sih Win?" Bright tertegun dan bingung di saat yang bersamaan.
Metawin melempar gulungan kain yang ia temukan di lantai tadi.
Dasi.
Itu dasi abu abu berlogo SMA mereka.
Punya siapa lagi kalau bukan punya diantara mereka berdua.
"MAKSUD LO APA?! LO KIRA GUE BUTUH BANTUAN LO GITU? JANGAN SOK PAHLAWAN" Metawin semakin menarik kerah kemeja Bright dengan kasar.
"Win, gue bisa jelasin—"
"Jelasin apa? lo kena sanksi dasi dan sekarang dasi lo ada si saku. GILA LO!"
"Win, tenang...gue bisa—" Bright mencoba meredam emosi sosok pria dihadapannya.
"GUE EMANG GAK DISIPLIN KAYAK LO, TAPI GUE GAK SUKA HARGA DIRI GUE DIRENDAHIN KAYAK GINI. NGGA BRIGHT."
"GUE ENGGA SUKA!" Metawin menggelengkan kepalanya penuh amarah.
Bagaimana bisa Bright berpura pura seperti ini. Mereka memang saingan, tapi apa dia menganggap Metawin serendah ini?.
"Lo salah paham Win"
"SALAH PAHAM GIMANA SI ANJINK?"
"Gue cuma—"
"Cuma mau mempermalukan harga diri gue? biar gue keliatan lemah? HAH?!"
"WIN DENGERIN GUE!"
"OWW GUE TAU, LO MAU KITA SAINGAN? SAINGAN DISEGALA HAL?! JAWAB ANJINK!" kerah kemeja Bright semakin erat ditarik oleh Metawin.
Bright tak bisa mengelak.
"DENGER BAIK BAIK. GUE PALING BENCI SAMA PEMBOHONG, LO MUNGKIN BISA REBUT GEBETAN GUE, TAPI BUKAN BERARTI LO BISA MANDANG RENDAH HARGA DIRI GUE" Metawin mendorong tubuh Bright hingga terhuyung ke belakang menyurusi lantai.
Bright mencengkram rambutnya frustasi
Metawin berjalan menyurusi lorong lorong kelas untum kembali ke dalam kelasnya. Dari pada membuang waktu percuma untuk pembohong siaalan itu.
"Bangst anjink" kata kata itu terus terulang keluar dari pita suaranya.
Dia benci direndahkan.
Dukungannya dong kaks.
__ADS_1